Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 71-Masing-masing Rencana


__ADS_3

Episodenya panjang, semoga nggak bosan.


“Jeli si gendut itu? Tentu tahu, dia pernah gue bully dan loe tahu nggak? Atas permintaan ibu tirinya.”


Episode 71-Masing-masing Rencana


Betapa terkejutnya seorang Arlan Mahendra mendapati keponakan tersayang berduaan tanpa beban dengan sang nona muda. Matanya yang masih awas pun melebar, hatinya tidak menyangka. Arlan menduga teman pria yang menyelamatkan Jelita adalah William. Namun, bagaimana bisa?


“Willi!” seru Arlan dengan lantang, sampai-sampai membuat seisi butik itu terkejut tidak keruan. “Kamu apa-apaan, hah?!”


William juga Jelita reflek berdiri dari sikap duduk mereka.


“O-om Arlan?” ucap keduanya berbarengan.


“Anak-anak nakal! Kalian pikir saya nggak tahu apa?” Arlan melaju kakinya dengan tegas sembari memasang wajah penuh emosi.


Kendati masih merasa bingung, William menelan saliva dengan perasaan khawatir.


Lalu, ... pria paruh baya itu menarik telinga William dengan geram.


“Adududuh, Om! Sakit! Apaan sih?!” ronta William sembari berusaha melepaskan diri.


Jelita tak tinggal diam. Ia membantu pria tampan itu. “Om jangan kayak gitu! Kasian tahu!” omel Jelita. “Yang lain keluar dulu,” lanjutnya pada para bawahan yang sudah datang dari makan siang.


Arlan tidak menggubris ucapan Jelita, melainkan justru menyentil dahi gadis itu. “Kok bisa lho kalian berbuat kayak gini, tega banget?”


Dalam celah itu, William mencubit lengan Arlan. Kemudian, ia berhasil melepaskan jerat jari pamannya itu dari telinga.


“Willi! Berani kurang ajar kamu?!” Mata Arlan membelalak begitu tajam serta menakutkan. Ia berusaha meraih setidaknya lengan William, tetapi gagal.


“Om yang kurang ajar, dateng-dateng ngasarin orang!” tandas William sembari mengusap-usap telinganya yang memerah.


Jelita mengambil kesempatan mencubit gemas perut Arlan. “Dasar Aki-aki nggak jelas!”


Arlan melongo. Rahangnya jatuh menganga. Ia tidak menyangka dua kawula muda itu berani menginjak harga dirinya. Beberapa detik berlalu, Arlan mencoba menghela napas dalam. Ia mengipaskan telapak tangan pada wajahnya. Kemudian, ia duduk di sofa butik itu.


Meluruhnya emosi Arlan tidak membuat Jelita dan William merasa lega. Keduanya masih saling melemparkan tanya melalui tatapan, atau berbicara tanpa suara. Tak berselang lama, William meminta Jelita untuk duduk di samping adik dari ayahnya itu.


“O-om kenapa sih?” tanya Jelita penuh ragu.


William turut bertanya, “I-iya, Om kenapa sih? Baru dateng udah mencak-mencak begitu?”


Arlan kembali menghela napas. “Siapa yang ngajarin kalian melakukan hal ini? Apa kalian lupa siapa diri kalian?”


“Kami melakukan apa, Om? Aku dan Willi biasa aja kok!”


“Iya, Om, Willi mampir bentaran doang.”


Arlan tidak langsung percaya. “Kalau cuma mampir nggak bakal ada tatapan genit, tawa bahagia di atas penderitaan orang. Oh!” Ia teringat akan sesuatu. “Kata Riska kamu dijodohin sama putri Pak Nur. Apa itu jeli?”


William maupun Jelita menelan saliva.


“Kayaknya emang bener. Kok bisa? Haduh, haduh! Saya pikir si Jane!” Arlan menekan kening, bahkan mengelus dadanya tidak menyangka. “Janganlah begini, Jeli udah punya pacar sendiri. Mana bisa kamu nusuk orang itu, Willi? Emangnya Om pernah ngajarin? Kamu harus inget gimana menderitanya ibumu, Willi.”


