
“Ngawur kamu, Will! Enggaklah, Om kuat iman!”
Episode 74-Cerdas dan Hati-hati
Kedua orang pria sama-sama mengendarai mobil secara beriringan. Pihak pertama tidak mengetahui pihak kedua yang membuntuti. Melainkan Arlan yang baru saja hendak menuju Cendana Sanjaya—Cluster tersangka teror pada Nur Imran—yang baru ia ketahui tempat tinggal lama dari pelaku itu.
Sementara di mobil kedua ada William yang tidak sengaja sempat melihat Arlan keluar dari sebuah restoran siang ini. Tak lama setelah pamannya itu keluar, ada Nur Imran yang mengikuti. Oleh sebab itu muncul rasa penasaran tersendiri atas pertemuan kedua pria paruh baya tersebut. Akhirnya, William ada pada keadaan sekarang—yang mana membuntuti pamannya itu.
Lima menit berselang, Arlan tampak menghentikan mobilnya di depan rumah besar dengan gerbang unik—pedang yang tersusun rapi. Kemudian, pria itu lantas turun dan memperhatikan rumah tersebut. William tidak tinggal diam. Ia segera mengikuti pamannya sebelum terlambat dan tidak diizinkan akses masuk.
“Om!” seru William pada Arlan sesaat setelah turun dari mobilnya.
Tentu saja, Arlan terkejut. Seperti biasanya, matanya membelalak. Detik berikutnya, dahinya yang masih kencang justru dikerutkan.
“Ngapain kamu?” tanya Arlan pada keponakannya itu setelah sampai di hadapannya.
William tersenyum getir sembari menahan rasa sungkan. “Mau bantu-bantu, Om, hehe.” Ia menyengir ragu.
“Kamu pikir Om mau pasang kanopi apa?”
“Lah, Om, pelit deh. Siapa tahu tenaga Willi diperlukan kok, pasang-pasang genteng misal.”
Arlan berdecak, sembari bergeleng-geleng. Bagaimana tidak, William semakin berani saja bahkan tidak ada rasa sungkan seperti sedia kala. Dan herannya hanya padanya. Sementara ketika berada di kediaman keluarga besar Harsono yang juga keluarganya, William seolah-olah enggan, bahkan sempat ingin melarikan diri.
Pada saat William memasang wajah memelas, akhirnya Arlan menyerah atas egonya sendiri, meski ia cemas jika si pelaku ada di dalam rumah itu dan bisa saja membahayakan William. Namun, akan lebih sulit jika William tetap bersikeras. Yang ada keponakannya itu akan mengganggu, atau mungkin menyerang tanpa strategi terlebih dahulu.
Pria yang merupakan ayah dari tiga anak itu lantas menghela napas cukup berat. Sedetik kemudian, ia berkata, “Ya udah. Tapi, ... kamu di belakang Om aja, jangan nyampe lepas, Willi. Om nggak tahu orang itu ada di rumah ini nggak, tapi kita emang harus waspada.”
“Orang itu? Siapa?” tanya William.
“Tersangka. Om barusan denger dari Pak Nur, kayaknya kamu juga buntutin dari sana, 'kan? Nggak mungkin kalau nggak lihat Pak Nur, kamu asal ikut aja.”
William menyeringis sembari menggaruk kepalanya. Ya, adik dari ayahnya itu memang luar biasa cerdas. Tidak aneh baginya jika Arlan bisa memberikan duga atas apa yang ia lakukan.
Sekitar satu menit setelah memikirkan strategi, Arlan melaju kakinya diiringi langkah William dari belakang. Kemudian, sebuah tombol gerbang terbingkai kayu pahatan ia tekan. Satu kali tidak ada jawaban, Arlan melakukannya berkali-kali.
Tak lama setelah itu, gerbang itu terbuka sendiri. Mungkin saja tombol pengendali terpasang di bagian dalam rumah. Arlan dan William melanjutkan misi dengan cara masuk ke dalam. Kendati sejujurnya jantung mereka dibuat seperti sedang menaiki roller coaster, sungguh dibuat berdegup tidak keruan.
“Om, ... Pak Nur tahu Om ke sini?” tanya William dengan berbisik.
Arlan menggeleng. “Nggak, beliau hanya cerita, selebihnya minta saran aja. Jangan bicara macem-macem kamu, ya, sama Jeli atau tantemu. Mereka bisa khawatir,” jelasnya.
“Iya, Om, Willi paham.”
Entah, hanya itu yang bisa William katakan, meski sebenarnya ia tidak memahami pamannya itu. Bagaimana tidak, Arlan justru hendak mempertaruhkan nyawa demi keluarga yang bahkan tidak ada hubungan darah. Mengapa? Se-dekat itukah Arlan dan Nur Imran? Ataupun pada Jelita? William merasa penasaran, tetapi ia harus menahan. Sebelum ini, ia hanya tahu jika Jelita dekat dengan Fanni. Yang mana ia pikir hanya kedekatan sepasang sahabat saja.
