Noktah Merah

Noktah Merah
Part 24


__ADS_3

Selesai dari rest area, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Separo perjalanan lagi mereka akan sampai, tidak begitu jauh, namun karena kendala macet, membuat mereka tidak tepat sesuai rencana. Sampai di kediaman Uwais, hari sudah petang. Nadia menganjurkan Nabila untuk menginap saja semalam, baru akan mengantar perempuan itu ke kediamannya esok hari.


Melihat Razik yang kelelahan, dan terlihat pucat, Bila mengiyakan. Perempuan itu bermalam di rumah Nadia. Kedatangannya pun di sambut antusias oleh keluarga besar Nadia di sana. Ustazah Farida, Ibu Nadia, begitu baik menjamu Bila. Selama di Jakarta, Ustadz Zaki akan tinggal di pesantren Uwais.


"Mbak, ayo masuk, kasihan Razik kecapean. Mbak bersih-bersih dulu saja, lalu istirahat," ujar Nadia menginterupsi. Bila mengangguk, sebenarnya sudah Ingin segera pulang, walau jujur deg degan mau bertemu dengan Ayah dan Bunda. Apakah mereka akan marah, atau sebaliknya, entahlah ... Bila akan menerima setiap apa yang dilontarkan bundanya nanti.


Semalaman Bila tidak bisa tidur, sementara Razik, cukup tenang dalam buaiannya. Bocah kecil itu terlihat nurut sekali, ada yang berbeda, tidak seaktif kemarin. Mungkin benar, Razik kecapean saja. Didekapnya anak itu dengan sayang, sebelum akhirnya kembali menyambangi mimpi.


Sebelum waktu subuh, lebih tepatnya sepertiga malam, Bila sudah terjaga. Membenahi selimut untuk anaknya sebelum beranjak dari ranjang. Hijab instan segera ia kenakan, dan menuju bilik di luar kamar untuk mengambil wudhu. Saat itulah tak sengaja berpapasan dengan Ustadz Zaki yang hendak ke kamar mandi.


"Bila, sudah bangun?"


"Eh, Ustadz, iya," jawabnya langsung menundukan pandangan. Berjalan cepat menuju kamar mandi.


Cepat Bila merampungkan urusannya di sana, perempuan itu sudah bersiap untuk pamit di pagi hari. Lagi-lagi, Umi Farida menahannya agar mereka pulang agak siang saja, setidaknya melewati sarapan bersama. Karena sungkan menolak, Bila mengiyakan.


Bila yang merasa tidak enakan, ikut membantu Umi menyiapkan sarapan untuk keluarga. Sementara, Razik sendiri sudah bangun dan sedang main bersama Nadia.


"Nak, Bila, sudah lama tinggal di Pondok Tahfiz?" tanyanya di sela memasak.


"3 tahun lebih, Umi."


"Lama juga ya, itu anak kamu? Berarti Razik lahir di pesantren?" Bila mengangguk, mengiyakan. Berharap Umi Farida tidak menanyakan banyak hal yang tidak ingin Bila jawab untuk soal masa lalunya.


"Maaf, Umi, saya pamit sebentar, sepertinya harus mengabari orang rumah, kalau saya sampai rumah sedikit terlambat."

__ADS_1


"Owh ... iya, sebaiknya begitu, biar tidak cemas." Bila terpaksa menghindari pertanyaan yang nantinya akan membuat ia kesulitan untuk menjawab.


Perempuan itu mendekati putranya, untuk tidak terlalu jauh bermain karena sebentar lagi akan pulang. Usai mengikuti sarapan yang cukup hangat, Bila segera pamit dengan keluarga besar mereka.


"Mbak, nanti saya antar sekalian pengen tahu rumah Mbak Bila," ujar Nadia antusias.


"Terima kasih, Nadia. Sebenarnya 'kan sudah dekat, jadi sebaiknya saya pulang sendiri saja," tolak Bila merasa gusar. Tidak enak hati Ustadz Zaki repot mengantar dirinya sampai rumah.


"Tidak pa-pa, Bila, hari ini saya juga belum memulai kegiatan yang sesungguhnya, pingin kenalan sama Oma dan opanya Razik. Boleh 'kan? Atau jangan-jangan kamu yang keberatan, Bil?" tanyanya yang cukup membuat Bila merasa tak enak hati.


