Noktah Merah

Noktah Merah
Part 105


__ADS_3

"Sayang ...! Kamu nggak pa-pa?" Bisma menyusul istrinya yang lari ke kamar mandi.


"Nggak pa-pa Mas, kamu jangan dekat-dekat aku mau muntah," ujarnya lemas. Melewati suaminya dengan menutup hidung.


"Ke dokter aja gimana? Aku nggak tega kalau kamu gini, muka kamu pucet." Bila menggeleng pelan, menyembunyikan wajahnya pada selimut tebal yang membungkus dirinya, sementara Bisma duduk di pinggir ranjang. Sedikit berjarak, tangan kanannya mengelus lembut kepada istrinya.


"Sabar ya, dulu waktu hamil Razik apa gini juga?" tanya Bisma hati-hati. Pria itu sungguh penasaran karena dia dulu tinggal terpisah.


Bila hanya merepon dengan menggeleng pelan, itu berarti hamil pertama tidak separah ini, dan Bisma cukup lega mendengarkan. Mendadak ia sangat sedih mengingat waktu itu, seketika ia bergerak maju dan mencium kening istrinya.


"Mas, jangan dekat-dekat," tegurnya menutup mulut sekalian hidungnya.


"Aku kangen sebenarnya, gimana ya? Apa aku harus memakai parfum satu botol baru kamu nggak mual?" tanya Bisma serius.


"Bisa pingsan aku Mas, aku juga kangen." Perempuan itu menatap sendu suaminya.


"Ribet ya, sabar ya sayang, ini dedeknya pinter banget nih, padahal Ayah dan Bundanya pingin deket. Haha." Bisma gemas sendiri tidak tahu harus berbuat apa.


***


Hampir setiap dekat dengan tubuh suaminya, Bila selalu mual, membuat bapak dari satu anak itu menahan sabar selama dua bulan ini. Kandungan Bila dinyatakan sehat dan tumbuh sesuai bulannya. Pasangan halal itu sangat tidak sabar menanti buah cinta mereka berdua lahir ke dunia.


"Sayang, hari ini kamu nggak ngantor?" tanya Bila ketika mendapati suaminya berleha-leha di rumah.


"Pingin nemenin kamu belanja bulanan, katanya stok di rumah habis," ujarnya mengingatkan.


"Iya, Mas, bener sih. Mbok Inah kok belum datang ya, apa hari ini libur lagi?" tanya perempuan itu lebih kepada diri sendiri.


"Sepertinya kita butuh asisten rumah tangga lagi deh, Mas, kasihan mbok Inah kalau ngerjain semuanya sendiri, apalagi setelah aku lahiran nanti," usul Bila tentu langsung diiyakan suaminya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja sayang, aku ngikut aja baiknya gimana. Pilih asisten rumah tangganya jangan yang terlalu mudaan ya, aku nggak suka," ujar Bisma memberi pendapat.


"Lho emangnya kenapa Mas, yang muda biasanya lebih cekatan."


"Kamu salah, justru kebanyakan yang muda itu banyak mainnya, yang tiga puluh tahun ke atas lah, minimal. Aku juga nggak nyaman kalau ada perempuan asing di rumah."


"Owh gitu ... tapi kamu terlihat akrab sama Lastri?"


"Beda lah, di sana 'kan ada bunda, ayah, kamu juga, lagian itu pembantu kamu masa iya aku protes, orang lama mah beda, Lastri baik, dia juga ikut keluarga kamu udah lama 'kan?"


"Dulu waktu aku pergi, kamu berdua doang berarti?" tanyanya penuh selidik.


"Astaghfirullah ... nggak lah, aku pindah ke sini, baru setelah bunda pulang aku sering main ke sebelah, berharap kamu cepet pulang, tapi lama— kita dulu kenapa semenyakitkan itu ya? Kamu bikin aku jatuh terlalu dalam."


"Tapi sekarang udah berdiri lagi 'kan? Kamu so sweet banget sebenarnya, tapi cara kamu yang bikin aku salah paham dan membencinya."


"Hadiah terindah dalam hidupku yaitu kamu dan Razik," ujar pria itu tersenyum haru


"Terima kasih sudah mencintaiku, Mas, semoga rasa ini tidak akan pernah berubah, bila di antara kita goyah, aku mohon tetap bertahan dan mengingatkan."


"Pasti sayang, kita akan menua bersama, menjadi pelabuhan cinta bersama anak-anak kita nantinya."


"Jadinya kita pergi nggak? Aku mau beli perlengkapan bayi?"


"Jadi dong, kita jemput Razik dulu, terus berangkat," ujarnya semangat.


"Aku ganti baju dulu, Mas." Mereka tengah bersiap-siap.


"Mas, aku gendut ya?"

__ADS_1


"Nggak pa-pa tetep cantik kok, sini aku sisirin dulu rambutnya, kamu duduk aja."


Pria itu selalu memanjakan istrinya bila sedang di rumah. Apalagi kandungan Bila yang semakin besar membuat Bisma ekstra menjaga. Ia akan menjadi super posesif untuk hal-hal yang menurutnya tidak baik bagi ibu hamil.


"Sayang hati-hati jalannya, ini pakai yang ini aja sepatunya."


Sampai memilih sepatu pun, Bisma akan sangat aware.


Pria itu membantu istrinya mengenakan kaus kaki plus sepatunya, kandungan Bila yang semakin membesar membuat perempuan itu kesulitan berjongkok.


.


Bersambung


Hallo gaess ... apa kabar semuanya. Sebelumnya mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga selalu diberi kesehatan, dan keberkahan di setiap langkahnya.


Novel ini udah mendekati akhir ya, jadi udah slow nggak ada konflik lagi, tinggal yang manis-manis aja. Ngomong-ngomong terima kasih banyak buat kalian semua yang udah ngikutin cerita duo B ini sampai akhir ya pastinya sebentar lagi.


Karena banyak banget yang nungguin kisahnya Rayyan, oke baiklah akhirnya author dengan senang hati akan membuat cerita tentang Rayyan Akfarazel Wirawan, dokter ganteng kesayangan bestie pada ya, untuk judul sudah aku kantongin, nanti akan saya share ketika novel ini end.


Oke sambil nunggu novel ini rampung, pastikan kalian semua udah pada mampir di cerita author juga yang tak kalah seru dan pastinya bikin kamu senyum-senyum dan baper akut bareng si cute Shali dan dostardz Aka. So cocok banget buat temen ngabuburit kalian makin ehem. Yuk baca di judul


"Mendadak Nikah Dengan Ustadz"



Kenalan sama Gus Aka, si dosen tampan cucu yang punya kampus, sama anaknya Disky pasangan paling fenomenal pada jamannya. Di jamin seru lah pokoknya ...


Jangan lupa ramaikan ya, sambil nunggu babang dokter rilis, semoga lancar ya Allah. Aamiin ....

__ADS_1


__ADS_2