Noktah Merah

Noktah Merah
Part 55


__ADS_3

"Aku juga hanya dekat karena status saudara seiman," jawabnya refleks. Berharap Bisma bisa menangkap kalimat itu.


"Maksudnya?" tanya Bisma memastikan.


"Ish ... males banget ngomong sama kamu, nggak nyimak!" dumel Bila seraya beranjak dari kursi.


"Apa kamu menolak lamaran Ustadz Zaki?" tanyanya tak percaya. Laki-laki seperfect itu ditolak begitu saja. Pria itu mengekori mantan istrinya yang berjalan menempati sofa.


"Ada yang salah?" Bila balik bertanya.


"Ya ... nggak tahu, kok bisa?" tanyanya seraya mengulum senyum.


"Kenapa nggak?"


"Apa alasan kamu menolak pinangan itu?" tanya pria itu kepo maksimal. Berharap Bila mau jujur dengan perasaannya.


"Cukup aku dan Tuhan yang tahu," jawab perempuan itu gemas sendiri.


"Cowok sesempurna Ustadz Zaki aja ditolak, apalagi aku?" gumamnya lirih. "Mungkin langsung tidak masuk dalam daftar list kriterianya," ujarnya memancing umpan balik dari perkataan mantan istrinya.


"Cinta tidak memandang yang sempurna, tetapi menerima yang membuat rasa nyaman untuk saling melengkapi kemudian menyempurnakan kekurangan itu sendiri," jawabnya bijak.


"Apa kamu sekarang merasa sudah nyaman denganku?" tanyanya ragu.


"Kamu cukup meresahkan," jawab Bila jujur.


"Semeresahkan apa? Aku ingin tahu pendapatmu?"


"Semeresahkan saat ini," jawab perempuan itu jujur.

__ADS_1


Belakangan hatinya dibuat berbelok atas sikapnya yang dingin. Cukup mengusik dan membuatnya tak nyaman. Sungguh, Bila benci menyikapi perasaannya sendiri.


Sulitnya hanya untuk mengatakan sesuatu dari hati. Sulit tidak diterima, sulit diabaikan, bahkan ditolak. Rasa malu itu masih mendominasi, biarlah Tuhan memberi jalan sesuai petunjuk-Nya. Ada banyak wanita yang tidak bisa terbuka diri, walaupun orang itu ada di depan matanya tetap susah untuk mengutarakan kejujurannya.


Adzan subuh menyudahi obrolan mereka, semalaman mengobrol akhirnya menemukan jawaban dari kejutekan perempuan itu. Jujur pria itu bahagia, namun ada keraguan saat ingin melangkah lebih jauh. Benar, biarkan Tuhan yang memberi petunjuk sesuai jalanNya.


"Aku sholat di mushola rumah sakit ya?" ujarnya seraya menggulung kemeja sampai atas siku.


Nabila mengangguk tanpa menanggapi. Namun, saat perempuan itu baru keluar dari kamar mandi, menemukan Bisma belum beranjak dari sana.


"Kok belum berangkat, nanti ketinggalan jamaah," ujarnya mengingatkan.


"Pingin jamaah bareng kamu, menjadi imam di dunia nyatamu kembali," jawabnya sungguh-sungguh.


Perempuan itu bergeming, menuju sajadah kedua yang diperuntukkan untuk dirinya.


"Di acc ya?" sambungnya penuh harap.


"Mengutarakan maksud dan tujuan hati," jawabnya ambigu.


"Jadi nggak? Kok malah ngegombal?"


"Curhat dulu sama Allah, siapa tahu habis sholat ada hati yang lapang untuk mengaminkan doaku."


Mereka sholat berjamaah bersama, ada perasaan tenang di sudut hatinya. Memanjatkan doa untuk kebaikan dan kesehatan keluarganya. Bisma dan Bila tak kunjung beranjak, keduanya bermunajat dalam qolbu yang sama.


"Apa doamu pagi ini wahai bundanya Razik?" tanya Bisma tersenyum. Masih duduk berhadapan tetapi tidak terlalu dekat.


"Banyak, ingin cepat Razik sehat, bisa kembali lagi ke rumah, kesehatan keluarga, untuk semua orang terkasih termasuk ayah dan bunda. Kelangsungan untuk hidupku," jawab perempuan itu seraya sibuk melipat mukenannya.

__ADS_1


"Kamu mau tahu nggak doaku pagi ini selain untuk kesembuhan Razik?" ujarnya.


"Apa?" Perempuan itu menatapnya sebentar, baru kemudian memutus tatapan itu ke arah lain. Perempuan mana pun pasti akan selalu salah tingkah sendiri bila ditatap lama-lama.


"Bisa diberi kesempatan yang kedua untuk menjadi imam dalam hidupmu," jawabnya sungguh-sungguh.


Indah, Kata-kata itu terlalu indah hanya untuk didengar, cukup menentramkan qolbu yang belakangan mulai resah.


"Datang saja ke rumah dan bertemu pada orang yang berhak atas diriku," jawab perempuan itu merona.


Apa itu artinya Bila memberi kesempatan kedua untuknya. Meminta pada ayah untuk menjadikan perempuan itu pendamping hidupnya. Raut wajah pria itu berbinar, senyumnya mengembang tanpa permisi. Merasa ada harapan untuk selangkah lebih dekat. Semoga kali ini jalannya, untuk hal yang baik dilancarkan.


***


"Kamu kalau mau ngantor berangkat aja, biar Razik aku yang jaga," ujar Bila menyarankan. Dua hari Razik di rawat di rumah sakit trombositnya belum kunjung naik, membuat bocah itu harus dirawat secara intensif.


"Ada proyek iklan baru, aku ingin menundanya saja, tidak mungkin aku pergi padahal anak kita tengah sakit," ujarnya merasa tak enak.


"Tak mengapa, 'kan ada aku?"


"Nggak pa-pa kalau aku tinggal sebentar, aku akan segera kembali menemani kalian," ujarnya merasa berat.


"Iya, aku bisa jaga Razik sendiri."


"Terima kasih, Bil, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku," pamitnya seraya mendekat pada Razik. Membuai sebentar sebelum akhirnya meninggalkan jejak sayang di keningnya.


"Kita pamitnya gini aja ya? Pingin peluk dan cium kamu, tetapi belum boleh?" ujarnya tersenyum.


"Ya, berangkat sana, nggak boleh juga terus menatapku begitu," jawabnya malu.

__ADS_1


"Ahk ... ribetnya hidupku!" celetuk pria itu seraya berlalu.


Bila tersenyum sendiri mendengar celotehan itu.


__ADS_2