Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 75-Bahaya!


__ADS_3

“Pe-pelayan topi hitam ... si topi hitam! Ma-mama, ma-mama perancang bangunan ini. Mama tahu celahnya, ma-mama punya pintu rahasia!”


Episode 75-Bahaya!


Dery ada di suatu tempat. Tempat yang berserak, bahkan ada di bawah dengan permukaan. Seperti ruang bawah tanah, tapi bukan. Begitu bising, keadaan pun temaram , tempat orang tiada. Tapi, ... tolong jangan sakiti dia, jika kalian menemukannya. Dia ... anakku.


Berikut jawaban Asih pada Arlan dan William beberapa saat yang lalu. Kini, kedua pria itu berpencar mencari ciri yang ada pada keterangan wanita paruh baya tersebut. Begitu pun pada Reza di tempat lain, ia terus menyusuri bangunan-bangunan kumuh dan terkesan tidak terawat. Kemudian, pada bagian lain lagi ada Anhar bersama dua orang pengawal, mereka melakukan hal yang selayaknya Arlan, William sekaligus Reza.


Titik-titik wilayah dengan keadaan tak terawat menjadi incaran mata mereka semua. Namun yang perlu diherankan, kandati sempat mendatangi tempat yang sama, mereka tidak bertemu satu sama lain. Seperti dijadwalkan secara terstruktur, mereka berdatangan secara bergilir. Aneh bin nyata, sepertinya Tuhan pun turut asyik melihat pertandingan itu. Ya, pertandingan untuk melindungi Nur Imran dan keluarganya.


Di satu tempat, Reza menghela napas berat. Peluhnya bercucuran meliputi wajahnya yang bulat. Hampir seharian ia mencari tempat sesuai ciri yang disampaikan oleh Asih, nyatanya belum ada hasil sama sekali. Seolah-olah tempat keberadaan Dery ditutupi oleh kabut hitam oleh iblis yang memberikan dukungan.


Sementara langit sudah menjinggakan dirinya. Mentari telah menenggalamkan diri dalam cakrawala. Reza semakin getir dibuatnya. Sebab jika bukan hari ini, ia tidak bisa memastikan keamanan Jelita dan ayahnya lagi.


“Oke, gue harus perlahan, bahkan sampai pagi sekalipun. Jeli dan bokapnya harus aman!” ucap Reza berambisi. Kemudian, ia melaju mobilnya lagi untuk menuju tempat yang sekiranya sangat kumuh.


Di bagian lain, Arlan dan William telah bersatu di dalam mobil milik pihak tertua. Keduanya saling mengembuskan napas kasar diiringi suara dengkusan.


“Mana ada tempat macam itu, Om! Di bawah permukaan tanah, ya, kuburan dong!” gerutu William sebal.


“Jangan ngeluh kamu, Will. Om juga kesel sih, tapi, mau gimana lagi. Satu-satunya petunjuk itu yang kita punya. Om rasa Asih ngasih teka-teki jadi kita yang harus jabarkan sendiri. Akan lebih bagus kalau ada pengacara itu, dia pasti jauh lebih pintar perihal kode-kode begini,” tandas Arlan.


“Om, apa nggak sebaiknya kita cari informasi dari Pak Nur?”


Arlan menggeleng. “Jangan, Willi, beliau nggak setuju Om turun tangan begini. Yang ada beliau merasa bersalah. Lebih baik kita hubungi Reza aja.”


“Tapi, ... Jeli?”


“Udah nggak guna jaga janjimu pada gadis itu, Willi, jangan buat alasan hanya untuk memenangkan hati Jeli dari Reza ya.”


“Enggak, Om, bukan begitu.”


“Hub—”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seseorang mengetuk jendela mobil yang mereka tumpangi. Keadaan mobil berhenti tentu saja cukup mudah didatangi oleh orang lain. Dengan keadaan itu, sontak saja Arlan dan William menelan saliva. Bulu kuduk turut berdiri dengan perasaan khawatir yang menggoncang jiwa. Apa dan siapa yang datang sebenarnya?


****


Reza masih buntu. Ah, sepertinya ia memang sangat terburu-buru, sehingga pikiran tidak bisa di ajak bekerja sama. Tepat di pinggir jalan yang dekat dengan pasar, ia menghentikan mobilnya. Ditekannya kening sembari menghela napas panjang.

__ADS_1


Sulit! Apa yang dijelaskan oleh Asih bukan sekedar informasi, tetapi kode atas tempat itu sendiri. Sepertinya, wanita paruh baya itu telah belajar banyak untuk menghadapi situasi semacam ini. Dengan begitu, ia terbilang membantu penyelidikan tanpa perlu khawatir Dery mudah ditemukan. Ya, itu hanya sebuah strategi. Namun, Reza tahu betul jika ia mampu memecahkan kode itu, maka keberadaan Dery akan ditemukan!


Tiba-tiba ponsel Reza bergetar memecah lamunannya. Ia menghela napas setelah sempat terkejut. Kemudian, ia meraih benda itu dari atas kursi penumpang di sampingnya.


“Jeli?” gumam Reza, membaca siapa yang tengah menghubunginya detik itu juga.


Meski enggan, ia tetap memaksakan ibu jari untuk menggeser tombol hijau.


“Ya, Jel,” sapa Reza sungguh dingin.


“Hai, Kak. Di mana?” balas Jelita dari kejauhan.


“Mm ... aku sibuk.”


“... bisa nggak malem ini ketemu Jeli?”


