
“Halah! Ganteng kalau bekas zinah, buat apa?!”
Episode 7-Rumor Tak Sedap (Bonus)
William berjalan dengan gagah menuju ruang kerjanya di perusahaan Harsun. Namun kendati begitu, tidak bisa ia tepis perasaan gusar. Kegusaran yang disebabkan oleh beberapa orang. Rumor mengenai anak haram menyebar luas oleh sebab seseorang tidak bertanggung jawab. Pasalnya, ada beberapa pemilik saham di bawah Harsun yang tidak menyukai William sebagai CEO baru perusahaan besar itu. Sehingga, orang itu begitu tega menyebar fakta akan latar belakang William sebenarnya.
Beberapa staf masih menunjukkan tatapan nanar pada William, bahkan tanpa rasa takut sekalipun. Mereka saling berbisik dengan hujatan yang sungguh tidak sedap untuk didengar. Namun karena sudah sangat terbiasa, William mampu mengabaikannya. Ia menduga jika seseorang dengan pengaruh kuat menghasut mereka agar tidak takut padanya.
“Anak haram sama anak pungut ya cocok! Menurut rumor yang beredar, pacar dia 'kan juga cuma anak tiri, bahkan nih, ibunya tuh cewek bikin masalah besar.”
“Masa' sih? Lo tahu siapa ceweknya?”
“Nggak tahu sih, cuma kabar ini udah meluas. Karna pernah masuk berita televisi juga, yang gue denger sih anak konglomerat juga. Belum terlalu ngikutin, lagian setahun yang lalu. Males ngorek fakta hahaha.”
“Tapi, ganteng loh dia, Mir. Bak orang Korea.”
“Halah! Ganteng kalau bekas zinah, buat apa?!”
“Iya sih.”
William menghela napas. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat, tatkala emosinya hampir meledak. Pasalnya, bisikan mereka sudah membawa-bawa kabar mengenai Jane yang entah dari siapa. Baru tujuh langkah berjalan dari kedua wanita itu, William menghentikan laju kakinya.
Dengan gurat geram yang kini hadir menghias wajah tampan, William berjalan mendekati mereka. Tentu saja, kedua wanita itu terkejut dan kalang kabut. Apalagi ketika William sudah resmi menjadi CEO di Harsun Group.
“Jangan pergi!” tegas William saat kedua wanita itu hendak melarikan diri darinya.
Dan tanpa sungkan, William menarik id-card yang terkalung di leher keduanya. Jabatan sebagai manajer berbeda divisi dimiliki oleh kedua wanita itu dengan nama Berly dan Eriya. Rasa tegang meliputi diri mereka. Terlebih, mata sabit milik William memberikan tatapan nanar.
Pria tampan itu menggertakkan gigi sembari menghempas kedua id-card dengan kasar.
“Ma-maafkan kami, Tuan,” ucap Eriya dengan bibir gemetar.
“Ma-maaf, Tuan Willi,” tambah Berly sama ketakutan.
__ADS_1
William memicingkan mata. “Apa hak kalian membicarakan saya? Ada yang nyuruh? Dibayar berapa kalian? Demi sepeser uang itu, kalian rela kehilangan pekerjaan, hah?! Dengan jabatan setinggi ini?” balasnya tegas.
“Ja-jangan, Tuan, ka-kami minta maaf. Ka-kami ....”
Eriya menelan saliva. Ada ancaman yang terbesit di benaknya. Dari orang itu, orang yang menyebarkan rumor agar Eriya gosipkan dan membuat William tertekan. Orang itu bilang, William memiliki hati yang lemah tak akan pernah marah, tetapi kini William justru bersikap sebaliknya. Eriya menyesal sekaligus ketakutan.
“Siapa yang nyuruh kamu?!” Suara William meninggi, saat tidak ada jawaban yang ia peroleh dari Eriya juga Berly. “Salah satu petinggi? Pemilik saham kedua, ketiga, keempat, atau bahkan pemilik kantor cabang kecil, hah?!”
“Jawab!” tegas William menambahi kalimat tanya sebelumnya.
Kedua wanita itu benar-benar khawatir sekarang. Bingung harus berbuat apa. Pasalnya, wajah William yang terkenal tampan kini terlihat mengerikan dengan amarah meletup-letup. Berly dan Eriya takut jika dipecat tanpa ampunan, tak peduli perihal jabatan setinggi apa, semua akan sia-sia jika sang CEO tidak mengampuni.
Beberapa karyawan yang hadir di sana lantas memperhatikan. Mereka menelan saliva, sebab baru pertama kali melihat sosok William yang mengerikan. Tidak menyangka, pria yang biasa ramah itu tiba-tiba bersikap garang. Mereka tahu sudah pasti berkaitan dengan rumor itu.
“Pak CEO.” Seorang pria paruh baya mendatangi William. Ia merunduk santun setelah William menatap. “Selamat pagi, Pak.”
