
“Jeli? Bisa kamu jelaskan? Ah ... kamu sengaja menutup butik karena sedang bersamanya?”
Episode 62-Salah Paham
Kak Willi, tolong! To-tolong Kak Jeli dalam bahaya, katanya cuma Kak Willi doang yang tahu, 'kan? A-ada orang yang telepon aku, ada yang mau bakar butik kakakku. Tolong Kak, a-aku enggak bisa ingkar janji. Buat saat ini Kak Willi yang bisa bantu, to-tolong Kak Jeli k-ke butik sendirian.
Ucapan Jane yang tidak ada tanda titiknya sekaligus terkesan panik itu kembali terngiang di telinga William. Sebelum ia menyusul Jelita, Jane menghubungi dirinya. Butuh lima kali panggilan sampai ia benar-benar terbangun dari tidurnya. Beruntung, ia tidak terlambat dalam menyelamatkan Jelita.
“Jadi, kamu tahu dari Jane?” tanya Jelita memastikan lagi, meski William telah menceritakan kronologi sampai ia tahu keberadaannya saat itu.
Kini, mereka tengah duduk berjarak setengah meter di sebuah sofa panjang. Sementara hari masih lumayan gelap. Baru terhitung satu setengah jam setelah terjadi insiden menegangkan.
William mengangguk pelan. “Iya, dia cukup cerdas. Enggak mau ingkar janji sama kamu,” jawabnya.
“Ya, Jane enggak pernah bisa bantah aku, Willi. Untuk pertama kalinya dia marah sama aku, karena kamu.”
Dahi William mengernyit. “Aku? Kok bisa aku?”
“Jangan pura-pura enggak tahu, Willi, aku udah pernah bilang, 'kan? Jane suka sama kamu. Dia enggak main-main, dan dia pikir aku bakal terima perjodohan di antara kita.”
Pandangan mata William menurun dengan gerak bergetar. Ucapan Jelita membuktikan jika gadis itu benar-benar tidak memberikan kesempatan akan perasaannya. Jelita justru mendukungnya untuk bersama dengan sang adik, tanpa tahu jika William tak main-main dengan perasaan suka yang muncul pada putri pertama Nur Imran itu.
Jelita menyadari apa yang William pikirkan dalam kegemingan. Pun dua kali pria itu menyelamatkan nyawanya, membuatnya kurang nyaman. Ada rasa tidak enak hati yang menyeruak di hati, tetapi demi Tuhan! Jelita tidak ada sedikit pun rasa kagum pada William. Sosok Reza selalu ada dalam hatinya, sebagai kekasih pertama sekaligus beberapa insiden manis untuk pertama kali ia lakukan bersama Reza.
“A-aku makasih banget sama kamu, Willi, a-aku enggak tahu harus bales apa semua jasa kamu demi nyawaku,” ucap Jelita memberanikan diri.
William lantas menatap gadis itu. “Apa ... apa kamu benar-benar enggak bisa memberiku kesempatan, Jel? Ah ... lu-lupakan.” Ia menelan saliva dengan getir atas perkataan yang terpaksa ia ucapkan.
“Maaf ....”
“Kenapa minta maaf?”
“Aku ... menyakitimu.”
“Jel, boleh aku tanya sesuatu?”
Jelita mengangguk.
William lantas memperbaiki posisi duduk. Ia menghadap diri Jelita dengan tegap. “Kenapa ... kenapa tadi kamu menyerukan namaku? Apa hatimu mulai goyah karena aku? A-apa itu bisa aku jadikan sebagai kesempatan? A-aku benar-benar menyukai kamu, Jeli.”
Napas Jelita seolah terhenti di tenggorokan. Ini pertama kalinya ia mendengar sebuah pernyataan, sebab ketika bersama Reza ia yang maju lebih dulu. Dan dari sorot mata William menunjukkan sebuah keseriusan. Pria itu benar-benar tulus dalam mengucapkan setiap perkataan. Rasa tersanjung pun mengisi relung hati Jelita karena pria itu. Namun ... benaknya terus terbayang akan Reza, bahkan semua kenangan manis bersama pria itu.
