
“Enggak pernah tahu kalau Nona Jeli marah sih. Tapi kalau di TV, udah pasti orang kaya enggak bakalan ngebiarin mereka gitu aja. Duh, semoga aja Nona Jeli enggak sekejam itu.”
Episode 23-Kecewanya Jelita
“Tentu, Nyonya.”
“Mm, baik. Siang nanti saya akan ke sana.”
“Baik, Nyonya.”
Beberapa ucapan yang dilontarkan Jelita sembari menggenggam ponselnya dan meletakkannya tepat di telinga. Tiga detik berikutnya, ia mengucapkan salam diiringi panggilan yang ia matikan.
Gadis itu termangu dalam beberapa saat, helaan napas pun turut ia hela dalam. Kemudian, pandangan Jelita berpindah pada sebuah buku berisi rancangan-rancangan hasil karyanya sendiri. Lantas, ia meraih buku itu dan membuka halaman satu persatu.
Sebuah gambar berupa kebaya yang sudah selesai ia susun. Namun, Jelita justru merasa gusar. Ia seperti tidak puas ketika menatap gambar rancangan itu. Kemudian, ia mendesis juga mendengkus.
“Ada masalah, Nona?” tanya Iin sembari sedikit memutar tubuhnya dan menatap sang nona muda.
Jelita berangsur menatap salah satu pegawainya itu. “Ada, Mbak, sedikit,” jawabnya sembari menekan kening.
Iin bergegas bangkit dari duduk. Kemudian, ia melangkah demi menghampiri sang majikan. Ia menduga ada masalah tentang rancangan yang akan dibuat oleh Jelita. Mungkin komplain atau penambahan sesuatu pada gaun yang dipesan pelanggannya.
“Mm ... saya harus apa ya, Non?” tanya Iin.
Jelita menggeleng pelan. “Enggak perlu ngapa-ngapain, Mbak, kerjakan yang sudah dikerjakan. Lagipula kita bisa jual ke yang lain,” jawabnya.
Dahi Iin berkerut samar. “Anu, mungkinkah pihak pemesan membatalkan pesanan?”
“Mm ....” Jelita mengangguk. “Putri Nyonya Reyna ingin gaun ala tuan putri, bukan kebaya. Jadi, Jeli mau enggak mau harus ke sana dan mencatat detail dan gaya gaun yang dia mau.”
“Hmm ... sayang sekali, Nona. Padahal, kebaya sudah hampir rampung.”
“Ya udahlah, Mbak, mau gimana lagi? Toh, kita enggak ada sistem DP, jadi ya begini. Mereka bisa batalin seenaknya aja. Mungkin, ke depannya Jeli mau pakai sistem uang muka.” Jelita mendengkus, atas rasa kecewanya. “Untung keluarga Kak Reza,” gumamnya.
“Haa?”
“Eh, en-enggak kok, Mbak.” Gadis itu mengulas senyum malu-malu.
Ya, jika bukan keluarga Reza sudah pasti Jelita tidak terima. Sebab, sejauh ini ia mengerjakan kebaya itu sesuai permintaan. Hasil rancangan yang ia buat sebelumnya dirombak habis demi memenuhi keinginan anak perempuan dari Reyna sekaligus adik dari Reza. Dan sekarang, mereka justru mengubah lagi pesanan itu. Sebuah gaun bukan lagi kebaya, rasanya Jelita sedang dipermainkan oleh mereka. Bahkan, oleh Reza yang masih sok jual mahal.
__ADS_1
“Oke, baik, sabar, hadapi!” ucap Jelita tegas untuk menguatkan hatinya sendiri. Tidak akan ia biarkan keluarga itu mempermainkan dirinya.
“Lihat aja, nanti aku yang bakal balikin keadaan!” tambah Jelita dengan geram.
Melihat Jelita yang diliputi amarah, membuat Iin terpaksa menelan saliva. Baru kali ini, ia melihat sang nona muda semarah itu. Mungkin, karena rombakan yang Jelita lakukan beberapa waktu yang lalu. Tentu saja, jika ia di posisi Jelita akan melakukan hal yang sama yaitu marah dan kecewa.
