Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 10-Perasaan Jane dan Jeli


__ADS_3

“Kakak ... itu ‘kan tadi pagi, bukan siang. Nanti habis makan, Kakak bisa olahraga lima jam! Takut banget sih!”


Episode 10-Perasaan Jane dan Jeli


Jane menghentikan mobilnya tepat di depan butik milik Jelita. Setelah selesai memarkir kendaraannya, Jane bergegas turun. Gadis yang terpaut usia satu tahun dengan Jelita itu, mengambil sesuatu dari tempat duduk di bagian belakang. Sekotak bolu yang tersaji di dalam paperbag berlogo nama sebuah toko roti ternama, juga empat bungkus buble tea.


Langkah Jane mengayun, lantas memasuki butik tersebut. Dengan riang dan penuh semangat. Sedangkan di bahu kirinya, tergantung sebuah biola kecil sebagai tanda bahwa pemiliknya adalah seorang pemusik. Tak hanya sebatas gelar saja, tetapi telah menjuarai beberapa kompetisi musik nasional. Nama Jane memang tidak terkenal layaknya Jelita, tetapi ia cukup disegani di dalam dunia permusikan klasik oleh beberapa rekan atau para pelatihnya.


Gadis itu perlahan menggeser pintu butik yang sengaja ditutup agar setiap pakaian di dalamnya selalu terjaga kebersihannya. Jane mendengar sebuah suara membentuk nada-nada indah, meski bukan sebuah lirik, melainkan senandung saja. Dahinya mengernyit, dengan perasaan penuh tanya. Ya, perihal senandung yang tidak asing didengar oleh telinganya.


Jane tahu bahkan sangat paham. Setiap kali senandung muncul dari bibir kakaknya, pasti hati kakaknya itu tengah berbunga. Mengingat itu, senyum Jane menjadi terulas manis.


“Siang, Kakak!” sapa Jane setelah menghampiri Jelita yang tengah duduk di meja kerja sembari membuat sebuah sketsa rancangan gaun selanjutnya.


Jelita sontak terkejut. Suara Jane terdengar melengking, bahkan cempereng sampai memekikkan gendang telinganya.


“Aish! Salam, Dek! Jangan suka bikin jantungan begitu,” keluh Jelita seiring dengkusan kesal yang ia utarakan.


Jane menyeringis. “Iya, iya, maaf. Assalamu’alaikum, Kakak!”


“Wa’alaikumssalam. Kenapa ke sini?”


“Nih!” Jane memperlihatkan paperbag yang berisi bolu dan kantong plastik yang berisi buble tea. Lalu, matanya menyusuri setiap titik ruangan butik itu. “Kok sepi, Kak? Yang lain?”


“Ini ‘kan jam makan siang, yang lain pada ke resto depan.”


“Kak Jel enggak ikut?” Jane mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang berada di hadapan Jelita.


“Enggak ah. Nanggung.”


“Kebiasaan! Kata Papa juga jangan lupa makan, Kak Jel udah cungkring banget.”

__ADS_1


“Kan, ada kamu yang bisa beliin makan aku.”


“Hmm ... kalau tadi aku enggak ke sini, masa’ Kak Jel juga enggak makan siang?”


“Makan siang kok, biar ini kelar dulu.”


Jane mencibir, tidak percaya. Memang, Jelita terbilang serius jika soal pekerjaan apalagi berkaitan dengan keahliannya. Hal itu pula yang membuatnya tubuhnya semakin kurus, tulang pipi yang sebelumnya tertutup lemak kini lebih terlihat jelas. Terkadang, Jane merasa prihatin. Bagaimana tidak, rasanya Jelita seperti takut terhadap makanan. Seperti sebuah trauma yang didera  oleh kakaknya itu. Belum lagi urusan olahraga yang sering dilakukan oleh Jelita terbilang keras.


Jane hanya merasa bersalah. Mengingat semua yang terjadi pada Jelita adalah ulah ibu kandungnya, mantan ibu tiri Jelita. Jika saja, Riris berikut nama sang ibunda, tidak nekat memberikan obat penggemuk berbalut bungkus vitamin, mungkin sang kakak tidak akan mengalami sesuatu yang berat. Badannya membengkak hampir 100 kilogram. Ketika Jelita berhasil menjalani diet, membuatnya terus-menerus hidup sehat. Namun, bagi Jane hidup yang dianggap sehat oleh sang kakak adalah sesuatu yang hampir melenceng. Karena Jelita bisa dikatakan takut akan kenaikan berat badan, bahkan satu kilogram saja, sudah membuat kepalanya pusing.


Jane menghela napas. “Kak, ayo makan siang ikut mereka,” ajaknya pada Jelita.


Jelita spontan menghentikan gerak tangannya yang tengah bekerja. Tatapan matanya mengarah pada kedua manik hitam milik sang adik. “Makan? Bukannya kamu udah bawain makan siang buat aku? Kenapa harus keluar? Jangan boros, Dek!” ucapnya.


Jane menggeleng. “Ini bolu, sebatas cemilan. Kita orang Indonesia, harus makan nasi.”


“Tadi pagi aku udah makan nasi.”


