Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 4-Jangan Lagi (Bonus)


__ADS_3

“Siapa tahu, cowok ganteng itu banyak cobaan. Kalau nggak kuat, pasti ya gitu ....”


Episode 4-Jangan Lagi (Bonus)


Pria yang telah menjadi tampan mandraguna itu tengah duduk tepat di hadapan Tuan Putri yang cantik layaknya namanya. Tentu saja Reza dan tak lain tak bukan Jelita. Mereka sama-sama memangku dagu dengan menggunakan tangan beralasan papan meja. Tatapan saling bertaut seolah hendak melakukan pertandingan lempar lihat.


Dan tak butuh lama, keduanya lantas tertawa terbahak-bahak. Memang tidak ada yang lucu, tetapi justru menjadi sumber dari bentuk bahagia itu.


“Jeli masih kayak mimpi,” ucap Jelita sembari menyudahi tawanya.


"Kenapa?" tanya Reza.


“Kakak beda banget mukanya."


"Masa'? Nggak imut lagi berarti."


"Masih sih, tapi sekarang ditambah tampan!"


“Kamu masih anti tampan, Sayang?”


“Nggak tahu, cuma ....”


“Apa?”


“Kadang insicure sendiri.”


“Why? Kamu bahkan lebih cantik dan sangat kaya.”


“Nggak tahu.”


Melihat sang kekasih yang berangsur muram, tentu saja Reza menjadi terenyuh. Ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Jelita di tempat kerjanya. Maneken yang menghalangi Reza singkirkan agar bisa meletakkan sebuah kursi tanpa sandaran.


Tepat di samping Jelita, Reza duduk dan menyangka kepala menggunakan tangan masih beralas papan meja. Sedangkan matanya sibuk menelusuri setiap sudut wajah imut milik kekasihnya itu. Orang secantik Jelita, insicure padanya? Yang benar saja! Berikut yang Reza pikirkan.


“Kenapa malah ke sini? Jangan ganggu CEO lagi kerja!” ucap Jelita sok tegas dan galak.


Reza mengulas senyum. “Biarin, suka-suka,” jawabnya.


“Eee?!”


“Istirahat dulu, Sayang.” Reza merengkuh pinggang Jelita tanpa meminta persetujuan. “Kan ada pacar di sini, masa' mau sibuk sendiri sih?”


“Lepasin ini tapi, Kak! Takut ada yang dateng tahu!”


“Nggak peduli.”


“Ih kok gitu?”


“Because, i love you.”


“Apa hubungannya coba?”


“Intinya, i love you. Aku terlalu kangen sama kamu, Jel.”

__ADS_1


“Mm ...?”


Dilepasnya pelukan itu oleh Reza, tetapi tidak selesai begitu saja, ia justru menarik kepala Jelita dan didekap erat seolah takut kehilangan. Detik berikutnya, Reza menggumamkan lagu cinta dengan suara lembut sekaligus merdu. Jika saja dalam keadaan mengantuk, sudah pasti Jelita terlelap dalam tidur.


Kerinduan yang belum kelar memang masih menyelimuti mereka berdua. Tak mau berpisah, tetapi apa daya jika hubungan masih sebatas pacaran, bersama lebih lama pun tak mungkin, bukan?


“Jeli takut, dengan wajah tampan itu Kakak menjadi play boy,” ucap Jelita sembari melepaskan diri.


Reza tertawa kecil. “Mana ada aku kayak gitu?” katanya.


“Siapa tahu, cowok ganteng itu banyak cobaan. Kalau nggak kuat, pasti ya gitu ....”


“Ya gitu apa coba?”


“Genit!”


“Genit sama centil cocok kali.”


“Ih enggak! Jadi mau genit nih?”


“Mau.”


Jelita membelalak. Tak menyangka dengan jawaban Reza. Mendadak atmosfer yang mengelilingi benaknya menjadi kelabu. Juga rasa kesal yang turut memenuhi relung hatinya itu. .


Sementara Reza justru sibuk tersenyum-senyum, sembari sesekali menyentil hidung Jelita. Gemas. Apalagi jika bibir Jelita sampai bisa dikuncir dengan karet gelang.


“Mau genitnya sama kamu doang, jadi tenang aja,” ucap Reza menjelaskan kesalahpahaman yang ia buat sendiri.


Jelita terdiam, berekspresi datar, kemudian tersenyum malu-malu. Sikapnya itu membuat Reza berdecak. Mudah saja untuk menghalau pergi kekesalan di hati sang nona muda yang sekaligus perancang busana itu.


Jelita langsung menatap. “Mau banget!” jawabnya antusias.