“Willi ... apa kamu benar-benar enggak bisa melepasku dan memulai bersama adikku?” Jelita justru balik bertanya.
William tercengang. “Kenapa kamu terus mendesakku untuk bersama Jane, Jeli? Jane ... dia cantik, baik, tapi dia pun udah kayak adikku sendiri,” jawabnya.
“Karena aku ingin kalian bersatu, bukan sebagai kakak adik seperti yang kamu mau, Willi.”
“Apa karena Jane, kamu enggak bisa ngasih kesempatan ke aku, Jel?”
“Bukan, karena hatiku masih milik satu orang, Willi. Aku enggak bisa melepas dia, dan berbalik menyukai kamu.”
“Kamu begitu menyukai Reza?”
__ADS_1
“Iya, sangat ... dan karena itu aku selalu melindunginya. A-aku menyerukan nama kamu bukan karena goyah, karena hanya kamu yang saat itu bisa aku mintai pertolongan. Ya, cuma kamu yang tahu masalah dan kondisiku. Maaf ... ka-kalau kesannya aku memanfaatkan kamu, Willi.”
Sesak terasa di dadanya, tetapi William tidak mampu menepis curahan sebenarnya hati seorang Jelita. Kendati ia masih tidak paham yang gadis itu lihat dari sosok Reza. Namun ia tetap tahu cinta sering kali buta. Pada kenyataannya, sebuah ketampanan bisa kalah atas nama cinta beserta kenyamanan.
William sadar betul, meski ia bertemu Jelita lebih awal sekalipun, gadis itu belum tentu menyukainya sebanyak Reza.
Jelita menghela napas cukup berat. Ia menyesali sikapnya saat ini, tetapi segala yang ia curahkan adalah sebuah kebenaran. Ia tidak bisa membalas budi dengan memberikan harapan pada William. Karena pada dasarnya ia bukan orang yang mudah jatuh cinta. Jelita tidak mau jika jatuhnya memberikan harapan palsu.
“A-aku mau ngelakuin apa aja demi balas budi sama kamu, Willi, tapi kalau membalas perasaan kamu aku enggak bisa, Willi. A-aku tahu aku orang jahat, bener-bener jahat dan jujur ini pertama kalinya aku dapet pernyataan cinta. Aku bingung!” ucap Jelita tanpa bisa mengangkat kepalanya.
Dahi Willian mengernyit. “Apa? Pertama kali? Terus ... Reza?” tanyanya heran.
“Mm ... itu, itu ....” Jelita menggigit bibir bawahnya. “A-aku yang pertama kali ngungkapin perasaan, bahkan maksa dia buat jadi pria gembulku.”
“Hah?!” Hati William yang sempat merasa perih, kini justru dibuat tertegun oleh pengakuan Jelita. Detik berikutnya, menggaruk tengkuknya sembari bergerak asal-asalan. “Te-ternyata, kamu emang sesuka itu ya, Jel, sama Reza. Ha-ha-ha, aku bener-bener nggak ada kesempatan.”
Melihat tingkah William yang terkesan tidak habis pikir, Jelita mengerucutkan bibir. Sekujur wajahnya memerah karena menahan rasa malu. Kemudian, ia memukul bahu William dengan keras.
“Biasa aja kali, Willi! E-emangnya cuma cowok doang yang boleh nembak, kenapa kesannya kamu jijik sama aku sih?!” gerutu Jelita.
Sembari mendesis kesakitan sekaligus mengusap bahunya, William menjawab, “Siapa yang jijik sih?! Sakit, Jel.”
Jelita mengulurkan tangannya. Ia mengusap bahu William dengan gerak kaku. “Ma-maaf ....”
“Maaf mulu'!” William mengalihkan pandang ke tempat selain wajah gadis itu. “Bersikap kayak biasanya kamu aja, aku lebih suka kalau kamu mukulin aku daripada ngomong maaf terus. Apalagi kalau sampai canggung dan enggak mau ketemu.”
“Kenapa? Emang kita mau ketemu lagi?”
