
"Assalamu'alaikum ....!" sapa salam mengiringi derap langkah keduanya.
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah udah sampai, Nak." Ibu dan anak itu saling menyapa dengan salim takzim.
"Ye ... Bunda pulang!" Razik langsung berhambur dalam pelukan ibunya.
"Bunda kangen banget sama kamu sayang, aduh ... tambah berat aja nih ditinggal tiga hari, pinter ya anak Bunda nggak rewel."
"Azik 'kan pinter, Nda."
"Sini ikut Ayah, Ayah juga kangen." Bisma meminta dari gendongan istrinya.
"Ayah punya oleh-oleh buat Razik, nanti unboxing bareng ya sama bunda."
"Hole ... Ayah, terbaik!" Bocah itu nampak girang.
"Udah makan belum?"
"Udah kok Non, aman. Razik pinter selama ditinggal, tidak rewel dan gampang juga makannya."
"Alhamdulillah ... Mbak Lastri, tolong itu bawaan aku taruh belakang, Mbak."
"Siap, Non."
Mereka menuju kamar untuk meluruskan kaki dan sekedar rehat. Bisma langsung terlihat sibuk menerima telepon dari rekannya. Padahal jelas baru saja sampai rumah.
__ADS_1
"Mas, istirahat dulu lah, aku nggak setuju kalau langsung mikir kerja, kerja mulu."
"Iya sayang, ini cuma hal kecil kok, sebentar telepon dari Yosua," ujarnya seraya berjalan menuju balkon kamar. Hingga detik berikutnya terlihat mengobrol cukup serius.
Bila hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah suaminya. Ia masuk ke kamar mandi membersihkan diri lalu setelahnya menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Bisma yang masih sibuk bertelepon sampai terjingkat mendapati lengan mulus itu melingkar indah mengunci tubuhnya. Pria itu langsung menutup teleponnya setelah salam, dan mendapati istrinya yang tengah bermanja di punggungnya.
"Tumben aktif, biasanya menghindar kalau aku belum mandi," ujarnya membalikkan tubuhnya. Menemukan istrinya merona dengan balutan dress selutut dan rambut tergerai.
"Cantik banget sih bikin salfok," ujarnya mencupit gemas hidung istrinya.
"Mandi, aku udah siapin air hangat untukmu," titah perempuan itu melepas pelukan tangannya.
"Butuh mood booster dulu, biar kuat jalannya. Lemes ayang," ujarnya mengerling. Bila menggeleng.
"Mau dong yang anget dan manis." Bisma semakin mengeratkan pelukannya, saat pria itu hendak mengikis jarak, Bila kembali menahannya hingga pertemuan bibir mereka gagal total.
"Mandi dulu, baru sentuh aku, kalau nggak, aku nggak mau," bujuknya yang langsung diiyakan pria itu. Berjalan gontai menuju kamar mandi dengan mulut berdendang.
"Dasar pria!" Bila sibuk sendiri di meja rias, mengeringkan rambutnya dan sedikit memberi sentuhan sayang pada wajahnya yang terlihat lelah.
Merasa begitu capek, perempuan itu merebahkan dirinya dan tanpa sadar terbuai ke alam mimpi. Bisma yang keluar dari kamar mandi niat hati mau melanjutkan keromantisan yang tertunda hanya bisa menatap istrinya yang sepertinya kecapean itu. Ia pun membiarkan saja belahan jiwanya tertidur. Kasihan, bahkan setiap malam setiap ada kesempatan selama tiga hari di bali, Bisma berkali-kali membuat capek perempuan yang berstatus istrinya itu.
Mendekati ranjang, membenahi selimut hingga membuat istrinya nyaman, tak lupa mendaratkan kecupan sayang di puncak kepalanya. Setelahnya bergegas mengganti pakaiannya dan keluar kamar. Memilih bermain dengan Razik, membongkar mainan terbarunya, dan menemani putranya bermain.
__ADS_1
"Bila mana, Bim, kok nggak turun?" tanya Bunda hanya mendapati anak dan ayahnya saja.
"Kecapean Bun, lagi istirahat. Bunda ada perlu?"
"Nanti saja kasihan, pasti perjalanan dari Bali cukup melelahkan. Kamu nggak istirahat sekalian, biar Razik main sama Oma."
"Nanti saja, Bun. Kangen sama Razik," jawabnya jujur. Bukan hanya itu sebenarnya, pria itu sengaja memberi ruang untuk istrinya benar-benar istirahat, takut kalau menyusul tidak kuat menahan diri dan mengusik tidur damainya.
Puas bermain dengan putranya, Bisma menyempatkan diri pulang ke rumahnya sebentar. Begitu sampai rumah, Mbok Inah langsung menyapanya dengan heran, pasalnya perempuan yang tak lagi muda itu tidak mendapati nyonya rumah bersama suaminya.
"Den Bisma sudah pulang? Non Bila kok nggak ikut?" tanyanya bingung.
"Pulang ke rumah bundanya, Mbok. Lagi pengen di sana katanya."
"Owh ... gitu ya, berhubung Den Bisma sudah di rumah, ini nanti Simbok masak nggak, Den?"
"Nggak usah, Mbok, palingan aku makan di sebelah. Mbok masak buat Mbok Inah saja, ini juga cuma pulang sebentar ambil ganti buat besok."
"Pandu ngantor ya, Mbok?"
"Iya Den, tapi semenjak dua hari ini sudah tidak lagi pulang kemari. Kemarin sempat pamitan mau pindah katanya."
"Owh jadi pindah, kok nggak ada ngabarin tuh anak, apa jadi ambil apartemen tawaran aku," gumamnya bertanya lebih ke diri sendiri.
Merasa penasaran, Bisma pun menghubungi saudaranya itu. Benar saja Pandu sudah pindah dan membeli sebuah perumahan yang lumayan dekat dengan kantor. Pria itu baru mengabari pamit karena takut mengganggu acara keduanya di Bali.
__ADS_1
Sedikit lega, akhirnya saudaranya itu mau mengerti tanpa harus ada drama dan prahara. Sempat merasa tidak enak juga. Setelah mendapatkan jawaban itu, pria itu pun urung untuk memboyong pakaiannya. Ia akan memberi tahu istrinya dan mulai menempati lagi dengan lebih tenang.