Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 30-Mama?


__ADS_3

“Mm ... kamu ‘kan sudah berpacaran dengan Reza satu bulan lebih. Sepertinya kamu enggak perlu memanggil calon mertua kamu dengan nyonya-nyonya. Saya ini bukan majikan kamu, yang ada kamu lebih kaya dari saya loh.”


Episode 30-Mama?


Jelita sudah kembali pada aktivitasnya sebagai perancang busana atau fashion designer. Kedua mata indahnya kini sudah sibuk mengamati buku sekaligus gaun secara bergantian. Sesekali dahinya mengernyit, seolah tengah memikirkan sesuatu. Sikapnya yang demikian memancarkan keseriusan bahkan kedewasaan, sangat kontras jika dibandingkan saat ia bersama Reza.


Di sisi lain dari butik itu, para pegawainya pun disibukkan dengan hal serupa. Namun tidak dengan Iin yang saat ini tengah memandu salah satu pelanggan butik tersebut. Tentu, beberapa pelanggan terkadang datang dan membuat para pegawai sekaligus pemilik butik menyudahi kesibukannya dengan rancangan dan gaun, bahkan di bagian belakang butik saat ini telah diisi dengan para penjahit. Ya, mereka dikhususkan untuk membuat pakaian dari rancangan yang sudah jadi.


Seseorang memasuki butik itu, dengan tampilan yang masih sama seperti biasanya. Wanita paruh baya yang tidak asing bagi Jelita.


“Nyonya Rey? Selamat pagi,” sapa Jelita sesaat setelah ia menyadari kedatangan ibunda dari kekasihnya itu.


Reyna melebarkan senyumnya dengan perasaan bungah. Kemudian, ia berjalan menghampiri sang calon menantu idaman.


“Pagi juga, Calon mantuku. Kamu masih sibuk?” balas Reyna pada sapaan Jelita.


“Mm ... enggak terlalu, Nyonya. Ada yang bisa dibantu?”


“Kalau bersedia, mari kita ngopi bersama, Jeli. Ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan sama kamu.”


Dahi Jelita mengernyit. “Beberapa hal?”


Sang nyonya mengangguk pelan. “Benar, tapi lebih nyaman dan tentu sambil bersantai pagi. Ah ... itu kalau kamu enggak keberatan, Jeli, dan enggak sibuk tentunya.”


“Tentu, Nyonya. Saya sangat bersedia.”


Reyna merasa puas dengan jawaban Jelita. Ia memandangi gadis itu dengan penuh kekaguman. Gadis yang penuh enerjik pikirnya.


Sementara Jelita masih sibuk menyerahkan segala urusan pada Iin sekaligus pegawai yang lain. Ia menjelaskan setiap detail rancangan yang perlu mereka perhatikan. Juga, beberapa pelanggan yang sudah membuat janji untuk datang ke butiknya. Jelita tidak ingin melewatkan kesalahan sedikit pun, di saat ia sedang tak di tempat.


Tak lama kemudian, gadis perancang itu kembali menemui Reyna. Ia mengajak ibunda dari kekasihnya itu untuk segera berangkat. Langkah mereka terayun begitu kompak. Beberapa obrolan hangat pun menghiasi kebersamaan, bahkan sampai terlihat layaknya ibu dan anak.


Hingga akhirnya, sampai di mobil yang dibawa sang nyonya bersama sopir pribadinnya. Dengan cekatan, Reyna mempersilakan Jelita masuk kemudian dirinya sendiri. Keduanya duduk saling berhadapan di kabin mobil bagian belakang. Sang sopir pun segera melaju kendaraan beroda empat itu sesaat setelah mendapatkan perintah dari majikannya.


Reyna menghela napas dalam, setelahnya ia hembuskan secara perlahan. Senyumnya mengembang di sudut bibirnya. Perlahan, ia menoleh ke arah kiri di mana Jelita tengah duduk di samping kirinya itu.


“Kita akan ke kafe pertama kali bertemu, Jel, kamu enggak keberatan, ‘kan?” tanya Reyna.


Jelita menatap ibunda dari Reza itu. Ia tersenyum sembari mengangguk pelan. “Tentu, Nyonya, saya enggak keberatan kok.”


“Hmm ... kenapa kamu selalu panggil saya nyonya, Jeli?”


“Eh?” Jelita terkesiap dengan pertanyaan itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sekaligus salah tingkah. Benar, ia pun sudah terbiasa dengan panggilan itu untuk Reyna karena mengikuti Fanni dan Mita—kedua sahabatnya yang sudah dewasa. “Saya terlalu biasa dengan panggilan itu,” lanjutnya sembari tersenyum-senyum.


