Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 67-Tidak Percaya


__ADS_3

“Jujur saja, saya merasa aneh sejak tadi. Terlepas dari kebohonganmu sebagai pengacara bocah itu, kamu yang sebagai pacarnya justru enggak tahu?”


Episode 67-Tidak Percaya


“Sebelum bertemu istri saya, sebenarnya ada hal apa? Mengenai Jelita?” tanya Arlan pada Reza sesaat setelah duduk di kursi tamu.


Reza menunduk penuh santun. “Mm ... ada beberapa insiden yang saya lewatkan, Om. Ya, tentu mengenai Jelita. Sebelum kemari, saya sudah datang ke salon tapi katanya Tante datang di sore hari. Jadi saya lantas datang kemari sepagi ini untuk mengawali penyelidikan lanjutan,” jelasnya.


“Insiden apa maksud kamu? Dan jika kamu melewatkan, apakah kamu nggak tahu? Atau memang nggak sedetail itu mengawasi kekasihmu?”


Reza terdiam. Beberapa detik kemudian, ia memilih untuk menceritakan berbagai hal yang ia ketahui. Entah dari panggilan yang Jelita terima, kemudian sengaja membuang ponselnya. Wajah teman dari Jelita yang lebam, insiden jam satu sampai dua dini hari, termasuk kesaksian seorang security.


Arlan hanya bisa menghela napas perihal kabar yang baru ia ketahui. Merasa tak menyangka itu sudah pasti, bagaimana bisa Jelita diincar oleh orang jahat? Apa kesalahan gadis itu? Dan siapa pelaku di balik teror itu? Beberapa pertanyaan lain pun muncul bergantian di benaknya.


“Jadi, Om nggak tahu?” tanya Reza setelah menceritakan segalanya.


Arlan mengangguk pelan. “Soal si Jeli saya nggak tahu. Tapi, ....”


“Tapi?”


“Hmm ... ada kabar dari ayahnya, jika saat ini beliau mengalami hal serupa.”


“A-apa? Jadi, ... motifnya bukan seperti yang saya duga?”


“Apa dugaanmu?”


“Fans fanatik. Saya pikir begitu, mungkin selain itu adalah pesaing bisnis Jelita.”


“Hmm ... ya, tentu motifnya bukan itu aja. Kalau hanya sekedar fans atau pesaing bisnis atas gadis itu sendiri, tentu Pak Nur nggak akan dilibatkan.”


Reza menghela napas. Ia pikir saat ini masalah tidak sesepele dari seorang fans, melainkan lebih dari itu. Ia menganalisis beberapa materi lagi atas info yang baru saja ia dapat. Jika ayah dan anak tengah diincar, mungkin saja berkaitan dengan politik di dalam perusahaan besar itu sendiri. Pemegang saham kedua atau hampir sama rata dengan milik Nur Imran bisa jadi berusaha meraih jabatan lebih tinggi.


Namun ... mengapa mesti melibatkan Jelita dengan cara meneror atau bahkan sudah masuk kategori percobaan pembunuhan?


Arlan berdeham, kemudian kembali bertanya, “Apa kamu sudah punya gambaran perihal siapa dalang di balik itu semua?”


Reza menggelengkan kepala. “Belum, Om, oleh sebab itu saya datang kemari untuk meminta informasi perihal siapa saja yang dekat dengan Jelita. Atau, mungkin jika dia sedikit bercerita mengenai insiden mengerikan itu, Om,” jawabnya.


Arlan hanya manggut-manggut.


“Maaf, Om, jika sekiranya saya kurang sopan karena bertamu sepagi ini. Hanya saja, saya perlu mencari tahu lebih cepat.”

__ADS_1


“Mm ... ya, emang cukup mengganggu. Tapi, nggak apa, saya paham.”


Reza menelan saliva. “O-om ini ternyata sangat terbuka, ya?”


“Tentu, yang perlu ditutupi itu sebuah aib seperti Tuhan-mu sedang menutupi aibmu. Tapi, sekiranya ada kesalahan di depan mata saya, saya langsung bicarakan bahkan tanpa beban.”


Ucapan Arlan mampu membuat Reza merasa kikuk sekaligus tak berkutik detik itu juga. Terlebih, ketika pria 48 tahun itu tidak mengekspresikan wajahnya dengan mimik keramahan. Kedua mata Arlan justru terkesan menyudutkan, begitu tajam bahkan sedingin kutub utara.


Namun kendati merasa ditekan, Reza memahami atas sikap pria itu sebab dirinya memang kurang sopan. Apalagi, awal kedatangan dihiasi dengan suatu kebohongan. Ya, meski tidak sepenuhnya salah, tetapi tetap saja sikap berbohong tidak dapat dibenarkan.


“Kenapa tadi kamu nggak mengakui hubunganmu dengan bocah itu?” tanya Arlan tiba-tiba, topik yang ia bahas pun mengarah pada masalah itu. “Kamu serius pacarnya?”


Reza terdiam dalam sesaat. “Se-serius, Om,” jawabnya setelah itu, meski ada rasa heran sebab sikap Arlan bagaikan calon ayah mertua.