“Ck ck ck, sok jual mahal dikit kek!”


“Nggak mau! Jeli nggak mau kehilangan kesempatan emas.”


“Hmm ... kalau gitu mau dicium?”


"En-enggak!”


“Juga kesempatan emas lho!”


“Nggak, Kak, Jeli nggak mau kalau kesem—”


Tak mau kehilangan kesempatan, Reza lantas menarik wajah Jelita dan memberinya kecupan sekilas. Detik berikutnya, tentu saja wajah Jelita nyaris memerah hampir di semua sudutnya. Tengkuknya turut menghangat dengan kejutan yang ia dapatkan barusan. Reza benar-benar tak sopan!


Dan terjadilah insiden memukul. Gadis itu sebagai pelaku, sementara Reza menjadi korban. Merasa tak terima dengan apa yang ia dapatkan, lantas Reza memeluk tubuh Jelita dengan erat.


“Kakak, ih!”


“Makanya jangan nakal, Sayang!”


“Yang nakal duluan siapa?”

__ADS_1


“Kamu!”


“Reza, tahu!”


“Reza?” Pengacara yang sudah tampan itu meninggikan satu alisnya. “Berani ya kamu?”


“Aduduh, aduh, jangan gitu! Geli!”


“Biar tahu rasa kamu, Jeli!”


“Nanti ada yang dateng, Reza!”


“Eh?”


“Iya, iya, iya, Sayang!”


“Nah gitu.”


Barulah setelah itu, Reza melepaskan tubuh kekasihnya. Semua aksi usil juga telah ia sudahi. Kini, badan yang sempat bersikap santai menjadi tegak. Namun, tatapan matanya tak lepas memandang wajah Jelita.


Kehangatan tercipta di antara, pun pada romantisme dua kawula muda. Setiap hari sudah seperti holiday saja. Bahagia menangkup bahtera cinta mereka. Hanya saja ... keraguan, lebih tepatnya rasa takut masih sesekali menyisip di hati Jelita. Masih sama mengenai kesalahan yang terjadi di masa lalu, ia takut ditinggalkan oleh pria itu. Meski hanya sedetik, sungguh, rasanya tak mau.


“Kak,” ucap Jelita sembari menghadapkan diri pada Reza. “Kalau Jeli bikin salah lagi, jangan lagi pergi, ya?”


Reza menghela napas. “Kamu masih kepikiran soal itu?” balasnya sembari meluruhkan senyum yang sejak tadi mengembang.


“Mungkin. Jeli takut bikin salah lagi dan buat Kak Reza pergi kayak dulu. Please, jangan lagi.”


“Kamu juga jangan lagi mengulang kesalahan yang sama, Kakak juga nggak bakal ulang kesalahan Kakak kok.”


“Tapi, 'kan kadang Jeli suka nggak pikir panjang dan kalau Jeli ada kemungkinan bisa mengulang kesalahan yang sama.”


“Maka ingat saat kamu kehilangan aku, Jel. Dan aku juga akan ingat di mana aku harus berjuang keras demi kamu.”


“Demi aku? Bukannya Kak Reza sempet nolak aku?”


Reza terdiam.


“Ada kemungkinan Kak Reza nolak Jeli lagi, 'kan?”


“Nggak! Nggak bakal ada sama sekali. Saat itu, Kakak masih ragu sama diri Kakak sendiri. Kalau bisa kamu harus cari orang dengan kelas yang sama mengingat kamu anak pengusaha besar. Tapi, nyatanya Kakak enggak sanggup menahan perasaan di saat kamu merengek minta balik. Akhirnya ya runtuh juga.”


“Sok-sokan sih!”


Reza menyentil hidung Jelita, kemudian berkata, “Makanya aku langsung lamar kamu. Kalau udah balikan jangan lepas lagi. Kakak nggak main-main, nggak mau kucing-kucingan kalau udah mutusin buat balik, ya, balik. Apalagi kamunya kayak marmut, mana tahan aku.”


“Aish! Emang ada marmut secantik ini?”


“Ya kamu sendiri. Hahaha.”


Jelita mendengkus kesal. Namun tetap ada rasa lega di hatinya. Setidaknya, ucapan Fanni benar. Jika mendiskusikan dengan Reza semua akan berangsur baik-baik saja. Masa depan memang tak bisa diprediksi, tetapi komitmen yang kuat sekaligus sebuah janji tentu akan menjadi alat penyelamat.


Sekian menit berlalu. Keromantisan itu mereda sebab para pegawai Jelita sudah berdatangan. Reza juga bergegas kembali ke kantor firma hukum milik Alif—pamannya sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2