Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 42-Hilang?


__ADS_3

“Hilang, Mama hilang! A-aku harus cepat.”


Episode 42-Hilang?


Wanita itu mengendap-endap keluar dari ruang perawatan yang kini tak diisolasi lagi. Meski terbilang sangat berhati-hati dalam pergerakan, raut wajahnya justru nyaris tanpa ekspresi. Namun gerak kedua bola matanya tetap mengawasi. Ia mencari celah di antara para perawat yang bertugas tengah malam. Biasanya mereka akan bergiliran untuk makan. Ada beberapa yang menguap atau bermata sendu karena mengantuk. Suasana itu membuat senyum sang wanita melebar.


Namun, beberapa detik kemudian senyumnya hilang. Ia mengeram pelan, tetapi sarat akan kemarahan. Seperti seorang pengidap Skizofrenia. Wanita itu justru menangkap perbincangan kecil para perawat seperti gunjingan buruk mengenai dirinya. Juga, ingatan terakhir sebelum berakhir di rumah sakit jiwa kembali muncul di benaknya. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh kemarahan sampai menimbulkan warna kemerahan di bagian sklera.


Ia yang sejak tadi berjalan maju dengan hati-hati, kini justru mundur. Napasnya yang terengah-engah membuatnya kesulitan untuk membuat keputusan. Hingga, beberapa detik kemudian ia berbalik dan berlari menuju kamar mandi yang diperuntukkan untuk pasien.


Di dalam salah satu bilik kamar mandi itu, wanita tersebut duduk di atas closet yang tertutup. Tubuhnya mendadak gemetar, napasnya masih tidak beraturan. Kepalanya dipenuhi kalimat dan canda tawa yang sempat ia dengar dari perawat-perawat yang bertugas malam. Selain itu, kenangan buruk di masa lalu menambah nikmatnya belenggu yang menjerat hampir seluruh otaknya.


Ia masih menganggap jika mereka menertawakan dirinya. Ia muak, tidak seharusnya ia mendapatkan perlakuan sedemikian rupa. Mengingat dirinya adalah wanita cantik dan elegan, sekaligus berkelas sebagai sosialita kaya raya. Namun, apa yang terjadi detik ini tak sepadan dengan statusnya itu.


Meski pada kenyataannya, tidak ada satupun orang yang menertawakan dirinya. Tidak ada yang menggunjing menyebut namanya. Karena para perawat tidak sebodoh itu dalam bersikap, apalagi jika sampai membuat pasien tidak tenang. Namun, yang namanya orang yang belum sembuh dari penyakit kejiwaan justru berbeda dalam menanggapi semua itu.


“Mereka harus mati ... mati ... mati ...!” Wanita itu bersikukuh dengan rencana jahat. Bukan hanya untuk para perawat yang menurutnya sedang menertawainya, melainkan juga dua sosok manusia yang melemparkan dirinya ke dalam rumah sakit jiwa.


****


Jelita mengerjabkan matanya perlahan, sesaat setelah mematikan alarm dengan kondisi mata terpejam. Sudah pagi lagi, dengan malas ia membangunkan dirinya. Menuju kamar mandi adalah rencana saat ini. Meski masih sangat gelap, ia tetap harus mandi sebab ada jatah bulanan yang membuatnya tidak nyaman jika masih berdiam.


Jelita mulai membasuh dirinya di bawah guyuran air dingin dari shower. Ia menyentuh bibirnya. Kelembutan yang diberikan oleh Reza seolah masih terasa. Ia merasa banyak perubahan yang tengah Reza alami atau mungkin memang sengaja dikembangkan.


“Tampaknya, sumbernya dari aku sendiri. Semoga setelah ini, aku juga bisa ngomong sama Papa dan perjodohanku dengan Willi enggak terjadi,” gumam gadis itu sembari membersihkan setiap jengkal bagian matanya.


Sementara di bagian kamar lain, Jane justru berwajah pucat. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Otaknya masih dipenuhi oleh keinginannya untuk pergi. Karena setidaknya ibundanya sudah ada perubahan, ia ingin berkata jujur pada ayahandanya. Ia benar-benar ingin merawat Riris tanpa campur tangan Nur Imran. Karena bagi Jane, Riris hanya memiliki dirinya seorang.


Dering ponsel di atas nakas tiba-tiba berbunyi sampai membuat Jane terkejut. Dengan gerak malas, ia mengambil benda kotak panjang tersebut. Sebuah nomor milik rumah sakit jiwa di mana ibundanya berada, tampak oleh matanya.

__ADS_1


Dahi Jane berkerut. Lalu, tanpa pikir panjang lagi ia menerima panggilan itu.


