
Bisma terus meyakinkan istrinya, ada rasa bangga tersendiri saat dirinya benar-benar dicemburui, itu artinya Bila benar-benar sudah menerima dirinya sepenuh hati. Cukup larut keduanya sampai rumah, sebab pria itu sengaja membawa berkeliling sebentar untuk membuat suasana hati istrinya menjadi baik.
"Mbak Lastri, mau nginep sini apa pulang Mbak?" tanya Bila memberi pilihan.
"Pulang aja Non, lebih nyaman tidur di kasur sendiri," jawab Lastri sembari pamit.
"Makasih ya Mbak, dah jagain Razik, maaf jadi ngrepotin," ujarnya sungkan.
"Non Bila gimana sih, mana ada ngerepotin, tentu saja tidak Non, pulang dulu, assalamu'alaikum ....!"
"Waalaikumsalam," jawab Bila dan Bisma menyahut.
Sepeninggal Lastri, keduanya langsung bersih-bersih dan memutuskan untuk istirahat.
"Mas, aku nyusul Razik duluan ya, badanku sedikit capek," pamit perempuan itu memutuskan tidur duluan.
"Iya sayang, istirahat saja, aku belum ngantuk," jawab Bisma menyematkan tanda sayang di pipi istrinya.
"Night," balas Bila menyambar bibirnya sekilas. Membuat pria itu tersenyum lebar, seandainya istrinya sedang tidak halangan sudah pasti diterkam saat itu juga.
Keesokan paginya, saat perempuan itu terjaga, tidak menemukan sosok lelaki tampan yang telah sah menjadi suaminya, biasanya suaminya itu jamaah di masjid, benar saja Bisma baru terlihat batang hidungnya saat perempuan itu tengah sibuk di dapur merebus air guna menyiapkan kopi untuk suaminya.
Bila juga meneliti kulkas untuk kemudian berencana membuat sarapan sesuai bahan yang ada.
"Assalamu'alaikum ... sayang," sapa pria itu langsung melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Menjadikan bahu yang tertutup kain hijab itu sebagai sandaran dagunya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ... Mas, sudah pulang? Aku buatin sandwich buat sarapan, suka nggak?" ujarnya memberi info.
"Aku pasti akan makan apa saja yang diolah oleh tanganmu," jawab Bisma tanpa melepas pelukannya. Di rumah sendiri pria itu merasa sedikit bebas, di manapun berada nemplok terus sesuka hati.
"Mandi Mas, aku udah siapin air panasnya tadi, aku juga udah siapin baju kantornya. Sambil nunggu sarapan aku jadi, kamu mandi dulu," titahnya lembut.
"Huum nanti Dek, sebentar lagi," jawabnya masih setia bergelayut manja.
"Kamu membuat gerakanku terbatas Mas," protes Bila yang tengah sibuk memecah empat butir telur dan memasukan ke wadah kosong.
"Oke deh, Mas mandi dulu ya?" pamit pria itu meninggalkan satu ciuman di pipi kanannya. Bila hanya tersenyum menanggapi tingkah suaminya yang kadang membuat gerakan tak terduga.
Bila tengah menyiapkan isian sandwich, dua slices keju, wortel, daun bawang, kubis, dan keju. Siap mengeksekusi bahan tersebut untuk membuat isian pada roti tawar, ketika seseorang menyerukan namanya cukup dekat.
"Pagi Bila, masak apa?" sapa Pandu tepat di sampingnya. Membuat perempuan itu sedikit kaget dan segera memberi jarak.
"Sorry Bila, kejadian kemarin aku nggak tahu kalau kamu ada di kamar," sesalnya meminta maaf.
"Ya, lupakan saja," jawab perempuan itu tanpa menoleh. Tangannya sibuk menyiapkan roti tawar.
Nabila kira Pandu akan menyingkir setelah menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Ternyata salah, pria itu bahkan duduk di kursi makan yang cukup berjarak terhubung langsung dengan dapur. Pria itu bahkan memperhatikan istri saudaranya itu menyiapkan sarapan. Ada rasa iri pada Bisma, saat melihat perempuan itu begitu telaten menyiapkan keperluannya. Mulai dari makanan, minuman, dan juga perhatian khusus yang terjadi secara live di depan mata.
"Sayang, baunya enak banget," ujar Bisma mendekat seraya menenteng dasinya.
"Iya Mas, kamu suka?" Perempuan itu tersenyum senang mendapat tanggapan positif untuk dirinya.
__ADS_1
"Pasti, sayang tolong pakaiin ya?" titahnya sengaja ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Dengan senang hati perempuan itu memasang dasi untuk suaminya.
"Udah Mas, rapih deh pokoknya," pujinya tersenyum. Duduk di antara kursi yang berjejer di ruang makan.
"Razik belum bangun?"
"Masih pules, kamu sarapan sekalian Dek, buatan kamu enak, pinter juga bikinnya," puji Bisma jujur.
"Pandu, mau nggak, sini gabung?" ajak Bisma yang disambut dengan senang hati pria itu. Penasaran juga makanan buatan istri saudaranya itu.
Bila memang sengaja buat dilebihkan, siapa tahu penghuni lainnya ada yang mau.
"Sayang, nanti aku pulangnya agak telat, nggak pa-pa ya?" curhat Bisma sembari mengunyah. "Kalau takut di rumah hanya sama Razik, kamu boleh nunggu di rumah bunda, nanti aku jemput," saran yang paling tepat.
"Iya Mas, jangan terlalu malam juga," ujarnya memprotes.
"Iya deh, aku usahain pulang yang paling cepet," ujarnya menjawil gemas.
"Hari ini jadi nganter Razik ke sekolah?" Istrinya akan lebih sibuk mengurus keperluan anaknya.
"Iya Mas, jadi." Perempuan itu mengangguk sebagai respon.
"Pandu nggak berangkat bareng?" tanya Bila merasa aneh, saat suaminya sudah bersiap saudara dari suaminya itu masih terlihat santai.
"Dia pakai motor, katanya biar cepet jadi agak santai, Mas berangkat dulu ya?" pamitnya mengulurkan tangan. Sebuah kecupan sayang tak lupa pria itu sematkan sebelum beranjak. Lambaian tangan Bila mengiringi keberangkatan suaminya.
__ADS_1
Entah perasaan perempuan itu saja, atau tidak. Bila merasa Pandu selalu mengawasi gerak geriknya.
"Mau bareng? Aku berangkat agak siang, mau sekalian aku antar Razik ke sekolah?" tawarnya tersenyum.