“Nyonya itu apa enggak tahu kalau Nona Jeli anaknya Pak Nur, ya?” gumam Iin penuh tanya, sembari menggigit jarinya.
“Enggak pernah tahu kalau Nona Jeli marah sih. Tapi kalau di TV, udah pasti orang kaya enggak bakalan ngebiarin mereka gitu aja.” Iin semakin diliputi kegelisahan. Terlebih ingatan perilaku para orang kaya yang sedang marah di dalam drama-drama televisi. Lantas, bagaimana jika majikannya berbuat macam-macam pada keluarga Reyna?
Tak lama berselang, Jelita segera menyambar tas ransel dari atas meja kerjanya juga kunci mobilnya. Sesaat setelah menilik waktu pada jam tangan, ia segera mengambil langkah tegas untuk keluar dari butiknya. Benar, sudah hampir sampai di jam makan siang. Gadis itu tidak menunda lagi keberangkatannya ke rumah Reyna. Alamat nyonya itu pun telah ia terima melalui sebuah pesan.
Jelita segera melajunya mobilnya. Tentunya dengan perasaan yang tidak menentu, karena kekecewaan itu. Namun, mau tidak mau ia tetap menuju rumah itu demi memuaskan pelanggan sekaligus calon mertuanya sendiri. Ya, jika Reza akan bersedia menjadi suaminya nanti.
****
Mobil Jelita berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah berlantai tiga. Meski tidak seluas atau secanggih rumahnya, tetap saja bisa dikatakan lumayan mewah olehnya. Gadis itu menjadi tertegun, sebab rumah itu merupakan tempat tinggal pria yang yang ia puja. Andai saja Reza ada di dalamnya, pasti ia akan bahagia dan setidaknya dapat menutupi rasa kecewanya. Namun, sudah pasti Reza sedang bekerja saat ini.
“Pak, saya Jelita ada janji sama Nyonya Reyna,” ucap Jelita sesaat setelah membuka jendela mobilnya dan memanggil seorang penjaga keamanan.
Security itu berangsur mengangguk, teringat tentang pesan sang nyonya agar mempersilakan masuk gadis bernama Jelita. Kemudian, ia bergegas membuka pintu gerbang. Tanpa pikir panjang lagi, Jelita memasuki gerbang rumah itu bersama mobilnya.
“Siang, Nyonya,” sapa Jelita seiring gerakan tangannya yang menjabat tangan Reyna kemudian diberikan kecupan oleh keningnya.
“Ayo, ayo, masuk.” Reyna sungguh antusias meminta gadis itu untuk masuk.
Namun, seorang gadis dan pria yang tidak Jelita kenal tadi justru menatapnya dengan pandangan tidak suka. Entah, Jelita pun tidak mengerti.
Sesampainya di dalam rumah, Reyna mempersilakan gadis perancang itu untuk duduk. Dipanggilnya salah satu pelayan rumahnya dan memintanya menyajikan berbagai minuman.
“Ck, Mama jangan berlebihan kenapa?” ucap gadis asing bagi Jelita yang sebenarnya adalah Risa—putri Reyna.
Reyna mendesis sembari meletakkan telunjuknya di depan hidung. “Sssttt ... yang sopan kamu sama calon mantu Mama!” ucapnya. Kemudian, ia beralih menatap Jelita. “Hai, Jeli. Kenalin ini anak kedua saya Risa adiknya Reza.”
Jelita mengulas senyum. Ia bangkit dari duduk. Kemudian, mengulur tangan sebagai tanda jabat perkenalan. Namun, Risa justru enggan membalas sikap sopannya.
“Saya Jelita,” ucap gadis perancang itu mau tidak mau.
Risa masih acuh, bahkan melipat kedua tangan secara tidak sopan. Alhasil, membuat Reyna mendadak diliputi rasa malu sebab ulah anaknya itu.
