Noktah Merah

Noktah Merah
Part 46


__ADS_3

Perempuan itu menautkan jari-jemarinya gelisah, saat dengan tenang Kyai Ishaq membuka salam dan prakata sambutan maksud kedatangannya. Pria sepuh itu meminta langsung pada Ayah untuk beriktikad baik menjadikan Nabila sebagai bagian dari keluarganya. Atau mengkhitbah untuk putra mereka Zaki Ishaq. Semua orang berseru kebaikan untuk keduanya.


"Begini Pak Kyai, tidak mengurangi rasa hormat kami pada beliau satu keluarga beserta rombongan. Kami sangat bersyukur dan senang sekali atas kunjungan ini, semoga menjadi silaturahmi yang dicatat kebaikan untuk kita semua yang hadir di sini."


Ayah menanggapinya dengan sangat bijak, tidak ingin memaksa kehendaknya lagi, seperti sebelumnya. Nabila pernah gagal dua kali, tentu saja pria paruh baya itu tak ingin gegabah menerima pinangan itu tanpa meminta jawaban dari putrinya. Sekalipun yang datang jelas orang yang baik secara agama dan ilmunya.


"Sesungguhnya putri kami tidaklah orang yang pantas untuk disandingkan dengan keluarga Ustadz, dia banyak cacat baik secara agama dan akhlaknya. Pernah menikah, gagal dua kali dan tentu saja sudah mempunyai seorang putra. Apa itu tak mengapa untuk keluarga Pak Kyai?"


Tak boleh ada yang ditutupi di sini, seandainya terjadi kesepakatan untuk keduanya pun, semua harus tahu satu sama lain.


"Kami menerima setiap kekurangan dan kelebihan itu, Pak, insya Allah atas izinNya, putra Kami Zaky sudah ridho dengan itu. Mudah-mudahan Allah memberkahi dan meridhoinya. Aamiin."


"Kami selaku orang tua, hanya bisa memberi restu, selebihnya biarkan kita melihat sendiri pertimbangan jawaban dari putri kami, semua keputusan itu ada padanya yang akan menjalani," jelas Ayah memindai pandangannya pada anaknya yang nampak sangat gugup.


Semua orang yang hadir menyorot perempuan berhijab syar'i itu. Terkecuali Zaky yang menundukan pandangan, ada gurat resah di sana. Namun, apa pun jawaban nantinya yang terdengar ia akan menerima dengan lapang.


Nabila mencoba untuk memantapkan hatinya, berkali-kali ia menarik napas untuk menetralisir hati supaya tetap terjaga. Sungguh ini hal tersulit dalam sejarah hidupnya.


"Bismillah ... tidak mengurangi rasa hormatku pada keluarga Ummi dan Pak Kyai, juga Ustadz." Bila menjeda kata-katanya sebentar, kegugupan nampak jelas di wajah ayunya yang tertunduk.

__ADS_1


"Sebenarnya, saya sama sekali tidak menemukan kejelekan akhlak dan agamanya, namun saya khawatir kufur dalam islam. Sungguh, Ustadz terlalu baik untuk saya. Saya tidak pantas untuk keluarga Ustadz," jawab Nabila santun. Tentu keluarga Zaky paham dengan maksud kata-kata itu. Seorang muslimah yang tidak ingin menyakiti dengan lisannya.


Gurat kecewa nampak jelas di raut pemuda lulusan Kairo itu. Pendidikan yang bagus, akhlak yang baik, serta tampan dan mapan pun, belum bisa menyebut sebuah kesepakatan atas keridhoanNya. Sesungguhnya manusia hanya berencana, Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.


"Qodarullah ... sesungguhnya apa-apa yang terjadi hari ini atas garis takdir-Nya. Insya Allah kami akan mencoba lapang dengan keputusan Dek Nabila," ucap Ustadz Zaky sendu. Pria itu mencoba tetap tersenyum.


