
“Ih! Apa susahnya sih bilang iya, menyatakan itu lebih susah lho daripada menjawab. Padahal, sok perhatian lemah lembut sama Jeli. Dan tadi pegang-pegang tangan Jeli. Kenapa sih masih sok jual mahal? Apa Jeli kurang cantik? Masih kurang cantik? Atau kurang langsing, janji deh kalau Kakak mau jadi suami Jeli, nanti Jeli diet lagi!”
Episode 19-Alasan Trauma Jeli
Di sebuah kafe yang menyajikan taman asri di halamannya, mobil Jelita yang dikemudikan oleh Reza berhenti. Sama layaknya sebelumnya, pengacara muda itu begitu setia memperlakukan sang designer dengan lembut. Dibukanya pintu mobil di mana Jelita duduk. Kemudian, gadis itu turun di detik berikutnya.
“Terima kasih, Tuan pengacara,” ucap Jelita sembari mengulas senyumnya.
Reza membalas dengan hal yang sama. “Terima kasih kembali, Nona muda,” jawabnya.
Langkah pun diambil. Mereka memasuki kafe. Sementara sepasang mata dari masing-masing insan begitu sibuk mencari bangku kosong yang dirasa cukup nyaman.
Reza menoleh ke wajah Jelita. “Kamu mau di atas, bawah atau di tamannya aja, Dek?” tanyanya.
“Mm ....” Jelita tampak berpikir sembari masih menyelidik semua sudut tempat itu. Kemudian, ia menunjuk pada bangku kosong yang tersedia di taman depan kafe. “Sana aja ya, Kak?” lanjutnya sembari menatap Reza.
Reza mengangguk, tanda setuju. “Oke, kita ke sana.”
Layaknya wanita kebanyakan, diperlakukan selembut itu, bahkan dituruti kemauannya membuat Jelita bahagia. Sikap Reza selalu sukses membuat hatinya berdesir sekaligus haru. Pria pertama bagi gadis itu, yang ia sukai juga menyukainya. Meski sampai detik ini, Reza enggan memberikan jawaban dari penyataan cinta yang Jelita ungkapkan.
Kendati ada rasa senang, tetap saja masih hambar. Dan entah, dengan cara apa lagi designer muda itu bisa membuat Reza yakin. Menghampiri pria itu kemana pun nyatanya tidak cukup. Yang ada, justru membuat Reza sering mendengkus sebab menganggap semua usahanya sebagai kenekatan belaka.
Ditariknya satu kursi oleh Reza. Tanpa menunggu aba-aba selanjutnya, Jelita bergegas menyisip di antara kursi dan meja. Ia tersenyum, kemudian berkata, “makasih, Kakak!”
“Sama-sama, Dek,” jawab Reza sembari melangkah menuju kursi di hadapan gadis itu.
Seorang pelayan pria pun hadir, menyisip kebersamaan mereka. Buku menu ia sodorkan untuk Reza juga Jelita. Dengan sabar, sekaligus tersenyum ramah, ia menunggu kedua tamu itu untuk memilih menu.
Jelita bersyukur dalam hati, sebab menu khusus yang ia gemari tercantum di sana. Mungkin memang bukan dedaunan layaknya sebelumnya, tetapi salad buah yang masih bisa ia terima. Sementara, Reza, ia hanya memesan jus alpukat saja sebab perutnya masih terasa kenyang setelah menyantap hidangan berat di restoran bersama Alif dan para rekannya.
Begitu selesai melakukan pemesanan, sang pelayan menerima buku menu itu. Kemudian, ia bergegas melangkah untuk memberitahu pihak yang menyajikan.
Fokus Reza kembali mengarah pada wajah gadis cantik di hadapannya. Wajah itu masih terbungkus masker berikut topi untuk menghindari para penggemar. Ya, penggemar, sebab nama Jelita sudah santer diperbincangkan berkat diet dan posisinya sebagai nona muda, sekaligus selebgram papan atas yang menggeluti dunia fashion. Tak diragukan lagi, betapa terkenalnya ia saat ini.
“Rasanya panas dingin jalan sama artis,” celetuk Reza.
Jelita terkekeh kecil. “Aku bukan artis, Kak, aku enggak ada prestasi di dunia hiburan. Aku hanya orang viral yang dulu gemuk sekarang kurus,” tampiknya.
Reza menggeleng pelan. “Enggak, kamu nona muda dan punya prestasi di bidang fashion.”
“Amin aja deh.” Tawa Jelita muncul lagi, tetapi diiringi rona merah muda di wajahnya.
__ADS_1
“Dek? Kamu enggak apa-apa, ‘kan?”
