Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 28-Iya, cinta!


__ADS_3

“Jangan berpikir aneh-aneh. Kakak akan tetap menahan diri demi menjaga dirimu! Jangan nakal lagi, kalau kamu nakal Kakak akan kesulitan menahan diri. Mau gimanapun, Kakak ini seorang laki-laki. Bahaya, Dek!”


Episode 28-Iya, cinta!


Beberapa saat berselang, kedua sejoli yang tengah kasmaran itu, kini duduk saling berhadapan. Ruang musik bergaya klasik menjadi latar keberadaan. Sementara, sajian taman terhampar indah di balik jendela kaca yang kini terbuka lebar. Reza semakin takjub, betapa indahnya istana Nur Imran dengan segala macam fasilitasnya. Pengusaha besar yang bukan hanya sekedar nama saja, melainkan kecerdasan dalam mengolah keuangan. Benar-benar luar biasa!


Kemudian, Reza menghirup udara dalam-dalam sesaat setelah menghampiri jendela tersebut. “Gimana Kakak enggak minder kalau kamu sekaya ini, Dek,” gumamnya pelan.


Namun, gumaman Reza terdengar oleh telinga Jelita. Sementara gadis itu masih setia bersembunyi di dalam selimutnya. “Yang kaya Pak Nur, bukan Jeli!” tegasnya.


Reza berbalik badan. “Tapi, kamu beli hati Kakak dengan kekayaan kamu.”


“Ya sih, tapi barter keuntungan bisnis kok.”


“Gadis nakal!”


Jelita mendengkus. Kalau bukan kecintaannya pada Reza sudah pasti ia belum tentu melakukannya.


Emang, Kakak Gembul enggak pernah peka kalau perihal cinta!


Tidak ingin melupakan niat, Reza berangsur kembali menghampiri gadis perancang itu. Ia menatap Jelita dengan prihatin. Balutan selimut masih saja dibawa oleh Jelita, seolah-olah benar-benar kedinginan. Trauma memang menakutkan. Jika tidak kunjung disembuhkan, tubuh Jelita bisa terancam, pikir Reza detik itu.


Kemudian, tangan pengacara itu terulur—menyentuh kening Jelita. Alhasil, Jelita menjadi terkesiap karena sikap Reza datang secara tiba-tiba.


“Kakak beliin obat dulu, ya?” tawar pria itu.


Jelita menggeleng. “Enggak usah! Ada pelayan aku kok. Kakak cukup di sini aja,” titahnya.


“Kamu emang pemegang kendali yang keras kepala sekaligus nakal!”


Jelita mengerucutkan bibirnya. Tak ditampik lagi ucapan Reza, karena memang benar adanya. Posisi dan uang memang cukup menguntungkan, bukan? Terkadang membuat muak, tetapi kali ini gadis itu mencoba tidak peduli. Semua ia lakukan karena Reza juga menyukainya, jika tidak maka tidak akan pernah ia lakukan!


Reza berangsur duduk kembali di kursi sebelumnya. Namun, tatapannya masih belum puas mengamati Jelita yang saat ini terlihat pucat. Meski sebenarnya, pucat karena tak terjamah make-up. Kekhawatiran Reza semakin membuncah, terlebih ketika mengingat pola makan gadis itu. Seharian ini, ia berharap bisa menemani Jelita.


“Mm ... Kak? Kakak udah pernah ya?” tanya Jelita terkesan ambigu.


Dahi Reza mengernyit. “Pernah apa?”


“Mm ... en-enggak jadi, deh!”

__ADS_1


“Hmm ... tadi malam?”


Gadis perancang itu terdiam. Sehingga, Reza menganggapnya sebagai persetujuan.


“Kakak enggak pernah, Dek, itu pertama kali,” jawab Reza kemudian.


Mata Jelita terbuka lebar. “Benarkah? Tapi, kenapa Kakak bersikap kayak enggak ada apa-apa? Padahal Jeli mati-matian menahan malu.”


“Kakak hanya berusaha menahan rasa malu aja. Bukan berarti melupakan hal pertama itu, lagipula bukan Kakak yang memulai. Hmm ... asal kamu tahu Kakak kayak orang gila tadi malam.”


“Maaf, itu juga pertama bagi Jeli. Kak Reza jangan anggap Jeli cewek enggak bener ya?”


Reza justru tertawa menanggapi permintaan Jelita. Betapa imutnya gadis itu saat ini. Kesepakatan tak lagi hambar untuk Reza rasakan. Baginya, Jelita justru sangat cerdas. Upaya yang luar biasa, bukan? Demi melunakkan hatinya yang keras, gadis itu membeli hatinya dengan bisnis.


Ya, perlahan dan pasti, hati pria itu berangsur meluruh. Mau bagaimanapun ia menepis, rasa yang ada akan tetap ada bahkan bertambah besar. Kedekatannya dengan Jelita yang hampir setiap hari ia lewati, membuat hatinya tak mampu lagi menepis perasaan itu. Lagipula, memangnya ia siapa? Sampai begitu tidak tahu diri?


“Kak!” Jelita kesal, lantaran permintaannya justru di tertawakan.


Kemudian, Reza bangkit. Diacaknya rambut gadis perancang itu. “Jangan nakal lagi,” ucapnya lembut.


“Bu-bukan nakal. Tapi lepas kendali, karena dikatai cantik. Terus muka Kakak nggemesin! Jeli enggak tahan!”


