Noktah Merah

Noktah Merah
Part 49


__ADS_3

"Baru pulang, Non? Seharian tadi Razik rewel," lapor Lastri begitu mendapati majikannya pulang ke rumah.


"Razik rewel? Tumben, sekarang mana Raziknya, Mbak?" Bila melepas sepatunya, mencuci tangan dan kaki sebelum beranjak menemui anaknya.


"Sedang tidur, Non, sepertinya Razik kurang enak badan."


Bila setengah berlari menuju tempat tidurnya. Perempuan itu menaruh tasnya asal dan langsung mendekati ranjang. Mengecek suhu di kening putranya.


"Astaghfirullah ... kamu demam sayang," ujarnya khawatir.


"Baru pulang? Beliin obat dulu buat Razik, tadi sudah Bunda kompres, tapi masih panas." Bu Rima berseru seraya duduk di bibir ranjang.


"Iya Bun, maaf, tadi tidak sengaja ketemu sama teman lama dulu, jadi gabung sebentar, kenapa nggak telpon Bila, Bun?"


"Kepikiran gitu, tetapi takut ganggu masalah kerjaan kamu, sebenarnya tadi udah rewel, Bunda pikir karena capek, tetapi badannya anget, coba kompres masih demam, baru saja tidur mungkin karena lelah menangis."


"Kasihan banget sih anak Bunda," gumam Bila sendu, menatap putranya penuh iba.


"Titip Razik bentar Bun, aku beli obat di apotik dulu, kalau demam tidak kunjung turun baru aku bawa ke rumah sakit besok pagi," ujar perempuan itu lalu.


Berjalan menuruni anak tangga sembari menghubungi ayahnya Razik, niat hati mau mengabarkan kalau putranya sedang tidak enak badan. Namun, hingga deringan kedua kalinya tidak ada jawaban. Perempuan itu menatap layar ponselnya dengan pikiran bercabang. Semoga pria itu menghubungi balik karena Bila tidak meninggalkan pesan. Sejatinya ia ingin mengobrol seandainya ada kesempatan.


Bila mengeluarkan motornya yang baru beberapa menit masuk garasi. Perempuan itu mengendarai si kuda besi dengan kecepatan lebih cepat dari normalnya. Suasana apotik di sore hari lumayan antri, ia menunggu dengan gusar. Suasana di luar hujan nampak berintik membasahi bumi. Perempuan itu duduk merapat, agak ke dalam agar terhindar dari tiupan angin yang lumayan dingin menerpa kulit.


"Bila? Antri obat? Atau antri pemeriksaan?" tanya Hanum yang baru saja keluar dari ruang sebelah.

__ADS_1


"Obat, kamu di sini? Periksa?" tanyanya merasa heran. Sekitar satu jam yang lalu baru saja ketemu di kafe, dan sekarang ketemu lagi di klinik.


Bila bahkan hampir tidak percaya saat mendapati mantan suaminya menemani sahabatnya di sana. Sama halnya dengan Bisma yang sempat terkejut, mendapati Bila ada di apotik.


Perempuan itu menyorot sinis pria yang berdiri tak jauh dari sahabatnya itu. Tadinya ia ingin mengabarkan perihal Razik, namun hatinya mendadak kesal dan mengurungkan niatnya.


"Nabila Maharani!" seru seorang apoteker menyeru. Bila lekas mendekati kasir, perempuan itu hendak menebus obat.


"Siapa yang sakit?" tanya Bisma saat perempuan itu berjalan keluar dari sana.


Perempuan itu menatap lekat beberapa detik, lalu melangkah tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Terlanjur kesal, entahlah, yang jelas hatinya sebal begitu saja ketika melihat mereka hanya berdua.


"Duluan Num," pamitnya tanpa menoleh Bisma yang berdiri lebih dekat darinya.


"Ya ampun ... lupa lagi," keluhnya frustrasi. Sudut matanya menangkap bayangan kedua sahabatnya yang tengah memasuki mobil yang sama. Menambah rentetan kekesalan saja.


Bila terpaksa melajukan motornya di bawah rintik hujan. Perempuan itu nekat saja supaya cepat sampai di rumah. Bisma yang melihat itu hatinya begitu sakit, Bila yang kemarin sempat membaik kini terlihat tak ada celah. Bahkan perempuan itu sudah tidak mau menjawab pertanyaannya lagi.