“Masih harus! Aku akan melindungi kamu sampai pelakunya tertangkap.”
“Jangan cegah aku, Jel. Karena kalau aku enggak jadi suami kamu, seenggaknya aku jadi ingatan sebagai cowok penyelamat hidup kamu. Dan kamu 'kan enggak mau membuat keributan, jadi cuma aku yang bisa lindungi kamu. Lagian, tadi siapa yang ngerengek manggil-manggil nama Williiiiii! Tolooong!”
“Ck, hih! Diem!”
Jelita menambahkan pukulan kedua di bahu William, sehingga pria itu kembali mengaduh kesakitan. Suasana di antara keduanya kembali seperti biasa. William yang sering menggoda, lalu Jelita yang sibuk merutuk pria itu. Sejenak, mereka melupakan insiden mengerikan beberapa saat yang lalu.
Tak lama setelah itu, Jelita mengambil ponselnya. Ia membuat pengumuman untuk para karyawan melalui grup whatsApp, jika hari ini butik diliburkan. Keadaan yang berantakan menjadi penyebab keputusan dadakan tersebut.
****
Mentari pagi telah muncul dari ufuk timur. Sinarnya yang hangat menerpa setiap kulit insan manusia. Pun pada pria bertubuh gembul alias gempal yang bergegas memasuki mobilnya. Pagi ini ia berencana mengejutkan Jelita dengan serangkai bunga mawar yang telah ia pesan semalam. Senandung merdu berikut rencana itu turut ia sertakan dalam kesibukan mengemudi.
Hiruk pikuk keramaian kota kembali terjadi seperti biasanya. Lalu lintas pun mengalami kemacetan di beberapa titik jalan. Tentu menjadi sebuah kejenuhan juga kecemasan bagi beberapa pekerja, lantaran takut terlambat. Perasaan itu juga terjadi pada hati Reza. Pria itu lantas menilik waktu pada jam tangan perak yang ia kenakan.
Reza menghela napas. “Jam segini Jeli udah berangkat ke butik pasti,” gumamnya menduga. Ia tidak berencana menghubungi Jelita terlebih dahulu agar rencana kejutan berjalan dengan lancar.
Hingga beberapa saat kemudian, jalanan mulai agak lengang. Mobil yang Reza kendarai melaju lebih cepat daripada sebelumnya. Kerinduan di hati, membuat pria itu tak sabar bertemu Jelita. Kendati masih terbilang pagi, rasanya ingin cepat-cepat melihat wajah kekasih tercinta.
Terhitung setengah jam berlalu, sampai Reza berhasil sampai di butik Jelita. Namun ketika ia turun dari mobil, dahinya justru berkerut samar. Mengapa ada mobil kekasihnya dan satu mobil tak asing di tempat parkir? Lalu, kendaraan lain justru tidak ada sama sekali, kecuali di toko lain.
“Tutup?” Reza merasa heran sebab butik Jelita tidak nampak seperti sedang melakukan pelayanan. “Tapi, kok, pintu utama dibuka ya?”
Dalam keadaan terheran-heran, Reza segera melangkahkan kaki menuju butik tersebut. Suasana sangat normal, meski begitu sepi. Lantai sangat bersih, seperti baru saja diusap dengan kain pel.
__ADS_1
“Waduh! Kak Reza!” Dari arah belakang, berdiri seorang Jane yang baru sampai menggunakan taksi. Ia lantas berlari dengan cepat, karena keberadaan Reza pasti akan menimbulkan kesalahpahaman.
Sementara Reza terus bergegas. Ia menggeser pintu tersebut dan lantas masuk.
“Apa ini?” tanya Reza, tercengang akan keberadaan seorang pria bersama Jelita di dalam butik tersebut. Kedua mata Reza lantas menyusuri seluruh tubuh pria itu. “Kenapa kalian bareng sepagi ini? Dan apa yang kalian kenakan? Baju santai? Kalian menginap bareng?”
Tubuh Jelita kaku seketika, sedang William masih begitu santai sembari tersenyum geli.
