
“Luar biasa! Nona muda, Bro Eja! Jangan sia-siain, kalau enggak mau buat gue aja!”
Episode 18-Makan Malam
Acara syukuran kecil digelar untuk merayakan keberhasilan Reza. Di dalam suatu restoran, para rekannya berkumpul. Juga, sajian khas Indonesia menjadi menu andalan untuk bersantap malam itu.
“Selalu membanggakan kamu, Za. Om bangga sama kamu,” ucap Alif sembari melebarkan senyumnya, tidak peduli mulutnya telah terisi penuh akan nasi juga ayam goreng.
“Makasih, Om. Kan juga bantuan kalian semua,” jawab Reza malu-malu.
Salah satu rekan Reza bernama Budi, memberikan cibiran kecil. “Karir bagus, bisa nih cepet-cepet lamar si Neng Geulis,” kelakarnya.
“Enggak, Bud. Kami hanya berteman.”
Deby—rekan Reza yang lain menyahuti, “kamu yang terlalu sok jual mahal, Za! Dia kelihatan banget suka sama kamu.”
Reza tersenyum. “Belum tentu, Deb. Secara dia cantik dan kaya raya, masa' suka sama gue yang kayak monster begini.”
“Halah, Za! Pemikiran kolot itu, cewek butuh yang nyaman zaman sekarang, bukan yang tampan!” sela Nisa.
Reza menghela napas. “Tapi kalau dia terlalu sempurna buat gue, Nis. Kalian tahu ‘kan dia siapa?”
“Selebgram yang anaknya konglomerat nomor dua se-Indo setelah pembisnis Celvin Sanjaya itu, ‘kan?” Tanpa mengubah sikap, Luky bertanya perihal Jelita sesuai apa yang ia ketahui.
Budi terkesiap. “Si-siapa?” tanyanya.
“Nona Jelita. Gebetannya si Bos Eja, Bud. Anaknya Nur Imran yang punya pabrik makanan terbesar itu lho,” sahut Deby.
Reza mendesis. “Udah gue bilang, kami hanya teman.”
“Luar biasa! Nona muda, Bro Eja! Jangan sia-siain, kalau enggak mau buat gue aja!” Budi masih berdecak heran karena status gadis yang memuja rekannya itu. Bagaimana tidak, ia pikir hanya gadis biasa, mungkin sedikit terkenal di sosial media. Namun, tanpa ia duga, status Jelita lebih dari itu, melainkan pewaris kekayaan dari konglomerat besar berikut Nur Imran.
“Emangnya dia mau sama loe, Bud?” ucap Nisa.
Tawa pun pecah.
Sementara, Alif—selaku CEO dari forum yang menaungi mereka—kini hanya tersenyum sekaligus bergeleng-geleng. Semua bawahannya sudah seperti adik-adiknya sendiri. Celoteh-celoteh mereka cukup membuatnya bahagia.
Suasana semakin hangat karena keakraban itu. Bukan hanya sebagai acara syukur berkat selesainya kasus demi kasus, melainkan melepas penat karena otak terlalu dipacu keras. Namun, ada satu hal yang Alif sembunyikan saat ini. Sesuatu yang membuatnya gusar sebab belum ada tanda-tandanya kemunculan.
Alif : Nona sudah sampai mana?
Sebuah pesan singkat, Alif kirimkan pada nomor ponsel milik designer cantik. Kemudian, tanpa perlu menunggu lama, ada balasan dari pesan yang ia kirim.
Nona Jeli : Di luar restoran, Pak. Banyak orang, sepertinya mengenali saya. Saya tunggu sampai sepi dulu.
Alif manggut-manggut. Benar, ia baru teringat status Jelita sebagai selebgram papan atas. Tidak boleh sembarangan bagi gadis itu untuk menyinggahi sebuah tempat. Dan saat ini, restoran tempat dirinya dan para bawahannya berada memang cukup ramai. Meski, berada dalam bilik khusus, tetap saja restoran tersebut masih banyak disinggahi kaum-kaum biasa.
