
"Sorry Num, sampai sini nggak pa-pa ya, lain kesempatan saja mampirnya, gue masih ada urusan. Sudah hampir maghrib juga," ucapnya merasa sungkan kalau harus berkunjung ke rumah seorang wanita. Walaupun sahabat sedari lama merasa kurang etis saja, apalagi bertepatan dengan mengantar pulang sehabis kerja. Takut menimbulkan perspektif kedua orang tua wanita itu sendiri salah sangka.
"Beneran nggak mau mampir dulu, padahal kopi dan masakan buatan ibuku enak lho," tawar Hanum merasa kecewa. Terlihat jelas Bisma menghindari tawarannya. Pria yang menaruh hati pasti akan dengan senang hati mampir tanpa harus dibujuk. Kebanyakan malah akan menawarkan diri untuk berkunjung.
Mereka berpisah dengan senyum kecut di wajah Hanum, dan muka kusut di wajah Bisma karena kepikiran hal yang lain. Perempuan itu bahkan harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai ke depan halaman rumahnya. Gerimis kecil masih melanda, Hanum berjalan cepat sambil menenteng obat untuk dirinya.
Bisma langsung melajukan mobilnya dengan cepat, sepintas ia berjalan pelan saat memasuki area kompleks miliknya. Tepat di depan gerbang Bila, bahkan pria itu sempat menghentikan mobilnya sejenak, melongok ke dalam siapa tahu melihat apa yang ia cari. Hati tak pernah bisa dibohongi, sejatinya walaupun berusaha untuk ikhlas, ada sisi lain yang menyapa.
Beberapa kali pria itu mengintip ke balkon di tengah malam gelap. Siapa tahu menemukan jawaban atas kegelisahan hatinya, nyatanya pria itu tak menemukan apapun. Sebelum beranjak ke tempat tidur, membuka ponsel dari charger karena ponsel sore tadi kehabisan daya. Matanya membulat menemukan dua panggilan telepon dari Bila. Pria itu mengecek jam yang tertera, Bila menghubungi dirinya sore tadi, ia pun langsung tak karuan, Bila tak pernah sekali pun menghubungi dirinya kalau tidak penting.
Bisma mencoba menghubungi balik nomor yang masih tertera tulisan my wife itu. Bisma belum menggantikannya sejak dulu. Sayang, beberapa kali panggilan terhubung tidak ada jawaban dari yang punya. Pria itu pun mencoba tenang, walau sejatinya hatinya resah gelisah galau merana memikirkan calon istri orang.
"Astaghfirullah ... aku nggak boleh gini, aku harus bisa lupain ibunya Razik, dia pasti akan bahagia dengan pilihan hatinya. Semangat Bisma!" Pria itu menyemangati diri sendiri. Lelah hati akhirnya tertidur juga.
Berbeda dengan tetangga sebelah yang nampak sibuk mengganti kompres untuk Razik. Ia bahkan tidak memikirkan handphone ada di mana. Fokus perempuan itu hanya pada Razik. Malam hari demam belum kunjung turun, padahal sore tadi Razik sudah diberi paracetamol. Ibu dari satu anak itu, tentu tak bisa tidur barang sejenak pun. Untung ada bunda yang sigap membantu. Sekilas bayangan itu seperti dejavu.
Bila mengingat jika Razik sakit dulu, Umi Zalwa selalu membantu menjaga Razik, beliau menyayangi anak itu seperti cucu sendiri. Sepintas rasa bersalah itu menyelimuti hati tak bisa membalas kebaikan budinya dulu, bahkan dengan mantap ia menolak pinangan anaknya.
"Kamu kenapa Bil, terlihat banyak pikiran, kamu habis nangis?" tanya Bu Rima menilik mata putrinya yang sedikit sembab.
__ADS_1
"Tak apa Bun, hanya kepikiran Razik saja, Bunda istirahat saja di kamar, biar Razik aku yang jaga, jangan khawatir Bun, Bila panggil kalau butuh bantuan," ujarnya pelan. Merasa kasihan, takut kesehatan bundanya terusik juga jika harus ikut begadang.
Hingga menjelang pagi, saat perempuan itu terjaga, menemukan demam Razik tak kunjung turun. Obat sudah, istirahat sudah, cara manual dan alami sudah, Razik tetap terlihat demam, tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung melarikan bocah kecil itu ke rumah sakit.
Bila begitu panik saat dokter tengah menangani Razik. Ia menunggu dengan gusar sendirian. Kebetulan Dokter jaga yang bertugas menangani pasien adalah sahabatnya sendiri. Ia sudah mengenal cukup dekat dengan pria yang pernah satu kampus dengannya itu.
"Jadi bocah kecil itu anakmu?" tanyanya masih terlihat santai. Pembawaan dokter memang rata-rata seperti itu, untuk membuat rileks keluarga pasien.
"Iya kak Ray, apa yang sebenarnya terjadi dengan anak aku, demam tidak kunjung turun," curhatnya sendu.
"Nunggu hasil lab dulu, baru bisa menyimpulkan untuk sementara sudah diberi obat penurun panas, dan nyeri dari rasa sakit bocah itu," jelas Ray.
"Aamiin ... yang sabar ya, aku tinggal dulu," pamit Dokter Ray beranjak.
Bisma yang merasa tak tenang semalaman berusaha melupakan. Namun tetap naluri seorang ayah berbicara. Saat dua hari tak mendapat kabar putranya. Pria itu pagi hari sebelum ke kantor menyempatkan diri ke rumah tetangga. Seperti biasa menemukan Lastri yang tengah menyiram bunga dengan asyik berdendang.
"Bik, Bik Lastri!" seru Bisma mendekat. Perempuan yang tengah memainkan air selang itu tidak lekas menyaut. Telinganya rapat tertutup earphones dengan pinggul melenggak lenggok.
"Astaghfirullah ... Bik Lastri!!" Pria itu memekik seraya menepuk pundak perempuan itu.
__ADS_1
"Eh, copot jantung, saya, Den Bisma! Ngagetin aja, gangguin keasyikan orang," tegurnya nyengir. Melepas penutup telinga, dan siap menyapa mantan majikannya yang berwajah Arjuna.
"Bik, tolong panggilin Razik, saya kangen," titahnya tenang.
"Eh, Den Bisma gimana sih, Den Razik 'kan sakit, di bawa ke rumah sakit tadi pagi," jawab Lastri jujur.
"Hah! Razik sakit?" Pria itu terperanjat panik. Mendadak sedikit kesal dengan mantan istrinya yang tidak kunjung mengabari perihal se emergency ini.
"Oke, terima kasih Bik, informasinya." Pria itu langsung melesat pergi.
Razik sudah dibawa ke ruang rawat. Anak itu harus opname untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Bun titip Razik sebentar ya? Bila harus menemui Dokter," pamitnya bergegas.
Perempuan itu berjalan di Koridor rumah sakit, saat tengah melintas tak sengaja netranya menangkap bayangan pria masa lalunya.
"Mas Gema?"
.
__ADS_1
Tbc