Noktah Merah

Noktah Merah
Part 59


__ADS_3

"Ramai banget tumben?" celetuk Pandu yang baru masuk rumah.


"Salam dulu, atau apa kek," tegur Bu Mita menginterupsi.


"Assalamualaikum ...." ralatnya kemudian.


"Waalaikumsalam ...." jawab seisi rumah kompak.


"Acara apa Tante?" tanya Pandu menyalim ibunya Bisma.


Bertegur sapa sebentar dengan teman-temannya Bisma lalu masuk ke dalam mengekor Bu Mita.


"Ngumpul keluarga lah, sama nengokin cucu pastinya," jawab Bu Mita percaya diri.


"Ogh ... Razik udah pulang ya, pantes Bila ke sini," gumamnya pelan.


"Ngapain sebut-sebut calon istri orang," tegur Bisma dari belakang.


"Dih ... mantan istri kali," ralat Pandu mencibir.


"Iya mantan, ya calon," jawabnya tenang.


"Itu cewek siapa sih, kok udah akrab aja sama anak lo?"


"Teman-teman aku, dia tahu dari Alan, tadinya mau ke rumah sakit, tetapi alhamdulillah udah pulang, alhasil bareng-bareng jengukin Razik ke rumah."


"Owh ... kok Bila pulang gitu aja, nggak ngumpul sama teman-temannya juga," celetuk Pandu yang membuat Bisma tergeragap.


"Bila ke sini?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Ada tadi di depan, emang nggak masuk?"


"Enggak, waduh ... gawat nih kalau salah paham, bisa merajuk. Padahal habis ini aku mau jelasin ke teman-teman sekalian bawa Razik pulang. Nggak enak 'kan masa mau nengokin Razik nggak boleh." Bisma mendadak cemas sendiri.


Pria itu mau meninggalkan rumah, namun merasa tak enak karena teman-temannya masih ngumpul di sana. Beberapa kali mendial nomor ponselnya, berdering namun tak ada sahutan.


Pria itu mondar mandir resah gelisah, galau merana. Ngebayangin juteknya Bila selalu membuatnya menekan rasa sabar.


"Kenapa nggak diangkat, aku mau ngomong!" seru Bisma ketika menemukan perempuan yang membuatnya resah hanya menatap layar ponselnya tanpa mengangkat.


Bila menoleh, menemukan pria itu tengah berdiri di balkon kamarnya. Perempuan itu hanya menatap sekilas, lalu menatap lurus ke depan.


"Kenapa nggak masuk? Mereka sengaja datang buat jenguk Razik, kamu marah?" tanyanya resah.


"Aku tidak ada hak untuk marah, mungkin waktuku yang kurang tepat berkunjung ke rumahmu," jawab Bila dingin. Bisma rasa perempuan itu sedang cemburu.


"Kamu ke sini ya, biar teman-teman juga tahu kalau Razik anak kita berdua," ujarnya penuh harap.


"Ya ampun ... Bila sayang, tolong dengerin dulu aku belum selesai ngomong," seru pria itu gemas sendiri. Nabila sendiri tidak mendengarkan, sudah meninggalkan balkon tanpa mau tahu pria di rumah tetangganya menyeru kebingungan.


Bisma yang merasa terusik sampai nekat melompati pembatas, alhasil pria itu berpindah tempat ke balkon tetangganya. Walaupun sulit akan ia lewati, jangankan pembatas tembok balkon, tembok berlin pun akan ia selami demi meluruskan kesalahan pahaman ini.


Bisma mendorong pintu balkon dengan cepat, seseorang yang di dalam jelas kaget dengan aksinya.


"Astaghfirullah ... Bim, ngapain sih?" Bila yang tengah duduk di bibir ranjang tersentak langsung berdiri.


"Kamu bikin aku tidak tenang, Bila. Kita nikah saja sekarang, mumpung ada mama sama papa di rumahku," kata pria itu menatap tajam ke arah mantan istrinya.


"Kamu kenapa sih? Nggak sabaran banget," jawab Nabila membuang muka.

__ADS_1


"Biar nggak saling salah paham lagi, aku capek," keluhnya mencoba tenang.


"Katanya mau lamar aku habis Razik pulang, masih saja bersenda gurau dengan cewek lain," celetuknya tak terima.


"Kamu beneran cemburu? Tetapi cemburumu itu salah tempat, Dek Bila sayang? Aku baru mau ngejelasin ke mereka bahwa Razik itu anak kita."


"Nggak usah sayang-sayangan, sana pulang, cepetan balikin Razik!" usirnya sebal.


"Ya udah aku ambil Razik dulu, nanti balikin sekalian sama mama dan papa ke sini. Tunggu aku ya?"


Bisma berbalik namun dia menjadi bingung sendiri kala mau pulang.


"Gimana cara lompatnya nih, tadi lancar jaya, kenapa sekarang susah," gumamnya mencari cara.


"Jangan lewat situ nanti jatuh!" tegur Bila perhatian.


"Terus lewat mana? Iya juga, jangan sampai jatuh belum kawin!" ceketuknya ngasal.


"Lewat depan nggak papa, sekalian pedekate sama Ayah."


"Hah, ketahuan dong kalau aku dikira sering masuk kamar kamu tanpa pamit." Pria itu masih mencari cara ketika Bu Rima memasuki kamar putrinya.


"Lo, kok Bisma di kamar, astaghfirullah ... kalian kalau masih saling suka jangan begini, dosa sayang." Mereka tertangkap basah.


"Enggak Bun," sanggah Bila cepat.


"Iya Bun, eh ini maksudku iya kita masih saling sayang, tetapi Bunda salah paham."


"Mata tuaku tak bisa dibohongi, kalau masih saling suka kenapa tidak rujuk saja, jangan main kucing-kucingan begini kalau ketemu. Timbulnya dosa!" tegur Bu Rima kecewa.

__ADS_1


"Kamu sih Bim, bikin Bunda mikir kita nggak-nggak aja!"


"Iya Bun, nanti malam Bisma datang untuk melamar."


__ADS_2