Kembali, Alif mengetikkan sebuah pesan.
__ADS_1
Alif : Perlu kami jemput, Nona?
Balasan pun kembali Alif dapat.
Nona Jeli : Enggak perlu, Pak. Saya membawa masker dan topi. Keadaan juga mulai lengang.
Alif : Baiklah, kami tunggu di sini. Mas-mu masih belum tahu.
Nona Jeli : Terima kasih, Pak.
Alif menghela napas lega. Senyum pun kembali ia ulas di bibir yang sudah dikelilingi keriput. Rencananya untuk membuat sang keponakan berikut Reza akan berjalan dengan lancar. Sama halnya dengan ibunda Reza, Alif sangat setuju jika Reza dan Jelita bersatu—menjalin hubungan lebih dari kata teman. Namun, bagi Alif bukan karena status Jelita sebagai nona muda, melainkan sifat gadis itu yang baik dan lembut.
“Om? Kenapa senyum-senyum?” tanya Reza heran sebab adik dari ibunya itu sejak tadi terlihat larut dalam dunia sendiri.
Alif berangsur menatap Reza. Kemudian, ia berkata, “senyum itu ibadah, Za. Emangnya salah?”
“Ya enggak sih. Cuma agak aneh aja, yang lain pada becanda, sedangkan Om malah senyum-senyum sendiri. Sambil main HP lagi, mau Reza aduin ke Tante Rita?”
“Heh! Sembarangan kamu. Lagian Om enggak macem-macem kok.”
“Terus?”
Alif mengarahkan pandang pada tangga. Lalu, ia menunjuk ke arah pandangannya. “Lihat, siapa yang datang. Hadiah buat kamu, Za!” ucapnya, sesaat setelah Jelita nampak di sana.
Reza langsung terkesiap, bahkan para rekannya. Mata mereka menatap ke arah Jelita yang tengah berjalan anggun menghampiri kebersamaan. Tampilan modis dengan gaun manis berwarna kuning kunyit tanpa corak, tas selempang kecil serta flat shoes membalut tubuh gadis itu. Semakin mendekat, semakin jelas pula wajahnya yang imut dengan polesan make-up natural tetapi tetap menawan, sesaat setelah melepas masker dan topi.
Jelita mengulas senyuman. “Selamat malam,” sapanya.
“Mm ... boleh saya gabung?”
“Boleh,” jawab para pria kecuali Alif, sembari kompak mengangguk. Berikut Reza, Luky, Budi menelan saliva karena rasa terpana sebab kecantikan sang nona muda.
Nisa mendesis, matanya mengamati wajah para rekan prianya. Kemudian, ia menggeleng. “Melek, Woe!” serunya.
Reza, Budi dan Luky tersentak. Mereka segera mengerjabkan mata juga menggelengkan kepala.
“Punya Bos Eja, woe, Bud, Luk!” seru Deby memperingatkan kedua rekan prianya.
Budi menggaruk kepala, meski tidak merasa gatal. “Ck, cakep banget,” lirihnya.
“Ja, beruntung loe!” ucap Luky sembari menyenggol lengan Reza.
Detik itu, Reza menjadi salah tingkah. Bukan karena celoteh dari para rekannya, melainkan kecantikan Jelita yang malam ini sungguh luar biasa. Hatinya berdesir, jantungnya berdebar-debar. Hampir sama seperti pertemuan awal dengan Jelita, ia sama sekali tidak sanggup menatap wajah gadis itu.
Karena memiliki kepekaan, Deby memilih bergeser. Wanita yang memiliki anak satu itu, memberikan ruang kosong di antara dirinya dan Reza, untuk Jelita. Tentu saja, dengan niat agar Jelita berada di dekat Reza.
“Silakan, Nona, jangan sungkan,” ucap Deby sopan.
