Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
End (Epilog)


__ADS_3

“Jangan nakal kamu, jangan suka ngerusak hubungan orang.”


End (Epilog)


Jelita sengaja berdandan lebih cantik dari biasanya. Ia memakai gaun putih dan heels tiga centimeter. Riasannya begitu menawan, apalagi diiringi rambutnya yang sudah panjang. Sesuai namanya, gadis itu begitu cantik jelita. Ia merupakan seorang putri dari istana megah yang akan menjemput cinta.


Ya, rencananya siang ini adalah menaklukan hati mantan kekasihnya kembali. Mau tidak mau, malu tentu sangat malu, tetapi demi cinta itu, Jelita akan kembali berjuang! Demi seorang pria gembul yang bahkan perutnya muncul ke permukaan. Ah, bukankah sangat aneh untuk seorang nona muda? Namun itulah cinta, yang kadang kala menjadi buta.


“Kak Jeli serius? Jane 'kan saran gitu cuma sebel aja,” ucap Jane yang ikut andil dalam penampilan Jelita.


“Iya, Jane, Kakak serius!” jawab Jelita mantap.


Jane menghela napas. Rasa khawatir turut mencuat. Ia takut jika kakaknya itu dipermalukan oleh Reza. Namun apa boleh buat, rencana itu merupakan cara terakhir. Mau gagal sekalipun, yang penting Jelita mendapatkan motivasi untuk bertindak.


“Aku harus berangkat, Jane!” pamit Jelita seiring gerak tangan yang meraih tas dari atas nakas. Kemudian ia berbalik badan, menatap sang adik kesayangan. “Do'ain yah!”


“Tentu, Jane pasti do'ain. Tapi, kalau dia masih nolak, Kakak janji ya buat lupain dia.”


Jelita memilih tidak menjawab. Sebab ucapan Jane belum tentu ia tepati dengan tindakan. Bisa jadi, setelah mendapat penolakan ia menjadi lebih nekat. Bisa jadi ia semakin enggan melupakan. Yang pasti, ia harus yakin saja untuk sekarang.


Beberapa detik kemudian, Jelita mulai mengambil langkah. Ia menuju elevator rumah itu dengan penuh semangat. Tidak perlu memakan waktu ia, akhirnya ia sampai di lantai bawah. Langkah berikutnya, ia perlu menuju area parkir demi menghampiri kendaraan mewah beroda empat.


Dan ya! Setelah itu, Jelita benar-benar berangkat menuju kantor firma hukum di mana Reza bekerja.


****


Dengan santainya, Budi duduk di sofa pada ruang kerja Reza. Belakangan ini ia memang dekat dengan Reza. Namun bukan berarti Reza membiarkan perilaku tidak sopan yang Budi lakukan. Sudah lima kali, Reza melemparkan barang-barang kecil pada pria itu, tetapi sama sekali tidak mempan. Budi terlalu santuy.


“Ja!” seru Budi tiba-tiba sampai membuat fokus Reza buyar seketika.


Hanya dengkusan sebal yang Reza berikan sebagai jawaban.


”Wuah! Nona Jeli makin cakep bae, Ja! Gosipnya masih jomblo lagi. Ah! Pengikutnya tiap hari bertambah, padahal bukan artis. Gila sih kalau kalangan atas.” Budi berpaling dari ponselnya dan lantas menatap rekan sekaligus kawannya itu. “Loe nggak mau gitu ngajak balikan do'i?”


Reza memilih tidak menyahuti.


“Kalau loe nggak mau buat gue aja, Ja!”


“Dia nggak bakalan demen sama loe, Bud! Jangan harap berlebih.”


“Cielah, cemburu nih? Hahaha, kalau masih demen kejar lagi aja kali, Eja! Tapi, kalau inget gimana dia demen sama loe dulu, gue rasa dia bisa demen sama gue. Kan gue jelek hahaha.”


Pengakuan terakhir Budi, membuat Reza tergelak. Rekannya itu memang pandai dalam membuat kelakar. Selain humoris, Budi terkenal begitu genit. Ya, hanya sebatas canda saja sebenarnya, tetapi kadang kala pihak wanita merasa risih dan terganggu.


“Eja!” Seseorang memanggil pemilik ruangan dengan nama akrab itu. Nisa di sana sekaligus sumber suara, ia tengah melebarkan pintu dan melongok ke dalam. “Ada yang nyari loe!” lanjutnya ketika Reza sudah menatapnya.


“Oke, thanks, Nis,” jawab Reza tanpa bertanya lebih lanjut karena ia pikir hanya seorang klien.


“Di lobby, ya!”


“Lobby?” Dahi Reza lantas berkerut.


