Noktah Merah

Noktah Merah
Part 36


__ADS_3

Razik terus merengek untuk bersama ayahnya tetapi juga tidak mau pisah dengan ibunya. Membuat perempuan itu tidak ada pilihan, selain mengiyakan. Akhirnya, hari ini mereka jalan bersama. Menuju area bermain di tempat salah satu taman bermain yang ada di kotanya.


"Razik, mau main apa? Kita kunjungi semua mainan yang ada di sini ya?" ujarnya semangat. Menggendong bocah itu dengan Bila mengekor di belakangnya. Selain wahana permainan, ada juga aneka binatang yang ada di sana. Membuat bocah kecil itu kegirangan.


"Ayah ada kelinci, aku mau pegang." Razik berhambur mendekati hewan bertelinga panjang itu. Bocah kecil itu terlihat antusias menangkapnya. Dibantu Bila yang nampak ikut heboh karena kelincinya tidak mau anteng. Tanpa sadar suasana rileks tercipta di antara ketiganya. Perempuan itu tergelak, kadang tertawa renyah, dan berseru memekik memegangi hewan berbulu lembut itu.


"Razik, sini ... gini sayang, peganginnya," ujar Bila mengarahkan. "Kasih makan dulu biar nurut." Bila dan Razik terlihat kompak satu sama lain. Tanpa sengaja senyum itu terus terukir sepanjang di area permainan. Membuat Bisma antusias mengambil banyak gambar keduanya.


"Bentar-bentar, kita ambil gambar dulu di sini, anglenya cocok nih," ujar Bisma menyetel kamera dan bersiap memosisikan diri. Beberapa gambar Bisma ambil dengan lancar tanpa penolakan dari Bila, mereka terlihat layaknya satu keluarga yang bahagia.


"Mau belenang," rengek Razik melihat permainan air di sana.


"Oke, kita ke sana ya?" ujarnya semangat. Untung Bila sudah membawa ganti dan persiapan dari rumah. Perempuan itu yang tadinya berencana jalan bareng sahabatnya, Disya, terpaksa memisah karena tentu saja ada Bisma.


Puas bermain-main dengan wahana permainan anak, mereka berpindah ke wahana air. Razik kecil sangat menyukai berenang, kali ini Bisma yang lebih mendominasi, sedang Bila banyak melihat interaksi keduanya. Anak dan ayah itu terlihat sangat kompak dan ceria. Wajah murung yang beberapa hari ini menyambangi pria itu hilang sudah berganti senyum terkembang, dan tawa bahagia. Mereka begitu menikmati wahana air yang tentu saja membuat ketiganya basah.


Beberapa kali pria itu berseluncur dengan membawa Razik yang nampak histeris kegirangan. Semua beban teralihkan dan menghilang di sini. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan itu yang baru pertama mereka temui setelah sekian lama.


"Bila, kamu mau coba?" tawar Bisma tersenyum.


"Nggah akh .... aku takut, itu terlalu ektrim, kamu saja, hati-hati bawa Raziknya." Sedikit perhatian untuk anaknya mampu membuat pria itu bahagia sepanjang di sana.


Terima kasih Tuhan ... aku tidak ingin hari ini cepat berakhir. Semoga ada banyak hari indah seperti ini untuk kita lalui bersama.


Doa Bisma tulus. Pria itu bersyukur sekali hari ini bisa diberi kesempatan untuk melewati hari yang tak akan pernah terlupa.


"Sudah ya, kita bersih-bersih dulu, kamu sudah kedinginan sayang," tegur Bila melihat putranya yang masih bersemangat.

__ADS_1


"Biar aku yang mandiin, kamu bisa pergi ke ruang ganti dengan tenang."


"Bisa?" tanya perempuan itu meragu. Bisma mengangguk yakin.


"Tidak sejago kamu mengurus anak, namun aku akan belajar merawat Razik, besok-besok 'kan aku pasti bertemu sendiri, hanya berdua, kecuali sudah ada yang ketiga," ujarnya ambigu. Pria itu mengulas senyum tipis, namun juga mendadak sendu.


"Ya sudah, aku titip Razik ya?" pamitnya sebelum perempuan itu beranjak.


