Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 36-Perjodohan


__ADS_3

“Papa ingin kamu mencoba dekat dengannya. Ya bisa dibilang Papa mencoba menjodohkan kalian.”


Episode 36-Perjodohan


Pagi ini, Nur Imran sudah datang. Sejatinya ia memang sudah di tanah air sejak kemarin. Namun karena memiliki banyak aset pergedungan, ia bisa menginap di salah satu apartemen mewahnya. Memang, pengusaha kaya yang luar biasa. Kendati seorang duda, ia tetap teguh untuk bekerja keras. Tidak peduli usianya memasuki usia senja, ia hanya ingin masa depan kedua putrinya gemilang.


Dan saat ini pun, entah Jelita atau Jane, keduanya sama-sama tercengang atas kedatangannya. Nur Imran hanya tersenyum. Lalu, tanpa menunggu lama ia lantas memeluk kedua putrinya itu.


“Hampir tiga bulan enggak lihat putri-putri kesayangan,” ucap pengusaha besar itu diiringi kecupan manis di pipi kedua putrinya.


Tak lama kemudian, Nur Imran melepaskan pelukannya. Ia masih tersenyum sembari menatap Jelita dan Jane secara bergantian.


“Ck,” decak Jelita sembari melipat kedua tangannya. “Kenapa Papa enggak kabar-kabar kalau mau pulang? 'Kan Jeli dan Jane bisa jemput.”


“Iya, Pa, dan sepagi ini udah sampai? Papa ... emang ada penerbangan subuh dari Singapore?” sahut Jane.


“Pakai jet pribadi dong, Dek.” Nur Imran melangkahkan kaki, sembari menggandeng kedua putrinya.


Jelita dan Jane saling menatap. Ada pertanyaan yang mencuat dari dalam hati keduanya dan itu sama. Karena, kendati Nur Imran kaya, ia belum ingin memiliki transportasi elit semacam jet pribadi. Entah, hanya saja bagi pengusaha besar itu gedung-gedung lebih menguntungkan untul berinvestasi atau mungkin ia belum mengetahui tentang dunia transportasi.


“Papa beneran beli jet?” tanya Jelita sesaat setelah mereka sampai di ruang makan.


Nur Imran menggeleng. “Belum, Sayang, tapi kalau kalian mau Papa bisa belikan,” jawabnya enteng.


“Buang-buang uang, Pa,” timpal Jane. Kedua tangannya sudah sibuk memenuhi piringnya dengan nasi dan lauk pauk lainnya.


Sama halnya dengan Jane, Jelita pun melakukan hal serupa. Hanya saja ia memilih nasi merah sebagai makanan pokoknya. Menatap perubahan bagus yang Jelita jalani saat ini, membuat dahi Nur Imran berkerut. Meski sebenarnya heran, ada suatu kelegaan di hatinya. Meski bukan nasi putih layaknya orang Indonesia kebanyakan, setidaknya ada nasi merah di piring putri pertamanya itu.


Sementara Jane, masih seperti biasa. Gadis itu mau makan sebanyak apa pun, tidak akan gemuk. Tubuhnya mirip sang ibunda, kurus dan susah untuk gemuk. Di saat ia menanggung rasa malu sekaligus rasa bersalah yang pekat sebab ulah ibundanya itu, tubuhnya sempat kurus. Kedua pipinya terlihat cekung. Namun itu terjadi beberapa saat yang lalu. Dan Nur Imran telah membawanya ke ahli terapi, sehingga berjalannya waktu Jane bisa kembali ceria layaknya sekarang.


Nur Imran menghela napas. Ketika kedua putrinya sudah asyik menyantap, ia justru masih menatap. Sulit dipercaya, rasanya belum lama ia melihat mereka bermain boneka bersama dengan tubuh mungil khas anak kecil. Dan sekarang, keduanya sudah tumbuh dewasa.


Melisa, putri kita sudah tumbuh dewasa dan sesuai namanya, dia sangat jelita. Juga, Jane yang selalu cantik seperti ibunya. Aku berharap mereka berdua bahagia. Nur Imran tersenyum sembari membatin kalimat itu. Sementara, benaknya kembali mengingat wajah wanita pertama di hidupnya. Melisa, istrinya yang sudah meninggal sebelum ia menikah dengan Riris—ibunda Jane. Menatap Jelita, ada paras Melisa di sana. Ia rindu masa-masa indah bersama wanita yang tidak panjang umur itu. Rahangnya pun mengeras, sebab menyesal karena tak bisa melihat paras menua milik Melisa. Juga, rasa bersalah karena tidak menjaga putrinya dengan mendiang istrinya itu dengan baik.

__ADS_1


Menyadari ayahnya yang justru termenung, Jelita menghentikan aktivitasnya. Ia mendengar helaan napas cukup berat yang dilakukan oleh ayahnya itu, sepertinya cukup pilu. Ada kecemasan yang perlahan menyerang hatinya. Hingga kemudian, Jelita memberanikan diri untuk bertanya, “Papa kenapa?”


Nur Imran reflek tersontak. Ia mengulas senyum sembari menggeleng dengan mata yang menatap wajah Jelita dan Jane bergantian. “Enggak apa-apa, Sayang,” jawabnya. Lalu, ia mulai menyentuh makanan di piringnya yang sudah diambilkan oleh Jane beberapa saat yang lalu.


“Usaha di sana lancar, Pa? Papa istirahat dengan cukup, 'kan?” tanya Jane.


Nur Imran mengangguk pelan. “Tentu, Sayang. Semua dalam kendali Papa, jangan khawatir.”


“Papa emang hebat!”