Nisa mengangguk. “Mm ....” Kemudian, ia berlalu.


Budi mendesis, merasa kesal karena ditinggalkan. Padahal, santapan siang yang ia pesan secara online belum kunjung datang. Rencana makan bersama Reza pasti akan terkendala. Namun apa boleh buat, Reza jauh lebih sibuk darinya.


Sementara itu, Reza telah memasuki ruang elevator yang tidak terlalu besar. Tadinya ia pikir hanya sebatas klien, tetapi jika sang tamu menunggu di lobby tentu saja bukan klien yang membutuhkan jasanya. Oleh karena tidak ada masalah hukum, pihak firma melarang tamu itu untuk naik ke tempat kerja.


“Hai?”


Suara sapaan mengejutkan seorang gadis yang asyik membaca denah ruangan. Oleh sebab penasaran, ia segera berbalik badan.


“Siapa?” tanya gadis yang sesungguhnya merupakan Jelita Aksa Kusuma Dewi. Matanya sibuk menelusuri setiap jengkal bagian wajah pria tinggi di hadapannya.


“Jeli? Kamu kenapa ke sini?” tanya Reza.


“Ka-kak Reza ...?” Jelita terpana. Suara itu sangat familiar baginya. Ia menutup mulut yang menganga sebab tidak menyangka. “K-kok bisa? Kok kurus? Kok rahangnya tegas sekarang? Perutnya ke mana? Pipinya kok gitu? Kamu Reza bukan sih?!” Jelita panik sembari meraba-raba tubuh Reza yang sudah berubah drastis.


Lantas, Reza menjauhkan gadis itu darinya. “Jangan mengalihkan pembicaraan, ngapain kamu ke sini, Jel?”


“Ka-kakak kurus gara-gara kangen sama aku, ya?!”


“Jeli!”


Mendapat bentakan cukup keras, Jelita tersentak. Bibirnya menjadi bungkam. Reza tak lagi sama, pria yang ia rindu telah berbeda. Bukan hanya tampilan yang saat ini begitu gagah dengan lengan berotot, perut buncit yang hilang, sifat Reza juga terbilang sangat keras.


Di sisi lain, Reza menjadi bingung. Ingin kembali ke kantor, tentu saja bukan pilihan yang tepat. Tipikal Jelita yang begitu gigih, menjadi kekhawatiran tersendiri. Oleh sebab itu, Reza mengalihkan fokus Jelita dengan keluar dari tempat keberadaan.

__ADS_1


“K-kak! Mau ke mana? Jangan pergi dulu, dong!” omel Jelita sembari berusaha menyamakan langkah dengan laju kaki Reza.


“Masuk ke mobilmu, lalu pulang, Jel!” tandas Reza.


“Aku cuma mau ketemu sebentar kok! Apa salahnya sih?”


“Enggak ada urusan di antara kita, kenapa harus ketemu?”


“Je-jeli kangen sama Kakak!”


Reza menghentikan langkah sembari menelan ludah dengan getir. Namun, setelah menghela napas, ia justru mempercepat laju kakinya.


Melihat Reza yang begitu gigih akan niat mengusir itu, Jelita kembali berlari. Ah, ternyata gadis itu memiliki ide cemerlang rupanya. Ya, lima meter jarak antara keberadaannya sampai ke mobil, Jelita sengaja menjegal kakinya sendiri.


“Aaaaaakh!” pekik gadis perancang itu. “Adududuh! Sa-sakit ....”


Reza menghela napas. Ia berdecak, kemudian bergerak malas.


“Makanya jangan lari-lari dong, Jel!” omel Reza dengan wajah masam.


Jelita memasang wajah memelas, bahkan ada setetes air mata. “Ma-maaf, habis aku cuma mau ketemu kamu aja kok. Maaf, Jeli bakal pulang.”


“Kamu pikir aku ini siapa sih, Jel? Aku enggak bakal luluh sama akting kamu.”


“Kakak, penampilan boleh berubah, tapi sifat jangan dong! Lagian, Jeli beneran jatuh, bukan pura-pura. Kaki dan tangan sakit semua! U-udah pasti Jeli enggak bisa nyetir sendiri.”


“Kamu mah emang akal-akalan doang, kok!”


“Anterin Jeli pulang ya, please!”


Reza tidak punya pilihan lain. Memar pada tangan dan kaki Jelita membuatnya berangsur iba. Kendati ia tahu jika jatuhnya Jelita sudah pasti satu kesengajaan. Dan memang begitulah sifat Jelita sejak dulu, rasanya seperti deja vu.


