
“Jelita, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Kakak?”
Episode 59-Kecurigaan
Jelita sengaja menjegal kakinya sendiri, sampai ia terjungkal ke depan. Beruntungnya, Reza sangat sigap dalam menangkap pinggang kecil gadis itu. Namun ponsel yang masih membunyikan dering panggilan tersebut terlempar sampai masuk ke dalam kolam ikan yang ada di taman. Alhasil ponsel pun mati dalam sekejap waktu.
“Dek? Hati-hati dong,” ucap Reza memasang wajah khawatir.
Jelita melepaskan rengkuhan tangan Reza di pinggangnya. “Maaf, Kak, tadinya Jeli mau deketin Kakak, malah tersandung kaki sendiri,” jawabnya berbohong.
“Oh ya?” Reza tak lantas percaya begitu saja. Insting pengacaranya muncul dan menyelidik ekspresi Jelita. “Kamu enggak sengaja melakukannya, ‘kan?”
Jelita terdiam, tetapi masih sempat menelan saliva. Ia tidak menyangka jika Reza tidak sebodoh itu mempercayai ucapannya. Namun ... tetap saja, hal itu tidak membuatnya bergegas mengatakan hal sebenarnya.
“Kak Reza udah enggak percaya sama Jeli?”
“Bukan begitu, Dek, cuma ... agak aneh.”
“Aneh apanya? Lagian buat apa aku sengaja berbuat hal itu, Kak? Yang ada aku jatuh sendiri, ‘kan? Dan ponselku masuk kolam ikan. Ah! Iya, HP-ku.”
Sementara Jelita yang bergegas mendekati kolam ikan, Reza masih terdiam dengan beberapa kecurigaan. Ia merasa ada yang aneh atas sikap kekasihnya tersebut. Namun untuk saat ini, ia tidak bisa menyelidik lebih dalam. Sebab, jika Jelita tidak suka, pertengkaran pun akan terjadi, Reza malas untuk berdebat dengan kekasihnya sendiri.
Karena tidak ingin membuat Jelita kewalahan, Reza bergegas. Ia mendekati posisi gadis perancang tersebut. Kolam yang tidak terlalu dalam sebenarnya cukup mudah untuk menggapai ponsel itu. Namun Reza tidak ingin jika baju Jelita sampai basah jika mengambil benda itu dengan tangan sendiri. Akhirnya, Reza menarik Jelita untuk mundur, kemudian ia menggantikan gadis itu untuk mengambil ponsel dari dalam kolam.
“Ini udah parah, Dek, basahnya. Kemungkinan kartu SIM kamu juga kena air dan enggak bisa dipakai lagi. Gimana?” Reza menyodorkan ponsel itu pada pemiliknya.
Jelita terdiam sembari mengamati ponselnya dengan sendu. Tidak masalah jika benda itu rusak, mungkin bisa membelinya lagi. Namun bagaimana dengan SIM card sekaligus memory card-nya?
“Enggak apa-apa, Kak, Jeli juga berencana ganti nomor,” tandas Jelita.
Reza mengernyitkan dahinya. “Emangnya kenapa mau ganti nomor?”
Manik mata Jelita bergerak-gerak dalam kepanikan yang bisu. Ia baru saja memberi ungkapan yang justru membuat Reza semakin penasaran. Jika saja ia bisa mengatakannya dengan leluasa, semua pasti akan terasa mudah. Namun keinginan Jelita dalam melindungi pria itu masih sangat besar!
“Jeli hanya merasa ingin ganti aja kok, Kak, lagian udah lama banget Jeli pakai nomor itu. Dan ... sekarang ‘kan udah punya butik ramai, akan lebih baik kalau Jeli ganti nomor cantik yang mudah dihapal orang.”
Mata Reza memicing tajam. “Kamu kasih nomor pribadi buat para pelanggan, Jeli? Senyaman itu kamu, Jel?”
Jelita menggeragap. Ia terjebak dalam kebohongannya sendiri. Dan setiap kata bohong, selalu ia tutupi dengan kebohongan lain. Sialnya, Reza begitu cerdas! Pria itu berinsting tajam bagai ular, sangat cocok untuk menghadapi kasus di persidangan.
