
“Ma, Reza ‘kan pernah bilang, jangan lihat orang dari segi materil. Mau miskin, mau kaya, mau terpandang, mau enggak semuanya sama di mata Tuhan, Ma!”
Episode 7-Perasaan Reza
Bahkan, sampai di rumah pun, Reza masih berdebar-debar. Rasanya masih tidak ia percaya, bertemu dengan gadis yang sempat membuat rasa suka muncul dari dalam hatinya. Sesempit itukah dunia? Setelah beberapa tahun, ia tidak lagi berjumpa, pagi tadi bahkan berkat ibunya sendiri, ia dipertemukan dengan Jelita.
Benih-benih cinta di dalam hatinya muncul kembali, seiring ingatan wajah Jelita yang cantik menghiasi pikirannya. Senyum tipis sesekali terulas di bibir pria itu, menandakan ada asmara berwarna merah jambu yang saat ini tengah menghiasi hatinya.
Namun, yang Reza sesalkan adalah pola hidup yang ia ambil. Seharusnya, tak semestinya ia kalap dalam menyantap makanan, bahkan tidak diimbangi olahraga sama sekali.
“Apa, Jelita mau sama aku kalau aku aja kayak gini?” Reza menatap langit-langit kamarnya, seolah tengah menyelidik sebuah jawaban dari sana.
“Dia jadi cantik banget, lah gue macam beruang! Aargh!” Reza mendengkus kesal setelahnya.
Pria itu membangunkan dirinya dari rebahan yang sejak tadi ia lakukan. Wajahnya yang sempat malu-malu, kini berangsur sendu. Menyukai gadis sempurna layaknya Jelita, sedangkan dirinya sudah seperti seekor beruang dengan tubuh tinggi besar. Yang benar saja!
“Ck, yang ada kayak beauty and the monster!” keluh Reza. Ia menghela napas dalam berikut rasa sesal yang tak bisa dihalau tanpa usaha.
Namun, untuk usaha, apakah bisa? Olahraga dengan keras? Berlari lima meter saja, napasnya sudah tersenggal senggal. Herannya, ia justru jatuh cinta pada gadis yang baru ia temui setelah sekian lama.
Tubuh Reza kembali melemah, akhirnya berangsur merebah seperti beberapa saat yang lalu. Kedua bola matanya masih setia menatap langit-langit kamar bergaya klasik Eropa itu.
“Kamu makin cantik aja sih, Jel!” Lagi-lagi, senyum Reza mengembang, sembari membayangkan gadis cantik yang saat ini berprofesi sebagai designer muda itu.
“Ada enggak sih kesempatan buat dapetin kamu?” gumam Reza dengan tanya, meski tidak ada jawaban pasti.
“Gue pasti udah gila, sejak kapan gue kasmaran kayak gini? Bahkan, selama ini gue dianggap belok karena enggak kunjung punya pacar.”
Pria itu kembali membangunkan dirinya. Memang, pada saat ini hatinya tengah dibuat linglung atas perasaan cinta juga bingung, bahkan malu. Mau melakukan apa pun rasanya tidak nyaman sama sekali.
Reza telah jatuh cinta, setelah sebelumnya hanya berfokus pada karir saja. Pikirannya selalu dipenuhi dengan berbagai masalah hukum yang menimpa beberapa kliennya. Namun, detik ini, pikirannya justru terganggu oleh seorang gadis dan itu adalah Jelita.
Reyna membuka pintu kamar milik putranya tanpa izin sama sekali. Wanita paruh baya itu masuk dengan senyum mengembang tipis di bibirnya.
“Ma, ketok dulu dong!” ucap Reza kesal.
“Halah, kayak sama tamu mana aja. Toh, Mama kamu sendiri,” jawab Reyna.
Gerakan kemayu diterapkan oleh Reyna pada tangan bahkan kakinya yang sibuk berjalan. Kedua bola matanya sibuk menjelajahi wajah Reza, berharap menemukan jawaban atas rasa penasaran. Rasa penasaran yang menyangkut pertemuan sang putra dengan gadis yang ia sukai.
“Jadi, cantik, ‘kan?” tanya Reyna penuh selidik.
Reza terdiam.
“Za! Kalau ditanya orang tua jawab, dong!” tegas Reyna sebal.
“Iya, cantik, Ma. Terus?” Reza masih berusaha menutupi perasaan asli dari sang ibunda. Bukan hanya malu, tetapi juga khawatir jika Reyna justru mengharapkan sesuatu yang lebih besar lagi. Sedangkan, dirinya saja belum tentu bisa menembus dinding hati Jelita.
“Kamu suka?”
__ADS_1
“Enggak, Ma.”
“Jangan bohong! Tadi aja, nyampe plongo begitu.”
“Ya, enggak nyangka aja bisa ketemu junior Reza di kampus lama.”
“Enggak mungkin kalau cuma itu alasannya dan kamu nyampe plongo begitu.”
“Mama!”
Reyna tersenyum. Ia semakin mendekati anak lelakinya itu.
“Mama setuju kalau kamu sama dia. Bukan hanya cantik, tapi juga dari keluarga terpandang. Karirnya bagus, cocok sama kamu dan keluarga kita.”
