Noktah Merah

Noktah Merah
Part 81


__ADS_3

Usai makan malam, Bila membereskan meja makan dengan Bisma masih menunggui istrinya di dapur. Razik juga masih anteng di depan TV bersama Pandu.


"Sayang, nggak usah dicuci biar Mbok Inah aja besok. Ayo istirahat," ajaknya mendekat lalu menarik tangannya.


"Iya Mas, Razik bawa sekalian," ujarnya yang langsung diangguki Bisma. Pria itu menggendong putranya ke lantai atas. Membiarkan putranya menguasai kasur dengan memboyong banyak mainan di kamarnya.


"Mas, aku ... ada hal yang ingin aku katakan padamu sebenarnya," ujar Bila merasa waswas. Takut suaminya tersinggung atau semacamnya.


"Ya katakan saja sayang, apa yang mengganjal di hatimu," ujar Bisma memperhatikan istrinya yang nampak bingung.


"Sini, sini deh sayang duduk sini biar enak ngobrolnya." Bisma menarik istrinya menuju sofa dan duduk saling berdampingan dengan saling berhadapan.


"A-aku ... boleh nggak kalau tinggal di rumah bunda aja, em ... maksudku aku ... aku rindu suasana rumah aja saat sama bunda. Lagian 'kan dekat juga ini Mas, boleh ya?" pintanya cukup tak beralasan.


"Kamu kenapa? Bukannya aku tidak mau, justru karena dekat kalau kamu rindu atau kangen suasana itu ya 'kan bisa datang setiap hari sayang. Aku juga nggak ngelarang atau membatasi itu. Aku hanya ingin mandiri setelah berkeluarga," jelas Bisma.


Bila nampak mrengut, namun pria itu tidak kehabisan akal. Seribu cara untuk membuat pujaan hatinya tersenyum kembali.

__ADS_1


"Sayang, kamu boleh minta apapun asal tetap tinggal di sini, atau gini aja deh, setiap aku berangkat kerja kamu boleh di rumah bunda, sorenya saat aku pulang aku jemput kamu dan tetap bermalam di sini. Biar bagaimanapun kita nggak boleh terlalu banyak ngrepotin orang tua, sayang. Kalau sudah berkeluarga kita harus belajar mandiri."


Ya ampun ... Mas, kamu nggak paham banget sih rasanya pengen nangis.


"Lho kok malah nangis, sayang ... ini rumahnya deket banget lho ini, kamu kenapa sih baperan banget. Apa gara-gara aku kagetin tadi ya, kamu nggak suka?" Bisma mengusap buliran bening yang lolos di wajah ayu istrinya dengan hati bertanya-tanya.


"Bukan Mas, aku masih suka takut aja kalau tiba-tiba ada orang yang terlalu dekat. Atau tiba-tiba memperhatikan aku. Jujur Mas, aku tidak nyaman dengan adanya pria lain di rumah ini," curhat Bila akhirnya memberanikan diri.


"Pandu gangguin kamu, suka nyuruh-nhuruh kaya tadi? Nanti aku kasih pengertian ke dia ya, insya Allah dia mau mengerti kok, nanti aku coba bilang pelan-pelan. Aku nggak enak kalau harus nyuruh pindah sayang, aku bingung cara ngomongnya. Kamu yang sabar ya, aku percaya kok sama kamu."


"Mas, kalau kamu merasa nggak enak ya nggak harus nyuruh pergi juga kok, biarin aku yang tinggal di rumah bunda aja, toh bunda seneng," ujarnya antusias.


Razik masih asyik bermain, anak itu sepertinya belum mengantuk.


"Sayang, mainnya udah ya ayo bersih-bersih dulu terus tidur," ajak Bila yang tidak mendapat respon bocah kecil itu, sepertinya dia belum menemukan kantuknya. Masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri.


"Kamu istirahat aja sayang, nanti biar Razik aku yang jaga," ujar Bisma seraya mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Mas, besok beneran ini ke Bali-nya bertiga sama Razik?" Mereka sudah sama-sama masuk ke dalam selimut saling berhadapan.


"Iya dong, emangnya kamu pingin berdua aja ya? Jangan-jangan kode nih." Bisma menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih, nggak gitu Mas, gini ya maksud aku tuh kita bawa Razik ikut kondangan gitu?"


"Iya sayang, Razik kalau nggak ikut takutnya nangis dititip sama mama, entar malah repot jauh."


"Iya sih ... sekalian jalan-jalan. Bagus lah aku jadi lebih mantep."


"Eh, tunggu dulu emang nggak pa-pa kalau kita tinggal sehari dua hari gitu. Kita titip di mamaku aja, kemarin juga aman waktu ditinggal seharian. Kita ... bisa banyak waktu berdua sekalian gitu, pacaran," ujarnya mengerling.


"Galau juga sih Mas, lihat besok deh. Kalau mama nggak keberatan boleh juga, tetapi bener jangan deh, ikut aja nggak pa-pa."


"Oke lihat besok gimana. Udah istiraht."


"Titip Razik ya Mas, aku tidur dulu udah ngantuk." Bila menempatkan diri di posisi tengah dengan pria itu memeluknya dari balik punggungnya, sementara Bila membuai Razik agar cepat terlelap."

__ADS_1


Keesokan paginya, seperti biasa mahkluk maskulin itu sudah bangun lebih awal. Berhubung Bila masih berhalangan, pria itu tidak membangunkannya dan meninggalkan ke masjid untuk jamaah. Sepulang dari tempat ibadah, Bisma sengaja menemui Pandu untuk sekedar menyalurkan keresahan istrinya. Tidak sampai hati menyuruhnya pergi hanya saja menawarkan sebuah apartement untuk disinggahi. Dengan dalih merawatnya saja dari pada tidak ada yang menempati. Pandu nampak manggut mengerti, pria itu akan memikirkannya nanti.


Pagi hari seperti biasa Bila sibuk dengan rutinitas paginya. Ia baru bisa bernapas lega setelah suami dan saudaranya berangkat. Ia baru saja rehat sejenak di kursi tengah setelah mengantar Razik sekolah, tetiba seseorang langsung duduk tanpa jarak di sampingnya.


__ADS_2