Lalu, mau tidak mau Reza menggendong tubuh Jelita seperti seekor duyung. Ia meminta kunci mobil milik gadis itu, kemudian membuka pintunya. Jelita dimasukkan ke dalam kabin penumpang secara hati-hati. Barulah Reza menuju ruang kemudi. Setelah prosesi itu, Reza melajukan mobil yang sama sewaktu ia masih menjadi kekasih seorang nona muda.


“Mm ... Kak Reza diet?” tanya Jelita tiba-tiba.


“Mm ...,” jawab Reza singkat.


“Fitnes juga?”


“Mm ....”


“Mm ....”


“Terus, sekarang punya pacar?”


“Mm ....”


Kendati hanya sebuah jawaban singkat yang diulang-ulang, hati Jelita mendadak sesak ketika menyinggung soal pacar. Rasanya, ia ingin menangis detik itu juga. Harapannya seolah dibuat pupus bahkan belum ada satu jam berjuang. Apakah cintanya yang masih ada akan menjadi bertepuk sebelah tangan?


Sementara Reza masih bergeming dan begitu fokus menatap jalan. Pria yang kini telah tampan rupawan benar-benar kaku, bahkan dingin. Memang wajar jika Reza telah memiliki kekasih baru, mungkin saja ia ingin menjaga kesetiaan.


“Jel, aku bukan lagi Reza yang dulu. Jadi, jangan terlalu kaget,” celetuk Reza tiba-tiba.


“Gimana Jeli nggak kaget? Kamu kayak bukan Reza, tahu! Perut hilang, pipi hilang, pacar juga hilang. Malahan dapat yang baru!” omel Jelita.


“Hmm ... aku cuma berusaha menjadi yang terbaik buat diriku sendiri, Jel. Mungkin karena udah lebih baik, aku baru berani melangkah.”


“Huh! Dengan ninggalin aku gitu aja? Kamu masih dendam sama kelakuanku, hah?! Lagian, saat itu 'kan aku baru pertama kali pacaran. Seharusnya kamu paham dong! Jangan begini.” Jelita mulai berderai air mata. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa Reza tak lagi ia miliki. “Aku harus gimana? Apa aku jadi pelak*r aja biar kamu sama aku lagi?”


“Ngaco kamu!” Reza menghentikan mobil itu seketika. Sesaat setelah menatap Jelita, ia menepikan kendaraan tersebut di tempat semestinya. Kemudian, ia kembali menatap gadis itu. “Terus mau kamu sekarang apa? Aku bukan lagi Reza yang kamu kenal, Jel! Aku udah berubah. Aku bukan tipikal cowok idamanmu lagi dan semestinya kamu udah menikah dengan cowok itu, 'kan?”


“Aku cuma mau kamu, kamu, kamu, kamuuu! Mau gimanapun kamu, tetep Reza! Pokoknya mau kamu, aku bakal rebut kamu dari pacarmu! Pokoknya kamuuu!”


“Jeli!”


“Dan asal kamu tahu, ya, William udah mau nikah sama Jane! Dia dari dulu udah suka sama Jane! Pokoknya aku mau kamu, kamu, kamu, ka—”


Wajah tampan itu menyodor ke depan. Jelita yang sempat berceracau menjadi bungkam. Reza telah tampan mengecup bibirnya seketika. Dalam keadaan yang tiba-tiba, Jelita tercengang. Namun detik berikutnya, ia mulai terpejam. Kerinduan yang telah membuncah kini perlahan terobati.


Reza memberikan kecupan manis itu sarat akan kerinduan sebenarnya sama besarnya dengan Jelita. Namun ia masih saja terbelenggu oleh rasa kecewa di masa lalu, selain itu ada rasa minder untuk bersama dengan gadis itu. Oleh sebab proses hubungan yang kurang lancar, Reza bertekad kuat untuk menurunkan berat badan. Dengan bantuan dari Budi, ia melakukan fitnes hampir setiap hari. Asupan lemak dan karbo dikurangi.


Sekian detik berlalu, Reza menarik wajahnya menyisakan rasa malu di antara mereka.


“Udah lama nggak menikmati bibirmu, Jel,” ucap Reza iseng untuk membuang kegelisahan.


Wajah Jelita lantas memerah. “K-kok ngomongnya gitu sih? Kok nakal?” tanyanya.

__ADS_1


“Kan aku udah bilang, aku udah beda.”


“Te-terus, mm ... berarti Kak Reza bisa kayak gitu sama siapapun dong!”


“Dari awal pacaran sampai sekarang, cuma bibirmu doang yang aku cium. Jangan nuduh kamu, Jel!”