“Pelanggan yang kenal aja kok, Kak.”
“Bukankah mereka justru kesulitan menghubungi kamu, kalau tiba-tiba ganti nomor?”
“Kan Jeli masih bisa bikin pesan siaran ke mereka.”
__ADS_1
“HP-mu masuk kolam, Jel, otomatis nomor mereka hilang. Apa kamu sedetail itu mencatat di buku khusus ala zaman dulu?”
Jelita semakin terdesak.
“Jelita, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Kakak?”
Perlahan, mata Jelita menatap Reza. Ia paham betul jika saat ini Reza berusaha memasuki pikirannya dengan beberapa pertanyaan itu. Pria itu tak lagi imut melainkan seram sama seperti seorang detektif yang menginterogasi pelaku kejahatan.
Hingga akhirnya, Jelita mendesis panjang. Ia memukul perut Reza dengan kesal.
“Kakak ini gimana sih? Kan tadinya HP baik-baik aja, jadi Jeli bisa menghubungi mereka! Dan kejadian ini ‘kan enggak Jeli prediksi sebelumnya. Benar! Jeli pasti akan kesulitan menghubungi mereka. Lalu apa?”
“Ya, sanggahan cukup masuk akal. Tapi orang sepenting kamu, rasanya akan aneh jika tiba-tiba berencana mengganti nomor hanya karena terlalu lama dipakai. Secara umum, orang-orang justru akan menyimpan baik-baik bahkan menangis ketika SIM card lamanya rusak. Tapi kamu ...?”
“Je-jeli juga sedih kok, dan lagipula banyak foto di HP ini. Semua ludes, dan kalau sedih emang harus nangis nangis alay?”
“Sedih? Untuk HP apa SIM card itu?”
“Semuanya!”
“Tadi bilang mau ganti nomor, Jel? Tapi kok sekarang juga sedih soal SIM card-nya?”
“Biar Kak Reza puas!”
Reza muram. Beberapa alasan Jelita memang cukup masuk akal, tetapi ia merasa ada hal tak biasa. Seperti sesuatu yang disembunyikan oleh kekasihnya itu. Namun, pertanyaannya sudah dirasa cukup karena Jelita tampak tidak nyaman.
“Maafin Jeli, Kak,” gumam Jelita merasa bersalah. Tak berselang lama, ia menyusul langkah Reza.
Sesampainya di dalam, Jelita tidak mendapati Reza di ruang tamu. Lantas, ke mana pria itu? Karena bukan tuan rumah, tentu Jelita tidak cukup nyali menjelajah setiap tempat demi menemukan Reza. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk duduk sendirian di kursi sofa.
Sementara itu, Reza menyesap satu gelas penuh air putih di dapur rumahnya. Ia berusaha membuang segala kegusaran. Sama seperti beberapa saat yang lalu, ia tidak ingin bertengkar. Hanya saja, membuat hatinya tenang dan terhindar dari rasa curiga tidaklah mudah. Kali ini, Reza justru meyakini jika Jelita memang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Apa si Willi, benar? Jeli pernah bandingin gue sama orang lain? Lalu, siapa yang tadi telepon dia? Secara bersamaan pun ia jatuh dan HP itu masuk kolam ikan. Secara kebetulan? Rasanya cukup tak masuk akal. Jeli ... sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dan ada sesuatu yang dia sembunyiin. Tapi apa? Cowok lain? Atau dia ada main dengan Willi?” ucap Reza di antara rasa curiga dan ketidakpastian.
“Tapi, kalau benar ada cowok lain dan itu Willi, berarti orang itu beneran mau bersaing. Harusnya gue emang terima tantangan Willi dan membuktikan Jeli hanya suka sama gue,” lanjutnya.
Terakhir, Reza menghela napas dalam beberapa kali. Setelah dirasa cukup tenang, ia berbalik badan. Langkah pun ia ambil untuk menemui Jelita di ruang tamu rumah itu.
