Noktah Merah

Noktah Merah
Part 57


__ADS_3

"Apa alasan paling mendasar yang membuatmu nekat melakukan itu padaku?"


"Maafkan aku, Bil, itu adalah dosa terbesar dan terberat dalam hidupku. Penyesalan itu mungkin tidak akan membunuh rasa bersalahku padamu."


"Dari segi manapun, aku membenci perbuatan terlarang itu sampai sekarang. Aku menyayangkan kenapa kamu tidak mencoba menjelaskan dulu, sudah jelas agama melaknat perbuatan itu. Kamu tahu? Aku hampir gila mengetahui fakta yang bermain di atas tubuhku itu kamu."


"Maaf Bil, hatiku kacau pikiranku buntu, Kak Gema sudah menyiapkan malam itu dengan percaya diri, padahal ia tahu dirinya sakit, aku takut sesuatu yang tidak baik itu menular padamu. Kamu tidak seharusnya ikut menerima impas dari tindakan bejat Kak Gema di belakangmu," jelasnya sendu.


"Aku tidak punya pilihan lain, aku bisa lapang dan menerima ikhlas melihatmu dipersunting kakakku, walaupun sebenarnya sejak awal aku mengetahui kamu punya hubungan dengan kak Gema, aku cemburu. Kamu aja yang dari dulu tidak pernah peka dengan perasaanku," imbuhnya pilu.


"Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Bila penasaran.


"Lama, cukup lama aku mulai memperhatikanmu, sayang nasib cowok kurang tampan kalah sama pesona yang most wanted, tajir, dan idola kampus. Aku mana terlihat di matamu."


Bila sedikit mendekat dengan bersedekap dada. Meneliti dengan cermat wajahnya yang tengah bercerita. Bisma mendadak salah tingkah.


"Bener sih, kamu jelek, bikin aku kesal bertahun lamanya, hingga sekarang aku masih benci!" ucapnya yang membuat wajah pria itu ditekuk berkali-kali lipat.


"Jelekmu hanya satu, karena meniduriku dengan paksa, selebihnya sih oke, tetapi aku tetap nggak suka karena kamu suka genit sama lawan jenis."

__ADS_1


"Kapan aku genit, aku cuma dekat denganmu, bertahun aku memendam rasa ini sendiri. Mengharapkan seseorang yang bahkan tak pernah melirikku sekali saja. Rasanya sakit, tetapi aku cinta, ah ... terlalu ribet hidupku."


"Kalau cinta itu diungkapkan, bukan di simpan, emangnya barang, apa. Nyesek 'kan jadinya, untung aku nggak gila, keputusan aku meninggalkanmu aku sudah tidak punya pilihan dan berakhir nekat."


"Aku benci setengah mati sama kamu, melihat senyummu, melihat sabarmu, melihat perhatianmu yang begitu manis itu, aku benci jika terus dekat denganmu. Dengan kepergianku, aku berharap kamu menyerah dan melepasku, tetapi kamu tangguh juga bertahan selama itu. Aku aja ngerasa itu cukup lama."


"Ya, saking lamanya kamu bahkan sampai lupa menyadari kalau Razik punya ayah. Aku ingin sekali membencimu juga, tetapi hati suciku terlalu mencintaimu, ah ... hati, kenapa tidak bisa sedikit saja berpaling dari wajah cantik ini." Bisma menatapnya lekat.


"Jangan dekat-dekat Bim, kamu meresahkan!" Bila berdiri dari duduk semula yang berhadapan. Ditatap dalam jarak yang sangat dekat selalu membuat jantungnya rancak tak beraturan.


"Ini yang bikin aku nggak kuat lama-lama menduda, karena di sampingku ada janda yang menggelora. Besok kita nikah ya, aku tidak ingin menunda suatu kebaikan lagi. Lagian kita banyak dosa kalau kaya gini."


"Hah! Besok? Ya nggak usah cepet-cepet juga, 'kan Razik masih sakit, terus emang bisa nikah secepat itu? Aku maunya nikah secara agama dan negara."


"Ikh ... geli banget sih manggilnya, berasa kaya bocah."


"Ya emang masih imut kok, wajahmu tak pernah bosan aku tatap, walaupun kadang juteknya na'udzubillah ... tetep aja aku cinta, heran sama hati, kenapa nggak pernah bisa berbelok sedikit saja,' curhatnya mendrama.


"Habis Razik pulang dari rumah sakit, aku lamar kamu ya, siap-siap sayang akan aku pinang kau dengan bismillah."

__ADS_1


"Apa tidak terlalu cepat?" Katanya sibuk projek iklan baru, belum bikin undangan ini itu. Nggak keburu lah, kalau cepet-cepet."


"Kita nikah dulu sah secara agama dan negara, nanti resepsinya menyusul, yang penting udah halal kalau lagi dekat gini tiba-tiba pengen peluk dan cium 'kan bebas, halal malah pahala. Soalnya kita juga bakalan banyak acara bareng-barengnya terutama ngurusin Razik kaya gini, kalau bukan mahram 'kan sebenarnya nggak boleh berdua-duaan, tatap-tatapan apalagi di ruangan kaya gini. Jadi untuk meminimalisir dosa kita harus mempercepat pernikahan kita."


Benar yang dikatakan Bisma, intensitas pertemuan yang semakin sering apalagi hanya berdua seperti ini jelas menumpuk dosa. Bertiga dengan Razik, tetapi Razik belum bisa menjadi penengah.


"Ya udah terserah kamu aja maunya gimana. Nikah di rumah apa di KUA saja."


"Di rumah saja, nanti aku pikirkan waktu yang tepat, yang jelas aku tidak mau menunda. Aku ini pria normal Bila, tidak baik menduda terlalu lama."


"Kemarin bertahun juga kamu menduda, cuma status aja, nggak yakin, aku?" celetuk Bila curiga.


"Nggak yakin apa?"


"Nggak yakin kamu selamat dari syahwat," ucapnya malu.


"Yang dosa siapa? Aku punya lahan yang subur, tetapi selalu ditutup rapat, bahkan dipagar kawat berduri. Mana bisa aku menerobos, bisa kena pasal berlapis."


"Oke, baiklah kamu menang debat kali ini. PUAS!"

__ADS_1


"Belumlah, 'kan belum dapat label halalnya, puas-puasin nanti setelah menikah," ucapnya mengerling.


"Astaghfirullah ... dasar cowok di mana-mana sama aja, selalu meresahkan." Bisma terkekeh melihat Bila yang bingung sendiri.


__ADS_2