
"Astaghfirullah ... Pandu! Kamu apa-apaan sih! Ngapain ke kamarku nggak sopan gitu!" hardiknya murka.
"Sorry Bang, ya mana gue tahu kalau ada Bila di kamar ini," jawabnya santai tanpa dosa. Berjalan keluar seolah tidak terjadi apapun barusan.
Sementara Bila sendiri hampir menangis dibuatnya, jelas ia syok mendapati pria lain di kamar itu. Bahkan respon tubuhnya bergetar hebat ketakutan. Salah Bisma juga sih, belum sempat memberi tahu Pandu kalau mulai hari ini Bila mulai tinggal di rumahnya.
"Tenang sayang, nggak pa-pa, nanti aku tegur dia," ucapnya masih posisi memeluk istrinya menenangkan.
Perempuan itu bergeming, tak lekas merespon, hanya diam dan bersembunyi di balik dadanya.
"Maaf ya, baru pertama tinggal di sini udah insiden kaya gini. Aku bakalan pastiin itu tidak akan terjadi lagi." Pria itu mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang. Bila mengangguk samar, benar-benar merasa ketakutan. Ingatan masa kelamnya seakan membuka tabir memori itu. Mengingatkan sesuatu yang bahkan bertahun membuatnya trauma dan begitu hancur, tanpa sadar perempuan itu menangis.
"Hey, sayang ... aku minta maaf, jangan menangis," sesalnya penuh perhatian. Tangannya terulur mengusap buliran bening yang lancang membasahi pipi.
"Aku takut Mas, a-aku ...." Suaranya tercekat tangis sesenggukan.
Bisma yang paham langsung memeluknya dengan rasa bersalah yang besar, selalu ada rasa sakit yang terselip mengingat itu, apalagi sampai membuat istrinya menangis seperti ini. Hingga beberapa saat, perempuan itu terlihat tenang.
"Mau ke mana, Mas? Jangan tinggalin aku sendirian," ucapnya tak mau ditinggal.
"Ambilin minum buat kamu sayang, sama lihat Razik sebentar, dia aku tinggalin di bawah," ujarnya bangkit dari ranjang.
"Ikut Mas!" seru perempuan itu turun dari ranjang dan berhambur menggandeng tangannya. Keduanya melangkah gontai menuruni anak tangga secara bersamaan.
__ADS_1
"Razik mana Mas, kok nggak ada, Razik! Razik!" panggil Bila dan Bisma mencari-cari putranya.
"Razik ada sama aku," suara bariton itu mencuri atensi dua sejoli itu refleks menoleh.
"Dia ada di kamar aku," sambungnya santai. Sejenak Bila dan Bisma bernapas lega mendengarnya.
"Owh ...." jawab mereka kompak.
"Biarin main sama aku, Bang. Mungkin kalian butuh waktu berdua," ujarnya mendadak pengertian. Bila kembali ke kamarnya, sementara Bisma menuju kamar Pandu.
Benar saja, saat Bisma mengunjungi kamar saudaranya untuk memastikan Razik sedang di dalam kamarnya tengah asyik bermain.
"Sayang, dicariin bunda Nak, ayo ikut Ayah," ujar pria itu menuntun tangan putranya. Bocah kecil itu menurut dengan membawa mainannya boyong ke kamar Bisma.
"Sayang, nanti kamu pakai ini ya?" Sebuah gaun syar'i yang indah berwarna hitam tersaji di depannya. Membuat sepasang netra bening itu berbinar.
"Cantik banget Mas," ujarnya seraya mengambil dari tangan suaminya.
Bisma tersenyum lembut, "Pakai ya, boleh mulai bersolek dari sekarang. Aku mau nemuin Pandu dulu," ujarnya menginterupsi.
Bisma mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum sahutan dari dalam mempersilahkan masuk. Pria itu menyorot saudaranya yang nampak telah rapih.
"Kenapa Bang? Mau ngomongin masalah tadi?" tebaknya seperti sudah terbaca dalam pikiran.
__ADS_1
"Ya, mulai sekarang tolong jangan masuk kamar aku sembarangan, Bila sampai ketakutan gara-gara kamu, anak orang dibuat nangis," tegurnya sungguh-sungguh.
"Siap Bang, maaf tadi tuh bener-bener nggak tahu 'kan pagi belum ada di sini, aku kira Razik main seperti biasanya. Semoga nggak khilaf ya Bang?" Pandu nyengir. Sementara Bisma menyorot tajam penuh kesungguhan.
"Iya Bang, iya paham, jangan mengusirku Bang, aku udah nyaman di sini tenang aja deh nggak bakalan ganggu kalian berdua juga." Bisma yang hendak menyinggung soal tempat tinggal menjadi gamang mendapati Pandu yang belum apa-apa sudah memperingatkan.
"Asal tidak berulah saja, kalau itu sampai terjadi siap-siap saja kamu pindah ke mars," ujarnya penuh penekanan. Bisma sebenarnya ingin langsung menyuruhnya untuk mencari tempat tinggal lain, tetapi ngomong langsung juga merasa sungkan, berharap saudaranya itu pengertian sendiri.
"Kamu jadi berangkat?" tanya Bisma memastikan. Sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jadilah, kapan lagi kesempatan makan malam sesama para senioritas gitu, siapa tahu di sana dapat jodoh," celetuknya.
"Ya sudah terserah saja, jangan bareng sama aku ya?"
"Ya," jawabnya singkat.
Pria itu keluar dari kamar saudaranya, sedikit lega namun belum sepenuhnya. Jelas keberadaan Pandu membuat istrinya tidak nyaman. Begitu masuk ke kamar lagi mendapati Bila tengah bersiap-siap. Sementara Razik sendiri terlihat sibuk dan asyik main sendiri. Kali ini menyabotase ponsel milik bundanya. Bocah itu anteng di atas kasur tengah menonton youtube.
"Mas ... jangan gini, ada Razik," tegur Bila yang sedikit terperanjat saat tiba-tiba kedua tangan kekar itu melingkar indah di perutnya. Memeluk dari belakang dengan menelasak dalam tengkuknya. Pria itu menciumi dengan gemas membuat perempuan itu kegelian sendiri dibuatnya.
"Anak kita lagi fokus sama layar ponsel," bisiknya merasa aman mencuri beberapa kecupan nakal.
"Mas, jangan gangguin, nanti make up aku lusuh," tegurnya saat pria itu tidak berhenti mencumbuinya.
__ADS_1