“E-emangnya kenapa sama ibunya Willi, Om?”


“Diam saja kamu!”


Suara Arlan yang tegas dibarengi sorot mata tajam, membuat Jelita tersentak. Gadis itu lantas terdiam. Namun, pernyataan Arlan seputar ibu William menorehkan rasa heran. Sepertinya ada sesuatu di dalam rumah tangga keluarga William. Entah apa! Selama ini Jelita hanya berpaku pada dirinya sendiri.


Ketika mata mereka saling bertemu, William mengisyaratkan agar Jelita pergi terlebih dahulu. Karena merasa ada sesuatu yang memang perlu diluruskan oleh kedua pria itu, Jelita tidak memberikan penolakan. Ia lantas berdiri dan berangsur pergi ke belakang.


Sepeninggalan Jelita, William mengambil sikap duduk di samping Arlan.


“I-itu beneran, Om, aku sama Jeli dijodohin,” ucap William.

__ADS_1


Arlan tidak menyahut.


“Tapi, bukan berarti kami menyetujui.”


“Kamu suka sama dia?”


William menunduk. “Iya, ... sejak awal.”


“Itu nggak bener, Willi, dia nggak akan suka sama kamu.”


“Willi tahu, Om, mm ... tapi kenapa Om tahu?”


“Jeli pernah dateng ke Om buat minta saran meluluhkan hati seorang pria. Dan kemarin, cowok itu dateng ke rumah Om. Willi, ... kamu terlibat dalam insiden itu? Jujur aja, Om udah tahu semuanya, nggak sepantesnya kamu diem kayak gini.”


“I-itu ada alasannya, Om.”


Arlan menghela napas. “Hanya kalian yang tahu? Selebihnya Jane? Terlepas emang bahaya, dengan sikap kamu yang kayak gini kamu punya niat merebut Jeli dari pacarnya. Kamu harus ingat, gimana Dahlia melakukan hal kotor itu, Willi.”


William getir. Ucapan Arlan sebenarnya sama seperti yang ia pikirkan. Hanya saja kepercayaan pamannya itu tampaknya memudar terhadap dirinya. William tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, sebab baginya sosok Arlan dan Riska adalah yang terpenting setelah ibundanya. Selebihnya, Fanni dan anak-anaknya.


Dengan memaksa keras otaknya, William mencari cara agar kembali mendapat kepercayaan dari Arlan. Namun, ... tetap saja tidak ada alasan logis selain mengutarakan kebenaran.


“Om, Willi enggak pernah berniat seperti itu. Willi punya alasan kenapa masih bungkam dan melibatkan diri,” ungkap William.


“Kamu ingin melindunginya? Kamu ingin menghormati keputusannya? Benar, 'kan? Om tahu siapa kamu, Willi, tapi buat sekarang keadaan cukup rawan. Seharusnya kamu bicara sama, Om, setidaknya Om kamu ini masih bisa jaga rahasia. Makanya saat Jeli ada di sini, Om nggak ngomong apa-apa dulu.”


“Iya, Om, maaf.”


“Asal kamu tahu, Willi. Kasus ini bukan hanya menimpa Jeli, melainkan Nur Imran. Kekuatan kalian berdua enggak bakal setimpal dengan pelaku itu. Sebelum kemari, Om berbincang dengan Pak Nur bahwasanya pelakunya kemungkinan besar—”


“Mantan istri beliau, ibunda Jane, mantan ibu tiri Jeli.”


“Iya, dan Dery.”


“Dery?”


“Willi nggak tahu siapa Dery.”


“Ceritanya panjang, yang pasti untuk saat ini Om berencana pura-pura nggak tahu di hadapan Jeli. Pura-pura nggak terlibat juga di hadapan Pak Nur. Selain itu Om harus jaga istri dan anak-anak. Tapi, Willi, Om bakal bantu cari. Mari bertaruh siapa yang lebih pintar antara kamu, saya atau pengacara itu.”


