Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 13-Penasaran


__ADS_3

“Reza, Reza. Om kasih tahu kamu ya, boleh kamu memikirkan masalah lain. Tapi, selagi berada di kantor, Om harap kamu fokus pada pekerjaan, Za. Terlebih, menyangkut kasus hukum. Jangan sembarangan dan ... kamu harus memenangkan sidang pekan depan, Za.”


Episode 13-Penasaran


Reza bergeming. Di dalam ruang kerjanya pada sebuah gedung kantor firma hukum yang menaungi dirinya sebagai pengacara. Pria itu gusar, sebab ucapan Jelita tadi malam.


“Jadi, ... Jane yang itu adik tirinya Jeli? Terus ibu Jane adalah ibu tiri Jeli?" gumam Reza. “Terus, maksud ucapan Jeli penambahan berat badan gara-gara ibunya Jane, apa dong?”


Masih teramat sulit untuk Reza pahami. Penyebab meningkatnya berat badan Jelita dan ibunda Jane adalah pelakunya? Bagaimana bisa? Rasanya seperti sesuatu yang sangat mustahil terjadi. Juga, bagi pengacara muda itu sendiri.


Namun, menepis pengakuan Jelita juga tidak mungkin. Gadis itu tidak mungkin mengada-ada, bahkan sampai mengalami gemetar yang luar biasa di tubuhnya tadi malam.


“Sebenarnya apa yang kamu alami sebelum ini, Jel?” gumam Reza penuh tanya yang terpancar pada mimik wajahnya.


Tadi malam, sebelum Reza pamit pulang setelah mengantarkan Jelita, sepintas ia menatap istana megah yang bahkan dua kali lipat lebih besar daripada rumahnya sendiri. Dan Jelita merupakan seorang tuan putri di dalam istana itu. Namun, gadis itu justru terlihat begitu menderita, meskipun memiliki harta yang bergelimang. Membuat hati Reza bertanya-tanya detik itu juga.


“Kamu bahkan dari keluarga yang kaya raya, Jel, tapi kamu justru menyimpan trauma masa lalu. Sebenarnya, gimana kronologinya saat itu? Saat sebelum aku bertemu kamu di kantin kampus itu, saat sebelum kamu menjadi selebritas berkat pencapaian kamu. Apa yang terjadi padamu, Jeli, saat-saat itu?”


Reza menghela napas panjang. Sementara pikirannya masih dipenuhi banyak pertanyaan. Ingin sekali ia mengulik masa lalu Jelita, mencari penyebab di balik trauma gadis itu. Namun, dengan cara apa? Tidak mungkin, ia langsung bertanya pada Jelita, mengingat gadis itu begitu gemetar ketika menceritakan kisah singkat tadi malam.


“Apa aku tanya Jane aja, ya?” Muncul ide yang bersangkutan nama Jane—adik tiri Jelita.


Namun, detik berikutnya Reza justru menepis ide itu. “Enggak mungkin! Gue bisa dapat info seputar Jeli, tapi mau gimanapun, Jane tetap anak kandung dari ibu tiri Jeli. Gue juga harus mikirin hati dia. Lagipula, ... dengan cara apa gue ketemu Jane? Kenal aja, enggak. Ngobrol singkat, karena dia sering selfie sama Jeli.”


“Ah! Gemes banget gue tuh!” pekik Reza.


Seseorang berdeham tiba-tiba. Seorang CEO dari firma hukum di mana Reza bekerja. Alif Hendra namanya. Pria paruh baya itu masuk ke dalam ruangan sang pengacara muda bertubuh tinggi besar.


Tatapan Alif begitu fokus pada Reza, seolah tengah mencari sesuatu yang ia inginkan dari pengacara muda itu.


“Ada masalah mengenai kasusmu kali ini, Za? Saya perhatikan, kamu cukup gelisah,” tanya Alif sembari duduk di sofa panjang yang tersaji di dalam ruangan.


Reza menghela napas panjang. Mau tidak mau, ia berdiri. Ia melangkah—menghampiri sang CEO sekaligus pamannya sendiri. Kemudian, ia turut duduk di sofa tersebut.


“Emangnya, sejak kapan kasus enggak bikin pusing, Om?” ucap Reza—menanggapi pertanyaan Alif yang belum sempat ia jawab.

__ADS_1


Alif mengulas senyuman. “Biasanya kamu cukup tenang, Za. Sejak pagi tadi, kamu cukup gelisah. Bahkan, fokusmu benar-benar hilang. Ada yang bisa Om bantu?”


“Hanya masalah pribadi, Om. Enggak perlu, karena enggak ada sangkut pautnya sama kasus yang Reza pegang baru-baru ini.”


“Cewek?”


“Mm ....”


“Hmm ... keponakan Om udah besar rupanya.”


“Bukannya, udah kelihatan jelas, Om? Kalau Reza emang udah besar.”


“Apanya? Badannya?”


“Tentu, apa lagi.”


“Reza, Reza. Om kasih tahu kamu ya, boleh kamu memikirkan masalah lain. Tapi, selagi berada di kantor, Om harap kamu fokus pada pekerjaan, Za. Terlebih, menyangkut kasus hukum. Jangan sembarangan dan ... kamu harus memenangkan sidang pekan depan, Za.”


