Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 37-Besuk


__ADS_3

“Tapi, ... mau gimanapun Papa, Jane tetap akan bawa dan rawat Mama setelah benar-benar sembuh jangan khawatir, Ma. Jane menghormati kalian berdua, sangat! Tapi, Jane juga harus tahu diri buat enggak terlalu lama di sana. Rasa bersalah Jane enggak bakal sirna kalau Jane masih ada di rumah itu, Ma.”


Episode 37-Besuk


Selesai pemotreran untuk model pakaian di butiknya sendiri, Jelita segera duduk di kursi yang telah ada di ruangan itu. Meski dalam suasana bekerja, otaknya enggan diajak bekerja sama. Wajahnya yabg imut saat ini justru muram. Kompak dengan hatinya yang diliputi sejumlah kekhawatiran.


Kepergian Jane tadi pagi benar-benar membuatnya gusar. Sejak tadi pagi pun, gadis itu tidak mau menjawab panggilan dari sang kakak. Entah karena sibuk atau memang malas, Jelita tetap waswas.


“Ck, seharusnya Jane tahu 'kan kalau aku sebegitu sukanya sama Kak Reza. Dan apa sih? Willi? Dia 'kan belum pernah bertemu, masa' iya sesuka itu?” keluh Jelita pelan.


Sikap Jelita membuat Iin merasa terheran-heran. Sedetik kemudian, pekerja Jelita itu justru merasa khawatir. Mungkin saja Jelita kelelahan sebab hampir semua pekerjaan di dalam butik ia yang menangani, bahkan untuk model itu sendiri, pikir Iin saat ini.


Dengan gerak pelan dan tentunya santun, Iin membangunkan dirinya dari kursi kerja yang sejak tadi ia duduki. Kemudian, ia berjalan menuju atasannya tersebut.


“Mm ... Nona?” ucap Iin sesaat setelah sampai di hadapan Jelita.


Namun Jelita justru bergeming dalam kegelisahan yang membentuk lamunan.


Iin salah tingkah. Niat bertanya pun menjadi sebuah keraguan. Ingin sekali membatalkan niatnya itu, tetapi ia juga tidak mau jika atasan cantiknya murung sendirian.


“Nona ...,” lirih Iin sekali lagi sembari menyentuh pundak Jelita.


Alhasil, Jelita menggedikkan kedua bahunya lantaran merasa kaget. Ia menatap Iin dengan kesal. Namun, detik berikutnya kekesalannya itu langsung pergi begitu saja.


“Mbak Iin, ada apa, Mbak? Jeli kaget tahu,” ucap gadis perancang itu.


Iin tertawa kecut. “Maaf, sepertinya Nona muda gelisah sendiri. Apa, Nona merasa lelah? Mau saya buatkan kopi?” tawarnya.


Jelita menggeleng seiring senyuman yang terulas manis di bibirnya. “Enggak perlu, Mbak. Jeli baik-baik aja kok.”


Iin manggut-manggut. Kendati sudah dijawab jika Jelita baik-baik saja, ia tetap curiga. Selain karena gelisah, ia juga khawatir jika gadis yang mungil itu sakit. Sebagai wanita yang telah menjadi seorang ibu, tentu saja Iin sedikit paham. Di balik sikapnya yang sangat sungkan dan tentu saja hormat pada Jelita, ia menganggap bahwa atasannya itu hanya seorang adik kecil yang rapuh.


Iin menghela napas dalam. Teringat beberapa rumor yang ada pada Jelita. Saat itu juga, ia tahu jika menjadi nona kaya belum tentu bahagia. Apalagi ketika ia sedikit tahu tentang masa lalu gadis itu.


Setelah mengumpulkan keberanian, Iin kembali berkata, “Mm ... begini, Nona, saya ada saran untuk Nona.”


Mata sipit yang bisa bulat ketika terbelalak milik Jelita berangsur menatap wanita yang hampir bisa disebut asistennya itu. “Apa, Mbak?” tanyanya.


Iin mengusap tengkuknya sembari tersenyum malu-malu.


“Bilang aja, Mbak. Sama Jeli ini, lagipula Jeli udah anggap Mbak Iin kayak kakak sendiri. Jangan sungkan-sungkan.”


Mendengar pengakuan Jelita tentang dirinya, jantung Iin langsung berdebar. Selain sebuah kehormatan, ada rasa bangga yang juga menyelimuti hatinya.


