
Diam-diam Bisma tersenyum dalam hati saat sebuah selimut mampir menghangatkan tubuhnya. Walaupun perempuan itu tidak sengaja memberi perhatian padanya, namun nampaknya Razik adalah jembatan paling ampuh tanpa harus memaksa dan kesusahan. Bisma semakin mengeratkan dekapannya. Keduanya tertidur begitu pulas, hingga waktu ashar Bisma baru terjaga.
Pria itu turun dari ranjang dengan hati-hati, takut membuat buah hatinya terbangun dan tentu saja Bila bisa mengamuk kalau tahu Razik kenapa-napa. Pria itu bergegas ke masjid terdekat, sebelum berangkat ia lebih dulu pamit dan menitipkan Razik pada Lastri, Bila sendiri entah ke mana.
"Mbak Lastri, titip Razik sebentar ya?" pamitnya sambil lalu.
"Siap, Den," jawab Lastri semangat.
Duh ... sholeh pisan kok Non Bila masih ogah-ogahan, cari yang kaya opo to Non, Non.
Lastri bermonolog seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Masuk ke kamar, dan menemukan bocah kecil yang masih setia bobo cantik di ranjang. Art itu meninggalkan begitu saja, Razik tidak akan terbangun pikirnya. Lastri pun sibuk sendiri di belakang menyetrika.
Realita tak sesuai ekspektasi, nyatanya Razik malah terjaga setelah mendengar derit pintu tertutup oleh seseorang. Bocah kecil itu menatap sekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Razik berteriak memanggil-manggil nama bundanya dengan cemas. Anak itu menangis sampai keluar rumah.
Sementara Bila sendiri tengah menyempatkan pergi sebentar, menemani Bunda Rima membeli barang perlengkapan untuk keperluan dapur dan rumah. Ibu dan anak itu tadi tidak ada yang memberitahu Bisma sebab pria itu sedang tertidur.
Tak sengaja, Bila yang tengah mengantri di kasir sederet dengan wanita cantik yang sangat ia kenali.
"Disya?" panggilnya di sela rasa tak percaya dan haru, perempuan yang merasa namanya disebut pun menoleh, mereka bertatap beberapa detik, Bila membuka maskernya, sepertinya perempuan berbaju garis-garis itu tidak mengenalinya dengan benar, sebelum akhirnya paham dan saling bertegur sapa.
"Bila? Ya ampun ... ini beneran elo, cantik banget, sumpah gue hampir tak mengenalinya," ucapnya takjub sekaligus kagum. Mereka melanjutkan antrian pembayaran terlebih dahulu sebelum akhirnya saling bertemu untuk sekedar mengobrol.
"Ya ampun ... ya ampun ... Bila, lo benar-benar membuat gue pangling, dengan penampilan lo sekarang," ucapnya kagum. Mereka berhambur saling memeluk.
"Cari tempat yok ... gue kangen banget sama lo," ujar wanita bergamis anggun itu.
"Hallo Tante, apa kabar?" sapa Disya menyalami ibunya Bila.
"Baik, Sya, kamu belanja sendirian?" tanya Bu Rima basa-basi.
"Iya Tante, suka kalap kalau ngajak si kembar, rusuh," jawabnya ramah.
"Apa kabar Reagan dan Realy, pasti sudah besar ya meraka? Jadi kangen sama si kembar."
"Main lah ke rumahku, sekalian nostalgiaan," jawabnya mengerling. Mereka menuju food court terdekat untuk mengisi perut sekaligus mengobrol.
__ADS_1
"Bila, kamu kalau mau kangen-kangenan dulu nggak pa-pa, lama juga 'kan nggak ketemu, Bunda tinggal ke salon sebentar gimana?" ujarnya menghemat waktu.
"Iya, Bun, nggak pa-pa, nanti Bila samperin kalau udah selesai," pamitnya.
Sepeninggal Bu Rima, Bila dan Disya memesan makanan dan asyik mengobrol.
"Gimana kabar elo, Bila? Ngilang nggak ada kabar apapun, menghilang dari dunia sosmed, dan tahu-tahu lo hijrah gini, keren ....!" Disya mengacungkan dua jempolnya.
"Gue sengaja menepi, Sya. Ini nggak seperti yang kamu lihatlah, gue masih seperti dulu, Bila yang urakan dan asyik kok, hanya mungkin perubahan sikap dan status kita yang berbeda."
"Ngomong-ngomong, lo tinggal di mana? Gema bawa lo pindah jauh gitu?" tanyanya kepo maksimal. Bila menggeleng sebagai jawaban.
