
"Diem, Bila, nanti Razik bangun, kasihan?" ucapnya santai dengan mata terpejam. Karena lelah berdebat yang ujungnya membuat jengkel, Bila akhirnya pasrah dan tertidur. Walaupun satu ranjang, ia cukup tenang karena ada Razik, jadi ... Bisma tidak mungkin bertindak yang tidak diinginkan.
Tengah malam, Razik terbangun, bocah kecil itu merengek dengan mata sayu.
"Kenapa sayang, Bunda di sini," ucap Bila lembut, refleks terjaga begitu mendengar anaknya terbangun, Bisma yang baru merem juga ikut kebangun.
"Razik kenapa?" Bisma duduk, menemani Bila yang menenangkan dengan mendekap Razik dan menina bobok.
"Kamu kok keringetan banyak banget, badan kamu juga rada anget," cemas Bila meneliti anaknya. Bocah itu mendekap erat bundanya. Bisma ikut mengecek kening putranya, sedikit panas seperti yang dikatakan Bila.
"Sayang ... tunggu sebentar ya, Bunda ambil air hangat dulu," ujar Bila memberi tahu si kecil yang menempel. Bocah itu tidak mau lepas, malah mendekap erat.
"Biar aku saja, Bila, apa yang kamu butuhkan," Bisma sigap siaga.
"Emang kamu mau? Ya udah cepetan sana, tunggu apalagi, ambilin air hangat-hangat kuku," titah Bila masih mode sebal. Apapun yang berhubungan dengan Bisma selalu membuat mood perempuan itu berantakan.
Bisma kembali dengan membawa panci kecil berisi air hangat sesuai permintaan istrinya. Perlahan pria itu mengompres anaknya tanpa diminta. Sementara Razik masih setia mendekap Bila dan enggan melepasnya. Posisi Bila yang setengah duduk, membuat perempuan itu pegal, namun tidak ada pilihan, meminta tolong Bisma sungguh bukan solusi.
Bisma mengerjakan dengan telaten, sementara BIla memperhatikan dengan membuai Razik agar terdiam. Lama- kelamaan mata perempuan itu mulai berat, Bila terjaga sepenuhnya. Razik juga panasnya sudah turun dan kembali tertidur. Melihat Bila yang posisinya tidak nyaman, Bisma berinisiatif membetulkan, setelah lebih dulu membenahi selimut pada Razik agar lebih nyaman.
Bisma baru saja hendak menggeser tubuh Bila dengan mengangkat pelan, ketika netra itu kembali terbuka. Spontan Bila menjerit, untung Bisma cukup cekatan dengan membekap mulut istrinya yang pasti sudah salah paham itu.
"Sshhtt ....!" telunjuk pria itu menempel pada bibirnya sendiri. "Tenang, Bila, aku tidak akan menyakitimu, tolong jangan berteriak, nanti anak kita terusik, kaget denger teriakanmu," bisiknya lirih dan lembut. Cukup tenang meyakinkan, berbeda dengan Bila yang mendelik garang.
__ADS_1
"Ngapain sih," tangan perempuan itu segera menyingkirkan tangan suaminya yang masih setia membekapnya.
"Maaf, aku hanya ingin membenahi posisi tidurmu, itu terlihat tidak nyaman," ujar pria itu jujur. Benar apa yang dirasakan Bila, tidak nyaman, namun tindakan Bisma yang sok perhatian itu jelas membuat perempuan itu syok, bisa-bisanya dengan percaya diri main menggeser-geser tubuhnya.
Bila yang tidak bisa tidur nyenyak sedikit pun, akhirnya pindah ke sofa, membiarkan anak dan suaminya menguasai kasur.
Bisma mendes@h pelan melihat istrinya yang tengah bersiap dengan tenangnya menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa kamar. Tempat yang tiga tahun lalu selalu dijadikan tempat tidur Bisma, karena Bila tidak berminat seranjang. Tapi, kali ini berbeda, perempuan itu yang rela mengalah tidur di sana.
Bisma mendekati sofa, berjongkok tepat mensjajarkan tubuh istrinya. Pria itu sengaja membuka selimut Bila hingga perempuan itu terkesiap untuk yang kedua kalinya.
"Apaan sih, Bim!" decaknya dengan nada kesal.
"Mau pindah sendiri atau mau aku gendong, nanti kalau kamu tidur di sini, Razik kebangun nyariin kamu, gimana?"
