Noktah Merah

Noktah Merah
Part 63


__ADS_3

Rombongan keluarga Bisma pamit pulang, satu persatu bersalaman seraya mengiringi doa kebaikan dan selamat untuk kedua mempelai yang tengah bahagia. Setelah mencapai musyawarah mufakat resepsinya akan digelar akhir bulan ke depan sembari menunggu jadwal yang pas untuk meresmikan pada khalayak umum.


"Kamu nggak ikut pulang?" seloroh Bila pada suaminya yang berdiri mengantar keluarganya sampai ke teras rumah. Tangan kanannya merangkum istrinya.


"Emang boleh aku pulang, kemarin-kemarin waktu aku pamit pulang mrengut," ledeknya tersenyum.


"Fitnah, mana ada aku mrengut, biasa aja," sanggahnya tak terima.


"Masa', dih ... yang sering kangen, bilang aja nggak usah malu."


"Beneran biasa aja, kamunya yang ge'eran."


"Ayo sayang, Razik sudah malam bobok di kamar." Waktu sudah lewat dari jam sembilan malam. Ibu dari satu anak itu menyeru putranya untuk bersih-bersih dan segera tidur.


"Ayo Ayah gendong sayang, besok main lagi." Bisma ikut menyeru mendekati putranya yang masih asyik dengan lego-lego minion.


"Kalian istirahat saja, biar Bunda yang jaga. Malam ini Razik tidur sama Oma," ujar Bunda lalu. Seakan tahu jeritan hati pengantin yang ingin berduaan.


"Tetapi Bun, nanti kalau malam kebangun nggak nemuin Bila, suka nangis."


"Tenang sayang, orang dekat juga, udah sana istirahat, pasti kalian capek. Razik urusan Oma."


"Duh pengertiannya mertuaku, sehat-sehat Bun," batin Bisma bersorak.


"Ayo sayang, udah diberi mandat." Bisma menarik tangannya untuk menuju kamar.


Bisma lebih dulu melepas jam tangannya, lalu bersih-bersih di kamar mandi.

__ADS_1


"Aku tidak bawa ganti," ucapnya santai.


"Sepertinya masih banyak tertinggal pakaianmu di dalam lemari Mas."


Nabila berjalan ke arah lemari pakaian dan segera meraih kaus santai dan juga kain sarung.


"Aku belum isyaan, jamaah dulu," ujarnya menyiapkan dua sajadah.


"Aku udah wudhu, aku tunggu."


Pria itu menunggu tanpa memutus pandangannya pada istrinya. Mulai dari melepas riasan, hingga mengambil handuk untuk dibawa ke kamar mandi.


"Mau mandi? Ini sudah larut?"


"Tadi udah, bersih-bersih doang," jawabnya seraya melangkah ke kamar mandi.


"Sholat sunah sekalian ya?" ujarnya mengangguk. Bila mengikuti, keduanya nampak khusuk dalam balutan kain sholat itu.


Tangan kanannya menyambut uluran tangannya dengan takzim, usai salam dengan memungkasi doa kebaikan.


"Bismilah ... izin buka hijabnya ya." Pria itu melepas kain penutup kepala istrinya dengan hati penuh debaran cinta.


"Masya Allah ... bidadarinya aku, cantik banget," ujarnya berdecak kagum, setelah melepas sempurna. Rambutnya yang hitam legam tergerai indah.


Bila tersenyum canggung menimpali pujian suaminya. Pria itu langsung mengangkat istrinya dan membaringkan pelan ke ranjang.


"Terima kasih sayang, sudah mau menerimaku kembali," ujarnya menatap sayu. Desiran hatinya bagai ombak yang bergemuruh, menyerukan untaian penuh damba.

__ADS_1


"Terima kasih juga sudah memilih aku kembali, rasanya aneh tetapi nyata. Apalagi kalau ingat kita sudah mempunyai anak, berasa nggak percaya."


Bisma tersenyum menimpali celotehan istrinya. "


"Assalamu'alaikum istriku sayang, izinkan aku menunaikan tugasku sebagai seorang suami?" pintanya lembut. Tangan kanannya membelai indah pipi mulus seputih pualam itu.


"Waalakumsalam. Lakukan Mas, lakukan apa saja atas diriku, sempurnakanlah ibadah kita malam ini," ujar perempuan itu pasrah.


"Katakan padaku jika nanti merasa tidak nyaman, aku tidak akan memaksa."


"Aku tahu kamu suami yang baik, rasa itu mungkin akan kita jumpai, tetapi aku ridho untuk melewati malam ini."


Bisma memanjatkan doa kebaikan terlebih dahulu sebelum akhirnya memulai. Berharap apa yang akan mereka lewati menjadi pahala indah yang penuh keberkahan.


Pria itu menatap lembut, lekat dan dalam. Netranya saling bersirobok. Kedua tangan kekar itu menangkup kedua pipinya, kanan dan kiri. Mendaratkan kecupan di kening, kedua pipi dan beralih bertamu pada bibirnya yang ranum.


Indah, semua terasa indah jika dilakukan dengan cinta dan keiklasan. Debaran hatinya berirama sesuai gejolak hati yang menggebu. Menebus dahaga yang telah lama tak tergapai.


"Manis," celetuknya. Setelah membuat istrinya tersengal. Bila tersenyum canggung. Hingga mendapatkan serangan yang kedua, sama-sama menyambut dengan gelora yang sama.


"Bunda ... Hu hu hu ....!" Razik datang membuyarkan keduanya. Pasangan halal itu bergerak memisahkan diri, menemukan Razik tersedu di depan pintu. Rupanya bocah kecil itu terjaga setengah malam dan minggat dari kamar oma mencari-cari ibunya.


"Sayang ... sini-sini, Bunda di sini, jangan nangis sayang, Razik nggak jadi tidur sama oma?" tanyanya lembut. Bocah kecil itu menggeleng, bergerak cepat menuju ranjang tidur di antara mereka berdua.


Nabila menatap suaminya dengan senyuman, sementara Bisma menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Razik sayang, bobok ya ini sudah malam," ujar Bisma membuai putranya. Bocah itu malah melebarkan matanya. Sepertinya kantuknya telah hilang.

__ADS_1


__ADS_2