
“Mulai sekarang aku, Reza enggak bakal menahan diri lagi.”
Episode 32-Kekhawatiran Reza
Selepas melangsungkan acara makan siang, Reza mengantarkan Jelita ke sebuah kafe untuk melakukan pertemuan. Mobilnya tepat berhenti di depan tanpa memasuki kafe tersebut. Sejujurnya, sejak tadi Reza menahan rasa gusar yang tidak keruan. Sebab, ia baru diberitahu bahwa CEO yang akan ditemui kekasihnya merupakan CEO baru dan tentunya masih sangat muda.
Reza terbayang ucapan Jelita beberapa saat yang lalu.
“Kak, habis ini Jeli mau ketemu sama klien Papa. Kakak bisa anter, ‘kan?” tanya Jeli pada saat itu.
Reza memgangguk pelan. “Bisa dong, Dek. Tapi, lebih awal ya? Kakak harus sidak tempat kejadian,” jawabnya.
“Emm! Kita tiga puluh menit aja makan siangnya. Hmm ... sayang sekali, padahal pengen lebih lama sama Kakak!”
“Enggak apa-apa, Sayang. Ke depannya masih banyak waktu senggang.”
“Iya sih, Kak. Enggak rela aja kalau waktu Jeli sama pacar jadi kepotong. Masalahnya, Papa udah bikin janji dari sebelumnya dan malah masih ketahan di Singapura. Belum lagi, yang datang CEO baru, jadi Jeli mau enggak mau harus datang, kalau CEO lama ‘kan bisa paham.”
Reza yang baru menenggak air putih menjadi tersedak mendengar itu. Hal itu membuat Jelita segera bangkit dan menekan tengkuk kekasihnya itu.
“Udah, Dek. Makasih.” Reza menghela napas, kemudian meminta kekasihnya untuk kembali duduk.
Jelita menampilkan wajah yang cemas, sebab pria gembulnya itu tak hanya sekedar tersedak, melainkan sampai pucat pasi. Tentu saja, ia khawatir jika Reza sampai sakit. Apalagi, jika itu karena dirinya.
“Mm ... Dek?”
“Ya, Kak!”
Reza menggigit bibir bawahnya. Di tatapnya wajah Jelita. Kemudian, dengan ragu-ragu ia berusaha bertanya, “CEO ... itu ganteng?”
“Mm?”
“Aah ... mm ... lupain, Dek!”
“Pft, hahaha!”
“Kenapa tertawa?”
“Takut aku naksir dia yaaa?”
Reza mendesis mengingat perbincangan itu bersama kekasihnya. Dan tentu saja, ia tidak mengakui hal itu. Sebab, ia tidak ingin membebani Jelita. Hanya saja, membuang kekhawatiran sama sekali tidak mudah. Sampai di kafe itu pun, ia masih kepikiran.
Sementara Jelita sudah siap untuk turun. Bahkan, satu kakinya sudah berada di luar. Ia menatap Reza dengan kesal karena sejak tadi tidak ada ucapan apa pun dari pria gembulnya itu. Sampai ia akan pergi pun, Reza seolah asyik dengan dunia sendiri. Alhasil, Jelita memilih tidak peduli.
Namun, ketika gadis perancang itu benar-benar hendak turun, lengannya justru dicengekeram oleh Reza. Lantas, Jelita menghela napas sembari menoleh ke arah pria gembulnya.
__ADS_1
“Apa?!” tanya Jelita tegas.
Reza terkesiap. “Kok galak sih, Dek?” tanyanya heran.
“Males! Dari tadi, Jeli dicuekin aja. Bahkan mau berpisah pun, asyik sendiri aja! Enggak dikecup lagi! Ngeselin! Udah dibilang ini tanggal-tanggal Jeli dipenuhi emosi juga, malah milih bengong sendiri. Mikirin cewek mana kali?!”
“Mikirin kamu!”
Dahi Jelita berkerut. “A-aku? Orang yang salah Kakak! Kenapa jadi ke aku?”
“Masuk dulu, tutup pintunya.”
“Eh?”
Rasa bingung semakin pekat menyelimuti perasaan Jelita. Namun kendati demikian, ia tetap menuruti permintaan Reza. Apalagi kedua mata Reza yang menatapnya dengan tajam, membuat nyalinya menjadi menciut. Ia kembali duduk seperti sebelumnya. Ada ketegangan yang menilik di antara kebersamaan. Entah, apa yang membuat Reza tiba-tiba bersikap seperti itu. Seperti ada kekesalan dari bola mata pria itu.
Karena merasa khawatir jika sampai terlambat, Jelita melirik waktu secara diam-diam pada jam tangan yang ia kenakan. Ia menghela napas lega, lantaran masih lima belas menit lagi waktu yang tersisa.
“Jangan khawatir, enggak bakal telat kok,” ucap Reza tiba-tiba.
Jelita terkesiap, tidak menyangka kekasihnya itu menyadari apa yang ia khawatirkan. “Mm ... maafin Jeli, Kak. Kayaknya Jeli keterla—” Ucapannya terpotong begitu saja.
“Mulai sekarang aku, Reza enggak bakal menahan diri lagi.”
“Kamu milikku, Jeli, jadi jangan naksir cowok lain!” lanjut Reza dengan penekanan di nada bicaranya.
Tubuh Jelita menjadi kaku, bahkan menggerakkan lehernya pun rasanya sulit. “Ka-kakak mikirin kata-kata Jeli ta-tadi?” tanyanya.