“Iya, Om!”


Ternyata Reza udah mulai curiga. Dan apa-apaan Om Tua ini, bukannya ngajak kerja sama malah nantangin. Tante Fanni kenapa betah sama Pak Tua narsis begini, coba? William menghela napas seiring rasa heran yang sudah tidak bertepi lagi muncul di hati. Perihal sikap Arlan yang memaksanya merasakan rasa heran itu.


Kemudian, Arlan mengeluarkan suatu benda. “Ini apa? Alat penyadap? Berapa lama kalian duduk di sini? Kalian nggak tahu? Parah! Bahkan sorot lampu merahnya terpantul pada lantai butik ini, Willi. Tampaknya Om bakal menang dan menemukan pelaku itu terlebih dahulu. Ada kemungkinan pelaku itu datang dan memasang alat ini di balik papan meja.”


William terperangah. Ia merebut alat penyadap itu dari tangan Arlan. Bagaimana bisa ada alat seperti itu di balik papan meja?


Sementara itu, di sebuah kafe, Reza tengah membuat janji temu dengan seorang wanita. Dan kini mereka sudah bertemu.


“Tak disangka, tak dinyana, akhirnya Tuan Reza memerlukan bantuan saya juga,” ucap sang wanita.


Reza tak mengubah ekspresi datarnya, dan segera berkata, “Lesy, gue bisa bayar berapa pun asal loe bisa cari tahu informasi ini.”


Lesy terdiam, tetapi matanya bergerak memperhatikan Reza. Sedetik kemudian, ia mulai bertanya, “Informasi apa sampai loe butuh jasa gue?”


“Nur Imran, mengenai rumor teror yang sedang menimpa beliau saat ini.”


“Nur Imran?” Dahi Lesy berkerut samar. “Dia klien loe, Za?”


“Bisa dibilang begitu, tapi gue lebih kenal ke anak beliau.”


Lesy tersenyum. “Jelita? Atau adiknya?”


“Loe tahu?”

__ADS_1


“Jeli si gendut itu? Tentu tahu, dia pernah gue bully dan loe tahu nggak? Atas permintaan ibu tirinya.”


“A-apa? Jeli? Jadi, ...?”


Lagi-lagi Lesy tersenyum. Sesaat setelah menyesap minumannya, ia bersandar ke belakang sembari melipat kedua tangan. Masih hangat di dalam ingatannya bagaimana saat itu ia menjadi ketua geng ketika masih duduk di bangku SMA. Perihal pengakuannya itupun benar adanya, Lesy adalah pembully yang membuat Jelita terluka fisik sekaligus batinnya.


Reza menyesal telah membuat keputusan ini. Tak ia sangka ternyata Lesy bukan hanya pencuri data atau informasi ilegal, melainkan salah satu orang yang menyebabkan munculnya trauma dalam diri Jelita. Karena hal itu, akhirnya ia memutuskan untuk pergi.


Namun sebelum berlalu, Lesy berseru, “Hei, loe mau ke mana?”


Reza berbalik badan. “Gue nggak bisa kerja sama sama pembully macam loe,” jawabnya sengit.


“Oke, oke, gue ngerti. Tapi, gue tetep bakal bantu loe, bahkan tanpa pamrih.”


Dahi Reza berkerut. “Kenapa?”


“Duduk lagi, gue bakal jelasin. Gue serius, Za!”


Akhirnya Reza kembali luluh. Baginya mendengarkan penjelasan merupakan keputusan bagus untuk saat ini. Sebab, jika bukan Lesy, ia tidak bisa bergerak lagi. Terlebih ketika ia menyadari bahwa alat sadapnya ketahuan oleh seseorang, sebab sudah tidak terhubung lagi pada perekam miliknya.