"Tentu saja tidak, Ustadz, hanya saja takut merepotkan," sanggahnya cepat.


Tidak sesuai yang diagendakan, Bila akhirnya pulang di sore hari menunggu Nadia yang bersemangat mengantarnya. Selepas sholat ashar mereka pamit dan mengantar Razik. Selama perjalanan hati Bila merasa tidak tenang, ada kecemasan yang teramat nyata di sana. Entahlah, berungkali perempuan itu beristighfar dalam hati, berkali-kali menyakinkan hatinya bahwa sudah saatnya iya kembali.


"Ini arahnya ke mana, Bil?" tanya ustadz merasa bingung, setelah melewati beberapa gang.


Mobil mulai memasuki kawasan kompleks, tiga tahun lebih meninggalkan tidak banyak berubah. Suasana jalanan masih sama, deretan rumah juga masih sama, sepi, tidak banyak yang berlalu lalang. Sampailah di rumah paling ujung, mendadak Bila merasa gamang untuk turun. Ada rasa bersalah teramat besar karena tiga tahun lalu meninggalkan rumah ini tanpa pamit. Ada banyak rindu yang ingin ia jemput kembali, tentunya bersama kedua orang tuanya.


Bagaimana dengan Bisma? Tentu saja Bila merasa waswas dengan Ayah Razik. Perempuan itu berharap tidak ketemu dulu dengan pria itu, Bila tidak pernah tahu dan tidak mau tahu di mana pria itu berada. Terdengar kejam memang, tapi sekali lagi, cinta dan perasaan itu tidak bisa dipaksa. No, debat.


"Assalamu'alaikum ...." salam haru setelah mereka menepikan mobilnya. Nampak Mbak Lastri berlari segera mendengar tamu yang datang.


"Maaf, Mbak, cari siapa?" tanya art itu bingung.


"Mbak Lastri? Ini Bila, Mbak?"

__ADS_1


"Masya Allah ... Non Bila? Ya Allah ... maaf, Non, saya pangling." Lastri berbinar takjub sekaligus tak percaya melihat majikannya penuh dengan metamorfosa.


"Buk, Ibu ... Non Bila pulang, Bu!" seru Lastri kegirangan. Bu Rima yang sibuk di dapur segera berhambur keluar.


"Apa Lastri, nggak usah teriak-teriak," cegah Bu Rima.


"Bu, di depan ada Non Bila, Non Bila pulang," serunya mendadak heboh. Bu Rima langsung mengabaikan omongan Lastri, menyerahkan celemek di tangannya dan berlalu dengan segera.


"Bila!" seru Bu Rima tercekat, menghentikan langkahnya dengan mata berkaca-kaca. Ustadz Zaki mengambil alih Razik dalam gendongan bundanya, Ibu dari anak satu itu berhambur dan langsung bersujud di kaki ibunya.


"Maafkan, Bila, Bun, maaf," mohonnya sendu, menangis sesenggukan. Ayah yang baru saja muncul ikut bergabung. Perempuan itu memohon ampun kepada kedua orang tuanya. Mereka saling memeluk rindu.


"Jangan menangis sayang, Bunda dan Ayah yang minta maaf," tangis mereka pecah.


"Sayang, kamu pulang diantar mereka?" Bila mengangguk dengan senyuman.


Mendadak ia tercekat, saat netranya tak sengaja bertemu dengan sosok orang yang belum ingin Bila temui. Dia adalah suaminya, Bisma terdiam di antara mereka, menatap dalam perempuan yang telah lancang melarikan diri darinya. Kemudian, memindai bocah kecil dalam gendongan pria lain, seketika hatinya bercampur aduk dalam gamang.


"Razik?" Mata elangnya mulai berkaca-kaca menyorot anak itu.


Ustadz Zaki yang tengah menggendong bocah kecil itu spontan menurunkannya, dan membiarkan seorang pria yang terlihat sendu itu mendekat. Bisma berjongkok, dan langsung membawa bocah kecil itu ke dalam pelukan, tangisnya pecah, rindu itu tersampaikan hari ini, anaknya benar-benar ada dalam dekapan.


"Ini beneran kamu sayang, Ayah rindu," ucapnya sendu, pria itu menciumi pipi bocah itu secara bertubi. Razik yang merasa asing, malah ketakutan melihat Bisma yang tidak bisa mengontrol diri. Anak itu menangis ketakutan dan berhambur ke arah Bila.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2