“Maaf, Jel, nggak bisa.”


“Kenapa? Kita udah lama nggak ketemu loh, Kak. Dan apa ini, kenapa jutek banget sih?!”


“Maaf, Jel, aku sibuk.”


“Jangan matiin dulu!”


“Kak Reza kenapa tiba-tiba dingin begini sih? Jelasin dong! Jeli 'kan bingung!”


Pria tambun itu lantas tertawa geli, yang sepertinya menimbulkan tanda tanya di hati Jelita.


“Kak ... apa Kak—”


“Jel, aku sibuk. Dan lagi kalau kamu enggak menyukai diriku yang begini, lebih baik kasih penjelasan. Jangan malah berbuat konyol, ya. Aku nggak selemah itu, Jel! Bahkan, aku sedang mencari pembuktian itu!”


“Ma-maksud Kak Reza apa?”


“Jangan ganggu aku untuk malam ini, dan jangan keluar rumah secara sembarangan. Kalau bisa jangan ke butik dulu, dan lebih baik mendekam di kamar aja.”


“Kak ...?”


Reza menurunkan ponsel dari telinganya, kemudian mematikan panggilan itu. Mimik wajahnya yang sempat berambisi kini menjadi lesu. Sebab mau bagaimanapun alasan Jelita untuk dirinya, ia tidak bisa menerima. Jika Jelita justru mendatangi William ketimbang kekasihnya sendiri, bukankah wajar bagi Reza untuk merajuk atas rasa kecewa itu?

__ADS_1


Reza mengumpat sembari mengusap wajahnya dengan kasar. “Aishit! Lupain dulu masalah ini, gue harus cepat bergerak!” pekiknya.


Ya, setidaknya rasa sayangnya pada Jelita masih sangat besar. Selain karena ingin membuktikan, sejatinya Reza ingin melindungi kekasihnya. Oleh sebab itu, Reza tidak ingin kehilangan fokus hanya karena cemburu. Ia harus kembali beraksi!


Namun sebelum kembali melaju mobilnya, ponselnya kembali berdering. Ia pikir adalah Jelita, ternyata bukan gadis itu pelakunya. Meski enggan dan malas, Reza tetap meraih ponselnya sebab mencemaskan beberapa hal.


“Ya, halo!” sapa Reza tegas sekaligus sinis.


Sang penelepon lantas memberikan jawaban tanpa basa-basi salam.


Sontak saja mata Reza terbuka lebar. Oh ternyata .... Detik berikutnya ia melemparkan ponsel begitu saja. Tanpa pikir panjang, ia melaju mobilnya untuk menuju ke suatu tempat yang perlu ia datangi.


Beralih pada istana besar milik Nur Imran. Jelita termenung di dalam kamar bersama tanda tanya besar. Perihal sikap Reza barusan benar-benar tidak bisa ia mengerti. Namun satu hal menjadi dugaannya saat ini, Reza tahu sesuatu! Kalau tidak, Reza tengah salah paham pada William karena insiden kebersamaan pagi itu.


“Nggak gini juga, dong! Kak Reza 'kan harusnya ngasih penjelasan. Iya sih, aku yang salah,” gerutunya menyesal.


Jelita menghela napas sarat akan kesedihan. Tak ia sangka di usianya yang sudah masuk duapuluhan tahun harus berhadapan dengan berbagai permasalahan. Selain teror itu, kini justru cinta yang ia rusak sendiri.


“Aaah! Ak—”


Suara ketukan pintu memotong ucapan Jelita. Gadis itu lantas mengernyitkan dahi dengan heran. Siapa? Pertanyaan itu muncul di benaknya, sebab Jane telah memberikan pesan jika akan berada di gedung latihan sampai sehabis maghrib tadi. Juga, ayahnya yang sibuk akan urusan meeting sore ini.


“Pelayan? Aku nggak minta apa-apa kok. Hmm ....”


.... jangan keluar rumah secara sembarangan. Kalau bisa jangan ke butik dulu, dan lebih baik mendekam di kamar aja.”


Jelita menghentikan laju kakinya ketika terngiang akan nasehat dari Reza. Tepat di kalimat akhir yang mana lebih baik mendekam di kamar saja membuatnya menyadari akan sesuatu.


Reza benar-benar tahu akan teror itu! Dan hari ini Jane juga ayahnya tidak sedang di rumah. Selama ini tidak ada satu pun dari pelayan yang berani mengetuk pintu. Mereka akan memencet bel di samping pintu kamar sebagai kode bahwa mereka merupakan pelayan. Sebab di kalangan pelayan tidak ada yang berani berteriak untuk memanggil nama sang tuan.


Tubuh Jelita mendadak gemetar tidak keruan.


“Siapa?” tanyanya dengan bibir bergetar.


Lalu, dengan kegugupan itu, Jelita berusaha kembali ke ranjangnya. Ia mencari-cari keberadaan ponsel demi menghubungi siapapun, entah Reza atau William.


“Pe-pelayan topi hitam ... si topi hitam! Ma-mama, ma-mama perancang bangunan ini. Mama tahu celahnya, ma-mama punya pintu rahasia!”


Saking gemetarnya, ponsel jatuh ke lantai begitu saja. Jelita panik, sepasang kakinya lemas seketika. Yang ia sadari adalah pelayan pria dengan topi hitam itu sangat aneh. Namun, mengapa ia baru sadar sekarang?!

__ADS_1


****


Bentar lagi eeeend .. mau sad apa happy nih, dengan situasi semacam itu coba?


__ADS_2