Tawa kecil pun menghiasi kebersamaan itu. Meski tidak ada sosok istri sekaligus ibu, kehangatan terus dibangun oleh Nur Imran. Sebagai orang tua tunggal, ia ingin kedua putrinya menderita karena tidak kesempurnaan dalam keluarga. Apalagi ketika Jelita juga Jane memendam perasaan pekat yang tidak baik.


Trauma bagi Jelita dan rasa bersalah yang masih bersarang hingga sekarang di hati Jane. Jika Nur Imran tidak berusaha keras sebagai seorang ayah sudah pasti kedua putrinya itu menderita gangguan mental lebih parah. Namun, ia sangat berterima kasih sebab kedua putrinya itu masih mampu mengendalikan semua emosi dengan baik.


Menyudahi semua pemikirannya, Nur Imran berdeham sesaat setelah menelan makanannya. Lalu ia mengepalkan kedua tangan di atas meja dan memangku dagunya. Dipandanginya lagi kedua putrinya secara bergantian.


“Kalian udah sama-sama dewasa. Ada karir dalam bidang yang berbeda. Papa bisa bantu tentang itu,” ucap pengusaha kaya itu.


“Ya! Papa akan buat mini concert ataupun besar untuk Jane dan tim.” Nur Imran menatap Jelita. “Dan buat Kakak, Papa bisa bantu adakan fashion show untuk rancangan Kakak. Kita bisa undang model-model kelas elit sebagai peraga busana.”


Jelita menatap Jane yang juga menatapnya. Mereka bimbang. Jika anak lain pasti sudah girang, tetapi tidak dengan mereka. Dibantu ayahnya sampai sejauh ini saja sudah sangat beruntung. Rasanya jika mereka mendapatkan itu semua, pasti terbilang instan dalam menuju kesuksesan. Kedua gadis itu enggan atau bisa dikatakan tidak mau. Mereka ingin berusaha sendiri, agar tahu makna hidup yang sebenarnya.


Namun, untuk mengatakan pemikiran itu pada ayahnya bagaimana? Jelita sekaligus Jane khawatir jika sang ayah justru kecewa.


“Pa, kami ing—” Ucapan Jelita terpotong begitu saja.


Nur Imran mengangkat salah satu tangannya. “Dilarang menolak! Kenapa? Karena Papa ingin membuat kedua putri Papa sukses dan ... tentu saja biar kalian cepat-cepat belajar bisnis,” ucapnya.


Kedua putrinya tidak menyahut. Mereka masih dalam kebimbangan yang sama.


“Dan Jelita, udah ketemu Willi?”


Jelita mengangguk. “Udah, Pa.”

__ADS_1


“Gimana? Ganteng?”


“Entah.”


Nur Imran tersenyum. “Papa ingin kamu mencoba dekat dengannya. Ya bisa dibilang Papa mencoba menjodohkan kalian.”


Mata Jelita sontak terbelalak. Perjodohan? Yang benar saja! Pikirnya.


Sementara Jane justru menelan saliva. Setelah semalaman ia mencari informasi tentang William, bahkan sampai bergadang. Namun ketika ia sudah berhasil dan menemukan wajah William pada sebuah foto, kabar yang langsung diucapkan oleh ayahannya mampu meluruhkan harapannya tentang pria itu.


Jane berangsur menatap Jelita yang justru bergeming. Ia heran lantaran kakaknya itu tidak lantas menolak, padahal sudah memiliki Reza. Ada kecewa di hatinya, kemarin pun Jelita seolah menyembunyikan William darinya. Apa kakaknya itu sudah sembuh dari penyakit benci pada pria tampan? Atau apakah Jelita juga memiliki ketertarikan pada William, terlebih sudah pernah bertemu? Lalu jika dugaannya benar, bagaimana dengan Reza?


Satu persatu pertanyaan muncul memenuhi benak Jane. Dan semua itu membuat kepalanya mendadak pening. Ia bisa merelakan semua soal harta dan tahta pada Jelita, karena memang kakaknya lebih berhak tentang itu. Namun jika seorang pria? Jane tidak mau!


“Jelita, gimana?” tanya Nur Imran memastikan sebab putri pertamanya justru bergeming.


Jelita menggeragap. Ia bingung harus berkata apa. Sementara untuk mengakui Reza, sebagai gadis yang baru pertama kali memiliki pacar tentu rasanya sangat sulit.


“Anu, Pa ....” Jelita tidak mampu melanjutkan ucapan yang sebenarnya berisi penolakan.


Sikap Jelita yang terbilang plinplan membuat rasa muak tiba-tiba menyerang hati Jane. Kakaknya tidak tegas! Jane menghela napas panjang. Ia menyudahi aktivitas bersantapnya setelah itu.


“Jane harus berangkat, Pa,” pamit Jane sembari mengecup tangan Nur Imran, sesaat setelah ia menghampiri ayahnya itu.


“Eh? Kok buru-buru?” tanya Nur Imran.


Namun Jane hanya tersenyum, kemudian ia berbalik. Detik berikutnya, ia berjalan cepat meninggalkan ruang makan itu.


Melihat sikap Jane yang tiba-tiba pergi begitu saja, membuat mata Jelita melebar. Ia teringat perihal keinginan adiknya kemarin sore. Ia menelan saliva, sebab menyadari pasti Jane sangat kecewa. Lantas, apa yang perlu ia lakukan? Sebagai anak yang tidak terlalu dekat dengan ayahandanya, tentunya bukan perkara mudah mengakui hubungannya dengan sang pengacara. Apalagi ketika ucapan Arlan mengenai permintaan ayahannya mengenai keinginan untuk memiliki mantu pembisnis. Tentu saja, posisi Reza terancam didiskualifikasi oleh ayahnya itu. Jelita tidak mau!


****


Up kedua hari ini, jangan lupa kewajiban jempolnya (╯︵╰,)

__ADS_1


__ADS_2