Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 1-Lamaran (Bonus)


__ADS_3

“Karna saya ingin memantaskan diri ketika sedang berhadapan dengan Bapak seperti saat ini.”


Episode 1-Lamaran (Bonus)


Di hadapan pengusaha besar itu, Reza duduk dengan tegak. Matanya tak lepas menatap Nur Imran yang masih bingung. Sementara di bagian lain, Jelita tengah duduk bersama sejumlah rasa gelisah. Ia gemetar, bahkan takut jika usaha Reza ditolak mentah-mentah oleh sang ayah.


“Kamu siapa?” Nur Imran mengeluarkan pertanyaan dengan suara paraunya. “Saya nggak pernah melihat kamu sebelumnya, 'kan?”


Dengan tenang, Reza mengulas senyuman. Soal penampilan pun begitu rapi dan gagah, tak lagi gendut dan terkesan tidak menarik.


“Saya Reza, Pak. Reza Amdan Nugraha.”


Pengakuan Reza membuat Nur Imran tercengang. Pasalnya, Reza yang Nur Imran dengar adalah sosok pengacara bertubuh tambun dan tak punya kharisma. Namun, sosok muda di hadapannya justru berbanding terbalik dari bayangannya selama ini.


“Maksud kamu, si Reza gendut yang tega membuang putri saya itu?” balas Nur Imran sedikit sengit.


Jelita terkesiap. “Papa!”


“Rasanya membuang bukan kata yang tepat, Pak, itu terlalu kasar. Putri Bapak bukan barang. Dia manusia biasa,” jawab Reza dengan tenang.


Nur Imran memicingkan mata, tak suka melalui sorot tajam matanya itu. “Bukankah kamu yang membuang putri saya bagai barang?”


“Papa!” sergah Jelita.


Dada Reza sesak. Menghadapi calon mertua sungguh sangat sulit. Ia menelan saliva dengan getir, meski senyumnya tak lanyas redup. Ia tetap berparas ramah agar terkesan tak terpengaruh ucapan Nur Imran yang seolah menentang.


Memang benar, Reza datang begitu mendadak tanpa janji bahkan perencanaan. Tepat ketika satu minggu berbalikan, ia benar-benar melamar Jelita. Di hari Minggu, yang mana Nur Imran akan berada di rumah. Reza sendiri, ingin membuktikan jika tanpa bantuan orang tua, ia bisa mempersunting sang Jelita.


“Saya ingin melamar Nona Jelita, Pak. Saya sungguh-sungguh!” ucap Reza mantap.


Namun ....


“Kenapa saya harus menikahkan kalian, bukankah kamu sendiri telah memutuskan untuk pergi? Meninggalkan Jeli?”


Wajah Nur Imran mendadak masam, tepat ketika ia mendengar perihal lamaran Reza pada sang putri. Tidak suka, mungkin begitu. Terlebih, saat Reza tiba-tiba menghilang setelah persidangan. Kabar yang Nur Imran dengar pun Reza dan Jelita telah putus semenjak pernikahan Risa—putri Nugraha—berlangsung.


Di titik itu, Reza mulai bingung. Wajahnya yang tampan memang masih tenang, tetapi perasaannya berkecamuk. Juga, otak yang kini kebingungan mencari jawaban.

__ADS_1


Kak Reza ...? Jelita panik. Tak berhenti sejak tadi dalam memainkan jari-jarinya. Bagaimana jika Nur Imran benar-benar menolak lamaran Reza? Jelita tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Sungguh, hal itu akan sangat menyakitkan. Ia ingin Reza dan hanya Reza selamanya. Bahkan jika harus menikah di usia muda.


“Karna saya ingin memantaskan diri ketika sedang berhadapan dengan Bapak seperti saat ini.” Reza berupaya lebih percaya diri. Meski sebenarnya, ia malu bukan kepalang dalam mengatakan hal itu. Namun, ia tidak mau menyerah begitu saja, sehingga memberanikan diri.


Satu alis Nur Imran terangkat. Sesaat, ia tertawa, kemudian berkata, “Ngaco kamu! Emangnya sekarang udah pantas begitu? Percaya diri sekali.”


“Aduh, Papa! Jangan gitu dong, Pa!” rintih Jelita.


Reza masih tersenyum. “Setidaknya jauh lebih pantas daripada sebelumnya. Karena saya sangat berjuang sangat keras untuk mencapai hasil sebaik sekarang. Yang mana mengurangi kemungkinan rasa malu bagi Jeli, mungkin jika saya masih seperti raksasa Jeli akan merasa tidak percaya diri, atau bahkan Bapak sendiri.”


“Hmm ....”


“Saya membentuk diri bukan semata-mata karna egoisme belaka, bukan pula sebuah pembuktikan. Tapi, karena demi bahagianya Nona Jelita, Pak, saya ingin pantas bahkan lebih pantas dari pria yang hendak dijodohkan dengan Nona Muda sebelumnya.”


