Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara
Episode 50-Telepon Ancaman


__ADS_3

“Aku? Hahaha ... aku adalah orang yang akan membunuhmu!”


Episode 50-Telepon Ancaman


Lewat tengah malam yang seharusnya menjadi waktu damai untuk terlelap, Jelita justru dibuat terbangun oleh suara ponselnya. Suara dering dari panggilan masuk sungguh bising, sehingga mampu membuat gadis itu menggerutu sebal. Namun kendati merasa kesal, Jelita masih berusaha meraih ponselnya dari atas nakas tanpa membuka mata.


Sesaat setelah menekan tombol hijau guna menjawab panggilan tersebut, Jelita meletakkan ponsel tersebut di samping telinganya.


“Halo? Siapa sih? Malem-malem begini?” sapanya diiringi keluhan seputar ketidaksopanan sang penelepon tersebut.


Namun tak ada suara yang menyahuti pertanyaan dari gadis itu.


“Halo?”


Masih tak ada jawaban, sehingga membuat Jelita terpaksa membuka mata. Ia menatap layar ponselnya dan panggilan itu masih berlangsung. Ah, ia baru sadar jika nomor tersebut diprivat sehingga tak menunjukkan siapa pelaku penelepon tengah malam.


“Halo?! Siapa sih?! Jangan iseng deh!” tegas Jelita sudah tidak sabar lagi menahan kekesalan yang membuncah.


Lagi-lagi, tak ada jawaban sama sekali. Namun kini justru terdengar suara aneh. Seperti benda tajam yang digoreskan pada papan meja, menimbulkan bunyi derit yang tak nyaman didengar telinga.


“Woe!” Jelita bangkit dari tidurnya, ia lantas duduk dengan memasang ekspresi marah. “Loe siapa sih? Jangan iseng! Ah ... apa jangan-jangan loe yang kirim ayam mati tadi siang?!”


“Hihihi.” Setelah suara derit dari dua benda yang saling diadu, kini suara tawa seorang perempuan. Yang mana suara itu terdengar begitu menyeramkan.


Jantung Jelita mulai berdetak lebih cepat. Entah dari rasa geram atau justru takut. Belum lagi jari-jarinya mulai gemetar, tak lama kemudian merembet ke sekujur tubuhnya.


Derit menyeramkan tadi, kembali terdengar. Bahkan kali ini, diiringi suara benda sejenis kaca yang dilempar sehingga pecah berkeping-keping.


Jelita menelan saliva dengan kelu. Ingin sekali ia segera mematikan panggilan itu, tetapi rasa penasarannya masih belum memberikan izin untuk menyudahi.


Dengan perasaan yang semakin cemas itu, Jelita memberanikan mengeluarkan perkataan. “Ma ... ma.”


Berbagai suara yang ditimbulkan oleh pelaku penelepon itu berhenti seketika. Namun masih tidak ada sahutan suara, benar-benar sepi. Seolah-olah, orang itu terpengaruh oleh satu kata dari Jelita.


“Kamu Mama, 'kan?” Jelita masih mencoba mengorek siapa dalang di balik panggilan itu.


Orang itu tetap diam, sehingga menimbulkan kengerian tersendiri.


“Mama di mana? Jane khawatir sama Mama.”


“Jane?” Orang itu mulai membuka suara ketika nama adik dari gadis perancang itu terdengar olehnya.


Suara seorang wanita yang serak, bergetar, tetapi tetap menyeramkan.


“Mama ... di mana?”


“....”


“Ma ... ma?”

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar gelak tawa seorang pria, bukan lagi wanita.


“Kamu pikir dia ibumu, Nona?” tanya pria itu dari kejauhan sana.


Jelita reflek membelalakkan mata. “Ka-kamu siapa?”


“Aku? Hahaha ... aku adalah orang yang akan membunuhmu!”


Napas Jelita semakin memburu, jantungnya semakin berdetak lebih cepat. Ponselnya pun jatuh dari tangannya yang sudah gemetar tidak keruan. Ancaman pertama kali dalam hidupnya soal pembunuhan, tentu membuatnya syok dalam waktu yang cepat. Gadis itu benar-benar dibuat ketakutan. Semua kemungkinan aneh tiba-tiba terbayang di benaknya.