Reyna perlahan meletakkan tangannya pada tangan gadis itu. Kemudian, ia mengenggemnya. “Panggil saya mama, Jeli.”

__ADS_1


“Hah?”


“Mm ... kamu ‘kan sudah berpacaran dengan Reza satu bulan lebih. Sepertinya kamu enggak perlu memanggil calon mertua kamu dengan nyonya-nyonya. Saya ini bukan majikan kamu, yang ada kamu lebih kaya dari saya loh.”


Jelita menjadi salah tingkah. Tidak ada yang bisa ia katakan selain tertawa kecil. Rona merah pun menghiasi wajah imutnya itu. Detik berikutnya, Jelita memilih mengalihkan pandang ke luar jendela. Ia menghela napas dan mengembuskannya kembali dengan pelan.


Mama? Sudah lama Jelita tidak menyebut kata itu. Permintaan Reyna membuatnya senang sekaligus sesak di sisi hati yang lain. Senang karena ibunda dari kekasihnya sudah begitu menyukainya sehingga menyarankan panggilan itu. Namun ia merasa sesak karena kerinduan pada mendiang ibundanya, juga turit hadir. Belum lagi ketika ia harus mengingat sosok Riris yang belasan tahun ia sebut dengan kata ‘mama’.


Sementara Reyna yang melihat respon sekaligus sikap Jelita saat ini, menjadi bimbang. Ia menggigit bibir bawahnya tanpa peduli sudah terpoles lipstik merah. Kekhawatiran muncul sebab takut jika gadis itu belum juga yakin pada Reza—putranya. Sekaligus, ada rasa sesal karena telah menyarankan panggilan itu untuk dirinya.


Ya, jika dibandingkan dengan Jelita yang merupakan nona muda—putri Nur Imran—rasanya Reyna tidak boleh terlalu meminta ini itu. Salah sedikit, ia bisa dihempas dengan kencang oleh keluarga pengusaha besar itu, bukan? Ah, semua telah terlanjur ia katakan. Mungkin ketika sampai di kafe ia akan meminta maaf atas kelancangan itu pada calon menantu idaman.


****


Kedua wanita dengan rentang usia yang terpaut jauh itu, kini tengah duduk saling berhadapan. Tentunya setelah sampai dan memasuki sebuah kafe yang dituju. Seorang pelayan pun sudah menyajikan dua cangkir coffe latte hangat.


Suasana sejuk karena AC kafe tersebut bercampur sejuknya angin semilir karena keadaan yang mendung. Pagi ini memang tidak secerah biasanya, mungkin karena telah memasuki musim penghujan. Namun keadaan itu tidak membuat hati kedua wanita itu menjadi sendu, melainkan justru diliputi kehangatan. Kendati, Reyna masih merasa tak enak hati perihal permintaannya pada Jelita.


Sesaat setelah menyesap coffe latte-nya, Reyna berdeham. Kedua manik mata yang terhias keriput kini menatap Jelita, seiring senyum yang mengembang manis meski telah paruh baya. “Soal tadi, maafkan saya, Jeli,” ucapnya.


Dahi Jelita berkerut samar. Ia membalas tatapan dari sang nyonya dengan rasa heran. “Maaf?” tanyanya.


“Mm ... sepertinya kamu kurang nyaman atas permintaan saya soal panggilan. Dan saya menyadari kelancangan saya tentang itu, padahal kamu sudah banyak membantu keluarga kami terutama Reza dengan hati dinginnya itu.”


Reyna merasa trenyuh. Kendati tidak tahu pasti cerita masa lalu gadis itu, setidaknya ia tahu perihal status Jelita selain nona muda, ia juga gadis piatu. Wanita paruh baya itu berangsur mengulur tangannya dan menggenggam tangan Jelita.


“Bolehkah saya menjadi mama kamu, Jeli? Terlepas dari hubungan kamu dengan Reza, saya ingin kamu memanggil saya mama atas keinginan saya sendiri,” ucap Reyna.


Jelita tak menyahut. Ia bergeming bimbang, sembari menurunkan arah pandang.


Reyna menghela napas panjang. “Baiklah, jangan bahas ini dulu kalau kamu enggak nyaman, Sayang. Mm ... jadi, saya mau bahas soal pernikahan Risa. Dia bersedia memakai rancangan kebaya kamu sesuai pesanan awal.”


“Mm? Benarkah? Jadi, ...?”


“Iya, kami enggak memesan ke perancang lain. Risa merasa menyesal atas sikapnya, tapi belum ada waktu untuk menemui kamu, Jeli. Saya harap kamu memaafkan dia.”