William tidak menjawab. Malas. Bisa saja pria yang merupakan pemegang saham kedua itu adalah pelakunya. Dalam kondisi saat ini mempercayakan segala hal pada saingan, sekalipun dalam rumah sendiri, bukanlah keputusan yang tepat. Sebab masih ada kesempatan untuk melengserkan jabatan William, dan menempati posisi itu ketika sudah berhasil.
“Ada masalah apa, Pak CEO? Kenapa pagi-pagi sudah menggertak karyawan?” lanjut pria itu.
Tedy tersenyum. “Ada baiknya Bapak menyelidiki dulu dengan seksama, baru setelah itu membuat keputusan untuk menangani mereka berdua.”
“Ya, tentu saja. Bukan hanya menyelidiki, bahkan ketika orang itu tertangkap saya akan mencincangnya sampai habis!” William menyeringai. “Selamat pagi!”
Tedy hanya tersenyum, selebihnya merundukkan badan sebelum William berlalu.
“Waaah!” Para karyawan kompak takjub ketika William melanjutkan langkah kaki dengan gagah, sembari merapikan blazernya dengan tegas.
Beberapa ada yang terpengaruh, sampai berjanji dalam hati tidak akan bergosip lagi. Sebab, jabatan William saat ini benar-benar menakutkan untuk dipermainkan. Kehilangan pekerjaan hanya kerena bergunjing, miris bukan?
Bubarnya para karyawan, Tedy berangsur memasang raut datar. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Ia hanya berjalan untuk ke ruangannya, melainkan direktur utama dari divisi terkait. Justru yang nampak sekarang adalah Reza Amdan Nugraha yang masih asyik berdecak oleh sebab kegarangan William barusan.
“Kakak Willi udah jago!” pekik Reza kemudian segera melanjutkan langkah kaki untuk menuju ruangan CEO baru itu, karena sudah ada janji sejak tadi malam.
__ADS_1
Setelah dilaporkan akan kedatangannya oleh seorang sekretaris sexy, Reza lantas memasuki pintu besar bernuansa emas dengan aksen batik di beberapa sudutnya. Sudah pasti pintu milik ruangan CEO ternama di Harsun group itu.
“Selamat pagi!” sapa Reza dengan sikap profesional.
Dari kursi kerjanya, William mendengkus. “Sok ganteng lo!” ucapnya.
Tanpa dipersilakan Reza duduk di sebuah sofa dalam ruangan itu. Alih-alih menjawab, ia hanya sekedar tertawa. Dan William tak menunggu lama untuk menghampiri sang pengacara. Tak lupa ia pesankan kopi seperti biasanya pada seorang office girl.
“Lo kenapa panggil gue sepagi ini, Will?” tanya Reza yang kini sudah resmi menjadi pengacara pribadi William pasca berbaikan.
William menghela napas, kemudian menjawab, “Gue butuh bantuan lo, Za.”
“Soal barusan?”
“Lo tahu?” tanya William dengan dahi berkerut samar.
“Pas lo marahin dua karyawan tadi, samar gue denger soal rumor itu.”
Sesaat William mengerjabkan mata. Ia malu, dengan posisi sebagai anak haram, tentu saja namanya tercoreng parah. Apalagi justru bekas musuhnya yang mendengar. Bagaimana jika Reza jijik padanya?
“Soal Jane,” ucap Reza mengalihkan pikiran William. Meski ia tahu perihal rumor anak haram, Reza memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Sebab, wajah William benar-benar tidak nyaman.
“Ja-jane? Hanya Jane?” William tidak lantas percaya, sehingga bertanya lagi demi memastikan apa yang Reza dengar.
“Emang ada lagi? Gue denger cewek lo dianggap sebagai anak pungut, dan pasti Jane, 'kan? Lo pasti manggil gue ke sini demi menangani kasus ini, 'kan? Sekaligus cari tahu siapa pelaku penyebar rumor itu.”
“I-iya, Za.”
“Hmm ... lo tenang aja, sebisa mungkin gue bakal atasi. Apalagi menyangkut nama adik gue sendiri, Willi. Mungkin ini cara pertama orang itu nyerang lo, buat nyingkirin lo dari jabatan itu. Orang paling besar dampaknya adalah keluarga lo dan ... para pemegang saham yang mungkin nggak suka sama lo, karena lo kurang jam terbang.”
Dan karena lo berstatus itu, Willi. Tapi gimana sebenarnya kehidupan lo sampai punya sebutan anak haram? Sebesar apa pun rasa penasaran itu, Reza hanya bisa bergumam tanya dalam hati saja. Sebab, selain bukan urusannya, William juga punya perasaan. Dan insiden kemarahan William, sekian menit lalu membuktikan jika pria itu benar-benar tidak terima. Bahkan kini, William masih memasang tampang gelisah, seolah ia takut jika Reza mengetahui segalanya.
Namun, apakah sebesar itu sosok Reza bagi William? Lantas, sebagai apa setelah permusuhan yang berkepanjangan? Teman?
__ADS_1
***