Reza terdiam seiring tundukan kepala yang berangsur ia lakukan. Tidak ada alasan untuk menampik ucapan Alif, lantaran ia membenarkan ucapan pamannya tersebut. Hingga siang hari, pekerjaannya terhitung terbengkalai. Beberapa materi yang perlu ia teliti menjadi terlupakan sebab pikirannya yang dipenuhi oleh Jelita.


Lalu, tangan Alif mengulur—menepuk bahu Reza pelan. Ia mengulas senyuman di bibirnya. Tidak biasanya sang keponakan bersikap begitu gelisah, sampai membuatnya bertanya-tanya dan terpaksa memberikan peringatan mengenai pekerjaan. Juga, kasus yang tengah ditangani Reza bukanlah kasus kecil, melainkan pembunuhan. Alif tidak ingin jika Reza sampai gagal memenangkan sidang pekan depan. Boleh saja, Reza memikirkan masalah lain, tetapi nanti ketika sudah pulang.


“Udah jam makan siang, Za,” ucap Alif.


Kepala Reza berangsur mendongak. Ia menatap kedua manik mata Alif yang telah dihiasi keriput. “Aku mau lembur aja, Om. Ganti atas sikap kerjaku yang sembrono tadi,” jawabnya.


Alif tersenyum. “Makan siang aja, Za. Cari angin segar, hawanya lagi dingin nih. Om kasih kesempatan, juga buat bertemu seseorang yang mungkin bisa melambungkan semangat kamu.”


“Eh? Seseorang? Maksud Om siapa? Mau jodoh-jodohin Reza lagi?”


Alif menggeleng. “Enggak. Justru Om mau dikenalkan sama cewek yang lagi nunggu kamu di lobby saat ini. Ah, ya udah, cepat temui dia. Jangan bikin dia kecewa, Za! Terlalu imut untuk dikecewakan.”


Alif memutar badan, ia meninggalkan ruang kerja sang keponakan bersamaan dengan senandung kecil yang ia dendangkan.


Sementara, Reza masih bergeming. Seseorang yang menunggunya? Pertanyaan itu terlintas di dalam benaknya.

__ADS_1


“Jangan-jangan?!” Tanpa pikir panjang lagi, Reza segera berdiri.


Pria itu melangkah lebih cepat setelah berhasil keluar dari pintu ruangannya. Terlintas sosok Jelita di benak yang merupakan dugaannya. Senyum Reza mengembang di antara langkah kaki yang terkesan tergesa-gesa. Pasti, gadis itu yang datang! Reza sangat yakin, sebab akhir-akhir ini hanya Jelita yang bersamanya.


Di lobby kantor itu, akhirnya Reza tiba. Seorang gadis berpenampilan manis nan modis tengah duduk di ruang tunggu. Gadis yang sesuai dengan dugaan Reza sebelumnya.


“Jeli!” seru Reza sembari mengayunkan kakinya yang sempat terhenti di kelokan kantor tersebut.


Jelita yang begitu asyik bermain ponsel, kini berangsur mengangkat kepala. Matanya sibuk mencari di mana sumber suara yang menyebut namanya. Hingga akhirnya, Reza terlihat olehnya. Gadis itu lantas berdiri, berjalan lebih mendekat.


“Kak Reza,” ucap Jelita seiring senyuman manis yang mengembang di bibirnya.


“Ka-kamu kok ke sini? Mm ... mobil kamu tadi malam?” tanya Reza.


“Aku mau makan siang sama Kakak. Boleh, ‘kan? Soal mobil udah diurus pelayan aku tadi malam, Kak.”


“Mm ... gitu.” Reza meletakkan telapak tangannya di bagian dada. “Kamu udah baik-baik aja?”


Jelita mengangguk. “Berkat Kakak, aku baik-baik aja.”


“Be-benarkah?”


“Iya, Kak. Mau, ‘kan, makan siang bareng aku? Mm ... aku mau diajari makan dengan benar sama Kakak!”


“Tentu, Dek! Dengan senang hati. Kakak akan bawa kamu ke resto paling enak.”


Keduanya kompak melangkah—meninggalkan lobby kantor firma hukum itu.


Seruan dan canda dari rekan Reza sesekali terdengar, lantaran menjadi hal pertama bagi mereka melihat pengacara paling handal dihampiri seorang wanita. Terlebih, wajah Jelita yang sudah dikenal beberapa dari mereka. Alhasil, membuat rasa kikuk meliputi diri Reza. Namun, saking bahagianya, ia berusaha menepis rasa itu.


Dengan sabar dan sangat hati-hati, Reza membukakan pintu mobil untuk gadis pujaannya, sesaat setelah mereka sampai di area parkir.


“Makasih, Kak,” ucap Jelita.


Reza hanya tersenyum. Ia menutup pintu di mana Jelita duduk dengan rapat. Detik berikutnya, ia menuju ruang kemudi. Di samping designer muda sekaligus nona kaya, Reza mulai mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


****


Jangan lupa jempolnya, ya!


__ADS_2