“Kakak ... itu ‘kan tadi pagi, bukan siang. Nanti habis makan, Kakak bisa olahraga lima jam! Takut banget sih!”


“Mm ... ah, maaf, bukan gitu maksud aku.” Jane berangsur menunduk, seiring tatapan sang kakaknya yang tajam dan sinis. “Aku, ... aku cuma enggak mau Kakak sakit aja, soal itu aku minta maaf. Enggak seharusnya aku justru bilang gitu ke Kakak.”


Jelita menghela napas. Takut? Tentu saja, ia takut. Mengalami masa lalu buruk karena kondisi fisiknya yang besar. Jika itu sampai terulang kembali, lebih baik mati saja. Ya, itu yang ada di dalam benak Jelita. Membayangkan semuanya, meski sudah memaafkan Riris sekalipun, semuanya masih terasa sesak. Ia selalu takut, apalagi untuk menatap wajah Riris dan orang-orang yang sempat membuat hidupnya sulit. Jane memang tidak bersalah, tetapi jika ada ucapan seputar takut, rasanya ia tidak kuasa untuk menerima.


“Kak?” ucap Jane lirih. Gadis itu tidak ada keberanian untuk mengajak kakaknya lagi.


“Ya udah, ayo makan bareng mereka.” Akhirnya Jelita memberikan persetujuan. Semua karena rasa tidak tega setelah memberikan bentakan pada Jane. Ia terlalu sayang terhadap gadis itu, tidak peduli perihal ulah ibunda tirinya jika sudah menyangkut Jane.


Senyum Jane melebar, menghias wajahnya yang tak kalah cantik dari kakaknya.


Lalu, kedua anak gadis itu berdiri. Jane mengalungkan tangannya pada lengan Jelita serta bersikap manja layaknya biasa. Kaki mereka begitu kompak mengayun meninggalkan butik dalam waktu sementara, dengan membawa buble tea yang akan dibagi di restoran nanti pada tiga pegawai butik Jelita.

__ADS_1


Hanya dengan kedua kaki dari masing-masing pemilik, mereka berjalan hendak menyeberangi jalan raya. Sebuah restoran di mana menjadi tempat menyantap makan pertama bagi Jelita dengan seorang pria berikut Reza tadi pagi, menjadi incaran kedua gadis itu.


“Kak, Kakak lagi seneng kayaknya, ya?” tanya Jane memberanikan diri. Rasa penasarannya sudah tak bertepi, perihal senandung riang yang Jelita gumamkan beberapa saat yang lalu.


“Iya, sebelum kamu datang,” jawab Jelita sekenanya.


“Aish! Jahat banget jawabannya. Iya, iya, aku minta maaf sekali lagi.”


“Hahaha, enggak kok. Emang lagi bahagia aja. Kamu udah tengok mama kamu?”


Jane menggeleng. “Belum, Kak, jadwal aku padet banget pagi ini.”


“Udah seminggu kamu belum tengok lagi, Dek.”


“Aku tahu. Dan, ... Mama juga pasti masih enggak mau ketemu aku.”


“Terakhir kondisinya gimana?”


“Udah tenang sih, Kak. Berkat itu juga Mama hindarin aku, mungkin karena udah ngenalin aku. Kata perawatnya, Mama udah inget beberapa masa lalunya. Kak, ... maafin Mama, ya?”


Jelita tak langsung menjawab. Ia bergeming bimbang, perihal memaafkan sebenarnya sudah, tetapi sampai detik ini ia tidak pernah datang mengunjungi ibunda kandung dari adik tirinya itu. Hal itu pula yang membuatnya enggan bahkan tidak tega untuk menjawab setiap ucapan Jane mengenai Riris. Terlalu sulit!


Beruntung, jalan raya mulai lenggang. Sehingga, Jelita memiliki kesempatan untuk menghindari permintaan Jane. Mereka menyeberangi jalan tersebut untuk ruas kedua. Lalu, kaki mereka kembali terayun menuju restoran yang telah ditentukan.


Sementara, Jane hanya bisa membatin. Ia tahu sulit bagi Jelita untuk memaafkan ibundanya. Rasanya pun sama, sesak. Juga, rasa bersalah yang tak kunjung sirna dari dalam hatinya meski sudah bertahun-tahun. Kendati hubungannya dengan sang kakak sudah dekat, rasa tidak nyaman seputar masalah itu masih setia bersarang di dalam diri Jane.


Andai saja Jane tahu dan lebih berani bersikap pada saat itu, mungkin kejadian buruk tidak menimpa Jelita. Untuk dirinya saja, ia tidak kuasa. Riris selalu menekannya untuk menjadi sempurna, bahkan tidak akan membiarkan ia beristirahat jika musik yang ia mainkan belum sempurna. Rasa sayang Riris terhadap Jane sudah melenceng jauh, lebih tepat dikatakan sebagai obsesi ketimbang cinta. Obsesi atas kesempurnaan yang dimiliki anaknya.


****


Huhu... Aku jadi takut kalau si Jeli menderita gangguan psikis seputar makan. Bisa dibilang anorexia, atau mungkin bulimia.

__ADS_1


__ADS_2