Cukup lama mereka membersihkan diri, Bila yang sudah selesai lebih dulu, menunggu mereka berdua dengan sibuk mengamati area sekitar. Banyak sekali kelompok keluarga yang tengah menikmati liburan bersama. Tanpa sadar, bibir itu ketarik membuat lengkungan, melihat kehangatan keluarga kecil orang lain.


"Sudah nunggu lama?" sapanya melihat Bila yang tengah menanti keduanya. Bila mengangguk, dengan senyum simpul mengulas di wajahnya.


"Kita cari makan ya, sepertinya Razik sudah kelaparan, ia juga terlihat menguap beberapa kali, mungkin kecapean dan mengantuk."


"Iya, aku juga lapar," jawab Bila jujur. Bisma tersenyum melihat Bila yang tak lagi terlihat canggung dan lebih akrab.


"Razik belum pernah tidur tanpa aku, aku takut dia akan kebangun dan mencariku di malam hari, kamu akan susah nenanginnya."


"Jangan khawatir ya, rumah kita 'kan dekat, bahkan kamar kita juga bertetangga, kamu akan mendengar kalau Razik rewel, aku akan pastikan semua baik-baik saja. Please ... Bila, aku masih ingin bersama," mohon pria itu mendadak melow.


"Lihat nanti, Bim," jawabnya resah. Seandainya Razik mulai tak rewel jika tidak dekat dengannya, bukankah itu berarti Ia mulai bisa terbiasa tanpa dirinya.


Bocah itu memang semakin tumbuh besar, namun rasanya sungguh tidak rela kalau ada orang yang lebih dekat dari pada dirinya.


"Lapar, Nda," celoteh anak itu membuyarkan pikiran Bila yang terlalu parno.


"Ayo, cari makan siang yang enak," jawabnya semangat.

__ADS_1


Lepas bermain dan berkeliling, mereka mengisi perutnya dengan memilih menu makanan andalan lesehan yang ada di sana. Suasana cukup ramai, membuat tempat duduk mereka harus saling berdekatan.


Saat ada seseorang yang tak sengaja menyenggol tubuh Bila, perempuan itu hampir oleng. Dengan sigap Bisma merengkuh dan menariknya agar perempuan itu tidak terjatuh. Dalam seperkian detik, mata mereka saling bersirobok, seketika mereka berdua istighfar bersama.


"Maaf, Nabila," ujar pria itu menenangkan hatinya yang mendadak bergejolak.


"Iya," jawab perempuan itu salah tingkah. Entahlah, hari ini terlihat berbeda, apa karena Bisma begitu menjaganya atau karena suasana hatinya yang mulai tenang.


"Di sini kurang nyaman, bagaimana kalau kita pindah ke kedai bakso saja," ujar pria itu menginterupsi.


"Terserah kamu saja," jawab Bila mengikuti.


"Kita ambil tempat yang agak longgar, sekalian berganti sholat dulu, kamu jagain Razik, lalu nanti aku, kita gantian saja ya?" ujarnya memberi solusi.


Mereka istirahat, sholat dan makan. Duduk santai mengambil tempat yang sedikit private. Supaya bisa bersantai sejenak. Razik yang kecapean terbuai di pangkuan bundanya. Bocah kecil itu terlelap begitu saja.


"Kamu belum makan?" tanya Bisma setelah kembali ke meja. Melirik isi mangkuknya yang masih lebih dari separonya. Mungkin baru tersentuh sedikit saja.


"Nyuapin Razik dulu, eh dia malah ketiduran," jawab Bila dengan senyuman.


"Sudah hampir dingin, ganti yang baru saja, ini biar aku habiskan," jawab Bisma seraya memesan untuk yang baru.


"Eh, jangan, itu tadi sempat aku makan, ada bekas aku di sana," tegur Bila merasa tak sopan. Bisma hanya menanggapi dengan senyuman, dan terus menghabiskan isi mangkuknya.


"Kamu makan dulu, biar Razik sama aku," ujarnya tenang.


"Makasih, Bim," jawab wanita itu. Bisma memindai Razik agar tidur di pangkuannya. Sementara Bila menghabiskan makanan yang baru dipesan Bisma.

__ADS_1


__ADS_2