“Tentu, Nyonya. Kebetulan kebaya itu masih saya simpan di butik, belum terjual.”


“Dan ada satu hal lagi yang perlu saya bahas sama kamu, Jeli. Ini ... soal kamu dan Reza.”


Jelita terdiam. Soal dirinya dan Reza? Satu bulan ini, ia rasa tak ada masalah apa pun. Reza pun masih enggan untuk menyentuhnya, sehingga ia dan pria itu tak pernah melakukan hal aneh apa pun. Namun, mengapa Reyna tiba-tiba ingin membahas itu dengan wajah yang kini sendu?


“Begini Jeli, apa kamu sungguh mencintai anak saya?” Reyna kembali memulai ucapannya.


Jelita mengangguk mantap. “Tentu, Nyonya. Bahkan, upaya enggak sedikit demi Kak Reza,” jawabnya.

__ADS_1


“Tapi, Reza terkadang masih minder bersama kamu.”


“Saya tahu, Nyonya. Makanya saya selalu bersikap bodoh di hadapannya tanpa peduli rasa malu. Saya ingin ... Kak Reza merasa enggak tega untuk meninggalkan saya hanya karena rasa minder itu. Sejauh ini, Kak Reza sangat baik dalam memperlakukan saya, Nyonya. Yah, mungkin perlahan perasaan itu akan hilang.”


Reyna menghela napas lega. “Dia sangat mencintai kamu, Jeli. Awal kali bertemu kamu pun, dia juga menyukai kamu.”


“Ya, saya pun tahu, Nyonya.” Gadis itu menjawab dengan senyum manisnya.


“Jadi, begini, Jel. Gimana kalau, kamu dan Reza mm ... mengikat janji biar dia yakin dan kalian enggak terpisah lagi. Maksud saya kalian bertuna—”


Dering ponsel Jelita tiba-tiba terdengar sehingga memotong ucapan Reyna. Sang pemilik ponsel pun meraihnya dari dalam tas yang ia bawa. Tampak nomor milik ayahnya yang tengah memanggil. Hal itu membuat, Jelita mau tidak mau meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut dan Reyna mempersilakannya.


Jelita berjalan ke arah luar dari kafe. Tidak mau ada kebisingan yang menganggu obrolan via suaranya dengan Nur Imran. Kemudian, ia berhenti di area taman kecil yang cukup sepi.


“Assalamu'alaikum, Papa,” sapa Jelita sesaat setelah menekan tombol jawab.


“Wa'alaikumssalam, Sayang. Mm ... kamu di mana sekarang, Jeli?” balas Nur Imran dari kejauhan sana.


“Mm ... aku lagi di luar, Pa. Kenapa, Pa?”


“Setelah jam makan siang kamu sibuk?”


“Belum tahu, Pa.”


“Papa masih sibuk di Singapura, belum bisa pulang, Jel. Ini baru sampai di sini setelah dari Malaysia. Belum jadi ke Indo, Papa lupa siang tadi ada pertemuan dengan pihak Winata, Jeli.”


“Papa jangan terlalu capek, ya. Mm ... jadi Jeli bisa bantu apa, Pa?”


“Iya diusahakan, Sayang. Kamu makannya juga teratur ya? Mm ... gini, nanti CEO baru putra dari Pak Winata akan bertemu Papa, karena Papa masih di sini Papa minta tolong kamu yang mewakili. Enggak resmi kok, Sayang, hanya sekedar pertemuan biasa. Mungkin membahas kerja sama, dengan santai.”


Jelita bergeming. Ia memang sudah sering mengunjungi kantor Nur Imran. Namun hanya sekedar mengecek sesuai intruksi dari ayahnya itu. Untuk urusan kerja sama, ia masih tidak terlalu memahaminya. Untuk menampik pun ia tidak kuasa. Sampai akhirnya, Jelita bergumam sebagai tanda persetujuan.


“Baiklah, Pa. Jeli akan datang,” ucapnya kemudian.


Terdengar helaan napas lega yang dilakukan oleh Nur Imran. “Alhamdulillah. Baiklah, nanti Papa kirim alamat tempat pertemuannya ya, Sayang. Ya sudah, sampai sini dulu. Papa usahakan minggu ini tetap pulang.”


“Oke, Papa! Jangan terlalu capek pokoknya. Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumssalam.”


Panggilan pun diakhiri. Kemudian, Jelita berbalik badan. Ia melangkah untuk kembali masuk, tak ingin membuat Reyna menunggu terlalu lama.


****


Jangan lupa jempolnya, ya

__ADS_1


__ADS_2