Beralih pada misi mereka, ketika keduanya hampir sampai di teras rumah itu, tampak seorang wanita berusia kisaran tiga puluh tahunan. Ia tampak melipat kedua tangan ke depan dengan raut angkuh. Namun itu baru visual, yang mana sifat asli belum ketahuan.
“Permisi, Nona,” sapa Arlan dengan santun. Ia tidak memberikan salam islam, karena mendapati liontin salib di leher wanita itu.
Wanita yang sepertinya pemilik rumah lantas menurunkan tangannya sembari menghela napas. “Ada apa ya, Pak?” tanyanya.
“Begini, Nona, mohon maaf sebelumnya jika saya mengganggu. Tapi, apakah benar ini rumahnya Saudara Dery?”
“Haduh, bukan, Pak. Beliau pemilik lama yang mana rumah ini dijual pada saya. Kenapa ya? Maaf, Pak, Mas, emang enggak cari informasi terlebih dahulu ya?”
__ADS_1
Arlan terdiam, tidak enak hati.
“Begini ya, Pak, saya bukannya nggak mau nerima tamu sih. Malahan saya bukakan gerbang itu, tapi ini udah keempat kalinya orang-orang asing datang kemari menanyakan perihal Dery. Jujur saya merasa terganggu, Pak. Sebenarnya kalian ini apa dan sedang apa? Apa kalian komplotan mafia? Setelah ini saya nggak bisa kasih akses masuk lagi pada anggota kalian kalau nanti justru keluarga saya ikut dilibatkan loh.”
Arlan dan William terkesiap atas dugaan wanita itu. Namun rasa itu tidak berlangsung lama lantaran cukup mengerti. Jika sudah empat kali ada tamu asing datang, tentu saja wanita itu wajar merasa khawatir. Ketika diamati lagi, tak ada petugas keamanan. Tampaknya memang benar, Dery telah menjual rumah itu padanya.
Dengan tenang, Arlan mengulas senyuman. Ia merunduk rendah, setelah itu berkata, “Mohon maaf atas keteledoran kami, Nona. Kami hanya ingin mencari informasi perihal keberadaan Saudara Dery saja. Kami benar-benar tidak mengetahui jika rumah ini telah dijual pada Nona oleh Saudara Dery.”
Wanita itu menghela napas. Sikap Arlan yang begitu sopan membuatnya sedikit tidak enak hati. Sementara otaknya justru menciptakan duga. Sudah pasti ada sesuatu hal mengenai Dery, yang mana membuat kelima orang itu kewalahan dalam mencari.
Jika Dery melakukan suatu kejahatan, alangkah sinisnya dirinya jika tidak memberikan sedikit bantuan. Terlebih, ketika wanita itu teringat orang pertama merupakan seorang pengacara, orang kedua adalah sekretaris dari pengusaha besar, ketiga nona cantik—putri kedua dari pengusaha besar itu sendiri.
“Boleh tunjukkan kartu nama?” tawar sang pemilik rumah pada Arlan.
Arlan tersenyum santun sembari meraih dompetnya dari kantong celana. Setelah itu, ia mengambil satu lembar kartu namanya dan menyerahkan pada wanita tersebut.
“Salah satu direktur Sanjaya Group?”
Arlan mengangguk pelan. “Benar, Nona,” jawabnya.
“Apa Anda merupakan kelega suami saya? Atas nama Edo Sebastian.”
Arlan terdiam, mengingat-ingat nama berikut Edo Sebastian.
“Saya yang mengenal Tuan Edo, Nyonya,” celetuk William dari belakang.
Wanita itu lantas mengernyitkan dahi. “Kamu siapa?”
“Asiste—”
Arlan memotong ucapan William. “Dia William Anderson, penerus berikutnya Harsun Group.”
Akhirnya Jenny memberikan izin masuk pada kedua pria beda usia itu. Tadinya, ia memang kesal, tetapi setelah tahu bahwa kedua pria itu bukan orang sembarangan tampaknya memang ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
Jenny berpikir ia akan menjadi manusia paling jahat, jika masih bersikeras pada rasa kesalnya. Setidaknya untuk informasi saja, selebihnya tentu tidak akan ia berikan. Apalagi ada anak dan suami yang perlu ia lindungi.
“Silakan duduk, saya akan panggilkan beliau. Kemudian, kalian bisa berbincang,” ucap Jenny. Tanpa menunggu jawaban, ia lantas pergi.
William menghela napas lega sesaat setelah mendudukkan dirinya.
“Om!” seru pria muda itu pada pamannya. “Jangan kepincut, nanti tante jadi monster hehe,” candanya.
“Ngawur kamu, Will! Enggaklah, Om kuat iman!” tandasnya sembari duduk di samping keponakannya.