"Terima kasih Ustadz, semoga Allah mengganti dan mempertemukan dengan seseorang yang lebih baik dariku. Semoga Allah menutup aib-aib kita, mengganti kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi dengan amal sholeh. Aamiin."


Ummi mengusap punggung tangan putranya, berusaha menguatkan putranya yang sebenarnya sudah lama merindukan pernikahan. Kedua keluarga itu memaklumi keputusan yang telah diambil Nabila.


Sementara, Bisma di ujung sajadahnya tengah bermunajat, melapangkan diri dengan segenap rasa. Memohon agar semua baik untuk mereka. Tatapannya memindai pada putranya yang tengah asyik bermain dengan mama. Ia tersenyum, ada semangat di sana yang membara kala melihat bocah kecil itu, Razik adalah satu-satunya alasan Bisma untuk tetap tersenyum menjalani hidup.


"Apa yang membuatmu begitu sedih Nak, mama lihat kamu begitu murung?"


"Nggak ada, Ma, aku baik-baik saja," jawab Bisma berbohong. Sesungguhnya pria itu mencoba menenangkan diri, mencoba menata hati untuk tetap melangkah dengan lapang.


"Gurat wajahmu menunjukkan kamu tidak baik-baik saja. Namun, Mama tidak akan memaksa untuk kamu berbicara."


"Tadi pagi, saat aku menjemput Razik, Lastri mengabarkan perihal tamu istimewa yang datang ke rumah Nabila, Ma, sebelum itu ada seorang pria sholeh, yang meminta izin secara khusus padaku mengikhlaskan Nabila untuk dijadikan istri," curhat Bisma pada akhirnya. Jelas, sudut matanya berembun, namun sekuat hati pria itu tersenyum.

__ADS_1


"Patah hati kok ditutup-tutupin, yang sabar Nak, Allah pasti akan menggantinya dengan yang terbaik. Cukup kamu dekatkan diri saja, dan merayu di sepertiga malamnya. Mama yakin, semua akan indah pada waktunya," ucap Mama bijak. Perempuan itu menepuk punggung putranya, mentrasfer kekuatan di sana.


"Aku pulang dulu, Ma, terima kasih atas doanya," pamit pria itu tersenyum.


Pulang dari kediaman orang tuanya, Bisma langsung ke rumah. Sepintas saat mobil melaju pelan, melewati gerbang rumah tetangga, benar saja, rumah itu masih nampak keramaian di sana. Banyak mobil berbaris di pekarangan rumah itu, sudah pasti tebakannya benar.


"Razik, pulang ke rumah bunda nanti saja ya, kita main di rumah Ayah dulu, kita nyusun lego yang banyak," ujar Bisma mengalihkan perhatian.


Hingga malam menjelang, Bisma tak kunjung mengembalikan putranya pada mantan istrinya. Sebenarnya niatan itu ada, namun mendadak pria itu merasa harus lebih menjaga pertemuan itu.


"Bim, ada Nabila di luar, dia mau jemput Razik," seru Pandu menghampiri.


"Owh ... tolong antar anak gue ke depan, Du," pintanya yang membuat pria itu mengeryit.


"Sayang, sudah dijemput bunda, saatnya Razik pulang, besok main lagi sama Ayah ya?" Bapak dan anak itu tos sebelum akhirnya Pandu menggendongnya dan membawa keluar.


"Razik ... ayo pulang sayang ...." seru perempuan itu. Netranya mencari-cari seseorang yang berharap muncul, namun sepertinya tak pernah ia temui. Perempuan itu lekas pamit dan membawa Razik pulang.


Sementara Bisma sendiri menatap dari arah yang tak terjangkau Bila. Rasanya hati kecil itu masih perlu menjaga tingkah untuk tetap membatasi diri untuk saat ini.

__ADS_1


"Berbahagialah Nabila ... selamanya, semoga Allah memberkahi setiap jalanmu. Aamiin ...." Doanya tulus.


__ADS_2