__ADS_1
Sang nyonya pun berdiri. Kemudian, ia menghampiri Risa. “Yang sopan dong, Risa! Ini nona Jeli, anaknya Nur Imran sekaligus perancang busana pernikahan kamu. Dan calonnya kakak kamu!” ucapnya.
“Terus, Risa harus bilang wow gitu? Mentang-mentang dia nona muda terus harus tunduk gitu? Ini salah satu cara Mama buat bikin Dika minder, ‘kan? Kenapa sih Ma, Mama enggak pernah terima Dika? Sementara cewek yang bahkan belum ada hubungan sama Reza, Mama justru baik-baikin terus!”
“Risa!”
“Kenapa, Ma? Bener, ‘kan? Mama cuma manfaatin cewek ini buat bikin aku sama Dika makin insicure, ‘kan? Dan ... perancang busana apanya, baju-baju dia enggak berkelas sama sekali!”
“Ris—” Ucapan Reyna terpotong sebab tangan Jelita menahan lengannya.
Jelita mengulas senyum sinis. “Ya, saya emang orang asing. Saya juga enggak punya baju berkelas. Kalau begitu saya minta ganti rugi atas pembatalan pesanan yang Nona lakukan, sebab kebaya tersebut hampir rampung.”
Reyna terkesiap. “Jeli ...?”
“Saya enggak minta sama Nyonya, saya minta sama Nona Risa. Dan bukti persetujuan tentang pesanan itu saya pegang, jadi kalau enggak mau ganti rugi saya bisa tuntut sebagai penipuan. Karena biaya yang saya pakai untuk membuat kebaya tersebut bukan biaya yang sedikit. Dengan posisi saya sebagai nona muda, pasti mudah bagi saya untuk menuntut Anda, Nona Risa.”
Begitu santai, Jelita mengucapkan pernyataan yang berisi ancaman itu. Namun, tampak raut tegas di wajahnya. Hal itu membuat Reyna, Risa, bahkan Dika menjadi terdiam seribu bahasa. Tentu, karena posisi gadis itu sebagai nona muda—anak dari pengusaha besar nomor dua di Indonesia.
Sesal pun meliputi hati Risa sebab ia tidak berpikir panjang dalam bertindak. Beberapa saat yang lalu, ia pikir Jelita adalah gadis yang lemah. Mungkin jika diberi ancaman sedikit Jelita akan merasa gemetar. Namun apa yang terjadi sekarang? Keadaan justru dibalikkan oleh gadis perancang itu. Mungkin Risa bisa mengganti biaya kerugian perihal kebaya. Namun jika pihak Nur Imran berbuat yang tidak-tidak pada perusahaan keluarga, apa yang akan terjadi nantinya?
Tiba-tiba, suara deham terdengar oleh mereka semua. Reza tampak memasuki ruangan di mana mereka berada.
Jelita bergeming, bahkan tidak peduli. Karena rasa kecewa juga emosi, membuatnya lupa perihal kecintaannya terhadap Reza.
“I-itu, Kak Reza, Jel,” ucap Reyna mencoba merayu.
Namun, Jelita tetap membisu. Sementara, langkah Reza semakin mendekati mereka. Kemudian, pria itu berhenti tepat di hadapan Jelita.
“Apa Anda lupa kalau aku seorang pengacara, Nona Jeli?” tanya Reza.
Jelita menggeleng tegas. “Tentu tidak, Tuan pengacara. Tampaknya, Anda yang lupa perihal siapa saya ,” jawabnya.
Tatapan Jelita bertaut dengan tatapan Reza. Tidak ada senyum layaknya sebelumnya di antara keduanya. Yang ada justru sebuah aliran listrik yang seolah mengalir melalui tatapan mereka. Membuat Reyna terpaksa menelan saliva. Wanita paruh baya itu mendadak gemetar, karena kedua sejoli yang tinggal selangkah lagi bisa dijodohkan, kini malah saling melemparkan genderang perang.
****
Jangan lupa jempolnya hehehhe.
Tembus 100 like aq up lagi. Karena ada kejutan di balik Sikap Jeli, Coba tebak Hehehe.
__ADS_1