Jelita tidak langsung menjawab. Ia tahu jika saat ini pria yang ia puja itu menanyakan perihal kondisi mentalnya. Sebagai seorang gadis pemuja, tentu saja ia enggan memberikan jawaban sesuai kenyataan. Khawatir, jika Reza merasa jijik sekaligus enggan bersamanya lagi. Trauma dan gila, memiliki perbedaan yang tak jauh, bukan? Pertanyaan itu yang terlintas di benaknya.
Melihat Jelita yang justru terdiam, membuat Reza tidak enak hati sekaligus prihatin. Dengan ragu, ia mencoba memberikan sentuhan halus di jari-jari gadis itu. Sikapnya berhasil membuat Jelita terkesiap dengan sikap membelalakkan mata secara spontan.
Kemudian, mata Jelita berangsur menatap Reza. “Jeli ....” Tak sanggup ia mengakui kondisi dirinya sendiri.
Reza mengeratkan genggamannya di telapak lembut milik gadis itu. “Katakan, bilang aja sama Kakak. Kakak akan dengarkan dengan baik,” ucapnya lembut serta meyakinkan.
Pandangan Jelita menurun, menatap tangan Reza yang mengenggam jari jemarinya. Ia menelan saliva detik itu juga. Ragu dan takut jika Reza menganggapnya gila. Di balik masker, ia menggigit bibir, gusar.
“Permisi, makanannya sudah siap.” Tiba-tiba sang pelayan datang, sembari membawa nampan berisi hidangan berikut pesanan yang mereka inginkan.
Reza reflek menarik tangannya. Rasa malu juga salah tingkah langsung mengepung hatinya. “Mm ... ya,” ucapnya.
Sang pelayan bergegas menaruh hidangan-hidangan itu di atas meja. Sembari tersenyum dan ucapan selamat menikmati. Kemudian, ia berlalu sesaat setelah selesai memberikan pelayanan itu.
“Kak ...?” lirih Jelita.
Reza kembali memandang. “I-iya,” jawabnya.
“Kakak suka ‘kan sama Jeli? Jadi, mau ya jadi suami Jeli?”
“Ih! Apa susahnya sih bilang iya, menyatakan itu lebih susah lho daripada menjawab. Padahal, sok perhatian lemah lembut sama Jeli. Dan tadi pegang-pegang tangan Jeli. Kenapa sih masih sok jual mahal? Apa Jeli kurang cantik? Masih kurang cantik? Atau kurang langsing, janji deh kalau Kakak mau jadi suami Jeli, nanti Jeli diet lagi!” ceracau Jelita gemas sendiri. Bagaimana tidak, jika sikap Reza sangatlah baik terhadapnya, tetapi masih saja memberikan penolakan terhadap perasaannya.
“Sini, Dek.”
“Mm?” Meski bertanya-tanya, Jelita tetap memajukan wajahnya. Kedua matanya dipejamkan berharap sebuah kecupan yang ia dapatkan.
Namun ... justru jitakan yang gadis designer itu dapatkan dari jari Reza di keningnya. Alhasil, Jelita membuka mata dan reflek menyentuh keningnya sembari mendengkus kesal sekaligus kesakitan.
“Ck! Sakit tahu!” pekik gadis itu.
Reza tertawa. “Makanya jadi cewek jangan suka begitu. Suami mulu'! Kamu pikir Kakak ini cukup baik buat kamu? Pilihan masih banyak, Dek. Kakak kayak monster, lebih cocok jadi bapak kamu secara visual.”
“Monster imut dan Jeli suka. Bapak gembul dan Jeli tetep suka.”
“Aish! Anak ini ... centil ih. Jangan dibiasain!”
“Centilnya sama Kakak doang. Bodo amat!”
__ADS_1
Reza menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. Jelita terbilang selalu berani ketika bersama dirinya, nyaris tidak punya malu. Meski ada desiran bahkan debaran, ia tetap menahan diri. Kendati sudah menyukai gadis itu sejak dulu, tetap ada pertimbangan yang perlu ia pikirkan. Bukan untuk dirinya, melainkan Jelita yang menyandang status nona muda dan hati gadis itu saja belum tentu yakin atas pernyataannya sendiri.
Dengan mau tak mau sekaligus masih kesal, Jelita meraih mangkuk elegan berisi salad buah yang ia pesan. Satu suap ia masukkan makanan itu ke dalam mulutnya sesaat setelah melepas maskernya. Sesekali, matanya masih melirik sinis ke arah Reza. Sampai akhirnya, ia menghela napas begitu dalam dan kembali ia hembuskan secara kasar.
