Noktah Merah

Noktah Merah
Part 65


__ADS_3

"Boleh?" tanyanya seraya membalikkan badan hingga keduanya saling berhadapan.


"Sepertinya Razik sebentar lagi bangun deh Mas, nanti repot, kalau nanti saja masih tahan nggak?" ujarnya merasa kasihan.


"Transfer energi dikit ya? Biar aku semangat," pinta pria itu memelas.


Bila yang pengertian langsung memejamkan matanya. Mengizinkan pria itu menyentuh dirinya. Bisma tersenyum, detik berikutnya langsung menyambut kemanisan yang tersaji di depan mata.


melu*mat dengan lembut, memberikan sensasi berbeda bagai terbakar api asmara. Membuat hatinya tersenyum, saat ia menyentuhnya dengan perasaan cinta. Jatuh cinta memang seindah ini.


"Makasih," ucapnya seraya tersenyum. Mengusap lembut sudut bibirnya yang basah akibat pergulatan indera perasa mereka dengan ibu jarinya.


Netra mereka masih saling bertautan, menatap lekat dan penuh cinta.


"Astaga!" Bila terkesiap saat menemukan putra mereka tengah menyorotnya dengan berkedip lembut memangku dagu. Bocah kecil itu ternyata melihat adegan dua puluh satu plus secara live.


Pelan Bila mendekat dengan kikuk, berusaha memberikan pengertian yang paling masuk akal. Bisa-bisanya mereka tertangkap basah oleh putranya.


"Sayang, itu tuh tadi bentuk kasih sayang ayah sama Bunda. Tetapi cuma boleh dilakukan antara ayah dan Bunda, jadi cara ayah menyayangi Bunda dengan memberi kecupan," jelas Bila yang menurutnya tidak pas juga.


Ah ribet beud jelasin ke bocil, semoga anak aku nggak mikir aneh-aneh.


"Kamu sih Mas, serangan fajar nggak lihat sikon, 'kan 'kan jadi gini." Bila manyun, sementara Bisma malah terkekeh pelan.


"Jangan manyun-manyun gitu, nanti aku samber lagi kalau digituin, salah siapa jadi istri cantiknya kelewatan, ya mana aku tahan."


"Aww ... sayang, jangan nackal tuh ... Razik lihatin kita terus, sayang ini Bunda gemesh terus sama Ayah," lapornya pada sang anak yang sudah tidak peduli lagi dengan keasyikan orang tuanya.


Bila mendelik kesal, "Kamu sekarang raja gombal Mas," cetusnya gemash.

__ADS_1


Bisma kembali ke mode awal, di mana dirinya pribadi yang hangat dan bersahabat. Ia memang humoris, dan penuh perhatian. Senyumannya yang menawan ternyata menebar virus cinta dari sejak zaman kuliah.


Bila baru sadar pesona laki-laki di depannya begitu memikat. Entahlah, mungkin dulu ia tidak melihatnya dengan benar. Makhluk setampan dan sekece suaminya tak terlihat sedikit pun di pelupuk matanya, ditambah benci yang melanda membuat perempuan itu menutup semua kebaikannya.


"Dek, melamun, terpesona ya lihat kegantenganku?" tanya pria itu percaya diri.


"Kamu dari dulu ngeselin ternyata, untung sekarang cinta."


"Wah ... pelanggaran sebenarnya, dulu nggak ke notice ya? Padahal cowok sekeren ini lho, anggota BEM, pinter, tajir, setia, baik hati dan tidak sombong," ujarnya bangga. Jiwa gesrek dan konyolnya kumat.


"Bukan gitu, dari dulu nggak suka aja punya cowok anak BEM, ditinggal rapat, sibuk ini sibuk itu, mana ada waktu buat pasangan," curhatnya mengenang tempo dulu.


"Nda ayo ....!" Razik merecoki sesi curhat mereka. Sepertinya bocah kecil itu mulai bosan di kamar. Ia menarik tangan Bila keluar.


"Sayang, bentar ....!" seru Bila mengekor.


"Astaga! Jahat ikh ... nggak mau!" tolaknya cepat.


"Nggak lah ... please ... sehari aja, ya ya mau ya? Kita butuh ibadah yang khusuk," ujarnya memohon. Kedua tangannya menangkup memelas lengkap dengan puppy eyes-nya.


"Emang nggak ngantor?"


"Cuti lah ... namanya juga pengantin baru," jawabnya bangga.


"Tetapi apa nggak pa-pa, nanti kalau Razik rewel gimana?" tanyanya khawatir.


"Nggak, 'kan sama mama, nanti diajak ke mana gitu, yang penting seharian bikin seneng, mama kemarin nawarin jasanya kok, sepertinya beliau mengerti jeritan hatiku," curhatnya terkekeh pelan.


"Pagi ini? Beneran?"

__ADS_1


"Iya sayang, ayo ....!"


"Sarapan dulu Mas, kita berangkat santai dulu," ujarnya mengingatkan.


"Iya, siap bundanya Razik yang cantik," jawabnya ngegombal.


Mereka bertiga menuju ruang makan, sarapan sudah tersaji di sana. nampak Bu Rima dan Pak Rama sudah mengisi dua kursi di sana. Lastri tengah menyiapkan menu lainnya.


"Kalian mau ke mana, pagi-pagi udah couplean?" tanya Bu Rima penuh selidik.


"Jalan Bun, ngajakin Razik jalan-jalan, mumpung masih cuti kerja."


"Owh ... ya bagus sayang, have fun ya?"


"Terima kasih, Bun."


Usai sarapan, mereka langsung bertolak menuju mall terdekat. Menyenangkan Razik dengan berbagai wahana permainan. Memborong banyak mainan untuk anak itu.


"Mas, kamu jangan menyogok anak aku, ini berlebihan Mas," tegurnya tak terima.


"Tak apa sayang, biar koleksinya banyak, anak kita bakalan betah dan kreatif."


"Tapi Mas, ini berlebihan," cergahnya keberatan.


"Tenang ya sayang, aku udah memperhitungkannya kok, kamu nggak usah khawatir," ujarnya menenangkan.


Puas mencari bahan anteng Razik, mereka langsung bertolak ke rumah mama. Di sana cuma sebentar, kebetulan mama sendiri sering merasa sendirian kalau siang, jadi kedatangan Razik cukup menghibur neneknya itu.


"Ma, titip ya Ma, mungkin nanti sore baru aku ambil, kalau ada apa-apa telfon saja," pamit Bisma dan Bila lega. Dirinya bisa berkencan ala-ala remaja.

__ADS_1


__ADS_2