“Jujur saja, saya merasa aneh sejak tadi. Terlepas dari kebohonganmu sebagai pengacara bocah itu, kamu yang sebagai pacarnya justru enggak tahu?”


“I-itu ....”


“Apa Jeli enggak percaya padamu?”


Reza tak sanggup memberikan jawaban yang sekiranya memang kebenaran di balik sikap Jelita saat ini. Bahkan, seorang William yang bukan siapa-siapa, bukan hanya mengetahui, melainkan melindungi. Karena selain malu untuk untuk memberikan jawaban sesuai fakta, Reza merasa dirinya tidak pantas mengakui keeratan hubungannya.


“Kalian bertengkar?” tanya Arlan lebih mendesak lagi.


Reza menggeleng kaku. Kenyataan justru mengatakan jika pria dewasa di hadapannya itu jauh lebih menyeramkan daripada menghadapi sidang.


“Berarti kalian enggak berhubungan dengan baik?”


Sang pengacara pun menghela napas panjang. Ia mencoba memejamkan matanya untuk beberapa saat. Sekiranya, keberanian sudah terkumpul, ia bertanya dengan lantang. “Om ini sebenarnya siapanya Jelita? Paman? Ayah? Atau kerabat lain?” Reza tak mau kalah.


Arlan memicingkan matanya. “Memangnya kenapa dengan hubungan kami? Tentu, saat saya belum yakin mengenai siapa kamu, saya harus menjaga rahasia nona muda itu,” tandasnya.


“Saya pacarnya, Om, kekasihnya! Dan saya sudah menceritakan semuanya sama Om!”


“Benarkah? Kembali lagi pada hal tadi, kenapa Jelita justru enggak berbicara sama kamu?”


“Itu, ... saya juga nggak tahu.”


“Masih nggak tahu?”


“Ya, Jeli menyembunyikan semua dari saya. Ya, mungkin saya terlalu konyol untuk dipercayai, atau bahkan dimintai pertolongan. Oleh sebab itu, ... saya mencari semua ini sendiri, seenggaknya untuk membantu dia. Meski pada akhirnya, Jeli akan meninggalkan saya sekalipun! Hanya itu tujuan saya, Om.”

__ADS_1


Arlan menghela napas. ”Jeli nggak akan meninggalkanmu, Nak, jika kamu memang benar-benar Reza yang diceritakan olehnya.”


“....”


“Dalam situasi itu, dia sedang melindungi kamu. Bahkan, kami semua, sehingga memutuskan menjauh terlebih dahulu.”


Reza tercengang. Ia mempertanyakan maksud dari ucapan Arlan. Melindungi? Tentu bukan sebuah alasan untuk merahasiakan, bukan? Lagipula, siapa yang laki-laki, dan siapa pihak perempuan. Reza tidak lantas menerima hasil analisa dari pria 48 tahun itu. Baginya, sebelum Jelita berbicara dengan mulut sendiri, masih akan tetao terasa ambigu.


Sementara itu, Arlan mulai memupuk rasa percayanya pada Reza. Perihal keanehan yang sempat ia pikirkan sebenarnya mengenai sikap ketidakterbukaan Jelita pada Reza. Hal itu pula membuat Arlan tak lantas mempercayai Reza, sebab bisa jadi pria itu hanya mengaku-aku untuk mencari informasi pribadi mengenai Jelita. Dengan kata lain, Arlan masih khawatir jika pria muda di hadapannya itu merupakan kekasih atau bahkan pengacara palsu dan justru tersangka di balik teror tersebut.


“Boleh perlihatkan kartu nama kamu?” tanya Arlan.


Astaga, iya, ya! Penyesalan datang karena Reza lupa memperlihatkan identitasnya sebagai seorang pengacara. Andai saja ia teringat lebih awal, sudah pasti tidak perlu melalui penekanan dari Arlan.


“Ini, Om.” Reza menyodorkan kartu nama tersebut.


“Kenapa nggak dari tadi?!”


“Lupa, Om, maaf.”


“Katanya pengacara kok bisa lupa?”


“Om sendiri kenapa baru tanya?”


Arlan menggaruk tengkuknya. “Saya juga lupa.”


“Pft ....”


”Kamu tertawa?”


“En-enggak, Om!”


“Jangan nggak sopan sama orang tua, kamu!”


Pak Tua menyebalkan! Pikir Reza. Kemudian, ia kembali menunggu respon lanjutan dari Arlan. Ia berharap bisa mendapatkan setidaknya sedikit informasi mengenai kekasihnya saat ini. Namun entah! Sebab, sejak tadi Arlan berusaha menyembunyikan sang istri.


Sementara itu, di lantai dua, Fanni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari menggendong Aksa. Baginya, sikap Arlan tidak jauh berbeda dengan sang tamu.


“Mas, Mas, aku aja tahu dia siapa. Anaknya Nyonya Reyna, hmm ... ada-ada aja. Mau sok jadi detektif, sok-sokan mau ngalahin pengacara. Dasar usil!” gerutu Fanni.


****

__ADS_1


__ADS_2