Sementara gelak tawa pria itu masih terdengar nyaring, meski ponsel sudah terjatuh di samping Jelita. Suara wanita tadi sudah benar-benar lenyap dan entah ke mana, seolah baru dibuat pingsan oleh pria tersebut.


“Siapapun yang mengetahui tentang malam ini akan mati di tanganku! Camkan itu, Nona muda!” Pria itu kembali memberikan ancaman, dengan maksud agar Jelita tidak bercerita pada siapapun. Detik berikutnya, panggilan pun dimatikan.


Sesaat setelah panggilan berakhir, tangis Jelita pecah. Suaranya terdengar memilukan memenuhi ruang kamarnya yang kedap suara, sehingga tidak akan sampai terdengar dari luar. Segala macam perasaan bercampur sekaligus bersarang di hatinya. Namun yang paling pekat adalah suatu ketakutan. Bukan untuk dirinya saja, melainkan orang-orang sekitarnya pasti akan ikut terlibat dalam bahaya.


Di sisi lain, berbagai pertanyaan terlintas di benak Jelita. Siapa wanita itu? Siapa pria itu? Mengapa memberikan ancaman hanya padanya? Lalu, jika sang wanita adalah Riris, apakah ibunda kandung dari adiknya itu sedang ditawan? Atau malah menjadi komplotan?


“Aku harus gimana?” Isak tangis Jelita mulai mereda, tetapi napasnya masih tersenggal. Sesekali ia masih merintih kesakitan. Dalam artian sakit di hatinya, bukan fisik. Bahkan, ia mengepal tangannya dan memukul-mukul dadanya berharap rasa sakit itu berangsur pergi.


“Mama, bantu Jeli ....” Sepintas, terbayang wajah ibunya yang mulai pudar dari ingatannya. Namun, Jelita merasa sangat rindu. Mungkin, jika ibu kandungnya itu masih ada, tentu ada tempat untuk membagi nestapa saat ini.


****


Di ruang musik istana megah itu, Jane tengah termenung sendiri. Kendati waktu sudah lewat tengah malam, nyatanya matanya enggan diajak terpejam. Hilangnya Riris benar-benar membuatnya kepikiran, belum lagi ditambah pengakuan William beberapa saat yang lalu. Jane menganggap jika saat ini, dunia tidak sedang memihak dirinya.


Jane tahu betul jika sikapnya saat ini masuk dalam kategori perasaan iri, hanya saja ia tidak bisa membuang perasaan itu. Ia tahu betul jika Jelita tidak bersalah, bahkan William, tetapi rasa kesal pada kedua orang itu masih bersarang di hatinya. Ia pikir kedatangan William sekaligus kerelaan pria itu untuk menemaninya akan menjadi pertanda bagus. Setidaknya, menjadi teman akrab meski bukan pasangan. Namun, tampaknya ia terlalu berharap banyak. Bahkan saat itu, William dipinta oleh kakak tirinya. Mungkin jika bukan Jelita, William tidak akan bersedia ada bersamanya.


Menatap sebuah piano berwarna putih, Jane tergoda untuk memainkannya. Tanpa pikir panjang, gadis itu melajukan langkah menuju alat musik itu. Sebuah lagu bernada sendu ia mainkan dengan penuh penghayatan, hingga air matanya mampu terjadi dari pelupuk mata.


Tak berlangsung lama, Jane menyudahi permainan musiknya. Gadis itu menekan dadanya dengan keras. Ia menangis, dengan suara sesenggukan yang ia tahan dengan susah payah.


“Kenapa ... kenapa, a-aku ... enggak tahu ... terima kasih,” ucap Jane di sela isak tangisnya itu.


Tiba-tiba, sentuhan tangan yang halus menyentuh kepala Jane. Ketika putri kedua dari Nur Imran itu mendongak, Jelita ada di sana sekaligus pelaku yang menyentuh lembut kepalanya.


Reflek, Jane berdiri. Ia menepis tangan Jelita dan menatap kakaknya itu dengan pancaran tidak suka. Entah, Jane tidak bermaksud demikian, tetapi perasaannya tak bisa dikendalikan.