Hening masih menyelimuti rumah itu. Tak ada suara selain hembusan napas atau angin AC yang menderu. Kecanggungan kembali merayap, ditambah perdebatan yang tidak mengenakkan. Hal itu membuat Reza menghentikan langkah beberapa meter dari keberadaan Jelita. Gadis itu tampak menunduk, mungkin hanyut dalam pikiran mengenai sikap buruk Reza beberapa saat yang lalu.
“Jeli?” ucap Reza sembari melajukan kaki kembali.
Jelita mengangkat kepalanya seketika, kemudian berdiri. Dibaliknya badan dan akhirnya matanya bertaut dengan tatapan Reza. Pria itu tersenyum sumringah, seolah tidak terjadi sesuatu.
Lalu ... Reza menarik lengan Jelita kemudian memberikan pelukan hangat. Betapa sayangnya ia pada gadis itu, tak bisa ia memberikan raut marah dalam waktu yang lama. Ia terlalu rindu jika sekejap tak bertemu, oleh karenanya Reza ingin menghabiskan hari libur dengan indah bersama Jelita.
__ADS_1
“Kamu laper, Dek?” tanya Reza sembari melepaskan pelukannya.
Jelita menggeleng. “Belum, Kak,” jawabnya.
“Pola makanmu udah teratur, ‘kan?”
“I-iya kok, Kak, sekarang hanya malam aja Jeli makan sayur. Sementara pagi makan karbo, siang makan lemak hehe.”
“Bagus deh, selama masih teratur olahraga enggak bakal gemuk kok. Kakak juga akan berusaha!”
Reza tersenyum penuh makna, kendati Jelita masih tampak tidak enak hati padanya. Gadis perancang itu lebih sering menghindari tatapan mata Reza setelah mendapatkan pelukan hangat. Hal itu membuat Reza bergerak lebih cepat. Ia menangkup wajah Jelita dan memberika kecupan sekilas di bibir gadis itu.
Tentu, Jelita membelalak sebab terkejut atas sikap yang tidak diduga-duga. Ia yang tercengang tak bisa mengelak pada kecupan kedua, ketiga bahkan sampai lima.
“Kak Reza!” pekik Jelita sembari melepaskan diri.
“Mau lagi?” tawar Reza.
“Enggaklah! Enak aja!”
“Mau deng. Uuuh! Cup, cup,cup, cup.” Beberapa kali lagi, Reza kembali menyerang bibir Jelita.
Jelita mendengkus. “Apaan sih, kok tiba-tiba sering cap cup?”
“Kangen, Jelitaaa, nggak boleh?”
“Boleh dong.” Jelita tersenyum genit. “Tapi enggak boleh asal serang!” Eskpresinya berganti tegas.
Reza tertawa. Suasana hening pun beranjak pergi setelah momen romantisnya dengan Jelita. Mereka lantas menuju ruangan televisi. Menonton sebuah drama menjadi rencana tunggal detik itu.
****
Di dalam rumah kumuh itu, seorang pria mengumpat beberapa kali. Ia merasa kesal sebab si target justru terkesan tidak menggubrisnya. Target teror yang merupakan putri pertama dari pengusaha besar, tiba-tiba saja mematikan ponselnya. Itu yang pria itu duga, tanpa tahu kebenaran yang terjadi pada gadis itu.
“Jelita ... si gendut itu nantangin gue.” Pria itu menyeringai. “Lihat aja, jika masih berani cuekin gue, dia bakal habis lebih dulu. Oh ... enggak, tapi orang-orang yang dia sayangi.
Seorang wanita paruh baya yang duduk di sudut ruang mengamati diam-diam pria tersebut. Ia berharap putri kandungnya tidak dilibatkan dalam bahaya.
“Aku harus memastikan Jane baik-baik aja,” gumamnya.
****
Hai semua, aku punya novel baru mampir yah. mau keluar dari zona nyaman yang sering membahas si gendut-gendut. Kali ini gendre action romance. Judulnya -->
CEO Culunku Seorang Mafia
__ADS_1
Terima Kasih ;)