Noktah Merah

Noktah Merah
Part 84


__ADS_3

Pria itu langsung menggendong Razik berniat menitipkan putranya karena harus mencari istrinya yang entah ke mana rimbanya. Cemas, tentu saja, bayangan ditinggalkan Bila kembali adalah momok yang paling menakutkan untuk hidupnya. Kemarin adalah mimpi buruk, yang tidak akan pernah ia ulangi lagi. Berharap semuanya baik-baik saja untuk kelangsungan rumah tangganya.


"Lho, Mas Razik sudah sama Den Bisma?" Lastri yang baru keluar dari pintu utama merasa lega sekaligus tidak jadi ngrundel sebab tidak harus berpanas-panas ria menaik ojek untuk menjemput cucu majikannya.


"Bik Lastri, titip Razik bentar Bik, saya mau cari Bila, kamu ada lihat nggak? Apa dia ke sini?" tanyanya tak sabaran.


"Owh ... non Bila ada di kamarnya. Kurang enak badan, makanya nyuruh saya jemput Razik tadi. Sepertinya habis nangis matanya sampai sembab gitu, sedang marahan ya Den?" tebaknya asal nyeplos dengan tingkat kekepoan yang haqiqi.


"Bila di sini? Syukurlah kalau ada di sini, aku hampir frustrasi karena cemas memikirkannya," jawab Bisma langsung melesat kilat ke lantai atas.


Dengan gerakan cepat pria itu mendorong pintu kamar, tak sabar ingin melihat keadaan istrinya di sana. Cukup lega setelah menemukan separuh jiwanya tengah setengah berbaring di ranjangnya, walaupun banyak pertanyaan yang mendesak di otaknya meminta penjelasan, ia berusaha menahan diri untuk tidak menekannya. Pria itu mendekati ranjang, menyapa dengan lembut seseorang yang terlihat murung itu. Benar kata Bik Lastri, mata Bila terlihat sembab dan merah, sudah pasti pujaan hatinya itu baru saja menangis.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bisma langsung merengkuhnya. Membawa tubuh Bila yang hanya diam dalam pelukan.


"Astaghfirullah ... Mas, kamu ngagetin," tolak Bila menepis pelukan suaminya. Pria itu pun bingung melihat Bila yang tidak mau di sentuh, bahkan bergerak memberi jarak.


"Sudah pulang Mas," balas bertanya tanpa menjawab, mengabaikan pelukan itu dengan mata kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa menangis? Ada apa sayang," sergahnya tak sabaran.


Bila tidak lekas menjawab, namun ia malah bergerak sedikit menjauh.


"Sayang ini aku, kenapa ketakutan begitu, aku mengkhawatirkanmu," ucapnya pilu.


Menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya di lantai tepi ranjang sembari mengikis jarak. Hatinya kembali tersiksa jika hanya dekat saja dirinya tertolak. Pikirannya langsung berkelana menyusuri sebab istrinya kambuh kembali, ini tentu tidak bisa dibiarkan atau akan semakin parah.


"Sayang, aku hanya ingin memelukmu, tolong percaya dan jangan takut." Bisma merentangkan tangannya untuk meminta istrinya mendekat dengan sorot mata memohon.


mengeratkan pelukannya. Selalu ada sakit yang mendera pada sanubarinya setiap melihat orang yang paling ia sayang mengeluarkan air mata. Entah itu tentang apa, tetapi hati Bisma ikut terluka melihat istrinya terlihat sedih.


Pria itu membuai dengan sayang, mencium mahkotanya yang terhalang hijab. Menyalurkan rasa nyamannya untuk kemudian mendekap semakin erat, tak henti mencium lembut puncak kepalanya.


Pengalaman ditinggalkan seseorang yang begitu ia cintai setelah terjadi sebuah insiden memilukan. Menjadi traumatik sendiri bagi korban. Tentu saja Bila tidak ingin mengulang kembali hidupnya seperti masa lalu. Peristiwa tadi pagi yang terjadi cukup membuat perempuan itu syok kembali.


Beruntung tidak terjadi hal buruk yang lebih lanjut, tetapi perempuan itu tetap merasa takut. Gagal menikah dua kali, walaupun akhirnya dipersunting kembali tetap menjadi catatan hitam dalam biduk rumah tangganya. Cukup kemarin ujian besar itu menyapa, semoga kedepannya berharap bisa melewati bersama tanpa ada halangan besar yang mengancam.

__ADS_1


"Razik sudah aku jemput karena pihak sekolah meneleponku?" curhat Bisma sedikit kecewa. Dalam kasus ini, Bila dianggap teledor karena berjam-jam tidak memberi pesan ataupun kabar jika menjemput terlambat. Imbasnya sudah pasti berbahaya bagi putra mereka, di tengah kejahatan dunia yang merajalela. Untungnya Razik tidak berjalan keluar gedung, dan beruntungnya ibu gurunya masih setia menunggu atau mendampinginya sampai pria itu datang menjemput.


"Maaf, Mas, tadi aku sampai lupa saking kalutnya. Aku juga lupa tidak membawa handphone waktu ke sini," sesalnya merenung peristiwa tadi.


"Ya udah nggak pa-pa, lain kali jangan diulangi lagi, kalau ada apa-apa sama anak kita gimana? Kita sendiri yang rugi. Ya sudah, ayo pulang istirahat di rumah, aku sudah memutuskan tidak kembali ke kantor dan menemanimu seharian ini di rumah."


"Aku nggak mau pulang, aku mau tinggal di sini aja Mas, aku lebih nyaman di sini," tolak Bila cepat. Bisma mendes@h panjang mendengarnya. Pria itu mengalah dengan berat hati, ia akan mencari tahu penyebabnya nanti setelah keadaan istrinya stabil. Terlihat jelas raut wajahnya tidak baik-baik saja, mungkin setelah suasana santai nanti Bisma akan mengajak mengobrol kembali.


"Ya sudah nggak pa-pa kalau mau di sini dulu. Aku pulang sebentar untuk mengganti baju dan mandi. Kamu mau nitip apa?" tawarnya sembari membelai lembut. Bila menggeleng cepat dengan wajah murung, tentu saja membuat Bisma gemas sendiri.


"Pingin cepet kamu ke sini lagi aja, temenin aku, Mas. Jangan lama-lama pulangnya," ujarnya jujur. Berada dalam pelukan tubuhnya membuat hatinya tenang. Bisma tersenyum mendengar hal itu.


"Siap sayang, sebentar ya, tahan rindunya mungkin aku tidak akan lama hanya satu jam dari sekarang," ujar pria itu beringsut dari kasur. Terlihat perempuan itu manyun, membuat pria itu kembali dan tak tahan untuk tidak menyentuh ladang pahala untuknya.


Pria itu mendekat kembali, lantas, langsung menubruk sedikit agresif dengan memberikan lum@tan kecil yang menggelora. Sebelum akhirnya kembali memberi jarak sebab vibrasi handphone di saku celananya menyala. Sebuah panggilan dari sahabatnya masuk mengganggu aktivitas sakral mereka.


"Siapa?" tanya Bila mengintip demi melihat Bisma yang hanya memperhatikan layar ponselnya tanpa minat mengangkat. Kemudian saling menatap seakan meminta pendapat atau izinnya lewat sorot matanya.

__ADS_1


__ADS_2