Ingin sekali mengantarkannya pulang, namun apa daya ia tak punya kuasa keberanian untuk mengejarnya. Sampai rumah perempuan berhijab itu basah kuyup. Ia tak ambil pusing dengan tubuhnya sendiri.


"Astaghfirullah ... sampai basah-basahan gini, cuaca tak menentu gini selalu sedia mantel kalau bepergian menggunakan motor, Bila, niat hati biar Razik sembuh, salah-salah malahan bisa kamu yang sakit lagi gegara menerjang hujan," tegur Bu Rima mengomel.


"Maaf Bun, aku langsung mandi sebentar," sahut Bila tak ambil pusing. Hati dan perasaanya sedang tidak menentu.


Kesal, entahlah, mengapa harus bertemu dengan pria itu di sana. Ia merutuki dirinya yang belakangan ini sempat memikirkannya. Terlalu naif, sekali lagi harus terluka dengan orang yang sama. Bila benci itu, hatinya yang sudah mulai menerima terasa nyeri. Biarkanlah menjadi cerita yang tersimpan sendiri dalam hidupnya.

__ADS_1


Sementara di lain sisi, pria itu sama sekali tidak berkonsentrasi ketika Hanum terus mengajaknya berbicara. Perempuan itu yang meminta Bisma mengantarkan dirinya ke klinik karena merasa sering mengalami nyeri pada perutnya. Bisma ingin menolak, tetapi karena sahabatnya itu mendadak berkeluh sakit ia tak enak meninggalkannya.


Rasa bersalah dan tak nyaman terhadap ibu dari anaknya itu jelas begitu terasa, entahlah, walaupun kini ia tak lagi bersama, merasa masih begitu perlu untuk menjaga perasaannya. Bila terlihat begitu kesal, karena ingin agar aku menjauh dan tidak mengganggu lagi atau karena pria itu kepergok bersama Hanum. Sungguh pria itu cemas sendiri, apalagi saat pria itu tadi melihat perempuan yang masih memenuhi hatinya itu menenteng obat. Jelas ia khawatir.


"Siapa yang sakit?" gumam pria itu pelan kepikiran mantan istrinya.


"Kenapa Bis?" tanya Hanum yang mendengar gumaman tak jelas pria itu. Mereka masih dalam perjalanan pulang. Bisma mau tak mau mengantar sahabatnya pulang sampai rumahnya.


"Nggak ada, maaf, gue hanya mengigau," jawabnya cuek.


Hanum merasakan Bisma terlalu membatasi diri, ia tidak akan mau kalau tidak dipaksa-paksa. Kesempatan itu langsung Hanum ambil begitu saja, walaupun muka pria itu tidak pernah terlihat ceria bila bertemu dengannya. Berbeda saat memandang Bila, pria itu akan menatapnya lama, seakan sorot matanya mengisyaratkan kata.


"Bis, kamu suka sama Bila?" celetuk Hanum tiba-tiba. Bisma yang tengah fokus menyetir terlihat kaget saat kata itu terlontar dari mulut sahabatnya.


Pria itu bergeming, cara menanggapi pertanyaan itu jelas membuat pria itu pusing sendiri.


"Kamu terlihat beda cara natapnya, memperhatikannya, kamu terlihat memendam perasaan terhadap Bila, dari dulu kamu selalu memperhatikan Bila, kalau kamu menyukainya kenapa tidak kamu utarakan saja mantan kakak iparmu?"


"Dia sudah punya calon suami, gue tidak berhak menanyakan itu," jawab Bisma pada akhirnya.


"Owh ... dia banyak berubah ya, semenjak menikah, tidak seasyik dulu, ya maklum sih secara dia udah hijrah, namun aku ngerasa beda aja, berasa nggak klop lagi, jarang ngobrol juga di grub. Beda sama Sinta dan Disya yang masih care walaupun udah pada berkeluarga."


"Bila punya alasan untuk itu, ia masih seperti yang dulu kok, mungkin kita hanya kurang tahu karena melihat dari jendela luarnya saja," jawab Bisma yakin.


Pria itu bahkan mulai menangkap hal berbeda sedari insiden itu. Yang membuat mereka luluh lantah, sampai akhirnya ada Razik di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2