Sesaat setelah Reza kembali duduk, Lesy memberikan penjelasan tanpa basa-basi.


“Nyonya Riris membayar geng gue, bisnis ibu gue, memerintah kami untuk menekan Jeli kala itu. Ya, layaknya geng nakal anak SMA pada umumnya, gue bangga. Gue punya sumber keuangan dengan kekuatan,” ungkap Lesy.


Reza hanya diam.


“Tapi, ... pada saat kedok nyonya itu ketahuan sama Nur Imran. Soal perselingkuhan. Terus, adanya perceraian itu, informasi yang paling penting si nyonya menjadi gila.”


“Gila?”


“Mm ... mulai saat itu, Nur Imran menjadi gencar menghancurkan siapapun yang berkerjasama dengan si nyonya. Termasuk keluarga gue, Za, bokap nyokap gue dan gue sendiri. Emang sih gue akuin kala itu bokap gue ada main kerja sama kotor sama si nyonya, mengenai Dery.”


“Dery?”


“Ya, bokap gue tahu mereka main belakang. Bokap gue minta uang tutup mulut, minta investasi dari Nur Imran. Dan gue sendiri jadi kaki tangan buat bully si Jeli. Tapi, kehancuran si nyonya bikin kami hancur. Nur Imran mengakusisi perusahaan bokap gue. Jadilah, gue anak gelandangan yang kerjaannya jadi agen ilegal para pengacara atau jaksa curang.”


“Itu karma buat loe, Les. Jujur, gue puas banget.”


Lesy tergelak. Sifat Reza yang begitu terbuka justru membuatnya lega. Setidaknya ada satu manusia yang tidak munafik. Namun sikap Reza membuatnya sedikit penasaran. Bagaimana tidak, jika Nur Imran hanya klien mengapa Reza begitu tidak menyukai dirinya? Biasanya seorang pengacara tidak mementingkan masalah masa lalu kliennya asal uang mengalir, tetapi Reza justru berbeda.


Di sisi lain, Lesy teringat akan sesuatu. Bahwasanya Nur Imran telah memiliki pengacara pribadi sejak dulu. Jam terbang pengacara pengusaha besar itupun jauh lebih tinggi ketimbang Reza. Lantas, siapa Reza sebenarnya bagi keluarga Nur Imran?


“Reza?” Lesy memajukan badan serta wajahnya. “Gue rasa loe bukan pengacara Nur Imran deh.”


Reza menelan saliva. “Ke-kenapa? Emangnya hal itu penting buat loe?” balasnya.


“Mm ... nggak juga sih. Tapi, niat gue bayar hutang sama Jeli, mestinya gue juga harus lindungi dia dong!”


“Bayar hutang?”


“Ya, demi rasa bersalah gue. Oke emang nggak setimpal sama kelakukan berandal gue kala itu, tapi ... ini jalan satu-satu. Za, kalau hanya seorang pengacara seharusnya enggak perlu baper , 'kan, sama kelakuan gue ke Jeli di masa lalu?”


“....”


“Za, loe ini ... apa dan siapa buat keluarga itu?”


Reza membisu. Mengakui segalanya sepertinya tidak mungkin. Terlebih, tipikal orang seperti Lesy. Wanita cantik itu sudah pasti akan menertawakan dirinya. Jiwa berandal Lesy akan keluar detik di mana Reza membuat pengakuan jika merupakan kekasih dari Jelita.


Jangan pernah malu mengakui sebuah kebenaran, Nak ....


Ucapan Arlan terngiang di telinga Reza. Sebuah nasehat yang sekiranya pantas untuk disimpan. Hanya saja ketika Reza mengingat siapa diri Arlan, ia menjadi ragu. Bagaimana jika pria paruh baya itu justru menjebak dirinya?


“Reza? Loe bisa jawab, 'kan? Atau jangan-jangan loe pengacaranya pesaing bisnis Nur Imran?” desak Lesy.


“Gue ....”

__ADS_1


__ADS_2