
"Jangan menangis Bila, karena aku tidak bisa lagi menghapus air matamu, tolong katakan dengan jelas, bagian mana atas ketidak jujuranku?" Bisma ingin sekali menghapus air mata itu. Namun, mengingat kembali perempuan itu sudah dikhitbah orang lain, Bisma menarik kembali tangannya.
Pria itu beralih mengambil sapu tangan di sakunya, lalu menyodorkannya pada perempuan itu. Kesalah pahaman masih terjadi, Bila pikir Bisma tidak lagi bisa menghapus air matanya karena harus menjaga perasaan perempuan lain. Mendadak hatinya berdenyut nyeri, tangisnya tak kunjung reda, malah semakin sesenggukan. Bahkan mengabaikan sapu tangan dari pria itu.
"Ya Allah ... ampuni aku, telah lancang menembus dosa, lagi dan lagi," gumamnya seraya menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan.
Air mata itu tumpah di pipi tampannya, tak peduli respon Bila nantinya seperti apa, nalurinya bergerak cepat membawa tubuh mantan istrinya ke dalam dekapannya. Di luar dugaan, Bila membalas pelukan itu begitu erat, tangis itu semakin melemah, berganti isakan. Bisma sendiri yang begitu rindu merasa khilaf, menikmati pelukan langka itu dan mendekapnya begitu erat.
"Aku minta maaf, Bila, tolong jangan menangis lagi." Perempuan itu sesenggukan di dada bidangnya seraya mengeleng-geleng kecil.
"Aku yang minta maaf, Bim," ucapnya tercekat.
Bisma yang masih mode entah, jelas bingung. Tumben-tumbenan mantan istrinya itu meminta maaf, mungkin menyesal karena tidak menjawab telfonnya.
"Lain kali, tolong jangan sembunyikan apapun tentang Razik dariku?" Bisma mengurai pelukan itu, namun tidak dengan Nabila, perempuan itu bahkan masih mengunci tubuh pria itu dengan
tautan tangannya.
"Sudah, nanti orang lain salah paham melihat ini," ucapnya merasa bingung.
"Kamu begitu menjaga perasaan seorang wanita, beruntungnya dia yang kini telah mengusirku dari hatimu," celetuknya seraya melepaskan pelukan itu.
Bisma mengeryit, namun detik berikutnya ia menjadi paham.
"Katakan padaku, apa kamu sedang cemburu?" tanyanya sedikit berharap.
Bila mrengut, membuang muka ke arah lain dengan pipi yang memanas.
Bagaimana bisa seseorang yang membencinya bisa cemburu, impossible.
__ADS_1
"Jadi cowok kok nggak peka!" dumelnya kembali ketus.
Perempuan itu berujar pergi, namun tangan Bisma menahannya, dengan mencekal lengan perempuan itu. Otak pintarnya masih terlalu lola mencerna polah makluk PMS itu.
"Kenapa?" tanyanya lagi dengan lirikan menghanyutkan.
"Jangan dengan bahasa isyarat, sungguh aku tidak tahu semua yang menyebabkanmu menangis, dan berpikir seperti itu. Katakan saja bagian mana yang harus aku perbaiki?" ujarnya masih setia mencekal lengannya.
Bila mendes@h pelan, mantan suaminya itu tidak peka-peka atau memang tidak tahu beneran. Membuat perempuan berhijab itu gemas sendiri.
"Iya aku cemburu, kenapa? Nggak boleh aku cemburu dengan ayahnya Razik?" Finally, akhirnya Bila mengatakan itu.
Pria itu tersenyum, tidak menyangka mantan istrinya membuat pengakuan se ekstrem itu. Ya, bagi Bisma cukup ekstrem dan mengejutkan, bahkan hampir tidak percaya.
Cemburu? Bukankah hanya orang-orang yang cemburu yang mempunyai cinta di dalamnya. Apakah Nabila menyimpan rasa itu untuk pria itu. Bisma sibuk bertanya-tanya dalam hatinya.
"Jangan geer dulu," celetuknya membuat senyum itu seketika lenyap dari wajah tampannya.
"Cemburuku mahal hanya untuk pria single, tidak berpaut dengan hati perempuan lain manapun," sambungnya dengan nada datar.
Bisma ingin berjingkrak kesenangan, tetapi takut kecewa, alhasil pria itu menanggapi dengan cukup kalem.
"Itu arti----" Ucapan itu terputus karena Bu Rima menyeru.
"Bila! Razik sudah bangun Nak, dia mencarimu," serunya langsung membuat wanita itu mendekat.
"Iya Bun, aku ke sana sekarang."
"Nanti lanjut lagi ngobrolnya, kasihan Razik mencari-cari kamu."
__ADS_1
"Sudah selesai kok Bun, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," jawab perempuan itu terus melangkah. Mereka beriringan dengan Bisma mengekor di belakangnya.
Wajahnya tak lagi bermuram durja, mungkin karena pernyataan Bila cukup membuat dirinya geer. Dicemburui mantan istri mengasyikan juga. Batin pria itu tersenyum.
Bila langsung mendekati ranjang, Razik sedang ditenangkan Ayah dengan obrolan ringan seputar mainan. Kakek yang satu ini sungguh pintar, sepertinya Razik tertarik untuk mendengarkan. Walaupun tetap teralihkan dengan kedatangan Bila.
"Sayangnya Bunda sudah bangun. Jangan rewel sayang, Bunda di sini," ucapnya seraya memeluk putranya di ranjang. Bisma di sampingnya ikut membuai.
"Hallo jagoan Ayah, cepat sembuh ya, besok main lagi, udah janji 'kan mau ikut Ayah ke seaworld," ucapnya percaya diri.
"Kamu janjiin apa sama anak aku?" tanyanya melirik pria di sampingnya yang sedari tadi bermuka tenang.
"Anak kita Bila," ralatnya cepat.
"Hmm ... mau liburan bareng Ayah ya? Bunda boleh ikut ngga?" Perkataan Bila membuat orang yang berada di ruangan itu menangkap kalimat lain.
"Emang bundanya Razik mau ikut?" Bisma balik bertanya.
Bisa-bisanya membalikkan pertanyaan itu. Bukannya diajak malah Bisma balik bertanya. Tentu perempuan itu melirik kesal, yang dilirik tersenyum tipis.
Sementara bocah kecil itu hanya mengangguk-angguk dalam buaian bundanya.
"Ayah dan Bunda pulang saja, biar saya yang jagain Razik," ujar Bisma menginterupsi.
Bu Rima dan Pak Rama pulang sore harinya. Merasa lega Bila tidak sendiri lagi menjaga Razik.
"Dari siang kamu belum makan, aku mau keluar mencari makan, kamu mau makan apa?" tanya Bisma selepas sholat maghrib.
"Apa aja, asal jangan makan hati?" jawabnya ngasal.
__ADS_1
"Astaghfirullah ... Bila," tegurnya seraya mengikis jarak.