Noktah Merah

Noktah Merah
Part 51


__ADS_3

"Mas Gema?"


Rasa penasaran membawa perempuan itu mengikuti jejak mantan suaminya. Suami satu malam, penuh dengan luka dan trauma, bahkan darahnya selalu saja berdesir bila ingat kejadian itu, di mana malam itu terasa dicampakan dan dikecewakan oleh dua orang pria dalam satu waktu. Itulah kenapa Bila begitu membenci pelakunya.


Perempuan itu tercekat, netranya melebar ketika tanpa sengaja menemukan Mas Gema memasuki ruangan. Bila pun bertanya-tanya dalam hati ada urusan apa Mas Gema datang ke ruangan itu. Perempuan itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena shock. Atau mungkin dia hanya menjalani test saja. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya, pikiran buruk itu langsung bercabang ke arahnya.


Pria itu memasuki pintu utama ruangan khusus, deretan kursi berwarna hijau, merah, dan kuning oranye di atas lantai kayu menyambut kedatangannya. Semilir sejuk pendingin ruangan dan beberapa lukisan di dinding sejenak mengalihkan, mengesankan hawa tenang.


Suasana masih pagi, ruang masih sepi. Salah satu saluran TV kabel menyala di area tunggu. Tayangan tengah menampilkan artis Demi Moore dan Miley Cyrus yang bertengkar layaknya ibu dan anak. Jarum jam pendek masih stay diangka sembilan. Beberapa orang juga masuk ke sana sambil bercakap riang. Mereka bertegur sapa dengan resepsionis. Seperti kantor agensi perjalanan, para staf terlihat sigap dan ramah menyambut mereka yang datang. Tak ada tamu yang berdiri kikuk atau kebingungan.


Kecuali, ruang tunggu agensi hampir tak pernah menaruh timbangan berat badan di salah satu sudut. Jika beberapa petugas berpakaian dokter tidak bersliweran, tidak ada tanda keberadaan sebuah tempat pelayanan kesehatan. Sebuah loket kecil di sudut belakang ruangan merangkap tempat penyimpanan obat. Beberapa boks bertebaran di lantai. Seorang petugas tengah mencatat stok obat.


Di ruang yang serupa kantor agensi ini, para tamu datang dengan tujuan berbeda.


Beberapa di antaranya merupakan orang yang baru kali pertama datang ke ruang itu seperti dirinya. Di mana tempat layanan kesehatan untuk menjalani tes HIV dan infeksi menular seksual (IMS) di Rumah Sakit Jakarta. Sebagian lain mungkin anggota keluarga atau kerabat dekat pasien yang rutin datang mengambil obat antiretroviral untuk mengobati infeksi HIV.


Sebagian lagi adalah bagian yang tak terpisahkan dari ruang itu. Mereka adalah Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Gema berkunjung ke ruang itu untuk bersua dengan dokter dan perawat yang sudah seperti keluarga baginya. Pagi itu dia mampir sebelum ngantor. Sehari-harinya pria itu masih terlihat membantu di kantor walau tidak seaktif dulu, bahkan pimpinan sudah dialihkan pada adiknya Bisma.


“Sekarang tujuan hidup saya adalah menjadi mandiri. Bisa menjalani hidup sehat dan lebih baik lagi. Syukur bisa membantu orang lain. Kalau untuk yang lainnya saya belum siap.” Itu suara Gema.


“Lainnya” yang dimaksud Gema adalah menghadapi orang-orang di sekelilingnya jika mereka tahu dia positif HIV dengan segala problematikanya. Sampai sekarang, tak ada yang tahu kondisi Gema, hanya adiknya yang tahu. Bahkan di awalnya kedua orang tuanya pun tidak tahu, tetapi sekarang akhirnya mereka tahu karena sempat ngedropnya kondisi Gema saat itu. Sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf, Mbak? Mbak mau test? Atau mengambil obat?" Seseorang yang ada di sana bertanya melihat perempuan itu yang sepertinya bingung.


"Maaf Mas, saya salah masuk," jawab perempuan itu hendak keluar. Dadanya masih terasa sesak dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Nabila!" seru pria itu menyebut namanya. Keduanya terperangah, tak pernah menyangka bisa bertemu di tempat itu, Gema baru saja keluar dari ruang konsul. Mata mereka saling bertemu, sebelum akhirnya memilih duduk bersama dengan rasa takut dan ingin tahu yang besar.


"Hari ini Tuhan menampakkan kebenaran itu padamu, inilah aku, pria breng*sek yang tiga tahun lalu berharap bersanding denganmu. Maafkan aku, Bila," mohonnya terdengar sendu.


Jelas perempuan itu shock mendengar cerita itu. Rasa sesak langsung melingkupi dadanya.


"Tolong, jangan membenci Bisma, akulah orang yang tidak tahu diri, ia melakukan itu karena tidak ingin kamu celaka, atas tindakan bodohku yang tetap ingin meminta hakku di malam itu. Seharusnya aku paham itu. Tuhan memberiku hukuman atas perbuatanku dulu di belakangmu."


Gema terdahulu hidup dengan gaya suka-suka. Menyimpang dari agama dan moral. Salah satunya bergonta ganti pasangan. Itu sebuah privasi untuk personal, namun ketika mengetahui perempuan idamannya saat ini adalah Nabila, gadis cantik yang sudah lama Bisma idamkan pada masa kuliah, jelas naluri Bisma terusik.


