
“Tapi, ... membuat dia jatuh cinta padaku, enggak mudah. Terlepas dari kenyamananku sama dia, aku beneran suka sama dia. Aku yakin sama perasaanku sendiri.”
Episode 22-Kekhawatiran
Baru saja, memasuki rumahnya selepas bertemu dengan Jelita, Arlan sudah mendudukkan dirinya dengan perasaan yang masih diliputi kegusaran. Perihal masalah yang tentunya dihadapi gadis perancang itu, masih dipikirkan olehnya. Meski sebenarnya, ia sangat ingin melupakan saja, tetapi justru membuat kekhawatirannya mencuat semakin besar.
Fanni—istri Arlan—yang baru saja turun dari lantai dua bersama Aksa—putra ketiga mereka—kini menjadi heran. Dahinya berkerut samar, dengan rasa penasaran yang begitu kuat mencengkeram hatinya. Wanita blasteran Belanda itu, berangsur duduk di sebuah kursi tamu yang dekat dengan posisi sang suami.
Kedua bola mata biru Fanni menatap Arlan, seolah sedang mencari jawaban atas rasa penasaran. Detik berikutnya, ia mulai bersuara. “Ada apa, Mas? Kok pulang-pulang udah ditekuk gitu mukanya?” tanyanya.
Arlan mengarahkan pandang secara perlahan ke wajah istrinya. Kemudian, beralih pada sang putra. Pria itu lantas mengambil alih Aksa dari pangkuan Fanni. Kecupan-kecupan manis ia luncurkan pada kedua pipi bulat Aksa tanpa memperdulikan pertanyaan dari istrinya.
Fanni sedikit mendengkus. Bagaimana tidak, jika ia jatuhnya sedang tidak dipedulikan oleh Arlan. Cemburu pada anak, seringkali ia rasakan. Namun, karena anak sendiri tentu tidak membuatnya kesal dalam waktu yang lama.
“Mas!” seru Fanni, sudah tidak sabar.
Arlan tersentak detik itu juga. Ia menyudahi candanya dengan Aksa dan berangsur menatap Fanni. “Iya, Sayangkuuu,” jawabnya manis dengan bibirnya yang sengaja ia majukan agar Fanni merasa puas.
“Kenapa? Kamu dari mana? Jam segini baru pulang? Ini ‘kan hari sabtu!” tanya Fanni bertubi-tubi. Napasnya pun begitu memburu sebab kekesalannya belum bertepi.
Arlan tertawa kecil. Wajah masam sang istri justru ia anggap sebagai suatu sikap yang menggemaskan. Terlebih, jika ada warna cemburu pada wajah bule istrinya itu.
“Ih!” pekik Fanni semakin geram. Bahkan, ia meluncurkan cubitan cukup keras di lengan Arlan.
Tentu saja, ulah Fanni sukses membuat Arlan kesakitan sekaligus mendengkus kesal. Pria itu memasang wajah masam, juga kesal. Sementara, hatinya masih berniat menggoda istrinya. Ia mempermainkan rasa cemburu sekaligus penasaran istri bulenya itu.
Detik berikutnya, Fanni mengambil napas panjang dan kembali ia buang secara kasar melalui mulutnya. Tubuh gempalnya dibangunkan dari duduk kemudian ia mencoba merebut Aksa dari tangan Arlan.
“Malesin!” ucap Fanni. Setelah berhasil mengambil Aksa, ia segera mengambil langkah pergi. Langkah yang tegas menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Sudah malas bagi Fanni menatap Arlan yang seolah menutupi sesuatu itu, sementara dirinya diliputi kekhawatiran juga penasaran yang sudah membumbung tinggi sekali.
Arlan tertegun menatap punggung sang istri yang berlalu pergi. “Mati aku!” ucapnya sembari menepuk dahi. Sebab, baru ia sadari bahwa Fanni sudah benar-benar marah.
Layaknya para istri kebanyakan, tentu andalan paling diutamakan yaitu ngambek. Butuh beberapa jam bagi Fanni untuk menenangkan diri agar bisa kembali berbicara dengan suaminya. Mengingat kebiasaan istrinya itu, Arlan reflek menelan saliva. Dengan gerak cepat, ia bangkit dari duduknya. Langkahnya pun diambil secara tergesa menuju lantai dua.
