
“Enggak mau ya enggak mau! Jangan maksa dong, Kak! Ini 'kan urusan aku, Kakak pasti senang kalau Mama hilang, 'kan?!”
Episode 43-Salah Paham
Waktu kembali berlalu, satu minggu setelah insiden hilangnya Riris—ibunda Jane—masih dalam tahap pencarian pihak kepolisian. Selain itu, tidak ada yang tahu pasti mengenai keberadaan wanita paruh baya yang kemungkinan besar mengidap skizofrenia. Terlalu sulit untuk mendeskripsikan apa yang terjadi pada Riris dalam keadaan mental tidak sehat. Tentu saja orang akan mengira bahwa ia memang gila, sehingga bukan perkara aneh jika melalukan hal jauh lebih gila.
Namun yang menjadi penyesalan Jane sekaligus kakak tirinya adalah sistem keamanan rumah sakit jiwa. Membuat Jane memaki-maki para perawat juga dokter sembari menangis pada saat itu. Ya, karena sejatinya ia masih seorang anak, yang mana memiliki keinginan untuk merawat ibundanya sendiri.
Di sebuah teras kafe, Jane duduk berteman Jelita dan dua cangkir kopi. Dalam kebersamaan itu sama sekali tidak ada perbincangan yang signifikan. Nyatanya, kedua gadis yang terpaut usia satu tahuh tersebut sangat larut dalam pikiran masing-masing. Tidak ada masalah lain, selain memikirkan perihal hilangnya seorang Riris.
Jane menghela napas berat, kemudian ia hembuskan dengan kasar sehingga menimbulkan suara desisan dari bibirnya. Sikap Jane sontak saja membuat Jelita reflek menatapnya. Selayaknya Jane yang menghela udara itu, Jelita melakukan hal yang sama. Kemudian, anak pertama yang sesungguhnya satu-satunya dari Nur Imran itu menatap Jane.
Hati Jelita kembali terenyak tatkala menyadari paras cantik sang adik masih saja berselimut sendu. Kesedihan akan terus bersarang di hati Jane jika Riris tak kunjung ditemukan. Kendati bagi Jelita, Riris masih menjadi momok yang paling ia takuti. Namun bukan perihal menghadapi sosok wanita itu, melainkan kekhawatirannya tentang ingatan di masa lalu.
“Jane?” Sembari meraih tangan Jane, Jelita menyebut nama adiknya.
Jane tak menyahut. Ia masih bergeming, tetapi mendengar suara lembut itu dengan jelas.
“Ayo pulang dulu, mau maghrib,” tambah Jelita sembari memasang raut berharap.
Jane menggeleng kepala, menolak ajakan tersebut. Sebab, sebelum ia menemukan atau setidaknya kabar perihal ibundanya, keputusan pulang bukanlah hal terbaik. Selain khawatir, ia juga malu untuk menghadapi Nur Imran di sana.
“Ayolah, dari tadi kamu juga minum kopi doang. Makan belum, Jane!”
“Seenggaknya, aku harus cari tahu kabar Mama, Kak! Kalau mau pulang, ya, pulang sendiri!”
“Jangan keras kepala!”
“Kakak tuh enggak tahu rasanya jadi aku, dan aku juga enggak maksa Kakak buat ikut cari Mama!”
“Karena Kakak khawatir sama kamu. Tolong dong, seenggaknya kamu jaga kesehatan dulu. Besok kita lanjut lagi.”
“Enggak mau!”
“Jane!”
“Enggak mau, ya,enggak mau! Jangan maksa dong, Kak! Ini 'kan urusan aku, Kakak pasti senang kalau Mama hilang, 'kan?!”
“A-apa?”
Hati Jelita seolah dihantam pukulan keras. Jantungnya bak ditusuk sebuah belati yang tajam. Mendengar prasangka yang bahkan tidak ia pikirkan sama sekali, benar-benar membuatnya terkejut. Bagaimana bisa bibir seorang Jane mengatakan hal itu? Senang atas hilangnya Riris? Jelita menelan saliva dengan getir ketika pertanyaan itu muncul di benaknya. Ia meraih tas jinjingnya dari atas meja kafe kemudian beranjak berdiri. Sebelum memutuskan pergi, ia menatap wajah Jane dengan kecewa.
