Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 6-Tak Percaya Diri


__ADS_3

“Aku pikir Reza yang pernah ketemu di kantin waktu itu. Ternyata bukan toh.”


Episode 6-Tak Percaya Diri


Jantung pria itu mendadak berdebar, sedangkan kedua matanya masih tidak percaya menatap gadis yang ada di hadapannya. Bagaimana bisa ia menemukan gadis yang berhasil membuatnya terbayang-bayang selama ini? Bahkan, sampai membuat sekujur tubuhnya kaku tak mau digerakkan sama sekali.


“Za?” Reyna memanggil pria itu. Pria yang merupakan anak laki-laki kesayangannya.


“Za, Reza!” tambah Reyna lebih tegas.


Alhasil, Reza menggeragap. “I-iya, Mama!” jawabnya dengan lantang.


Lalu, Reza berbalik badan. Ada rasa malu sekaligus tidak ingin Jelita tahu perihal siapa dirinya. Hal itu disebabkan oleh penampilan dirinya yang tidak rapi, bahkan mengalami kenaikan berat badan dalam jumlah besar.


Jangan sampai dia ngenalin aku, batin Reza detik itu juga.


Sikap Reza sukses membuat sang ibunda bahkan Jelita merasa heran. Kedua wanita itu saling bertatapan satu sama lain, saling menanyakan perihal apa yang tengah terjadi terhadap Reza. Namun, Reyna hanya mengangkat kedua pundaknya, tanda tidak tahu.


“Kamu Reza?” tanya Jelita memberanikan diri. Gadis itu berdiri dari duduknya dan lantas maju satu langkah menghampiri Reza.


Sayangnya, Reza justru menjauh. “A-anu, m-mungkin salah orang!” ucapnya berkilah.


Reyna terbelalak dengan rahang yang menganga. Kemudian, ia memutuskan berdiri menghampiri anak lelakinya itu dengan perasaan heran penuh tanya. Ketika, wanita paruh baya itu mendapati wajah sang anak sedang merona merah jambu, muncul seulas senyum simpul.


Reyna menyadari apa yang tengah Reza rasakan saat ini. Mungkin belum terlalu tepat sesuai tebakan, tetapi sebagai orang tua yang juga pernah muda ia bisa lebih paham, bahkan melebihi siapa pun.


“Kamu enggak mau berkenalan dengan Nona cantik ini, Sayang?” tanya Reyna pada Reza, menarik ulur hati anak itu.


“Ma, ayo pulang!” balas Reza, masih tidak berkutik. Bahkan, ia masih membelakangi Jelita.


Jelita menghela napas dalam. “Aku pikir Reza yang pernah ketemu di kantin waktu itu. Ternyata bukan toh.” Ia tertawa kecil. “Salam kenal, Kakak Pengacara.”


Reyna mencubit lengan Reza. Wanita itu tidak mau melewatkan kesempatan dalam pertemuan tidak terduga ini, juga karena keinginan hati untuk memiliki Jelita sebagai menantu di keluarganya.


“Za, yang sopan dong!” tegas Reyna, ketika Reza masih berdiri terpaku.


“Reza!” Reyna sudah benar-benar kehabisan kesabaran oleh ulah anaknya itu.


Akhirnya, karena semakin lama merasa malu, Reza memutuskan untuk berbalik. Sungguh, sekujur tubuhnya bergetar, seiring putaran badan menghadap sang designer muda berikut Jelita. Masih tertunduk, tanpa mau menatap manik mata Jelita.

__ADS_1


“Aku, Jelita,” ucap Jelita memperkenalkan diri sekali lagi. Gadis itu mengulurkan tangannya berharap pria yang ada di hadapannya menyambut dengan balasan yang baik.


“Za!” Reyna menoel anak laki-lakinya itu, agar Reza segera memberikan balasan di tangan Jelita.


“Reza,” lirih Reza. Ia menghela napas dalam, lalu menyambut tangan Jelita sampai membentuk sebuah jabat tangan.


Senyum merekah di bibir Jelita, dengan rambut yang teruari indah membuat gadis itu semakin menawan ketika dilihat. Bahkan, oleh Reza yang berangsur membuka rahangnya karena kekaguman itu muncul di hatinya. Bagaimana bisa ia ingin menghindari gadis secantik itu?


Reyna tersenyum secara diam-diam. Ia lega sekaligus bersyukur, tanpa adanya campur tangan dirinya sendiri anaknya sudah terpikat oleh gadis muda yang ia sukai. Memang, rezeki tidak akan ke mana, bahkan seorang calon menantu sekalipun.


Wanita paruh baya itu perlahan mengambil langkah. Ia mengendap pergi tanpa sepengetahuan Reza juga Jelita. Ia ingin memberikan kesempatan berikut pendekatan lebih dalam.


“Kamu masih ingat aku?” tanya Reza.


