
"Ya Allah ... kenapa aku nggak bisa tidur?" keluhnya mencoba membolak balik badanya. Merasa tidak nyaman.
Perempuan itu sudah mencoba mencari kesibukan lain, tetap pikirannya melanglang buana. Berkali-kali membolak balik ponselnya namun tidak ada pesan yang menyita perhatian untuk dibuka. Hanya grub-grub biasa yang mengisi pop screen layar ponselnya.
Satu notifikasi pesan yang masuk cukup menyita perhatian. Nomor baru tertera di sana. Perempuan itu pun tertarik untuk membacanya.
[Assalamu'alaikum ... Nak Bila, semoga dalam keadaan sehat selalu, ini Umi, Nak, besok insya Allah sama Abah mau main ke sana.]
Bila masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Umi Zalwa mau main ke rumah, sama Abah, mau ngapain ya?
[Waalaikumsalam ... aamiin Umi, doa terbaik kembali pada keluarga Umi semoga selalu dalam keadaan sehat. Silahkan saja Umi, dengan senang hati kalau Umi berkenan main ke gubuk kami]
Bila membalas pesan dari Umi Zalwa. Setelahnya tertidur karena mata sungguh berat. Kumandang adzan subuh yang berkumandang saling bersautan dari masjid dan mushola membuka mata perempuan yang belum lama menyambangi mimpi itu. Sudah terbiasa terpanggil di awal waktu, sehingga tak berat lagi mengambil wudhu.
Perempuan itu lekas menunaikan kewajibannya dua rokaat. Karena masih terlalu pagi dan belum ada kegiatan yang menarik perhatiannya, ia lanjutkan dengan membaca alquran dan wirid. Hingga matahari nampak mengintip dari sela korden, perempuan itu baru menutup mushaf tersebut.
"Razik kok belum bangun ya?" Bila meneliti anaknya, bocah itu masih terlihat pules. Belakangan tidak selincah biasanya atau mungkin perasaan Bila saja yang kurang memperhatikan.
"Bik, ini kok masak banyak banget, aku baru mau bilang sih nanti lebihkan masaknya, tapi ini apa tidak terlalu banyak?" tanya Bila keheranan. Menuju dapur penuh dengan belanjaan. Bunda juga terlihat sibuk satu sama lain.
"Bila, kamu kenapa nggak bilang kalau keluarga besar Ustadz Zaki mau silaturahmi ke sini, Beliau baru mengabari tadi subuh, Bunda 'kan jadi grusu nyiapinnya?" protes Bu Rima.
"Umi baru mengabari semalam Bun, itu pun sudah larut, iya katanya mau main ke sini, kangen sama Razik," jawab Bila polos.
__ADS_1
"Bantuin ya, takut nggak kelar keburu keluarga Ustadz Zaki datang."
"Dilebihkan saja Bun, nggak harus masak besar begini, paling yang datang cuma Umi sama Abah, bilangnya sih gitu, mau mampir sebelum pulang," jawab Bila cukup percaya diri.
Perempuan itu meninggalkan dapur, menengok Razik di kamarnya yang masih anteng tertidur. Anak itu tumben sekali betah pagi hari, biasanya sudah nimbrung ibunya kalau nggak bundanya karena permintaan atau rengekan.
"Bisma kecil, bangun!" celetuk Bila tiba-tiba. Mengingat mantan suaminya, melihat Razik begitu mirip, versi suaminya. Ia pun tersenyum sendiri mengingat pria yang belakangan ini tak ada kabar. Tak ada pesan, mungkin benar kata Lastri, tinggal telpon, namun untuk melakukan itu, Bila tidak punya alasan.
Sibuk seharian membantu masak memasak cukup membuat pegal juga. Perempuan itu menutup dengan mandi dan bersolek diri. Tentu saja atas perintah Bunda, untuk lebih merias diri supaya terlihat sedikit beda.
"Mbak Lastri!" seru perempuan itu mencari-cari.
"Razik mana? Udah mandi, udah makan, kok nggak ada?"
"Bisma tadi ke sini?" tanya Bila sedikit heran.
"Iya, ambil Razik, udah pamit kok, nitip pesan gitu sama saya, sama Ibu, kalau bawa Razik sebentar mumpung libur."
"Seperti itu?" jawab Bila bingung.
"Eh, Non Bila cantik banget, masya Allah ... calon istri siapa?" seloroh Lastri takjub.
"Biasa aja Mbak, ini cuma aku poles tipis-tipis aja. Nggak ngerti sama Bunda, emang aku jelek-jelek amad ya kalau nggak dandan."
__ADS_1
"Bukan gitu sayang, mempercantik diri itu salah satu bentuk mengapresiasi pada diri sendiri, menjaga dan merawat karya Tuhan dengan baik," ujar Bunda bijak.
Perbincangan mereka terjeda begitu mendengar deru mesin mobil masuk ke pekarangan rumahnya. Tiga mobil masuk ke halaman rumah, cukup rame dan tak terduga.
"Siapa Bun?" tanya Bila kepo, ikut mengintip dari celah korden.
"Alhamdulillah kesampaian juga berkunjung ke sini." Itu suara Umi Zalwa di luar.
"Kok yang datang banyak juga," gumam Bila mulai resah.
"Assalamu'alaikum ...." suara salam menggema mengisi seluruh ruangan.
"Waalaikumsalam ...." jawab serempak seisi rumah. Bunda dan Ayah langsung sibuk menyambut tamu mereka. Sementara Lastri terlihat super sibuk menuang minum ke dalam gelas serta menghitung jumlahnya.
Nabila sendiri belum beranjak dari sana, masih di ruang tengah duduk dengan gusar. Perasaannya mulai tidak tenang dan bertanya-tanya. Merasa takut kalau praduganya benar.
Perempuan itu baru keluar ke ruang tamu saat semua sudah memenuhi ruangan itu.
"Assalamu'alaikum ... Nak Bila? Masya Allah, cantik sekali Nak," puji Umi Zalwa. Perempuan itu menyambut uluran tangan Umi dengan takzim.
Bila berusaha meneliti siapa saja yang datang, ada Abah ayahnya Ustadz Zaki dan beliau sendiri, Nadia dan keluarga Nadia ikut hadir di sana. Serta saudara lainya dari keluarga Umi, dan ... banyaknya bingkisan yang menjadi buah tangan.
Melihat itu, Bila mendadak galau sendiri, sudah bisa ditebak maksud kedatangan mereka menyambangi rumahnya.
__ADS_1
"Tuhan ... gimana ini?" Bila mulai bertanya-tanya dalam hati. Tak sengaja mata mereka bertemu, Ustadz Zaki tersenyum kalem sementara Bila sendiri menunduk bingung.