Noktah Merah

Noktah Merah
Part 44


__ADS_3

"Kata dokter, hari ini kamu sudah boleh pulang?" ucap Bisma berbinar.


"Alhamdulillah ... tunggu Bunda dulu ya?"


"Kenapa? Bunda nggak ke sini, jagain Razik di rumah, katanya anak kita rewel, ayo pulang!" seru pria itu semangat.


"Mmm ...." Bila nampak bingung.


"Apa lagi Bil? Belum mau pulang ya, biar ditungguin aku setiap malam gitu?" seloroh pria itu tersenyum.


"Eh, enggak, bukan itu," jawab Bila cepat.


"Terus, apa yang membuatmu berat meninggalkan ranjang, berharap seseorang menjemput selain aku?" tebaknya ngasal.


"Bukan Bim, ya ampun ... itu ... emang udah beres admistrasinya, tungguin Bunda aja."


"Owh ... masalah pembayaran? Udah aman kok, alhamdulillah selalu ada rezeki untukmu," jawabnya yakin.


"Terima kasih, nanti aku ganti," jawab Bila merasa sungkan.


"Anggap saja, aku bersedekah untuk ibunya Razik, tidak ada yang harus kamu ganti, cukup ganti dengan kamu terus mengizinkan aku di dekat kamu dan Razik, itu lebih dari cukup," jawab Bisna tenang.


"Baik banget sih, calon suami orang?" celetuk Bila tak diduga. Bisma menimpali dengan senyuman.


"Ayo aku bantu, mana tangan kamu?" Bila malah memperhatikan detail wajah pria itu lalu tersenyum.


"Kenapa, kok senyum? Tangan kamu mana?"


"Nggak boleh abinya Razik, bukan muhrim," jawab Bila tersenyum, seraya berlalu. Bisma ikut tersenyum, menyimpan tangan yang sudah menengadah lalu menyimpannya pada saku celana, berjalan mengekori perempuan yang berhijab hitam itu.


"Bila, tunggu sebentar," ujar Bisma tiba-tiba. Pria itu ternyata pinjam kursi roda supaya bisa digunakan tanpa harus bersentuhan.


"Pakai ini Bil, aman," ujar Bisma percaya diri.

__ADS_1


"Boleh, kebetulan aku masih sedikit lemes," jawab Bila jujur.


"Tuh 'kan, feeling aku benar, kamu nggak boleh sakit."


"Kenapa? Sakit itu 'kan penggugur dosa," jawab Bila setahunya.


"Iya, tapi kita imbangi dengan ikhtiar hidup sehat agar terhindar dari sakit itu sendiri," kata Bisma seraya mendorong kursi itu.


"Kamu tunggu sebentar ya, aku ambil mobil dulu, jangan melamun, jangan pergi ke mana-mana," pesannya sebelum beranjak.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka tak banyak lagi bicara. Bisma fokus menyetir sesekali melirik perempuan di sampingnya. Sementara Bila sendiri juga terlihat diam saja. Diam-diam perempuan itu tertidur. Hingga sampai mobil mereka masuk ke pekarangan rumah, Bila belum juga bangun. Bisma tidak tega membangunkannya, mau menggendong takut Bila marah. Akhasil pria itu menunggu dengan sabar sembari menyibukkan diri meneliti handphonenya.


Cukup lama perempuan itu terjaga, menyipitkan mata dan merasa asing. Bila baru menyadari dirinya masih di dalam mobil.


"Sudah sampai ya? Maaf aku ketiduran, Kok nggak bangunin aku?"


"Pules banget, mana aku tega, pingin gendong kamu tapi katanya bukan muhrim, gimana dong, repot 'kan jadinya?" Bisma tersenyum tanggung.


Nabila membalas dengan senyuman cukup lebar, "Terima kasih, Bim," tuturnya lembut.


