Noktah Merah

Noktah Merah
Part 91


__ADS_3

"Kalian benar-benar ya, sukses buat aku memecah teka-teki selama satu minggu ini. Kupikir adiknya kak Gema ada yang lain selain si kunyuk ini, ternyata benar Razik anak kalian, gagal deh gue jadi ayah sambungnya. Hehe." Alan nyengir.


"Untung gue nggak punya riwayat penyakit jantung, bisa wasalam kalau tetiba shock gini, adoh ... dadaku ngilu, tetapi nggak pa-pa lah kalau pada akhirnya kalian bahagia, hanya bisa berdoa semoga gue cepet nyusul biar bisa gandeng pasangan kalau pas acara gini."


"Makasih Alan atas pengertiannya, gue minta maaf baru ngasih kabar ke kalian semua, sekalian mau ngabarin juga, insya Allah resepsi pernikahan kita diadakan akhir bulan ini, gue harap kalian bisa hadir semua di acara bahagia kami."


"Gue pasti datang, cuma ya lo berdua musti jelasin yang lebih spesifik lagi sama gue, lo luar biasa Bim, akhirnya bersatu jua sama cinta sejati lo, yang selama ini lo cari. Terlepas masa lalu kalian seperti apa dulu, gue tetep salut sama kalian yang akhirnya bisa menjadi keluarga yang utuh begini, kok gue jadi baper ya. Ah gegara lama efek jomblo jadi gini 'kan gue."


"Jodoh itu dijemput Alan tanpa walker, jadi ada kalanya lo kudu usaha, coba main pondok tahfiz Ustadz Zaki, siapa tahu dapat jodoh," usul Pak Sky yang diiyain pasangannya Disya.


"Boleh juga, kapan-kapan mlipir ke sana deh, sama belajar ilmu agama. Iya 'kan, Bil?" Alan mengerling. Bila mengangguk dengan senyuman sementara Bisma melirik sengit.


"Jangan terlalu manis kasih senyum ke orang lain, bisa-bisa membuat orang itu terpikat," tegur Bisma memberengut.


"Astaga, Bisma bucinnya kelewatan," timpal Sinta geleng-geleng kepala.


"Aku masih ngerasa nggak enak nih sama Hanum, bantuin ngomong boleh kali Sin, Sya, aku benar-benar nggak tahu kalau ternyata Hanum bukan hanya sekedar suka, tetapi berharap lebih dengan suamiku." Perempuan itu terlihat sedih dan merasa bersalah, sangat paham rasanya sakit hati karena patah hati.


"Nanti coba kita bantu bicara ya, masalah hati itu tidak bisa dipaksa, sejatinya perasaan cinta itu adalah sebuah anugerah, tergantung kita mau menempatkan pada hati yang salah atau bermuara pada tempat yang tepat. Berdoa saja semoga tidak salah alamat."

__ADS_1


"Bijak banget sih sayang, dalilnya akurat nggak nih," seloroh Sky mengulum senyum.


"Aku 'kan hatam Pak, masalah sakit hati. Kamu sih main serobot aja, sampai hidupku jungkir balik," keluhnya mengenang masa-masa tempo dulu.


"Jangan dibahas yang nggak enaknya, aku nggak sejahat itu kali. Cuma ya namanya cinta harus diperjuangkan, iya nggak Bim?"


"Setuju Pak, kalau itu biar sampai titik darah penghabisan." Bisma menjawab penuh semangat.


"Mau ke mana sayang?" Melihat pergerakan istrinya, Bisma lagi-lagi menahannya.


"Bentar, Mas, tunggu sebentar."


Bila menuju resepsionis restoran. "Sya, sini deh, bentar!" Disya menghampiri sahabatnya yang tengah sibuk memesan makanan.


"Bukan gitu, aku kepikiran aja sama Hanum, nanti dia ngurung diri nggak makan, aku mau pesenin buat dia, tetapi masalahnya dia ada di kamar nomor berapa aku nggak tahu."


"Owh ... tenang aja nanti gue sampaikan, dia sekamar sama gue," kata Sinta santai.


"Tolong ya Sin, gue nggak enak banget jadinya sama Hanum, semoga dia bisa ikhlas dengan takdir ini." Disya menepuk-nepuk pundaknya.

__ADS_1


"Udah, nggak usah dipikirin, cinta tak pernah salah, apalagi kalian berdua saling mencintai sedari dulu, seharusnya paham 'kan, udah ada anak juga emang lebih baik saling melengkapi, gue salut sih sama pertahanan lo yang begitu rapatnya menyimpan rahasia sebesar ini dengan kita semua. Nggak nyangka banget, jujur gue juga shock. Lo sama Bisma paling nggak pernah nongol di grub, apalagi lo sempat ngilang bertahun-tahun, dan Bisma dengan setianya nungguin lo sampai akhirnya cinta menyatukan kalian berdua. Aku terharu sama kisah kalian." Mereka bertiga saling memeluk satu sama lain.


"Suami kamu kenapa nggak ikut, Sin?"


"Doi sibuk nugas, pas banget gue acara di sini, ya begitulah istri perwira. Hehe."


"Keren lah pokoknya Ibu bhayangkari ini, berani ke mana-mana sendiri."


"Udah yuk, lanjut makan malam, perut gue udah mlilit." Mereka menuju meja jamuan kembali untuk bergabung bersama cowok-cowok.


"Udah?" tanya Bisma saat istrinya kembali menghampirinya. Bila mengangguk dengan wajah lebih tenang.


"Baik banget istri aku," selorohnya mengerling.


"Jangan dipuji terus entar terbang," seloroh Disya menimpali.


"Cie ... yang pada bucin, tetap jaga perasaan lah, prihatin sedikit sama yang tidak bawa pasangan. Iya nggak Lan."


"Yuhu ... gue udah kenyang, lanjutin gih kalian. Gue kembali ke kamar dulu ya?" pamit Alan lalu.

__ADS_1


Acara makan malam pun selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Aku mau telpon Razik, Mas, kangen." Mereka berdua akhirnya vidio call dengan putra mereka.


__ADS_2