Jelita tersenyum, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih,” jawabnya.
__ADS_1
Reza menjadi gelisah sendiri. Menatap wajah Jelita saja tidak sanggup, dan ia justru didekatkan dengan gadis itu. Rasanya, jantungnya ingin meledak detik itu juga.
“Oke!” seru Alif. “Karena, Nona Jeli sudah datang, kita pesankan menu baru. Mungkin ada yang ingin Nona pesan?”
Jelita tak langsung menyahut. Ia justru menelan saliva, sembari menatap makanan-makanan di atas meja dengan gusar. Semua serba berlemak. Baru-baru ini, berat badannya naik lagi. Sebab terlalu fokus mengejar cinta Reza, Jelita melupakan olahraganya juga pola makannya. Pun hanya naik satu kilogram, tetap membuat hatinya tidak tenang. Kenangan masa lalu kembali teringat di benaknya.
Mendapati Jelita yang justru bergeming, Reza menyadari sesuatu. Ia yang cukup mengenal Jelita, tahu apa yang tengah gadis itu khawatirkan. Kemudian, diam-diam Reza menyentuh telapak tangan Jelita yang berada di sampingnya.
“Jangan takut, Dek,” bisik Reza.
Jelita menelan saliva. Matanya berangsur menatap Reza. Bingung menjadi rasa yang mendera hatinya, seiring gemetar yang saat ini menyerang tubuhnya.
Reza berdeham. “Bo-boleh kami mencari tempat sendiri?” tanyanya pada Alif sekaligus para rekan.
Mereka saling menatap. Namun, senyum melebar satu detik kemudian.
“Tentu saja boleh!” seru Nisa penuh semangat.
“Bawa, Ja! Semoga lancar,” tambah Deby.
Budi berdecak. “Baru mau direbut, udah mau diresmiin aja. Loe enggak ada gitu kasih kesempatan buat bersaing, Ja?” tanyanya.
Reza tersenyum, menutupi rasa malunya saat ini. Sebenarnya, ia hanya ingin melindungi Jelita bukan ada maksud selain itu. Sebab, jika para rekan juga Alif tahu jika Jelita menderita trauma, tentu saja respon mereka akan berbeda.
“Pamit dulu ya, Om. Maaf,” pamit Reza sembari menarik pelan tangan Jelita.
Alif mengulas senyum. “Lancar, Za!”
Kemudian, Reza mengambil langkah sembari menggandeng tangan gadis perancang itu. Masih dalam keadaan terkesiap, Jelita hanya menurut tanpa memberikan penolakan. Di mata Jelita, saat ini Reza justru terlihat gagah. Tanpa kode berlebihan, tanpa ia minta, pria itu bergerak lebih cepat dari dugaan.
Terima kasih, Kak Reza.
Langkah Reza terhenti. “Banyak orang, Dek. Kamu?”
“Aku bawa masker dan topi, Kak. Kakak juga tahu kalau aku bakal ....”
“Tentu, kamu ‘kan terkenal. Ya udah, cepet pakai dan Kakak bawa kamu ke tempat yang lebih nyaman dan aman, Dek.”
Hati Jelita berdesir. Haru menyelimuti hatinya itu. Tanpa terasa ada setetes air mata yang mengalir membasahi pipi kirinya. Hal itu membuat Reza mengernyit heran.
“Kok malah nangis? Kamu enggak apa-apa, ‘kan? Kamu inget masa lalu lagi?” tanya Reza.
Jelita segera mengusap air matanya. Kemudian, ia memakai masker dan topi. Direngkuhnya lengan Reza. Langkah pun diambil bersama.
“Terima kasih, Kak,” lirih Jelita.
Reza berangsur mengulas senyum di bibirnya.
****
__ADS_1
Uwuuuuu enggak sih, Guys? Komen ya, kalau kurang aku tambahin besok. heheheh
Jangan lupa jempulnya, ya.