“Terima kasih, Nona.” Wanita yang memiliki satu anak itu tersenyum simpul sembari merundukkan badannya. “Saya rasa, Nona harus mencari model untuk rancangan. Mengingat butik ini semakin ramai dan untuk rancangan Nona yang saya kirimkan beberapa waktu yang lalu, jika Nona berhasil menang pasti akan semakin sibuk.”


Jelita tampak berpikir.

__ADS_1


“Saya tahu, Nona bisa menjadi model itu sendiri. Tapi, jika semakin sibuk pasti Nona akan kewalahan. Lagipula, keuangan butik ini sudah cukup diagendakan untuk merekrut dua orang. Seenggaknya, kalangan biasa dulu, bukan yang udah elit-elit,” lanjut Iin.


Jelita menghela napas. “Ide bagus, Mbak. Papa juga mau bantu aku menyelenggarakan fashion show sendiri.”


Mata Iin reflek membelalak. “Luar biasa!” pekiknya takjub.


“Tadinya aku enggak mau, tapi Papa maksa. Karena beliau mau berguna bagi Jeli sama Jane, meskipun udah banyak banget usaha Papa buat kami. Dan ... tentu aja ada niat terselubung, supaya kami bisa segera membantu bisnis Papa.”


“Wah! Ck, ck, ck Nona Jeli sama Nona Jane anak yang beruntung. Terima aja, Non. Selama ini, Nona Jeli juga udah sangat berusaha kok dan butik ini menjadi lebih dikenal. Jangan kecewakan Papa Nona.”


Jelita yang sempat menunduk, kini berangsur mendongak menatap Iin yang sejak tadi berdiri. Ia tersenyum begitu damai, meski kegusaran perihal Jane masih mengganjal hatinya.


Detik berikutnya, Jelita berdiri dari duduknya. Kemudian, ia meraih kedua tangan Iin.


“Jeli udah sangat percaya sama Mbak. Jadi setelah Papa menjalankan rencana itu, sekaligus Jeli mulai sibuk membantu Papa, Jeli nitip butik ya, Mbak.”


Iin tersenyum tulus, kemudian ia mengambil alih tangan Jelita. Sembari menatap manik mata gadis itu, ia menjawab, “Saya akan mematuhi setiap perintah, Nona. Saya janji untuk itu. Tenang aja, Nona.”


Aktivitas kedua wanita itu teralih sebab suara dering ponsel sang nona muda tiba-tiba berdering. Iin sudah melepas genggamannya dari jari jemari Jelita. Kemudian, ia segera kembali ke tempat kerjanya paling depan.


Jelita pun segera meraih tas selempangnya dari atas meja kecil. Kemudian, ia mencari keberadaan benda yang berdering. Setelah mendapatkannya, tampak kontak bernama 'Pria Gembulku' dengan gambar kecil berbentuk hati merah, tengah meneleponnya.


Gadis itu tersenyum kemudian meletakkan ponsel di telinga kanannya. “Assalamu'alaikum, Kak. Halo, ada apa?” sapanya sembari berakting lesu.


“Wa'alaikumssalam. Kamu masih jengkel sama Kakak, Dek?” balas Reza dari kejauhan sana.


“Hmm ... maaf, Sayang.”


“Hmm.”


“Jeli, maaf juga siang ini Kakak enggak bisa makan siang bareng kamu.”


“Kenapa?”


“Karena bolos kemarin, Kakak dihukum lembur sama si Bos. Soalnya materi kasus juga jadi terbengkalai, sementara sidang lanjutan tiga hari lagi.”


“Makanya jangan lebay! Ya udah, tapi Jeli mau kirim makanan, boleh 'kan?”


“Mm? Boleh sih, tapi kalau kamu ke sini paling cuma bisa ketemu sebentar buat ambil makanan, Dek.”


“Enggak apa-apa, Sayang.”


“Hmm?”


“Sayang!”


“Duh, berdebar hatiku, Dek.”

__ADS_1


“Tumben? Biasanya cuek aja tuh?”


“Kakak udah upgrade cinta buat kamu, jadi biar baru terus meski orangnya sama. Ya udah! Bye, Jeli sayang. Assalamu'alaikum.”


Jelita melongo, sementara bibirnya menjawab salam itu dengan pelan. Sikap Reza benar-benat kontras daripada sebelumnya. Kali ini lebih manis padanya. Karena William, kah? Pikir Jelita. Jika benar, berarti sebuah cemburu tak hanya berbuah sembilu, melainkan keindahan dalam cinta.