"Gue udah cerai dengan Gema," jawabnya sendu. Apapun yang berhubungan dengan pria itu selalu membuat ia terasa ngilu. Miris dan sakit hati, kepingan masa lalu itu seakan membuka awal kehancuran dirinya di malam itu. Tanpa sadar mata Bila berkaca-kaca.
"Sorry, sorry, gue nggak tahu," sesal Disya menyodorkan sebuah tissu. Perempuan itu segera memeluk sahabatnya yang terlihat rapuh.
"Nggak pa-pa, Sya, sorry gue yang baperan," ucapnya sembari menyusut sudut matanya yang berembun.
"Kenapa nggak cerita, lo simpan semua ini sendirian?" tegur Disya merasa prihatin.
"Ya ampun ... lo yang sabar ya, kalau boleh tahu apa yang membuat kalian bercerai? Padahal kalian tuh pasangan yang sweet banget, bikin ngiri kita-kita, dipersunting pangeran Gema Samudera yang sukses dan tajir abis," ujar Disya menerawang.
"Mungkin jodoh kita tidak lama," jawab Bila datar.
"Lo punya anak dari dia?" Disya benar-benar kepo akut. Bila menggeleng.
"Tapi, gue punya anak dengan orang lain," jawabnya dengan anggukan.
"Lo udah nikah lagi? Kok nggak ngundang gue?" protesnya sebal.
"Pernikahan gue yang kedua teramat sederhana, waktu itu Bunda sakit harus berobat ke luar negeri, karena mungkin orang tua merasa cemas gue sendirian di rumah, akhirnya menitipkan gue sama laki-laki yang saat ini paling gue benci," curhatnya sendu.
"Hah, maksud lo? Pernikahan lo yang kedua dijodohin gitu?" Disya sungguh penasaran.
"Bukan sih, tapi dilakukan di luar kendali, kami hanya menikah secara agama, dan sekarang gue lagi upaya perceraian, gue wanita yang gagal, Sya," keluhnya merasa paling naas sedunia.
__ADS_1
"Ya ampun ... lo yang sabar ya, setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya." Obrolan mereka terjeda, seorang pelayan mengantar pesanan.
"Makasih Mbak," ucap Disya ramah. Pelayanan itu ngangguk sopan lalu kembali ke belakang.
"Makanan kesukan kita masih sama, beef donburi, wagyu panggang," Disya menyorot hidangan yang tersaji di depan meja.
"Makan dulu sambil ngobrol," ucapnya seraya mulai menyuap daging empuk berlemak lembut itu ke dalam mulutnya.
"Minggu depan, ada acara ngumpul alumni kelas, lo ikut ya? Ini undangan spesial dari Faro, jadi semuanya free, tinggal berangkat ke lokasi," ajaknya semangat.
"Kapan? Semoga nggak ada halangan dan rintangan."
"Nomor ponsel lo masukin, wajib datang pokoknya, siapa tahu ketemu yang bisa bikin lo move on," ujar Disya mengerling.
"Sumpah gue masih kangen banget sama lo, belum ikhlas kayaknya kalau harus pisah, nanti kita ngobrol via grub squad rempong ya, pasti mereka juga kangen banget sama lo, jangan lupa nanti malam kita vidio call, nunggu dogan tidur tapi, hehehe." Disya nyengir.
"Pasti dirusuhin Pak Sky ya?" tuduhnya tersenyum.
"Tahulah cowok mah, pasti gitu nggak bisa lihat istrinya menganggur semalam saja," ujarnya curhat.
"Alhamdulillah ... langgeng terus ya, Sya, ikut seneng dengernya, jadi kapan lounching adek buat Realy?"
"Gue nggak di KB, tapi jaraknya jauh juga, dia mah udah ngebet sama anak ketiga, dinikmati saja. Kapan-kapan main ya, ajak sekalian anak lo main. Pasti seru banget."
"Huum, pastinya. Ya ampun ... masih kangen." Mereka berpelukan hangat sebelum akhirnya berpisah karena hari sudah sore dan terlalu lama mengobrol. Bunda juga sudah balik dari salon, saking asyiknya curhat rempong membuat dua wanita itu lupa waktu. Itu pun masih terasa kurang, mereka berencana melakukan pertemuan seasons dua dengan formasi yang lebih lengkap.
"Udah ngobrolnya, Bila, kita pulang ya, kasihan Razik sudah terlalu lama ditinggal," ujar Bunda menginterupsi.
Sesampainya di rumah, rumah tanpak sepi tak berpenghuni. Razik dan Bisma tidak ada di rumah, sementara Lastri juga entah ke mana?
"Razik!" panggil Bila melengking, menggema di seluruh ruangan.
.
Tbc
__ADS_1