Mata Jelita bergerak-gerak salah tingkah. Mendapat perlakuan paling berbeda, meski terbilang liar, tetap saja menyisakan rasa bangga. Setidaknya, Reza hanya mencintainya. Namun, masih berusaha menolak.


“Jadi, kita balikan ya! Pokoknya Kakak harus putus sama dia!” ucap Jelita pongah.


Reza tersenyum tipis. “Jangan nakal kamu, jangan suka ngerusak hubungan orang.”


“Ta-tapi, 'kan ....”


“Beruntung aku tadi cuma copy paste jawaban, bukan fakta yang ada.”


“Eh, apa maksudnya?”


“Kamu ini dari dulu nggak berubah ya? Plinplan, nggak pinter, nekat, nggak tahu malu.”


“Biarin! Mm ... berarti Jeli emang nggak bisa sama Kakak lagi?”


“Bisa, kalau kamu mau menikah denganku.”


“Me-menikah?”


“Mm ... dari dulu kamu mau aku jadi suamimu, 'kan? Sekarang aku udah percaya diri, Jel. Besok aku bakal lamar, gimana?”


“K-kak Reza kalau becanda jangan keterlaluan dong! Umurku aja belum genap 22 tahun kok.”


“Emangnya kenapa? Dilarang? Siapa? Katanya Jane juga udah mau nikah, 'kan? Why? Katanya mau balik sama aku, syaratnya harus nikah sama aku. Lagian, biar aku bisa nikmati kamu tiap hari.”


Jelita menelan saliva dengan gerak mata yang ragu-ragu. Reza begitu percaya diri dengan penampilannya saat ini. Menikah di usia muda, tentu saja menjadi keputusan yang perlu dipikirkan secara mendalam. Kini Jelita justru terjebak dalam permintaan isengnya di masa lalu. Ya, kadang kala karma memang berlaku.


Reza masih terus bersikap arrogant. Ia tidak memberikan sedikit pun celah untuk penolakan. Sesungguhnya, ia memang tidak sedang main-main. Reza benar-benar melamar gadis itu. Ia tidak mau lagi kejadian masa lalu terulang, lalu membuang Jelita dari hidupnya bukanlah perkara mudah. Selain karena masih mencintai, gadis itu sudah pasti enggan menyerah.


“Iya, aku mau nikah sama Kakak!” celetuk Jelita.


“Aku nggak main-main, Jel, jangan kamu pikir aku iseng doang ya!” tandas Reza.


“En-enggak kok!”


“Oke, siap, berarti besok aku bisa lamar ke rumahmu.”


“Ke-kenapa harus besok? A-aku belum bilang Papa, Kak!”


“Aku mau nikahnya sama kamu, bukan bapakmu, Jel!”


“Ta-tapi ....”


“Aku merindukanmu, Nona Jeli.”


Pengakuan itu membuat Jelita tidak bisa menyanggah lagi. Reza kembali mendekati sang nona muda. Yang mana, kerinduan membuat gerakan tubuh sulit dikendalikan. Reza menciptakan momen romantis pada gadis itu, layaknya beberapa menit yang lalu. Desiran darah mereka mengalir begitu cepat, sementara napas menjadi menghangat. Debaran jantung sudah pasti kencang.


Mereka kembali bersatu setelah lama berpisah karena suatu masalah.


Hingga satu menit berlalu, Reza baru melepaskan.


“Aku ... udah pantas untuk kamu andalkan, Jeli. Dek Jeli ...,” ucap Reza sembari mengusap wajah Jelita yang berantakan karena ulahnya.


Jelita menitikkan air mata haru. “Makasih, mau kembali sama Jeli, Kak.” Ia merengkuh tubuh pria itu.


...E E E E E E N N N N N N D D D D D D...


...****************...


Hai, terima kasih atas antusiasnya pada Novel NMLP. Terima kasih selalu setia menunggu up dari saya, atas review like dan komennya, serta poin tentu saja. Ini novel kebanggaan di mana saya bisa memasukkan conten misteri, yang mana butuh ketelitian dan riset mendalam.


Oh ya pasti masih banyak kekurangan, tapi yah, saya sangat berharap dinasehati jika ada conten yang salah. Apalagi jika beberapa risetku ada yang salah, maklum awam soal hukum hehe.


Sekian yah, semoga puas dengan endingnya. Sampai jumpa lagi di lain waktu, kemungkinan saya akan hiatus dari sini. Geeky CEO juga mungkin akan pindah, jika ada yang mau tanya-tanya atuh silakan DM ke ig @VhyDheavy ,gak pake petik ya hehe. Terima kasih semuaaaaa. Love youuuu!


New REZA AMDAN NUGRAHA



Salam,

__ADS_1


Vhy'Dheavy


__ADS_2