Bibirnya yang tadi terbuka, kini berangsur tersenyum. Benaknya membayangka wajah Reza dengan ucapan yang ia katakan ketika bertelepon tadi.


“Aaaaa! Pasti Imut banget! Duh gimana nih? Hatiku juga berdebar!” pekik Jelita sembari lompat-lompat kegirangan.


Alhasil, sikapnya membuat para pegawainya cemas. Mereka berdatangan dan memastikan keadaan Jelita. Kedatangan mereka membuat Jelita merasa malu. Dengan wajah yang sudah memerah, ia meminta mereka untuk kembali ke tempat kerja masing-masing, entah ke ruang jahit, pelayanan di depan, urusan rancangan atau khusus keuangan.


Kemudian, Jelita menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya. Dengan riang gembira, ia hendak menuju suatu restoran dan ke kantor Reza.


****


Di sisi lain kota Jakarta, Jane sudah sampai di rumah sakit jiwa sejak jam delapan pagi. Meski jadwal hari ini cukup sibuk, ia justru membolos. Perihal sikap Jelita yang terkesan plinplan masih saja menganggu pikirannya. Hal itu yang membuatnya malas menjawab telepon dari kakaknya itu.


Berlatar taman yang luas samping rumah sakit jiwa tersebut, Jane membawa Riris—Ibundanya jalan-jalan. Namun karena semakin siang, ia memutuskan untuk menyudahi besuk hari ini. Lagipula, ia sudah menghabiskan waktu yang lama di sana.


Jane berjalan ke depan, tepatnya di hadapan Riris yang terduduk di kursi roda. Ekspresi Riris sangat datar, dengan wajah pucat bak mayat. Namun emosi wanita paruh baya itu sudah mulai stabil. Kendati memang bisa berjalan, Jane tetap meminta Riris duduk dengan nyaman di atas kursi roda dan ia akan mendorongnya. Riris terbilang penurut, setelah diagnosa jiwanya sudah banyak perubahan. Hanya saja, ia masih tidak mau berbicara sepatah kata pun.


Jane berangsur menggenggam tangan Riris. Kemudian, ia tersenyum sembari berkata, “Hari ini Papa pulang, Ma. Papa masih baik seperti sebelumnya, Papa mau adakan konser buat Jane dan tim. Jane bahagia sekali, Ma.”


“....”


“Tapi, ... mau gimanapun Papa, Jane tetap akan bawa dan rawat Mama setelah benar-benar sembuh jangan khawatir, Ma. Jane menghormati kalian berdua, sangat! Tapi, Jane juga harus tahu diri buat enggak terlalu lama di sana. Rasa bersalah Jane enggak bakal sirna kalau Jane masih ada di rumah itu, Ma.”


“....”


“Pagi ini, Papa mau jodohin Kak Jeli sama seorang pangeran, Ma. Ganteng banget! Baru lihat fotonya aja, Jane udah tertarik. Sayangnya orang itu bukan buat Jane, melainkan Kak Jeli. Sebel sih, sebab Kak Jeli udah punya Reza. Tapi, ... dia kayak enggak rela kalau William buat Jane.


Enggak apa-apa, Ma. Jane akan tahu diri, sekali lagi tahu diri. Lagipula jodoh enggak ke mana, Ma. Terima kasih ya, Ma, udah dengerin cerita Jane. Tapi, udah siang banget, Jane harus pulang. Mama sabar di sini dulu, baik-baik dan makan yang teratur sesuai kata dokter.”


Setelah berkisah, Jane berangsur berdiri. Namun ia kembali merunduk untuk mengecup kening Riris. Detik berikutnya, ia menyerahkan Riris pada seorang perawat yang sejak tadi turut mendampinginya. Ia pamit. Setelah itu, Jane berbalik. Di ambilnya langkah untuk menuju area parkir di mana mobilnya berada.


Tatapan mata Riris yang sejak tadi ada di kosong, kini diarahkan pada punggung putrinya itu. Wajahnya yang datar perlahan berubah ekspresi. Rahangnya mengeras, dengan urat hijau yang turut menghias wajahnya itu. Kedua matanya pun turut membelalak, memancarkan amarah.


“Mereka harus celaka ...!” gumam Riris pelan, tetapi ada kegeraman di nada suaranya.


Sang perawat yang mendampinginya sampai Jane menghilang, kini mengernyitkan dahi. Ia merundukkan badan dan menatap Riris terheran-heran.


“Ada apa, Nyonya?”


Namun, Riris tidak menjawabnya.


****

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya, yah.


__ADS_2