
Bisma langsung menarik tubuh istrinya dalam pelukan, mendekapnya begitu erat.
"Aku percaya, aku juga mencintaimu, tolong jangan singgung lagi masa lalu kita yang membuat aku tidak percaya diri," bisik pria itu sembari memeluknya.
"Udah Mas, gerah, aku nggak bisa napas," protes Bila merasakan tubuhnya terasa sesak. Bisma terkekeh seraya mengendurkan pelukan itu tanpa melepas.
"Kalau gerah di lepas aja, kita bisa memulai untuk seasons yang selanjutnya," selorohnya mengerling nakal.
Puk
Perempuan itu menabok bahu suaminya gemas. Dirinya bahkan masih ngilu dan pegel sana sini, bisa-bisanya ngode lagi.
"Kenapa sih, halal juga?" ujarnya tanpa dosa.
"Iya tahu, tetapi aku bisa masuk UGD kalau kamu bantai gini, sumpah aku nggak nyaman, kita udah berapa kali seharian ini?"
Bisma tertawa geli mendengar keluh kesah istrinya. "Aku seganas apa sampai terancam masuk UGD, iya deh iya aku meluk aja, nggak usah tegang gitu dong sayang mukannya."
"Kamu menakutkan," jawabnya lirih sembari menggigit bibir bawahnya.
"Jangan mancing-mancing, nanti aku khilaf," celetuknya menatap dalam.
"Ya ampun ... Mas, aku nggak ngapa-ngapain, makanya jangan nempel melulu." Bila mengambil jarak.
"Mau ke mana?" tanyanya demi melihat istrinya menjauh. Berjalan keluar.
"Bikin minum, haus, kamu mau ngopi atau apa?"
"Kopi stamina mau, kalau ada," pesannya tanpa ragu.
"Nggak punya lah, kopi apa itu?"
"Kopi plus-plus Dek Nabila sayang, ada? Mau dong?"
"Eh, ya nggak ada lah, ada-ada aja mintanya. Aku bikinin kopi biasa mau?"
"Lagi nggak pingin kopi, tetapi susu," jawabnya spontan.
__ADS_1
"Ya udah kalau itu ada, bentar ya aku buatin, sekalian aku juga mau buat, haus."
"Sayang!" panggilnya saat perempuan itu hampir membuka pintu.
"Apa lagi?" Perempuan itu spontan balik badan.
"Bukan itu, susu murnimu," jawabnya terang. Bila mendelik kesal sementara pria itu terkekeh gemas.
"Dek! Dek Nabila!" panggilnya menyeru. Perempuan itu tak menggubris sudah melesat meninggalkan kamar.
Perempuan itu menuju dapur, merebus sedikit air dari panci. Bila baru tahu setelah meneliti, suaminya lebih suka minum air matang yang dipanasi langsung dari atas kompor, bukan dari dispenser.
Mengambil mug dan memadukan kopi, mencari-cari pemanis rasa tetapi tidak menemukan di mana rimbanya.
"Habis ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
"Cari apa Non?" tanya Lastri memergoki majikannya sibuk membuka tutup lemari penyimpan di dapur.
"Gula habis ya Mbak? Kok nggak ngomong?" tanyanya meminta penjelasan.
"Udah malem ini, emang masih buka? Sekalian ke Alfa aja, bentar Mbak aku ambil uangnya dulu, aku antar sekalian." Bila balik ke kamar.
"Mas, aku izin ke warung depan ya?" pamit Bila pada suaminya yang nampak sibuk di meja kerja.
"Ngapain malam-malam gini, nggak boleh!" cergahnya langsung.
"Mau nganter Mbak Lastri beli gula Mas, sekalian ada yang pingin aku beli, bentar doang ya?"
"Besok aja, aku nggak jadi ngopi 'kan dibilangin mau nyusu aja," ujarnya mengerling.
"Aku yang mau ngopi Mas, udah ya dibolehin, assalamu'alaikum ...."
"Sayang, aku belum ngijinin, apaan sih!" Bisma langsung menutup laptopnya dan berhambur keluar mengejar istrinya.
"Dek, sama aku aja! Mas antar!" ujarnya semangat. Mbak Lastri yang sudah menempatkan diri di jok penumpang turun teratur.
"Gimana nih Non, mau diantar Lastri, apa Den Bisma."
__ADS_1
"Ya udah Mbak, misinya besok saja, sekarang aku beli gula aja, bakalan repot kalau ditolak."
Bisma langsung membonceng begitu Lastri turun. Pria itu duduk dengan tenang dan percaya diri.
"Ini aku yang bawa motor?" tanya Bila pada suami yang sudah menempel, memeluk erat posesif.
"Huum, biar aku bisa peluk kamu gini, dingin yang," ujarnya semakin mengeratkan pelukan.
"Ish ... orang malam ya dingin, ngapain nggak pakai jaket?" Perempuan itu mendesah pelan.
"Ngak tahu, aku kira bawa mobil, ini aku udah bawa kuncinya." Bisma menunjukan kontak mobilnya.
"Orang cuma ke depan doang, ribet beud kamu Mas. Bentar deh, aku ambilin jaket dulu sekalian lesen Mbak Lastri suruh jagain Razik." Bila kembali masuk, menitip pesan dan mengambil jaket serta helmnya.
"Mbak, bisa minta tolong?"
"Apa Non, mau kencan sekalian ya?" tuduhnya kepo maksimal.
"Nggak kencan juga, cuma lebih afdol pakai jaket dan teman-temannya. Tolong jagain Razik ya Mbak?" Razik sudah tidur sedari sore.
"Ini Mas jaketnya plus helmnya terus kuncinya, kamu yang bawa."
Bisma menerima dengan sepenuh hati, menempatkan dirinya di kursi kemudi siap melajukan motor mereka.
"Mas, belok sedikit udah sampai Alfa, kok malah dilewati sih, kita mau ke mana?" tanyanya bingung.
"Jalan aja, sayang, kencan lah pokoknya," selorohnya terus melaju.
Tibalah mereka disebuah warung kopi angkruk, tempat nongkrong dan ngopi cantik ala remaja di penatnya malam.
"Di sini?" tanya Bila ragu.
"Iya lah emangnya kenapa?"
"Ayo masuk!" Bila mengekor dengan menggenggam simpul kaus suaminya.
"Kalian? Kok bisa bareng di sini?" tanya Disya dan Sky yang juga memasuki kedai yang sama.
__ADS_1