“Ya, halo, dengan Jane di sini,” sapa gadis bermata bulat itu.


“A-anu ....” Hanya kata itu yang terluncur dari bibir seorang perawat wanita yang menelepon Jane saat ini.


Jane semakin dibuat bertanya-tanya. “Ada apa?”


“No-nona Jane, a-anu begini.”


“Kenapa?”


“Mm ....”


“Kenapa?!”


Akhirnya Jane merasa kesal sebab tidak ada kepastian meski sudah ia tanya beberapa kali. Juga rasa cemas kini bergelayut di hatinya, takut jika terjadi sesuatu pada ibundanya.


Mata Jane yang sudah bulat kini semakin bulat. Rahangnya jatuh menganga. Ia dibuat terperanjat hebat. Dalam hati, ia masih berharap bahwa yang ia dengar hanya sebuah mimpi.


“Maafkan atas keteledoran kami, Nona. Tapi, beliau benar-benar tidak ada di setiap ruang rumah sakit kami. Pa-pagi tadi, kami justru melihat salah satu penjaga keamanan jatuh pingsan, sepertinya habis dipukul dengan benda tumpul oleh Nyonya Riris,” jelas perawat itu dengan suara bergetar.


Jane tidak menyahut lagi. Ia terlalu lemas untuk mendengar kabar yang tiba-tiba datang itu. Ponselnya pun jatuh begitu saja ke lantai, begitu pun dengan tubuh Jane yang meluruh. Tubuhnya gemetar, tangisnya pun keluar. Belum sempat menyelesaikan persoalan berpindah rumah, Riris yang hendak ia prioritaskan justru dikabarkan menghilang. Jane merasa jika saat ini dunia tidak sedang memihak dirinya.


Dengan susah payah, Jane berdiri. Tanpa mengganti pakaian tidurnya yang kebetulan celana panjang, ia menyambar tas dan kunci mobil. Meski masih gemetar, ia tetap memutuskan untuk pergi ke rumah sakit jiwa. Setidaknya, ia perlu memeriksa CCTV di sana, atau mungkin melampiaskan kekesalannya pada para perawat yang menjaga ibundanya.


“Jane?” Jelita yang hendak ke kamar adiknya itu, tiba-tiba ditabrak oleh sang adik.


“Ada apa?” tambah Jelita sembari memegangi kedua lengan Jane. Ia merasakan betapa hebatnya gemetar menyerang tubuh adiknya itu.

__ADS_1


Jane berangsur menatap wajah Jelita. Air matanya masih meluruh tanpa diusap sama sekali. “Ma-mama, Kak,” ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar.


“Mama kenapa?”


“Hilang, Mama hilang! A-aku harus cepat.”


“Apa?! Hilang, kok bisa? Ah, bentar Kakak ikut.”


“Enggak, aku harus cepat, Kak. Aku takut Mama kenapa-napa.”


Ketika Jane hendak melanjutkan laju kakinya, lengannya ditahan oleh Jelita dengan cengkeraman kuat.


“Kak! Lepas!”


Jelita menggeleng. “Enggak! Kondisi kamu enggak cukup baik untuk mengemudi. Kasih Kakak kuncinya.”


Tanpa menunggu lama, Jelita menyambar kunci mobil itu dari tangan Jane. Bahkan tanpa menyisir rambutnya yang masih terbalut handuk kecil, ia menarik tangan Jane untuk bergegas. Ia tidak peduli tentang penampilan dirinya demi adik kesayangannya itu. Ya, tentu saja untuk Jane bukan Riris.


Bagi Jelita masih sangat menakutkan untuk bertemu Riris. Namun mau bagaimanapun, ia tidak bisa membiarkan Jane mengemudi dalam kondisi hati tidak baik. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat ini, kendati ia tahu tidak dapat membantu banyak dalam menemukan mantan ibu tirinya.


“Putri-putri Papa, selamat pagi,” sapa Nur Imran yang baru saja pulang pagi setelah menginap di gedung kantornya.


Namun sapaan pria paruh baya itu tidak digubris oleh kedua anaknya. Mereka berdua melengang begitu saja dengan langkah sangat terburu-buru. Alhasil, dahi Nur Imran yang sudah keriput kini berkerut.


“Kok Papa dicuekin?” tanya Nur Imran meski ia tahu tidak akan ada jawaban.


Beberapa detik kemudian, Nur Imran hanya bisa menatap kepergian kedua putrinya dengan mobil milik Jane keluar dari istana megah miliknya. Yang mana, sistem sekaligus tatanannya disusun oleh Riris bersama seorang perancang bangunan yang andal.


****

__ADS_1


Jangan lupa jempolnya .


Yaps, ganti judul!


__ADS_2