Langkah Arlan terhenti tepat di hadapan kamar kedua putrinya. Ia membuka knop pintu kamar itu secara pelan. Ada kelegaan di hatinya, sebab kedua putrinya begitu pulas dalam tidur dan terlihat begitu rukun. Melihat itu, ada kedamaian tersendiri dalam hatinya. Namun, ia menjadi gusar tatkala mengingat nasib Nur Imran—pengusaha besar sekaligus ayah dari Jelita—yang merupakan rekan bisnisnya.
Arlan menghela napas dalam. “Jelita emang harus sembuh, anak-anak itu harus sembuh. Kalau enggak, Pak Nur enggak bakal bisa tenang,” gumamnya. Kemudian, ia menutup kembali pintu kamar milik kedua putrinya.
Lalu, Arlan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar lain yang merupakan kamar pribadinya bersama Fanni.
Sayangnya, ketika pria 48 tahun itu hendak membuka pintu, justru tidak bisa. Arlan menelan saliva karena menyadari istrinya sengaja mengunci diri. Dengan cepat, ia mengetuk pintu dan merayu-rayu layaknya biasa.
__ADS_1
“Sayang, buka dong. Mas kangen lho, kamu enggak kangen Mas?” ucap Arlan.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Benar-benar, hening.
“Dek, ayolah. Mas baru pulang kerja lho, tega banget kamu, Dek?” Arlan masih terus merayu Fanni, dengan ketukan yang belum ia sudahi.
“Enggak mau! Tidur di kamar tamu aja, sana!” sahut Fanni dari dalam.
“Dek, kamu kok marah sih? Mas bawa makanan enak itu, buka dulu. Makan dulu, Dek.”
“Kamu yang bikin, kamu yang nanya?! Dan enggak mau, aku masih kenyang. Buat anak-anak aja!”
“Iya, iya, maaf. Dek? Ada gosip baru nih.”
Mata Fanni reflek membelalak.
“Dek, buka dulu, Mas jelasin.”
Beberapa detik kemudian, pintu kamar itu berangsur dibuka oleh Fanni. Tentu saja, membuat Arlan merasa lega. Karena Aksa sudah berada di atas ranjang, Arlan segera memeluk tubuh gempal istrinya itu. Ia menarik pinggang Fanni penuh mesra, dan dikecupnya bibir bahkan sekujur wajah sang istri.
“Aku tuh khawatir sama kamu, Mas! Pulang-pulang udah jutek gitu. Eh, bukannya dijawab malah seolah nutupin sesuatu. Kamu suka ngeselin!” omel Fanni setelah kemesraan sederhana terjadi.
Arlan tersenyum lebar. Disentilnya hidung Fanni yang panjang. “Iya, iya, maaf, Sayang. Hmm ... emak-emak mah suka ngambekan. Sabar dikit kenapa, Dek?” jawab Arlan.
Arlan melepaskan rengkuhan tangannya dari tubuh Fanni. Kemudian, ia mengajak Fanni untuk menghampiri Aksa di ranjang kamar. Setelah keduanya duduk, dimulailah sebuah cerita tentang Jelita oleh pria itu. Semua yang ia bicarakan ketika makan siang tadi, juga kekhawatirannya mengenai gadis itu.
“Nah, kamu ‘kan deket sama bocah itu, Sayang. Jadi, kasih beberapa saran dukungan. Mas ‘kan jarang ketemu dan enggak tega juga sama Pak Nur,” ucap Arlan sesaat setelah menyelesaikan ceritanya.
Fanni menghela napas dalam. Kemudian, ia berkata, “aku pikir dia udah baik-baik aja, Mas. Dan bener kata kamu, dia udah berani pakai nama Jeli. Anak itu juga ceria banget. Tenyata, luka masa lalu dan kekhawatirannya masih ada.” Ia menggenggam tangan Arlan. “Aku selalu siap ngasih dukungan buat dia kok, Mas.”
“Hmm ... istri Mas emang luar biasa.”
Sepasang suami dan istri itu, kembali melakukan hal mesra. Juga, Fanni kini meminta makanan yang sempat Arlan tawarkan. Hal itu membuat sang suami tertawa sebab gengsi yang berubah menjadi keinginan dari istrinya.
****
Jelita menelan saliva sesaat setelah melakukan pencarian seputar anorexia juga bulimia. Kekhawatirannya muncul sebab ada tanda-tanda yang terjadi pada dirinya. Selama ini ia sengaja makan dalam jumlah sedikit, bahkan sering terlupa. Juga, menu yang ia pilih adalah menu-menu yang rendah lemak.