"Kamu saja yang tidur di ranjang, biar aku yang di sofa," ujarnya mengalah. Bila bersorak girang dalam hati, perempuan itu lekas melangkah.
Gitu kek dari tadi, 'kan gue seneng.
Bila bergumam dalam hati, bergerak spontan membuat ia tidak meneliti bawah sana yang terhalang selimut, akibatnya ujung selimut yang terinjak kakinya membuat tubuh itu tersandung. Sialnya Bila menabrak Bisma dan keduanya ambruk bersama dengan Bila tepat di atas tubuhnya.
Jarak mereka yang begitu dekat, membuat keduanya spontan saling bertemu pandang cukup lama. Bisma terdiam merasakan hawa yang mulai aneh menyerbu hasratnya. Bila walaupun tertutup piyama panjang dan hijab, tetap selalu menggoda batinnya. Apalagi saat bibirnya yang ranum dan seksi itu berceloteh, Bisma diam-diam menahan napas.
"Sorry, hanya insiden," keluhnya hendak bangkit dari sana. Tidak berjalan dengan mulus, Bisma malah menahan tubuhnya, entah keberanian dari mana, Bisma yang memendam kangen dan rindu itu tidak ingin posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Bila, tidak ingin cepat berakhir.
__ADS_1
Bila mendes@h lelah, namun justru tertangkap lain di telinga suaminya.
"Jangan mendes@h Bila, kamu sengaja memancingku?" ujarnya begitu saja.
"Apaan sih, nggak jelas banget, aku capek gini, bisa nggak tangan kamu jangan menahanku," gerutunya kesal. Mendumel seraya berdiri. Bisma juga ikut berdiri, memposisikan dirinya duduk di sofa, sementara Bila menghentakkan kakinya kesal seraya melangkah ke ranjang.
Belum genap dua puluh empat jam Bila kembali, serentetan drama rumah tangga sudah terjadi. Bila kembali mencoba menutup matanya, perempuan itu harus istirahat sebelum matahari menyapa pagi. Sialnya, Bila tidak berhasil tertidur, walau badan terasa lela, namun mata mendadak Insomnia. Dari pada menghabiskan waktu malam begitu saja, perempuan itu memutuskan membuka laptop, dan mulai merangkai tulisan di sana.
Kegiatan yang selalu menemani dua tahun terakhir ini, saat tengah merenung sepi, di sisa malamnya, Bila menuangkan dalam imajinasi yang berbeda. Semua kisahnya dengan tingkat kehaluan yang sedikit mendominasi, mampu membuat ia sedikit lebih bisa menerima. Lewat tulisan itu, ia mampu mengeluarkan risalah hatinya yang sedang berkecamuk hebat, kadang sedang rindu, sedih, galau, menangis, haru, bahkan bahagia, walaupun masih jauh dari kata bahagia yang sesungguhnya.
Sesungguhnya sederhana dan simple saja, bahagia yang paling nyata bagi perempuan itu adalah, saat melihat Razik tumbuh menjadi anak yang begitu kuat, pintar, dan pastinya cukup menurut dan sehat. Walaupun seusianya aktif, Razik tidak pernah meminta barang apapun yang bikin Bila susah, atau bahkan kesulitan mendapatkannya.
Tanpa sadar, Bila tertidur di meja belajar, saat ia terjaga di waktu subuh, menemukan selimut hangat membalut pundaknya.
Bisma kah, yang selimutin aku?
Bila bertanya-tanya dalam hati, ia bangkit, netranya memindai ke sepenjuru ruangan, tidak menemukan Bisma di sana. Rupanya pria itu sudah terbangun lebih dulu.
Bila baru saja menyelesaikan kewajiban dua raka'at dan tengah melipat mukena ketika derit pintu samar-samar bertandang ke telinganya. Perempuan itu belum memakai hijabnya kembali, setelah memakai mukena. Bisma yang baru saja pulang dari masjid, melihat itu terdiam sejenak pada pijakannya, mengamati saat tangan lincah itu menggelung, mengumpulkan rambut itu menjadi satu, tengkuk leher Bila yang mulus dan putih itu jelas terpampang nyata. Saat Bila berdiri dan berbalik, cukup kaget menemukan Bisma tepat di belakangnya menyorot dengan ekspresi yang berbeda.
Bila yang bingung, langsung menunduk dengan muka yang memanas.
"Kenapa harus malu, kamu tidak perlu repot menutupi bagian tubuhmu di hadapanku, Bila, karena semua yang melekat padamu halal bagi penglihatanku," ujarnya kalem.
__ADS_1