__ADS_1
Sementara Jane menjadi salah tingkah sekaligus terkejut atas ucapannya sendiri. Jika saja Jelita tidak rewel, sudah pasti ia tidak mengatakan hal itu. Baginya, apa yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang disengaja. Namun akan berbeda jika Jelita yang menilai.
“Kak ...?” ucap Jane sembari berdiri.
Kemudian, Jelita yang sudah berbalik badan kini membatalkan laju langkah yang hendak ia ambil. Gadis perancang itu menghela napas panjang sampai beberapa kali. Detik berikutnya, ia mendongak menatap awan di ufuk barat yang terhias mentari jingga.
“Lakukan yang ingin kamu lakukan, Jane. Maaf aku ikut campur,” ucap Jelita dengan getir.
Mendengar hal itu, Jane menelan saliva. Ia tidak bisa berkata-kata sebab menyadari kesalahannya sendiri.
“Setidaknya, kamu harus menilik rumah sebentar. Bukan karena kamu, tapi aku lebih khawatir sama Papa. Dan mungkin ... kamu memang benar, aku senang saat ibumu menghilang.” Jelita tertawa kecil, sembari menekan dadanya yang sesak. Sedetik kemudian, ia berbalik. Ditatapnya Jane dengan sendu. “Maaf untuk hari ini. Silakan nilai aku sesuai mau kamu.”
Sementara Jelita yang melanjutkan langkahnya, Jane justru terduduk dengan lemas. Penyesalan perlahan merayap, tetapi ia tidak kuasa untuk mengejar Jelita. Ia malu, selain itu memang tidak ingin pulang sebelum ada sedikit kabar.
****
“Nona Jeli.” Seseorang memanggil sembari menghampiri Jelita yang hendak memasuki mobilnya. Gadis itu melihat sosok pemuda tampan tengah memberikan salam untuknya.
“Oh, Tuan Willi,” jawab Jelita tersenyum simpul.
Senyum William merekah, begitu manis untuk dipandang mata. Bahkan, nyaris membuat Jelita terpana. Namun karena Reza, ia membatalkan rasa takjubnya tersebut. Dan rasa muak terhadap pria tampan masih ada pada dirinya.
“Panggil nama saja, kesannya aneh sekali pakai kata tuan.”
“Nona Jeli sedang apa? Ah ... mungkin ada pertemuan, ya?”
Jelita terdiam. Benaknya kembali mengingat keberadaan Jane yang sedang tidak keruan. Pandangannya menurun, tetapi sedetik kemudian lantas menatap wajah William. Senyum pun ia ulas manis di sudut bibir. Tak kalah manis dari milik pria di hadapannya. Juga, membuat pria itu begitu takjub menganggap jika saat ini wajah Jelita begitu imut selayaknya paras bayi.
Dan gadis itu pula yang hendak dijodohkan dengan dirinya. Bagaimana mungkin William akan menampik, jika calon istrinya adalah Jelita. Seorang nona muda, perancang busana, sekaligus gadis imut yang kerap kali membuatnya berdebar.
Jelita meraih kedua telapak tangan William seketika, bahkan tanpa kesadarannya. “Aku mau minta tolong sama kamu!” ucapnya dengan bahasa lebih kasual.
William masih tercengang dengan rahang sedikit menganga. Bagaimana tidak, jika kedua telapak tangannya tiba-tiba digenggam oleh gadis itu. Apalagi paras yang dipasang oleh Jelita sangat imut dan menggemaskan.
“Ah ....” Menyadari sikapnya yang lancang, Jelita berangsur melepas tangan William. “Ma-maaf enggak sengaja,” lanjutnya salah tingkah.
William menggelengkan kepala beberapa kali. “En-enggak apa-apa, Jeli,” jawabnya dengan senyum manis yang sangat mematikan.
“Jeli?” Dahi Jelita berkerut samar pada saat itu juga.
“Ah ... Nona Jeli.”
__ADS_1
Tawa Jelita keluar. “Santai aja, Willi. Aku cuma agak kaget. Panggil aja Jeli.”
“Mm ... ja-jadi, minta tolong soal apa?”