“Entah, ketika Jeli sama Kakak, Jeli melupakan semua kekhawatiran Jeli selama ini. Semua makanan yang Jeli santap bersama Kakak rasanya enak banget. Ada rasa nyaman dan enggak ada rasa takut,” ucap Jelita kemudian.
Reza menatap. “Rasa takut itu rasa dari apa, Dek? Bolehkah Kakak tahu?” tanyanya mencoba mengulik.
“Apa Kak Reza enggak bakal jijik sama Jeli?” Jelita berangsur menatap wajah sang pengacara. “Bukankah trauma dan gila ada kemiripan?”
“Kamu ini ngomong apa? Ya bedalah! Jauh! Trauma adalah sesuatu yang terjadi akibat masa pahit di masa lalu. Sedangkan gila itu enggak waras, enggak punya akal.” Reza mengulur tangannya, mencoba menggenggam tangan Jelita. “Percaya sama Kakak, Kakak enggak bakalan jijik sama kamu. Kamu terlalu cantik untuk diperlakukan seperti itu.”
“Mm? Jadi, Kakak udah mau jadi sua—”
“Dek!”
Jelita mendesis. “Malesin!” gerutunya, sebal. Kemudian, ia kembali berkata, “dulu, beberapa tahun yang lalu, Jeli punya ibu. Ibu tiri yang merupakan ibu kandung Jane. Mm ... semenjak Papa menikah sama dia, dan Jeli diurus sama dia, Jeli emang merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi, ... di balik itu ternyata ada sebuah kelicikan. Yang mana, ibu tiri Jeli selalu memberikan vitamin semenjak Jeli masih kecil.”
Dahi Reza berkerut samar. “Vitamin?” tanyanya heran.
“Ya, dia nyebutnya vitamin. Karena Jeli masih terlalu kecil ya enggak paham. Dan tentunya, dia punya dokter konsul bayaran. Yang mana, bisa tahu dosis obat itu sesuai umur peminumnya.”
Ada yang salah, batin Reza. Keanehan ia rasakan ketika Jelita menuturkan perihal vitamin beserta dosisnya. Meski merasa sangat penasaran, ia tetap bersikap sabar dan memilih menunggu lanjutan cerita itu.
Sementara Jelita, ia sibuk mencengkeram sendok dengan kuat. Ingatan yang muncul perihal masa lalu kelamnya, membuat tubuhnya kembali bergetar. Beberapa kali ia menggigit bibir bawah untuk menahan gejolak hatinya. Namun, genggaman tangan Reza di tangannya semakin menguat. Gadis itu berangsur tenang kembali sebab senyum dan anggukan Reza ia dapatkan.
“Vitamin itu adalah obat penggemuk badan, Kak,” lanjut Jelita.
Mata Reza reflek membelalak. “Penggemuk badan?” tanyanya.
“Iya, ... ironis ya? Seperti drama televisi. Rasanya pasti sukar dipercaya, bahkan Om Galak pun sempat enggak percaya. Tapi, itu benar terjadi, Kak. Ketika ibu kandung Jeli masih hidup, berat badan Jeli cukup normal. Tapi, setelah Papa menikah dengan wanita itu, kenaikan berat badan sering terjadi setiap bulan bahkan hari.”
Genggaman yang sejak tadi Reza dominasi, kini berganti Jelita yang mendominasi. Gadis designer itu begitu kuat mencengkeram tangan Reza, bahkan sampai menimbulkan rasa sakit di kulit pria itu. Namun, Reza tetap menahannya tidak peduli rasa perih di telapak tangannya. Melihat Jelita yang gemetar ketakutan, membuatnya enggan untuk menarik tangannya atau sekedar mengingatkan.
Sampai tiga menit kemudian, Jelita berangsur melepaskan cengkeramannya dari tangan Reza. Ada goresan yang tertinggal di telapak tangan pria itu. Namun, ia tetap tidak peduli. Justru, ia bergegas berdiri sembari membawa kursinya.
Kini, Reza duduk di samping Jelita. Ia merengkuh tubuh gadis itu. “Semua udah berlalu, Dek. Misal terjadi lagi, Kakak akan mendampingi kamu. Kita bisa tuntut yang bersangkutan atas penyalahgunaan obat-obatan,” ucapnya sembari membelai kepala Jelita dengan lembut.
Jelita bergeming. Matanya terpejam, di pelukan Reza ia mencoba menenangkan dirinya. Tidak ada sahutan yang ia berikan, lantaran hatinya masih bergemuruh tidak keruan.
****
__ADS_1
Jangan lupa jempulnya, ya.