"Alhamdulillah sudah sampai rumah lagi, kapok ya, jangan suka main ke rumah sakit," seloroh Bunda menyambut kepulangan putrinya.


"Alhamdulillah, semoga selalu sehat ya Bun, aamiin ya Allah ...."


Perempuan itu langsung menuju kamar dengan bantuan Bunda.


"Ayah ....!" seru Razik langsung berhambur memeluknya.


"Hallo sayang, jagoan Ayah yang sholeh, widih ... wangi banget baru mandi ya?"


"Iya dong, atu punya mainan balu, ini lo Yah, beliin oma," celoteh Razik langsung mencairkan suasana. Bisma menggendong putranya dan membawa masuk ke kamar ibunya.


"Sayang, Bunda kangen." Perempuan itu merentangkan tangannya.

__ADS_1


"Nda, cakit ya?" Bisma membawa Razik ke pangkuan perempuan itu langsung mendekap, menciumi dengan gemas.


"Razik, kangen nggak sama Bunda?" Mengelus rambutnya dengan sayang, sesekali mencium tanpa bosan.


Bocah kecil itu mengangguk, "Kangen Nda cama Ayah juga," jawab Razik memindai tatapannya pada pria yang duduk di bibir ranjang, tak jauh dari mereka.


"Selamat beristirahat ya, Bil, aku pulang dulu," pamitnya seraya meninggalkan jejak sayang di puncuk kepala anaknya.


"Pulang ya?" Ada nada yang terdengar tak rela di sana.


"Iya, baik-baik kamu di rumah, Razik jagain Bunda ya, nggak boleh rewel, anak pintar sayang 'kan sama Bunda." Bonah kecil itu mengangguk-angguk.


"Assalamu'alaikum ...." pamitnya menyisakan senyum.


"Waalaikumsalam ... mmm, Bim!" seru Bila menghentikan langkah pria itu yang sudah di ambang pintu.


"Iya, kenapa?" Pria itu memutar tubuhnya namun tidak beranjak.


"Terima kasih banyak, untuk waktunya," ucap perempuan itu tulus, tersenyum canggung. Bisma membalas dengan anggukan dan senyuman lalu melanjutkan langkahnya.


Semenjak mengantar pulang, Bila dan Bisma belum kembali bertemu lagi. Pria itu sebenarnya menemui Razik hampir setiap hari, namun sengaja menahan diri untuk tidak menemui ibunya. Bisma juga sibuk bekerja, tiga hari tidak datang ke kantor banyak hal yang harus dikerjakan. Untung ada Pandu yang selalu membantu, walaupun suka nyeselin, tetapi pria itu cukup profesional dalam bekerja.


"Mbak, Bisma nggak ke sini ya?" tanya Bila di sore hari pada Lastri yang tengah sibuk di dapur.


"Tadi pagi, sebelum berangkat kerja nemuin Razik dulu di halaman depan," jawab Lastri jujur.


"Owh ... kok bisa, emang Razik pagi-pagi main di luar?"


"Bisa dong Non, kan Den Bisma telpon Lastri, minta tolong bawa Razik ke luar gitu, kenapa to Non? Kangen ya?" tuduhnya tepat sasaran.


"Hus, ngawur kamu, tanya aja emang nggak boleh?" jawab perempuan itu merubah mimik wajahnya.


"Boleh lah, kalau kangen kenapa nggak ditelpon aja orangnya Non, sesimple itu," kata Lastri lagi.

__ADS_1


"Sok tahu kamu!" perempuan itu memajukan bibirnya seraya berlalu. Lastri hanya menimpali dengan gelengan kepala melihat tingkah majikannya itu.


Malam harinya, Bila belum bisa tidur, ia melamun sendiri di balkon kamarnya. Entah apa yang membuat perempuan itu insomnia. Bolak balik ke rumah dan balkon. Razik sendiri sudah terlelap. Malam cukup larut, perempuan itu masih betah terjaga.


__ADS_2