“Jane ... kamu enggak apa-apa?” tanya Jelita.


Jane tak menyahut, ia justru mengambil langkah untuk pergi. Namun, lengannya justru di tahan oleh Jelita.


“Maafin Kakak, Jane.”


Jane mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia berbalik, menatap wajahnya kakaknya lagi. “Maaf? Buat apa?”


Namun, Jelita tak enak hati untuk memberikan jawaban.


“Buat apa, Kak?!”

__ADS_1


“Mm ... tadi malam, aku sama Kak Reza juga kok.”


“Terus?”


“Mm ... jadi, enggak cuma sama Willi.”


“Oh!”


“Ja-jane!” Ketika Jane ingin melanjutkan langkah, lagi-lagi Jelita menghentikan rencana adiknya itu. “Kamu maafin Kakak, 'kan?”


“Kak Jeli enggak salah, buat apa minta maaf? Lagian, aku ini siapa? Mau aku kecewa dan enggak kecewa juga nggak ngaruh, 'kan? Tapi, ... jujur aja sih aku muak sama sikap Kakak yang plinplan!” Jane menghela napas cukup dalam. “Tenang aja, Kak, aku enggak bakal ikut campur urusan Kak Jeli kok. Kemarin, setiap Willi bertanya seputar Kakak aku menjawab enggak tahu. Jadi, perjodohan itu akan tetap lancar!”


Jane berangsur menepis tangan Jelita yang mencengkeram lengannya. Setelah memberikan penjelasan, ia lantas berlalu. Sementara Jelita bergeming sembari memandangi punggung adiknya itu. Kendati ia tidak bermaksud seperti apa kata Jane, nyatanya ia tidak bisa berkata apa-apa. Kenyataannya, ia memang belum bisa terbuka dan mengatakan hubungannya dengan Reza di hadapan ayahandanya.


Jelita menekan keningnya. Setelah semua kebahagiaan dan hidupnya mulai baik-baik saja, tiba-tiba beberapa masalah mulai mendatanginya. Entah dari kecemburuan Jane, perjodohan yang tak disangka sekaligus teror ancaman yang belum ia pastikan siapa pelakunya. Dan setiap masalah itu, Jelita menanggungnya sendiri sebab jika bercerita pasti akan ada yang terlibat dalam bahaya.


Ponsel Jelita kembali berdering memecah keheningan latar keberadaannya. Ia meraihnya dari dalam saku baju tidurnya. Ada nama kesayangan yang tengah meneleponnya.


Jelita menghela napas, mencari ketenangan. Kemudian, ia bergegas menjawab panggilan tersebut.


“Halo, Kakak. Assalamu'alaikum,” sapa gadis perancang itu.


Terdengar, Reza tengah berdeham memperbaiki pita suara yang serak. “Wa'alaikumssalam, Dek. Kamu belum tidur sih? Cepet banget ngangkatnya?” jawabnya.


“Jeli kebangun kok, Kak. Kakak sendiri?”


“Kakak juga kebangun gara-gara mimpi.”


“Mimpi?”


“Iya, mimpiin kamu. Kamu baik-baik aja, 'kan?”


“Mm ... iya, Jeli baik-baik aja, Kak. Tapi, Jeli kangen sama Kakak.”


“Sama, Dek, tapi besok Kakak enggak bisa mampir. Ada kerjaan dan pasti terancam lembur.”


“Enggak apa-apa, Kak. Yang penting semangat kerjanya.”


“Mm ... kamu juga ya, Dek? Dan kalau ada sesuatu langsung hubungi Kakak!”


“Tentu, Kak.”


Entah mengapa Reza meminta Jelita bersikap demikian ketika ada sesuatu, seolah pria itu memiliki sebuah firasat. Namun, kendati menduga demikian, Jelita berusaha tidak memikirkannya. Dan panggilan itu terus berlanjut hingga Reza tak memberikan jawaban. Dengan artian, pria itu kembali ketiduran.


****


Jangan lupa jempolnya yah.


Mohon dukungannya di karya Temen aku. (・∀・)

__ADS_1


Jodohku Berawal dari Temanku


__ADS_2