“Jeli? Bisa kamu jelaskan? Ah ... kamu sengaja menutup butik karena sedang bersamanya?” Reza menunjuk diri William.
“A-anu, Kak, i-itu, Jeli ....”
William maju selangkah. “Hei, jangan nuduh sembarangan kalau enggak becus jaga anak orang,” ucapnya sinis.
“Apa maksudmu?”
“Loe sendiri kenapa nggak dateng ke tempat janji kita, hah?! Loe pikir omongan gue main-main?!”
Jelita panik. “Wi-Willi stooop!”
Jane bingung harus berbuat apa di ambang pintu butik tersebut.
“Kak, Jeli bisa jelasin. Jangan salah paham,” ucap Jelita sembari menghampiri Reza.
“Jelasin ...? Oke!” Reza menunduk. Sedetik kemudian, mengangkat kepalanya kembali. “Hah ... a-aku percaya sama kamu, Jel. Tapi, aku enggak percaya sama di Tengik itu.”
William tersenyum sinis. “Kalau enggak percaya sama gue, seharusnya loe terima tantangan gue dong! Berusaha lebih keras melebihi gue!”
“Williii stooop!” Jelita semakin panik.
Reza naik pitam. Napasnya mulai memburu. Ia menunduk sembari menggertakkan gigi. Bahkan, ada umpatan yang ia gumamkan dengan geram. Detik berikutnya, ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Reza berjalan begitu cepat menghampiri William. Dan ... ia hendak melemparkan tinju pada wajah pria itu.
“Stoooooooooop!”
Sebelum Reza berhasil mendaratkan tinjunya, seruan Jane terdengar begitu nyaring. Gadis itu segera menghampiri kedua pria itu. Ketiga orang selain Jane, lantas tercengang. Mereka kompak membelalakkan mata.
Kemudian, Jane memukul punggung Reza berkali-kali. “Iiih! Sembarangan main pukul orang aja sih? Dengerin dulu penjelasan mereka dong!” omelnya.
“Jane, mere—” Ucapan Reza terpotong begitu saja oleh dorongan yang Jane berikan.
“Kenapa sih orang kalau cemburu bisa gila? Bahkan sekelas pengacara andal macam Kak Reza jadi mendadak bodoh begini, hah?!”
“Kok jadi aku yang salah sih?”
“Iyalah, siapa lagi? Kak Jeli? Kak Willi? Mereka tuh dari pagi di sini sama aku. Lagian, yang deket sama Kak Willi itu ... a-aku, bu-bukan Kak Jeli.”
“Haaaah?!” Reza, Jelita, sekaligus William terkejut dan kompak membuka rahang.
Jane salah tingkah seketika. Namun demi mencegah kesalahpahaman, ia memberanikan diri merengkuh lengan William. “Jane suka sama Kak Willi, dan Kak Jeli mendukung. Jadi, Kak Reza jangan khawatir.”
Mendengar pengakuan itu, William yang sempat tercengang menjadi salah tingkah. Ia berdeham beberapa kali berharap kegelisahannya berangsur pergi. Sementara Jelita terpana akan keberanian adiknya. Ia tidak menyangka Jane akan mengikuti jejaknya, menembak pria lebih dulu. Kendati untuk saat ini hanya pura-pura.
Sementara itu, Reza mengalah. Ia mundur ke belakang. Namun bukan berarti percaya begitu saja. Ia masih melirik sinis ke arah William. Juga, rasa heran masih menyeruak di hatinya. Terlebih ketika ada memar di wajah William.
__ADS_1
Ada yang aneh, sepagi ini mereka bareng dengan pakaian santai seperti itu. Bertiga sejak pagi apanya, Jane jauh lebih rapi. Dan lagi, kenapa cowok itu maksa gue latihan dan diet? Memar di wajah, insiden ponsel nyebur ke kolam? Dalam waktu yang berdekatan seperti ini? Apa cukup logis untuk dibilang sebagai sebuah kebetulan? Benak Reza terus terganggu dengan keanehan-keanehan yang ia temukan belakangan ini.
****