Reza menghela napas. “Ma, Reza ‘kan pernah bilang, jangan lihat orang dari segi materil. Mau miskin, mau kaya, mau terpandang, mau enggak semuanya sama di mata Tuhan, Ma!”
“Aish! Mulai deh ceramahnya. Seenggaknya ya harus sesuai bibit, bebet, dan bobot. Biar enggak malu-maluin kayak adikmu! Lagian, dia cantik kok. Kamu pasti juga mau. Emangnya kalau kamu dijodohin sama yang jelek, kamu mau?”
“Yang jelek aja belum tentu mau sama Reza, apalagi yang cantik macam Jelita. Mama tahu sendiri, Reza kayak bombom.” Reza menghela napas. “Udahlah, Ma! Jangan terlalu mengharapkan sesuatu dengan berlebihan, nanti kecewa kalau enggak sesuai ekspetasi. Dan lagi, Reza masih sibuk sama karir.”
“Makanya jangan rakus! Kalau sudah mendekati usia nikah baru sadar, kalau badannya kayak bombom! Bahkan paus terdampar!”
Reyna mengambil langkah pergi dari kamar itu, sesaat setelah ia memberikan omelan sebab kebiasaan Reza. Namun, meski sudah memilih pergi, wanita paruh baya bergaya elegan itu masih menceracau. Keluhan perihal sikap Reza masih terdengar samar, sampai akhirnya benar-benar hilang di balik pintu kamar yang masih dibiarkan terbuka begitu saja.
Reza menelan saliva. Ucapan ibunya memang sudah biasa ia dengar. Namun, kali ini justru menganggu. Juga, keinginan Reyna agar ia mendekati Jelita. Memangnya bisa? Sedangkan ia saja tidak memenuhi kriteria pria sempurna.
****
Di sebuah rumah berlantai dua, Fanni tengah duduk bersama kedua putri dan satu putranya. Sedangkan, sang suami begitu sibuk menyirami tanaman yang tumbuh di dalam pot-pot kecil. Sebuah potret keluarga bahagia, tergambar di antara mereka. Seringkali, membuat para tetangga bahkan teman merasa iri.
“Mas,” panggil Fanni pada suami tercintanya.
“Iya, Sayang,” jawab Arlan.
Pria berusia hampir 48 tahun itu menghentikan aktivitasnya, meski sudah hampir setengah abad hidup di dunia, nyatanya wajahnya tetap awet muda. Ia meletakkan alat siram, lalu berjalan menghampiri sang istri.
Sebuah kecupan manis, Arlan daratkan di kening Fanni.
“Apa, Dek?”
“Tadi, Nyonya Reyna nyeret Lita, Mas.”
Mendengar jawaban itu, Arlan mulai memasang pendengarannya dengan seksama. Ia duduk di samping Fanni, membentuk formasi orang-orang yang tengah ingin berghibah.
“Terus, terus?” tanya Arlan penuh selidik sekaligus rasa penasaran yang berangsur muncul.
“Aku enggak tahu lagi, Mas. Tapi, Nyonya itu kayaknya suka deh sama Lita. Mau dijodohin sama anaknya,” jawab Fanni sembari tersenyum.
“Ya, bagus dong. Biar tuh anak enggak kerja terus, kalau udah punya pacar ‘kan enggak ganggu-ganggu kita lagi.”
__ADS_1
“Tapi ‘kan mereka belum saling mengenal, mana bisa begitu? Harus ada pendekatan dulu, dong!”
“Kalau cowoknya seganteng Mas, dia enggak bakalan nolak, Dek.”
Fanni terkesiap atas pengakuan suaminya itu. Ia menggeleng, menolak dan tidak setuju.
“Kok kamu gitu mukanya? Kayak jijik sama Mas?” tanya Arlan sembari berdecak kesal.
“Iyalah! Kamunya aja enggak ganteng, sok ngaku-ngaku!”
Arlan mendekatkan wajahnya pada sang istri. Ia menatap kedua manik mata Fanni dengan serius, tetapi berekspresi datar. Sedangkan, hatinya berdesir-desir tidak karuan. Istrinya selalu cantik, bahkan semakin bertambah setiap harinya, membuat gejolak aneh dari dalam dirinya selalu muncul setiap kali bersama.
“Apaan sih?” tanya Fanni setelah mendapatkan perlakuan berikut tatapan itu dari seorang Arlan Mahendra.
“Kamu cantik, Dek!” jawab pria itu dengan cepat.
“Emang!”
“Dih ....”
“A-apa?”
“PD banget!”
“Emang kamu aja yang boleh PD?”
Arlan tertawa. Menggoda Fanni masih saja menjadi kebiasaan yang ia sukai. Terlebih, ketika sampai membuat istrinya itu berona merah. Rasa gemas ingin menggigit selalu datang memenuhi hatinya.
“Dek, ini kan hari libur,” ucap Arlan beberapa detik kemudian.
“Terus?” tanya Fanni.
“Kita nambah lagi, ya?”
“Apanya?”
“....”
"Mm ... nanti malam aku ada janji sama Lita, Mas."
"Ya Allah, Dek, dia lagi aja sih!"
"Kamu telat sih."
Arlan menghela napas, lalu mendesis panjang sarat dengan kekesalan.
****
JANGAN LUPA JEJAK JEMPOLNYA.
__ADS_1