Jelita menggigit bibirnya, ada rasa ragu yang sebenarnya sudah menggelitik sejak tadi. Namun kendati merasa ragu, kakinya tetap melangkah lebih mendekat dengan posisi William. Detik berikutnya, ia menundukkan kepala dan saling menempelkan kedua telapak tangannya ke depan.
“To-tolong jaga Jane sore ini dan malam ini. Cuma kamu yang bisa aku mintai tolong, Willi,” pinta Jelita memohon pada pria tampan tersebut.
“Jane?” Dengan raut penuh tanya, William ingin memastikan lagi permohonan Jelita.
“Iya, aku dengar kamu udah kenal sama dia lewat Om Arlan. Jane di teras kafe sendiri, perihal kasus itu mungkin kamu udah dengar juga. Dan hanya kamu yang saat ini bisa mendekati gadis itu.” Jelita menghela napas. Ia memundurkan langkah. “Aku khawatir sama dia. Hari ini aja, kalau kamu enggak sibuk sih.”
Setiap penuturan Jelita didengarkan dengan seksama oleh William. Setiap kata yang diucapkan dengan bahasa lebih akrab, bukan formal seperti partner kerja. Sikap gadis yang awalnya cukup dingin dan judes itu, perlahan mulai bersahabat pada William. Sepertinya jalan menuju hati Jelita mulai terbuka.
Kemudian, William mendekati Jelita. Ia kembali mengulas senyumnya, tanpa membuang rasa takjub pada gadis itu. Sementara otaknya sudah membuat keputusan atas permohonan tersebut.
“Baik, aku bisa temani adik kamu, Jeli. Aku enggak tahu kenapa hanya aku yang bisa mendekati adikmu saat ini, dan aku juga enggak mau tahu,” ucap William.
Mata Jelita terbuka lebar dengan pancaran berbinar. “Be-beneran?”
William berangsur mengangguk. “Iya, bener. Tapi, ... ada satu syarat.”
“Hah?! Sy-syarat?”
“Mm ... malam minggu nge-date sama aku, ya?”
“Hah?!”
“Kalau enggak mau, aku juga enggak bisa bantu.”
Jelita berpikir keras karenanya. Bagaimana mungkin ia menerima syarat tersebut, ketika masih memiliki hubungan dengan orang lain. Selain itu, Reza pasti akan cemburu berat pada dirinya juga William. Namun membiarkan Jane sendirian tentunya juga bukan hal yang bagus untuk diputuskan.
Sesaat setelah berpikir keras, senyum Jelita mengembang. Setidaknya, ia bisa memberikan persetujuan lalu tidak akan menghadiri janji itu. Bukankah, hal itu merupakan ide yang bagus?”
“Ba-baiklah,” jawab Jelita untuk syarat yang sempat William lontarkan.
“Bagus! Tapi, jangan berpikir bisa ingkar janji, ya? Karena aku punya senjata lebih ampuh, aku bisa menemui papa kamu dan membicarakan perihal perjodohan lebih serius. Jadi jangan ingkar janji, tepati malam minggu nanti.”
William melangkah pergi. Ia berencana untuk memenuhi janjinya menjaga Jane malam ini. Dalam langkahnya yang santai, ada senandung dari bibirnya. Hatinya bahagia, sebab perlahan bisa menangkap hati sekaligus diri Jelita.
Sementara itu, Jelita hanya bisa termenung gusar sembari menatap punggung William yang kian menjauh. Ia menelan saliva dengan getir dengan keputusan bodoh, untuk menyanggupi syarat dari pria itu. Ia melupakan sosok William yang sangat cerdas, menduga beberapa hal bukanlah hal sulit bagi pria itu termasuk rencana dalam benak Jelita.
__ADS_1
“Luar biasa, dia bisa baca pikiranku. Terus apa yang bisa gue lakuin nanti? Kalau jujur ke Kak Reza, bisa gila dia. Terus kalau, Willi beneran ketemu Papa, perjodohan itu malah makin dimatangkan,” gerutu Jelita. Ia memejamkan mata sebentar. “Aaaaa! Bisa gila aku! Licik banget sih tuh orang!” geramnya sembari mengacak-ngacak kumpulan helai hitam di kepalanya.
****