Jelita menatapnya bingung. Namun tak menunggu lama, ia mengangguk. “Jadi, ... kamu benar-benar Reza yang waktu itu?” tanyanya kembali.


“Ya, aku beda banget, ya? Makin subur hahaha.”


“Tanda bahagia, Kak.”


“Kak?”


“Handal? Ah! Mama aku ngomong enggak-enggak ya sama kamu.”


“Sedikit.” Jelita tersenyum manis. Bagaimana tidak, ketika ia justru teringay tentang rencana Reyna tentang perjodohannya dengan Reza—pria—yang ia temui saat ini.


“Oh!” pekik Reza. Ia berbalik ketika ingatan tentang ibundanya muncul.


Rasa bingung dan panik mendadak memenuhi dada Reza. Matanya berkeliaran mencari-cari keberadaan Reyna. Lalu, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk ke dalam benda kotak itu.


Reza segera merogoh ponsel dari dalam saku celana jeans yang saat ini ia pakai. Nomor ponsel bertulis “mama” tampak di sana. Tanpa menunggu lama lagi, ia segera menjawab berikut panggilan itu.


“Ma? Di mana?” tanya Reza.


“Mama sudah pulang, nikmati waktu kalian berdua dulu,” jawab Reyna dari kejauhan sana. Meski, kejauhan itu adalah teras kafe di mana wanita itu tengah mengintip diam-diam.”


“Mama ...?”


“Ayolah. Ada kesempatan lho. Sudah, ya? Mama ada arisan sama geng-geng sosialita.”

__ADS_1


“Ma ....”


Belum sempat merengek lebih panjang lagi, panggilan tersebut dimatikan secara sepihak oleh Reyna. Hal itu sukses membuat Reza terkesiap. Rasa tidak percaya diri kembali muncul menghinggapi sekujur tubuhnya. Apa yang akan ia lakukan dengan gadis itu?


“Nyonya Reyna di mana, Kak?” tanya Jelita mengagetkan pria itu.


Reza berbalik. Ia menatap sang gadis dengan salah tingkah. “Anu ... mm ....” Pikirannya benar-benar kosong. Tak layaknya biasa ketika menghadapi persidangan, kali ini otaknya justru tumpul oleh seorang gadis muda yang sempat ia kenal beberapa tahun yang lalu.


“Nyonya Reyna pulang, ya?” tanya Jelita kembali memastikan.


“Iya ...,” jawab Reza lirih. “M-maafkan mama saya, Jeli-ta.”


“Enggak apa-apa, kok. Mm ... kita bisa sedikit berbincang, ‘kan? Sepertinya bisa mengenang masa-masa perkuliahan dulu.”


“Kamu enggak keberatan bincang sama aku?”


“Ya, kebetulan hari ini libur.”


Dengan gerak malu-malu, Reza menarik kursi yang ada di hadapannya, juga Jelita. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. Perasaan berbunga-bunga masih menguasai hati Reza, selain mengagumi sosok Jelita, ia juga merasa berdebar ketika bertemu gadis yang semakin cantik itu.


Teringat dulu, ketika Reza merasa tidak asing oleh sosok Jelita. Memang, rasa keingintahuannya yang begitu tinggi membuatnya bersikeras mencari jati diri Jelita. Akhirnya, ia menyadari bahwa gadis itu sedang menjadi perbincangan masyarakat luas berkat hidup sehat dan menurunkan berat badan.


Tanpa Reza sadari, setelah mengetahui siapa Jelita, ia memperhatikan gadis itu secara diam-diam. Bahkan, akan berpura-pura memutar arah untuk mendapat setidaknya senyum sapaan dari Jelita. Hal itu terus ia ulangi sampai satu minggu lebih. Sayangnya, ia harus pindah ke Bandung, mau tidak mau ia melupakan tentang kebiasaan itu. Kebiasaan yang ia artikan sebagai rasa kagum terhadap Jelita.


“Jujur, ... aku tadi sempet malu ketemu sama kamu, Jel,” ucap Reza.


Dahi Jelita mengernyit. “Malu? Kenapa harus malu?” balasnya.


“Aku jadi gendut.”


“Hahaha ... kirain kenapa. Enggak apa-apalah, Kak.”


“Aku berbanding terbalik sama kamu. Kamu terus menjalani hidup yang baik ya? Setelah jadi tranding topic.”


Jelita tersenyum. “Aku hanya ingin mencintai diri sendiri, Kak.”


Pernyataan Jelita sukses membuat Reza tersindir. Hatinya bak ditusuk sebuah belati tipis. Mencintai diri sendiri katanya? Berarti Reza tidak mencintai dirinya sendiri, ia hanya kagum dengan gadis itu. Sayangnya, tidak bisa mengikuti anjuran yang selama ini Jelita gerakkan. Gerakan perihal hidup sehat.


****

__ADS_1


JANGAN LUPA JEJAK JEMPOLNYA, YAH! BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT! 


__ADS_2