Berharap perempuan itu bahagia dan kak Gema bisa mengakhiri petualangannya. Hingga menjelang pernikahannya, hasil test itu terendus oleh Bisma, namun sang kakak tetap ingin meniduri wanita yang baru saja sah menjadi istrinya yang selama ini terperdaya karena pengkhianatan di belakangnya, jiwa pria itu terkoyak timbulah suatu naluri untuk berbuat sesuatu agar kak Gema benar-benar menjauh bahkan menceraikannya.


Malam itu benar terjadi, Gema begitu marah, bahkan Nabila membencinya. Tapi tak mengapa, asal perempuan itu tetap sehat dan terlepas dari jerat suami brengs*knya. Bisma berharap, apa yang ia siram pada rahim gadis itu muncul kehidupan baru. Semua itu menjadi nyata, pria itu juga terluka tetapi ia bahagia ketika mengetahui Bila hamil, tentu saja pria itu akan bertanggung jawab menikahinya. Dengan harapan, bisa memberi kasih sayang, dan cinta. Mengganti luka atas perceraian itu.


Ekspektasi tak sesuai realita, nyatanya Nabila begitu trauma dan membencinya. Satu-satunya hal yang paling menyiksa dalam benak pria itu adalah, saat ia tidak bisa jujur dengan realita yang ada. Dengan resiko dibenci seumur hidup, atau memilih terbuka tetapi Gema mengancam jiwa perempuan itu.


***

__ADS_1


Pak Hans dan Bu Mita sempat shock atas apa yang menimpa keluarganya. Bisma pun memilih bungkam, merenungi diri dengan berselimut dosa pengampunan. Berhasil menikahi perempuan itu untuk menebus dosanya sekaligus, belum juga bisa membuat hatinya tenang. Saat cacian dan makian datang dari mulut perempuan yang begitu sangat ia cintai, hati pria itu sakit, namun ia terima karena memang dirinya salah.


Rupanya penderitaan itu belum berakhir, puncak kesabarannya di uji saat perempuan itu memutuskan untuk pergi. Bisma bagai orang yang frustrasi menerima itu. Setiap malam-malam panjangnya doa itu tak pernah putus, berharap istrinya bisa kembali dan memaafkan dirinya.


Sedih, sakit, saat hanya kabar kelahiran Razik yang ia tangkap tanpa bisa hadir dan mengadzaninya. Hanya lewat gambar-gambar comelnya, pria itu sedikit terhibur, hukuman itu terlalu berat, rasa rindu yang melesak di dada hanya bisa ia tumpahkan di atas sajadah. Berharap istrinya kembali, setidaknya ia bisa memeluk anak itu walau jalan mereka tak lagi sama.


Gema sendiri sekarang cukup sadar, pria itu bahkan berusaha untuk hidup lebih baik lagi. Dengan tidak ingin mengusik kehidupan adiknya dan berharap mereka bisa bersatu kembali.


***


“Saya menginginkan suatu tempat di mana siapa saja bisa diterima, didengarkan, hingga tak lagi merasa sendirian. Mereka tidak perlu khawatir untuk datang, tidak perlu takut ikut tes, dan tidak perlu merasa kehilangan harapan atau sendirian ketika hasil tes HIV positif,” ujar Dokter Winardi, dokter spesialis penyakit dalam yang membantu di ruang itu.


Gema berusaha mengikuti pengobatan sesuai saran adiknya dengan terus menjalani hidup sehat. Pria itu ingin berusaha menjadi baik disisa umurnya. Bahkan jika mungkin, ingin meminta maaf pada Nabila bila ada waktu bertemu. Namun, rasa malu masih mendominasi batinnya. Tetapi Tuhan begitu baik, hingga memberi kesempatan itu sekarang.


HIV dan AIDS telah merubah hidup Gema. Ia juga mendorong seseorang memaknai keterbatasan. Ketika keterbatasan diterima sebagai sebuah proses, maka penghargaan terhadap kehidupan dan relasi dengan sesama menjadi lebih nyata dan berarti. Dengan terus mengedukasi sesama yang ingin berbagi. Tuhan telah menghukumnya dengan cara yang berbeda.


Gema berharap terus menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Bahwa dirinya layak untuk menjadi baik dan syukur hidupnya bisa bermanfaat untuk orang lain.


Bermula dari yang kecil, mungkin akhirnya bergulir menjadi sesuatu yang besar. Seperti bola salju. Bukan karena kekuatan mereka melainkan karena banyak orang terutama pasien dan keluarga, mitra donor, petugas kesehatan, serta komunitas pelayanan yang turut ambil bagian dalam berbagai aspek penanggulangan problematika HIV dan AIDS. Satu lagi, support keluarga yang selalu ada. Mereka tak pernah meninggalkan saat dititik terendah sekalipun. Gema bersyukur mempunyai keluarga yang begitu perhatian dan menerima dirinya.


Bila sibuk menyusut air matanya, perih, namun ia cukup lega dengan rasa penasaran yang selama ini merajai hatinya.

__ADS_1


"Kamu sendiri, kenapa ada di rumah sakit?" tanya pria itu.


__ADS_2