“Apa aku bener-bener mengidap penyakit ini?” gumam gadis itu penuh tanya.
“Tapi, aku enggak pernah sengaja muntahin apa yang aku makan kok! Aku cuma makan sedikit,” tepisnya lagi.
__ADS_1
Jelita mengusap wajahnya dengan helaan napas yang dalam. Sudah trauma, bagaimana jika ia mengidap penyakit itu? Dan efek yang terjadi pasti akan berat sekali. Beberapa gambar para pengidap terpampang nyata di artikel yang baru ia baca. Mereka mengalami penyusutan berat badan dan hanya tinggal tulang dan kulit. Bukankah, jika ia masih sengaja bersantap dalam jumlah sedikit ada kemungkinan mengalami hal itu?
“Enggak, enggak, enggak! Gue masih waras, selama ini gue enggak pernah muntah!” ucap Jelita sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kendati mencoba menepis kemungkinan yang terjadi, tetap saja hatinya tidak tenang. Bahkan, jika benar tanda-tanda pada dirinya adalah gejala anorexia, bagaimana ia akan menghadapinya? Sedangkan, traumanya tentang masa lalu masih saja mengunci dirinya.
“Cuma sama Kak Reza, aku bisa makan dengan tenang.” Jelita berangsur meletakkan kepalanya pada papan meja. “Tapi, ... membuat dia jatuh cinta padaku, enggak mudah. Terlepas dari kenyamananku sama dia, aku beneran suka sama dia. Aku yakin sama perasaanku sendiri.”
Mata Jelita terpejam, sembari mengingat wajah sang pengacara yang ia puja. Hatinya perlahan terluka, sebab belum ada respon dari Reza mengenai perasaannya. Haruskah ia mengikuti saran dari Arlan? Namun, jika ia merasa rindu, bagaimana?
“Kak?” Tiba-tiba suara Jane terdengar memanggil. Adik dari Jelita itu memasuki kamar di mana Jelita berada saat ini.
Kehadiran Jane membuat Jelita benar-benar terkejut. Ia membuka mata, membangkitkan badannya dan reflek menutup laptop tanpa dimatikan terlebih dahulu. Jelita takut jika Jane tahu perihal penyakit yang saat ini ia gusarkan menimpa dirinya sendiri.
Jane menjadi mengernyitkan dahi, sebab heran karena sikap spontan dari sang kakak.
“Jane, udah pulang?” tanya Jelita sesaat setelah bangkit dari duduk dan menghampiri adiknya itu.
Jane berangsur mengangguk. “Iya, Kak. Kakak kok udah di rumah?” tanyanya, kedua matanya masih mengintip ke arah meja di mana laptop Jelita berada.
“Mm ... hari ini Kakak tutup butik lebih awal.” Jelita menarik lengan Jane dan membawanya duduk di tepian ranjang.
Sepasang adik dan kakak itu kompak tersenyum, sesaat setelah menduduki ranjang empuk di kamar itu.
“Tumben? Biasanya Kakak sering lembur?” tanya Jane.
Jelita menggigit bibir bawahnya. “Mm ... pengen aja, Dek. Lagian, ada satu rancangan yang mau Kakak selesain,” jawabnya kemudian.
“Udah laku?”
“Mamanya Reza.”
“Kakak masih ngejar dia?”
Jelita mengusap tengkuknya, sebab rasa malu meliputi hatinya. Sejauh pendekatannya dengan Reza, ia memang kerap menceritakannya pada Jane.
Tiba-tiba, Jane mendesis. “Sekalinya jatuh cinta, nyampe begini. Udahlah, Kak, kalau dia enggak mau cari yang lain aja!”
“Enggak, Jane,” jawab Jelita.
Jane hanya berdecak, seiring gelengan kepala yang ia ambil. Melihat Jelita yang justru tersenyum-senyum sendiri, membuatnya sedikit geli. Entah, apa sebenarnya yang kakaknya itu lihat dari sosok Reza. Bahkan, segi visual saja, pria itu tidak terlalu tampan. Terbilang gemuk, meski parasnya cukup imut. Namun jika melihat kecantikan Jelita saat ini, bukankah Jelita bisa mendapatkan yang lebih dari seorang Reza?
__ADS_1
****
Jangan lupa jempolnya.