“Kamu kebanyakan nonton drama Korea, Dek!”


“Hmm ... iya suka.”


“Cinta enggak?”


“Mungkin, sayang.”


“Cinta enggak?!”


Reza terkesiap. “Hmm ... iya, Dek.” Ia menegakkan badan dalam duduknya. Ditatapnya Jelita dengan tajam dan serius. “Iya, Kakak cinta sama kamu. Sejak awal pun, Kakak suka sama kamu. Udah cukup bagi Kakak buat menampiknya. Selama ini Kakak hanya takut kamu enggak yakin sama perasaan sendiri. Jadi, Kakak berpikir panjang agar kamu enggak terjebak dalam cinta yang enggak kamu yakini. Sekaligus, ... minder karena kamu cantik dan kaya, sedangkan Kakak cuma cowok gendut yang tak punya pesona.”


Akhirnya! Setelah sekian lama, Reza mampu mencurahkan isi hatinya. Di hadapan gadis itu, ia mengatakannya secara jelas tanpa terbata-bata. Kendati, debaran jantung memang kian tidak menentu. Namun, Reza berusaha menepisnya. Ia tidak mau menjadi pria tidak tahu diri lagi, sementara Jelita di hadapannya selalu berusaha. Ia ingin memberikan kepastian pada gadis itu.


Tetesan air mata tiba-tiba saja mengalir membasahi pipi kanan Jelita. Harapannya sudah terkabulkan. Semua upayanya selama ini terbayar! Reza memberikan pernyataan, ia benar-benar senang. Kesepakatan bisnis tak lagi membalut hubungan cintanya bersama Reza. Ya! Cukup satu minggu lebih satu hari saja mereka melangsungkan cinta dalam kesepakatan.


Kemudian, tangan Reza terulur ke depan. Ia mengusap wajah gadis yang ia cintai itu dengan lembut.

__ADS_1


“Jangan nangis dong, Dek. Kakak ‘kan udah jujur,” ucapnya lembut.


Jelita tersipu. “Jeli terharu, Kak. Asal Kakak tahu, Jeli bener-bener suka sama Kakak!” jawabnya.


“Suka atau cinta?”


“Semuanya!”


Reza tersenyum. “Terima kasih. Semua atas kendali Nona.”


“Jangan dibahas! Jeli sekarang pacar asli Kakak! Bukan lagi kesepakatan.”


“Iya, kamu pacar Kakak! Dan hanya Kakak yang boleh memiliki kamu. Mm ... lain kali biar Kakak yang memulai pergerakan, jangan lakukan apa pun yang membuat kamu malu.”


Dahi Jelita berkerut samar. “Pergerakan yang gimana?”


“Mau kamu yang gimana?”


Mata mereka saling bertaut satu sama lain. Benak Jelita berpikir liar. Sementara, Reza memikirkan perihal upaya. Namun, Reza tetap tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Sudah pasti peristiwa semalam! Gadisnya memang nakal yang terbalut kenaifan. Namun, bagi Reza tetap imut.


“Jeli? Mau seminder apa pun cowok, cowok tetep cowok yang punya naluri berbahaya,” jelas Reza. Ia menatap Jelita dengan sungguh-sungguh. “Jangan dibiasakan, ya? Kamu seorang gadis.”


“Iya, Jeli usahakan. Berarti ... Jeli nunggu pergerakan dari Kak Reza aja, gitu, ‘kan?” balas Jelita.


“Emangnya kamu mau Kakak melakukan apa?”


Jelita terdiam.


“Jangan berpikir aneh-aneh. Kakak akan tetap menahan diri demi menjaga dirimu! Jangan nakal lagi, kalau kamu nakal Kakak akan kesulitan menahan diri. Mau gimanapun, Kakak ini seorang laki-laki. Bahaya, Dek!”


“Mm ... Jeli rasa, kalau itu Kakak enggak masa—”


“Jel!”


Jelita menelan saliva. Sementara kepalanya berangsur menunduk sembari mengurucutkan bibirnya. “Iya, iya.”


“Kakak pegang janji kamu!”


Jelita melenguh diiringi dengkusan. Semua imajinasi yang ia rencanakan setelah mendapatkan Reza, kini menjadi sia-sia. Namun, kebahagiaannya mampu menghempas rasa kesalnya itu. Semangatnta menjadi melambung tinggi. Reza sudah benar-benar dimiliki, bahkan hati pria itu. Keduanya resmi menjadi sepasang kekasih dalam balutan asmara yang indah. Mereka berharap ke depannya bisa menjalani hubungan manis itu dengan baik.

__ADS_1


****


Curhat dikit. Karya ini belom kontrak dan terbilang sepi peminat. Tapi, aku antusias banget nulisnya. Entah, terlanjur sayang sama Jeli dan Reza, mungkin. Kisaran pembaca pling banyak 300an jauh bgt sama jumlah like novel famous milik penulis lain yang nyampe ribuan. Tapi, yah, gak tahu tiap nulis Jeli Reza aku bahagia. Cuman, selalu minta jempol agak maksa. Maaf ya, Kakak2 pembaca kalau kesannya maksa dan bikin enggak nyaman. Semoga puas dg episode manis kali ini. Dan tentunya Terima Kasih banyak atas antusiasnya. (•‿•)


__ADS_2