“William?”


Reza tertawa kecil. “Ya, sepertinya memang Tuan Muda itu. Jika sekiranya masih kurang pantas di mata Bapak, apakah bagi Nona muda pun saya juga masih kurang pantas? Karena saya akan menikahi Nona bukan Bapaknya.”


“Waaaah!”


Nur Imran menganga mendengar perkataan Reza. Se-berani itukah? Dan gilanya Reza begitu santai seolah tidak berbuat kesalahan apa pun. Namun, pria yang kini tampan itu berhasil menyudutkan Nur Imran, sampai kewalahan dalam memberikan jawaban.


“Kak Reza udah sangat pantas buat Jeli!” ucap gadis perancang itu penuh antusias.


“Jeli! Jaga tata kramamu!” omel Nur Imran.


Jelita merengut. “Nggak mau! Aku mau nikah sama Kak Reza pokoknya, titik! Kalau bukan Jeli, emang Papa mau gantiin Jeli buat Kak Reza?”


“Ngawur kamu, Jel! Mana ada!”


“Makanya setuju aja, Papa, terima lamaran ayangku buat aku hehe.”


Nur Imran berdecak. Ia sedikit merasa malu sebab sikap centil Jelita di hadapan Reza. Yang tadinya hendak menjaga sikap dan martabat keluarga, Jelita justru merusak rencana itu. Niat ingin mendiskriminasi Reza menjadi kacau balau karena rasa malu yang disebabkan oleh putrinya sendiri.


Tinggal satu tembakan lagi dan Reza menang. Jelita yang centil justru memberikan dukungan penuh. Sudah pasti Nur Imran tidak punya alasan lagi untuk menolak.


“Cha! Karena Nona Muda pun sudah menerima lamaran saya, sepertinya tinggal nentuin tanggal temu keluarga, Pak,” celetuk Reza.

__ADS_1


Nur Imran terkesiap. “Ngawu—”


“Senin malam, Kak, Jeli libur butik!” potong Jelita antusias.


“Eh, eh, kam—” Lagi-lagi, ucapan Nur Imran belum berhasil diselesaikan.


“Malam senin, no sidang. Tinggal bilang sama Papa, Nona cantik,” potong Reza.


“Hei! Hei!” Nur Imran berdiri. “Kalian in—”


“Iya ih, nggak sabar. Nanti temu keluarga terus nentuin tanggal tunangan, ah, enggak langsung nikah kali ya, Kak!” Jelita masih tak mau kalah dengan ayahnya.


Nur Imran gelagapan bingung. Ia menatap Jelita kemudian Reza berulang kali. Sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk mengutarakan pendapat.


“Kamu mau dibawain apa? Eh enggak biar Kakak yang atur dan jadi kejutan. Kan yang kaya papa kamu, bukan kamu, jadi nggak kalah kaya-lah calon suami kamu ini.”


“Iya, Kak, apa aja asal ada diri Kakak.”


Nur Imran menjadi geli mendengarnya. Sepasang kawula muda itu tak sungkan dalam mengatakan kata mesra.


“Udah, stooop!” seru Nur Imran pada akhirnya.


Reza dan Jelita terkejut. Mereka kompak membisu dan menatap Nur Imran dengan was-was.


“Jangan pada ngomong menggelikan lagi, nggak sopan di depan orang tua! Kalian ini harusnya tahu diri jika ada tetua di sini. Jangan ngawur!” omel Nur Imran.


“Ini tuh bentuk kasih sayang kami Papa. Yang penting kan nggak berbuat hal diluar batas,” balas Jelita.


Reza tersenyum. “Maka dari itu, Pak, kami harus disatukan agar memiliki ruang pribadi untuk mengatakan hal menggelikan.”


“Mulai jorok, Reza?!” Nur Imran kembali jengkel.


Reza lantas menatap Jelita. “Nona, di mana letak jorok pada kalimat saya? Bukankah yang berkata jorok, biasanya justru memikirkan hal jorok terlebih dahulu?”


“Benar juga.” Jelita menatap Nur Imran. “Yang Papa maksud jorok itu yang gimana sih?”


“Aiiiisss! Kalian ini bener-bener ya!” Napas yang sempat memburu kini berusaha distabilkan oleh Nur Imran. Sesaat setelah meluruhkan badan di kursi sebelumnya ia berkata, “Baiklah. Kalian boleh menikah. Stop ngomong menggelikan lagi. Jaga tata krama buat Jeli! Dan Reza, awas aja kalau ninggalin anak saya lagi.”

__ADS_1


“Yeeeeaaaa!” pekik Jelita girang.


Misi pasangan itu berhasil. Restu telah didapat dengan cara yang unik. Reza dan Jelita bisa menikah. Langkah berikutnya hanya menyusun rencana sampai hari H.


__ADS_2