“Eh, tapi sexy lho, Om. Cantik lagi.”
“Hus!” Arlan mengusap wajah William sedikit kasar. “Jangan kenceng-kenceng!”
“Sexy, nggak?”
“Iya sih.”
William tergelak spontan. Tawanya cukup keras sampai dibungkam oleh Arlan.
“Sssttt! Bocah ngawur!” omel Arlan.
__ADS_1
William menahan tawa mati-matian. “Kuat iman katanya hahaha.”
“Kuat! Kan kamu tanya, makanya Om jawab sesuai fakta.”
“Willi bilangin tante, ya?”
“Gue hajar loe!”
“Bodo'!”
“Hus! Janganlah, Will, mau bikin saya duda dua kali?”
“Amit-amit, Om! Janganlah! Kan siapa tahu mau nambah istri bukan duda lagi.”
“Nggak bakal, Om setia orangnya. Dan lagi ngurus satu istri aja ngomel melulu.”
William terkekeh lagi. Sayangnya, seorang wanita paruh baya justru muncul sembari membawa nampan berisi air mineral.
Melihat itu, Arlan berbisik, “Jangan minum dulu. Om masih nggak yakin kalau wanita itu nggak tahu apa-apa. Buat mencegah resiko, jangan sembarangan minum atau makan.”
William mengangguk paham. “Iya, Om.”
Wanita paruh baya itu mempersilakan William dan Arlan untuk mencicip hidangan berupa air mineral dan sepiring biskuit. Namun kedua pria itu hanya memberikan anggukan, bukan menyantap hidangan itu. Tentu saja, sebab Arlan masih harus waspada dalam situasi seperti sekarang. Bukan niat hati ingin berprasangka buruk, tetapi keberadaan Dery masih menjadi tanda tanya. Bisa saja, Dery ada di rumah itu dan sedang merencanakan sesuatu.
“Jadi, Anda- Anda ini mau mengetahui keberadaan Dery?” tanya Wanita yang sepertinya seorang asisten rumah tangga. Parasnya begitu ragu, gurat cemas tampak di sana.
Sebenarnya heran, tetapi Arlan lantas mengangguk ketika teringat bahwa Jenny hendak memanggilkan seseorang. “Benar, Bu, saya dan saudara saya ini,” jawabnya.
“Saya Asih, Pak, Mas. Pembantu di sini semenjak Dery jadi pemilik rumah ini. Saya bersyukur Non Jenny bersedia menahan saya untuk bekerja di sini.”
“Saya sendiri Arlan, dan ini keponakan saya—William.”
“Wah, sepertinya orang besar ya, Pak. Hmm ... sebenarnya saya sangat heran kenapa orang-orang besar mencari keberadaan Dery. Tapi, mereka tetap menjawab ada urusan yang berkaitan dengan nyawa. Sebenarnya, ada apa ya, Pak?”
Arlan menelan saliva. Membeberkan kebenaran bukanlah sesuatu yang tepat. Namun ....
“Apa benar Ibu Asih merupakan asisten rumah tangga Saudara Dery?”
Asih tercekat. “Be-benar kok, Pak.”
“Iyakah?”
Wanita paruh baya itu menelan saliva.
“Kalau memang benar, secara reflek seseorang atau mungkin sudah kebiasaan, Ibu harusnya memanggil Saudara Dery dengan Pak, Mas, Tuan, Aden atau semacamnya, 'kan?” sela William atas keanehan itu.
Asih terdesak. Kepekaan William dan Arlan mengingatkannya pada pria tambun yang telah ia temui atas nama Reza Amdan Nugraha. Herannya, mereka bertiga tahu lewat kesalahan sekecil itu. Sialnya, Asih justru lupa memperbaiki penyebutan untuk Dery.
“Anda ini siapanya Saudara Dery?” tanya Arlan.
Meski samar, Jenny mendengar dari lantai kedua. “Asih? Apa aku melakukan kesalahan? Pria itu benar, jadi Asih ini siapanya Dery? Kalau ada keterlibatan, aku dan keluargaku sudah dibohongi?”
Di sisi lain, nun jauh, Reza sudah berada di suatu tempat. Atas pengakuannya sebagai teman dekat dari Dery, ia bisa mendapatkan informasi dari Asih. Dan sebagai tamu pertama yang datang, tentu tidak ada rasa curiga yang diberikan padanya. Kendati ia tidak mendapatkan apa dan siapa Asih bagi Dery.
****
__ADS_1
Wah, siapa yang bakal tangkep Dery nih? Reza, Anhar, Jane, Arlan atau William.
Reza dan Arlan+William sadar loh sama sikap Asih. Tapi, Asih ini siapa yah? Eh, jangan-jangan Jenny juga masuk bahaya nih? Tokoh baru, kan kasihan. T_T