“Sayang!”
“Eh?”
“Panggil aku sayang, aku bukan kakakmu. Sayang!”
“Haa? Kok geli ya?”
“Geli?”
“Ah! Enggak kok, Kak, hahaha.”
Itu memang yang Jelita inginkan dari Reza sebagai kekasihnya. Namun jika tiba-tiba seperti itu, rasanya masih sukar untuk dipercaya, bahkan terbilang aneh baginya. Jelita rasa karena pertemuan yang akan ia lakukan bersama CEO muda, membuat Reza berlaku seperti itu. Ada sesal, karena bukan merupakan ketulusan melainkan ketakutan dari pria itu.
Kemudian, Reza berdeham. “Aku sedang cemburu, kamu benar. Aku takut kamu menyukainya, sa ... mm ... sa ... mm ....” Pria itu mendesis sebal lantaran kesulitan berkata manis ketika sedang serius. Sementara, ketika tidak sadar ia mengucapkan dengan suka rela. Ah, kadang kenyataan memang tak sesuai dengan harapan. Mengesalkan!
“Jangan dipaksa, Kak, panggil Jeli kayak biasanya aja. Lagipula, Jeli bukan gadis yang mudah jatuh cinta pada cowok lain. Kakak enggak perlu khawatir.” Kendati merasa sedikit kecewa, Jelita berusaha mengulas senyumnya sekaligus berucap itu untuk menenangkan hati pria gembulnya.
__ADS_1
“Enggak!” tampik Reza. Ia menatap wajah Jelita dengan serius, bahkan ditangkupkan tangannya pada wajah cantik itu. “Sudah lama aku ingin melakukan ini, mungkin ketakutan ini merupakan jalan untuk menunjukkan keberanian.”
“Mm ... tapi Jeli lebih suka panggil kakak daripada sayang. Kecuali di momen tertentu. Karena dari awal, Kak Reza itu udah aku sebut sebagai kakak gembul kesayangan.”
Reza tersenyum. “Baiklah, Sa ... mm ... Sa-yang. Kakak kasih izin kamu panggil itu.”
“Mm ... terima kasih. Dan maaf, karena tadi Jeli ngomel enggak jelas.”
Reza beransur merengkuh tubuh Jelita. Sikapnya sukses membuat Jelita semakin terkesiap. Gadis itu tidak menyangka Reza akan memeluk dirinya, padahal selama ini pria itu tidak pernah melakukan hal itu kecuali jika traumanya kambuh. Hangat! Ya, pelukan Reza selalu hangat baginya. Rasa nyaman pun berangsur menggantikan kebingungan sekaligus kekecewaan.
“Maaf, kalau selama kamu pacaran sama Kakak, Kakak enggak pernah bikin hati kamu lega. Yang ada justru kamu yang selalu sabar dengan ketidakpekaan Kakak, Sayang,” ucap pengacara itu sembari mengusar rambut Jelita dengan lembut.
“Jeli yang terlalu manja sama Kakak,” balas sang gadis perancang.
“Kakak sungguh-sungguh, enggak bakal nahan diri lagi.” Reza melepas tubuh Jelita dan menangkup wajah gadis itu.
Hal serupa seperti ketika baru berangkat untuk makan siang pun terjadi lagi. Namun, detik itu mata Jelita justru terbelalak daripada terpejam. Napas gadis itu seolah terhenti, bahkan seluruh tubuhnya kaku. Wajah Reza yang sendu semakin mendekati wajahnya sendiri.
Dan ....
“Jeli terlambat, Kak!” seru Jelita sembari mendorong tubuh Reza. Gadis itu terengah-engah. Sementara seluruh wajahnya memerah. “Jangan aneh-aneh, ini jalan raya dan tempat umum.”
Reza yang sempat kaget, kini membenarkan posisi duduknya juga pita suaranya. Kemudian, ia malah tertawa.
“Baiklah, kamu turun gih,” ucap Reza di detik berikutnya.
Jelita mengangguk. “Iya, Kak.”
“Mm ... Kakak tunggu malam nanti.”
“Hah?”
“Udah Kakak bilang, Kakak enggak mau nahan diri lagi. Jangan lupa, kamu milik Kakak! Jangan naksir dia ya, Sayang.” Pria itu berucap sembari tersenyum genit.
Namun, Jelita justru memasang wajah aneh. “Sumpah, kok aku geli sih jadinya!” serunya, kemudian ia segera bergegas turun untuk kabur dari Reza.
“Hmm ... cewek maunya apa sih? Kemarin minta, pas diturutin kok malah jijik. Kok gue yang di posisi salah terus ya?” gumam Reza heran. Ia menatap punggung kekasihnya yang semakin menjauh.
Hingga, Jelita sampai di teras kafe, Reza melihat seorang pria bertubug tinggi serta tegap menghampiri kekasihnya itu. Reza menelan saliva karenanya. Ia menatap pria itu semakin seksama, kemudian menatap perutnya yang buncit. Sekali lagi, ia menelan saliva.
“Posisi gue terancam bahaya!” pekik Reza sembari mengusap kasar perut buncitnya. Wajahnya menampilkan raut kecemasan, detik berikutnya malah hendak menangis. Bagaimana tidak, jika Jelita justru terlihat serasi dengan pria bertubuh indah yang kemungkinan seorang CEO muda.
****
Jangan Lupa Jempulnya, ya
__ADS_1